Bab 7. Mahram Selamanya

1283 Words
"Ayo kita turun sarapan!" ajak Bhaskara yang baru saja masuk ke kamar sembari menutup kembali pintunya membuat Maya terkejut dan langsung menutup kembali tubuhnya dengan handuk. Tadinya Maya yang baru saja selesai mandi hendak berganti pakaian di kamar karena Bhaskara tidak ada di sana. Lelaki itu tidak pernah tidur di kamar bersama Maya. Setelah melakukan aktivitas ibadah suami istri, Bhaskara selalu keluar dan tidur di kamar lain. "Maaf, Om. Aku nggak tahu kalau Om mau masuk," ucap Maya sembari buru-buru mengambil pakaian ganti dan bergegas ke kamar mandi. Namun, dengan cepat Bhaskara mendekat dan mencekal pergelangan tangannya. "Nggak perlu ke kamar mandi. Ganti baju di sini saja," titah Bhaskara membuat Maya melebarkan kedua matanya. "Apa, Om? Ganti baju di sini? Tapi saya malu," tolak Maya. "Malu pada siapa? Aku kan suamimu. Aku sudah melihat semua. Bahkan aku hafal lekuk tubuh kamu," balas Bhaskara sembari tersenyum nakal membuat Maya tiba-tiba kesulitan menelan ludahnya sendiri karena melihat tatapan suaminya yang tak biasa. "Mau aku bantu?" tawar Bhaskara sembari mengulurkan tangannya dan membuka handuk yang menutupi tubuh polos Maya. "Om, aku--" Belum sempat Maya melanjutkan ucapannya, Bhaskara sudah menarik handuk itu, hingga pemandangan indah kembali terpampang di depannya. "Kamu selalu membuatku b*******h, Maya. Sebenarnya aku harus buru-buru ke kantor, tapi melihatmu seperti ini justru membangunkan juniorku yang tadinya tertidur." Bhaskara mendekat dan langsung membobong tubuh polos Maya membuat wanita itu menjerit karena terkejut. Namun, dengan cepat Bhaskara membungkam mulut wanita itu dengan ciuman panas, lalu melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Lelaki itu kemudian membaringkan tubuh Maya di bathub kamar mandi. "Om, kita mau ngapain di sini. Saya kan sudah mandi," ucap Maya gemetaran. Namun, Bhaskara malah tersenyum dan membuka satu persatu pakaiannya. Padahal tadinya lelaki itu sudah berpakaian lengkap hendak berangkat ke kantor, tetapi malah tergoda melihat keindahan tubuh Maya. "Kamu belum pernah main di kamar mandi, kan? Kita akan melakukannya pagi ini, sekalian mandi wajib." "Tapi, Om. Saya--" "Jangan pernah menolak permintaanku, May. Ingat tugas kamu di sini adalah melayaniku. Setelah ini kamu boleh ke kampus. Semua keperluanmu akan aku penuhi," potong Bhaskara sembari mengisi bathub dengan air hangat, lalu ikut masuk bersama Maya. Maya hanya bisa pasrah menikmati permainan sang suami di dalam air. Bhaskara memang selalu bersemangat dan merasa muda kembali saat meleburkan gelora cinta bersama Maya. Lelaki itu soal tidak ada puasnya. Padahal tadi malam mereka sudah mengarungi bahtera surga dunia bersama. Saat tubuh keduanya bergetar hebat akibat gerakan-gerakan Bhaskara yang memabukkan, lelaki itu segera melepas penyatuan dan membuang cairan kenikmatan itu di luar. "Sorry, May. Aku lupa membawa pengaman. Jadi, kita buang saja, ya," bisik Bhaskara membuat Maya memejamkan mata. Entah kenapa Maya berharap Bhaskara menanamkan benihnya seperti saat malam pertama mereka. Meskipun belum mencintai Bhaskara, tetapi Maya berharap tidak akan pernah dibuang oleh lelaki itu. Bagi Maya, pernikahan mereka sakral dan Maya hanya ingin menjalaninya sekali seumur hidup. Namun, sepertinya Bhaskara memang tidak menginginkan benih itu tertanam di dalam rahimnya. Setelah membersihkan diri dan mandi wajib, keduanya pun keluar dari kamar untuk sarapan. Pagi ini Bhaskara mengajak Maya sarapan bersama di ruang makan karena ada Aditya yang sekarang tinggal bersama mereka. Lelaki itu ingin bersikap mesra kepada Maya di depan Aditya, agar putranya itu bisa menceritakan kepada mantan istrinya kalau rumah tangganya bersama Maya bahagia dan harmonis, Meskipun kenyataannya Bhaskara tidak pernah menganggap Maya kecuali hanya sebagai pemuas nafsu belaka Aditya yang sudah terlebih dahulu sampai di meja makan, melebarkan kedua matanya saat melihat sang papa dan istri barunya turun dari lantai dua dengan rambut dan kepala yang masih sedikit basah. "s**t! Rupanya mereka sengaja pamer kemesraan di depan gue," batin Aditya kesal sembari menatap tajam ke arah Maya membuat wanita itu salah tingkah. "Maaf kalau menunggu lama. Maklumlah kami pengantin baru," ucap Bhaskara sengaja memamerkan kemesraan dengan sang istri kepada anak lelaki semata wayangnya. "Oh nggak masalah, Pa. Aku senang kalau papa bahagia," balas Aditya yang tentu saja bertentangan dengan hati nuraninya. Hatinya sakit karena ternyata sang Papa juga sudah benar-benar melupakan mamanya. Selama sarapan berlangsung, Bhaskara lebih banyak mendominasi obrolan dan Aditya pun mengimbangi dengan menanggapi serta menjawab pertanyaan sang papa. Sementara Maya hanya diam kecuali Saat ditanya oleh Bhaskara. "Kamu dan Aditya satu kampus, kan?" tanya Bhaskara sembari menoleh ke arah istri saat ketiganya selesai sarapan. "Iya, Om. Maksudku, Mas," balas Maya gugup. Wanita itu lupa kalau Bhaskara memperbolehkannya memanggil Om hanya saat tidak ada orang lain. "Kalau begitu, kamu berangkat kuliah bareng Adit saja." "Apa!" ucap Maya dan Aditya hampir bersamaa. Keduanya saling memandang tak percaya karena Bhaskara malah memberikan kesempatan keduanya untuk berangkat ke kampus bersama. "Tapi, Mas. Aku sebaiknya naik taksi saja. Jam kuliahku lebih lama dari Adit," tolak Maya beralasan. "Jangan, May! Daripada naik taksi, mending bareng aku saja. Gak papa kok kalau pulangnya aku harus nungguin kamu dulu. Lagian, aku akan jagain istri papaku agar tidak ada cowok-cowok usil yang mengganggu," ucap Aditya sembari melirik ke arah Maya dengan pandangan licik. Sementara Bhaskara sama sekali tidak mencurigai putranya. "Benar apa yang dibilang Adit, May. Dit, tolong jagain Maya. Istri Papa ini cantik, Papa takut dia diganggu teman-temannya." "Papa tenang aja. Selama ada aku, tidak akan ada lelaki yang berani mendekati Maya," balas Aditya membuat Bhaskara mengangguk dan tersenyum. Sementara Maya justru merasa cemas. Entah kenapa wanita itu merasa Aditya punya tujuan lain. Namun, Maya tidak bisa menolak perintah sang suami. Terpaksa wanita itu berangkat ke kampus bersama dengan anak tirinya. "Akhirnya kita bisa berduaan saja," ucap Aditya sembari menjalankan mobilnya menuju kampus tempat mereka kuliah. Maya tidak menanggapi ucapan anak tirinya. Wanita itu membuang pandangan ke luar jendela mobil dan tidak berniat berinteraksi dengan Aditya. "Aku tidak pernah membayangkan kalau kita akan berada dalam posisi seperti ini, May," ucap Aditya sembari fokus menyetir, sedangkan tangan kirinya meraih telapak tangan Maya dan menggenggamnya. Namun, dengan segera dilepas oleh wanita itu. "Dit, please! Lo harus tahu batasan. Gue sekarang adalah istri dari papa lo," ucap Maya marah. Namun, Aditya malah tertawa. "Apa sih yang lo suka dari Papa gue? Lebih gantengan juga gue kemana-mana. Gue masih muda dan jauh lebih pantas buat lo. Memang kalau yang lu cari kekayaan, sudah pasti papa gue pemenangnya," ucap Aditya membuat Maya menghela napas panjang. Namun, wanita itu enggan bercerita kepada anak tirinya kalau sebenarnya dia hanyalah istri penebus utang. "May, Lo dengar gue nggak, sih?" tanya Aditya mulai jengkel. "Sorry, Dit. Gue nggak bisa jawab pertanyaan lo karena ini sifatnya sangat pribadi. Anggap saja ini sudah takdir kita. Jadi, jalani aja." "Gue masih nggak rela, May. Gue cinta sama lo dan gue juga masih berharap Papa kembali sama mama lagi. Jadi, gue mohon tinggalin Papa gue. Biarkan Papa dan Mama rujuk, lalu elo nikah saja sama gue." Ucapan Aditya membuat Maya melebarkan kedua matanya. "Elo gila, Dit. Elo tahu hukum agama nggak, sih? Gue sudah jadi ibu sambung lo, maka selamanya kita nggak akan pernah bisa menikah." "Tapi kenapa? Lo kan bisa cerai dari papa gue?" "Meskipun mungkin suatu saat nanti gue sudah bercerai dari papa lo, kita tetap nggak akan bisa menikah karena gue sama lo sudah jadi mahram selamanya." "Apa? Nggak mungkin." "Sudahlah, Dit. Lebih baik kamu cari wanita lain dan berdoa saja semoga suatu saat Mama dan Papa kamu bisa rujuk." Mendengar ucapan Maya, Aditya terkejut. "Kalau Papa Mama gue rujuk, lalu bagaimana dengan lo?" "Gue akan jalani takdir gue sendiri." Aditya tertegun mendengar jawaban Maya. Lelaki itu merasa ada yang aneh dari pernikahan papanya. Namun, percuma juga menanyakan hal tersebut pada Maya karena sudah pasti wanita itu tidak akan menceritakannya. Tanpa terasa mobil yang dikendarai Aditya sudah sampai di kampus tempat mereka belajar. Maya minta turun di pintu gerbang dan hendak langsung ke kelasnya. Sementara Aditya memarkirkan mobil terlebih dahulu. Namun, Maya terkejut saat melihat seorang lelaki paruh baya tiba-tiba menghadang jalannya. "Ayah?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD