Bab 6. Hanya Pemuas Dahaga

1184 Words
"Halo, Rossa. Ke mana saja lo? Dari kemarin gue telepon nggak bisa," tanya Maya setelah menggeser tombol hijau di layar ponselnya. Saat memasuki kamar, wanita itu mendapatkan panggilan dari sahabatnya, Rossa yang kemarin dimintai tolong untuk mengantar ibu dan adiknya melarikan diri dari sang ayah. "Aduh, sorry banget, May dari kemarin gue nggak nemu sinyal. Ini juga baru nemu sinyal, terus langsung telepon elo. Gue nggak ganggu pengantin baru, kan?" goda Rossa. "Ih, apaan, sih," balas Maya sewot. "Ibu dan Nathan bagaimana?" tanya Maya mengalihkan pembicaraan agar Rossa tidak membahas malam pertamanya. "Alhamdulillah, Ibu dan Nathan sudah sampai di rumah saudara gue. Sekarang lagi istirahat. Kayaknya kecapean. Semoga mereka betah. Tempatnya sejuk, deket tempat wisata dan Insya Allah kalau Ibu buka warung dan jualan di sini bakalan laris manis." "Aamin. Semoga saja Ayah nggak nemuin Ibu. Makasih banget lo udah banyak bantu gue, Ros. Gue nggak akan pernah lupain budi baik lo hari ini." "Duh, nggak papa kali, May. Kita temanan kan memang udah lama. Jadi, harus saling membantu. Mungkin hari ini gue bantu lo, bisa jadi suatu saat gue yang butuh bantuan lo. Oh iya, hari ini gue mau daftarin Nathan ke sekolah di dekat sini. Semoga adik lo bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru." "Aamiin. Semoga, ya. Sekali lagi gue thanks banget. Nanti kalau gue sudah punya uang, gue ganti uang kontrakan, modal buat ibu dan juga biaya sekolah Nathan. Untuk saat ini gue belum punya uang karena maskawin dari Om Bhas kemarin dibawa sama Ayah semua," ujar Maya sedih. Padahal selain sudah dibebaskan dari utang satu miliar, Bhaskara juga memberikan uang maskawin sebanyak 100 juta untuk Maya pribadi. Namun, uang itu semuanya dirampas oleh Hendra untuk bersenang-senang dengan wanita malam dan mabuk-mabukan. "Udah, lo jangan mikirin uang dulu. Gue masih punya tabungan. Yang terpenting, Ibu sama Nathan aman dulu." "Iya, Ros kayaknya Ayah belum tahu kalau ibu dan Nathan pergi. Soalnya ayah belum nanya ke aku. Ayah masih sibuk menghabiskan uang." "Kamu yang sabar ya, May. Kalau Ayah lo nanya, bilang aja nggak tahu. Lo kan sudah ikut suami lo. Insya Allah Om Hendra nggak akan tahu keberadaan ibu lo." "Iya, Ros. Semoga saja." "Lo mau bicara dengan Ibu?" tawar Rossa. "Bagaimana kalau besok saja. Ibu pasti capek. Biarkan istirahat dulu. Soalnya gue pengen ngomong banyak sama Ibu." "Oke, deh. Besok setelah mengurus sekolah Nathan, gue hubungi lo lagi, ya. Soalnya habis itu gue balik ke Surabaya." "Iya, makasih banget, Ros. Lo emang baik banget. Semoga lo dapat jodoh cowok yang tampan, tajir, baik hati, setia dan bucin sama lo," ucap Maya membuat Rossa terkekeh. "Aamiin. Semoga nasibku nggak sama kayak lo, nikah sama om-om," kekeh Rossa. "Sorry, May! Gue bercanda. Tapi menurut gue meski udah berumur, tapi Om Bhaskara masih awet muda. Dia juga tampan, kaya dan enerjik. Kayak para hot daddy dan sepertinya dia juga masih kuat. Gimana malam pertama kalian?" tanya Rossa menyelidik. "Ih, apaan sih? Nggak jelas banget lo. Udah dulu, ya. Besok kita sambung lagi," ucap Maya, lalu memutus panggilan secara sepihak tanpa menunggu jawaban Rossa. Wanita itu enggan membahas malam pertama dengan Bhaskara. Tak dapat dipungkiri di usianya yang sudah kepala empat, Bhaskara terbilang masih enerjik dalam urusan ranjang. Namun, Maya merasa hanya dianggap sebagai tempat pelampiasan nafsu karena wanita itu merasa suaminya masih mencintai sang mantan istri. Kehadiran Maya dalam kehidupan Bhaskara hanya sebagai pelengkap sekaligus tempat penyaluran syahwat saja. Maya meletakkan ponselnya saat mendengar suara handle pintu kamarnya dibuka. Bhaskara sudah berdiri di ambang pintu membuat Maya terkesiap. "Lagi teleponan dengan siapa?" tanya lelaki itu sembari masuk dan menutup kembali pintu kamar. "I-ini, Om. Hanya teman kuliah," balas Maya gugup. Untung saja, Bhaskara tidak lagi bertanya. Lelaki itu mengendurkan dasinya lalu mendekat ke arah Maya. "Kamu masih ingin lanjut kuliah?" tanya Bhaskara sembari duduk di samping sang istri." "Apa Om akan mengijinkan?" Bukannya menjawab pertanyaan Bhaskara, Maya malah balik bertanya. "Tergantung," jawab Bhaskara membuat Maya bingung. "Tergantung apa, Om?" "Tergantung bagaimana pelayananmu sebagai istri terhadapku. Kalau kamu pintar menyenangkanku, aku akan ijinkan kamu lanjut kuliah. Bahkan semua biaya dan uang saku akan menjadi tanggung jawabku. Bagaimana?" tanya Bhaskara sembari lebih mendekat dan merapatkan tubuh ke arah Maya. Wanita itu tidak bisa menolak saat tiba-tiba bibir sang suami sudah mendarat sempurna di bibirnya. Ciuman panas pun tak dapat dihindarkan. Belum lagi tangan nakal Bhaskara yang sibuk bergerilya membuka gaun yang dikenakan Maya tanpa melepaskan tautan bibir mereka, hingga tubuh wanita itu polos tanpa sehelai benang pun. Bhaskara lalu mendorong tubuh Maya hingga terlentang di atas ranjang kemudian menindihnya. "Aku lelaki normal yang butuh penyaluran biologis. Sedangkan aku tidak suka jajan di luaran. Jadi, tugasmu di sini adalah melayani kebutuhanku kapanpun aku mau. Aku akan memperlakukanmu dengan baik jika kamu tidak mengecewakanku, Maya. Kamu mengerti, kan?" tanya Bhaskara setelah melepas tautan bibir mereka. Maya hanya bisa mengangguk pelan dan pasrah melayani sang suami, meskipun tahu dirinya bukanlah istri yang diharapkan apalagi dicintai, bahkan hanya dianggap sebagai pemuas dahaga nafsu suaminya semata. Wanita itu membiarkan Bhaskara menjamah dan menjelajahi setiap inti tubuhnya. Sudah kepalang tanggung, Maya pun hanya bisa pasrah menerima nasibnya dan berusaha untuk tidak mengecewakan Bhaskara agar lelaki itu tidak marah. Setelah puas mencumbui sang istri, Bhaskara meraih sesuatu dari laci nakas lalu memakainya. Maya melebarkan kedua matanya melihat apa yang dilakukan sang suami. Ternyata Bhaskara memasang alat kontrasepsi sebelum melakukan penyatuan. Tidak seperti malam pertama mereka yang dilalui tanpa alat pengaman. "Aku benar-benar seperti p*****r. Bahkan Om Bhaskara harus memakai alat kontrasepsi. Apa mungkin dia takut aku hamil?" batin Maya sembari menggigit bibir bawahnya menahan sakit saat inti junior sang suami masuk ke inti tubuhnya. "Sorry, May. Kemarin aku kebablasan dan lupa pakai pengaman. Tapi kamu jangan khawatir. Untuk hari ini dan seterusnya, aku pastikan tidak akan lupa pakai pengaman lagi," bisik Bhaskara setelah melakukan penyatuan dengan sempurna. "Kenapa Om harus pakai pengaman? Bukankah aku istri Om? Aku bukan wanita malam yang biasa dipakai oleh banyak lelaki," tanya Maya sembari menutup matanya menahan rasa sakit bercampur nikmat yang ditimbulkan oleh gerakan-gerakan Bhaskara di inti tubuhnya. "Aku tidak ingin merusakmu, Maya. Kamu masih muda. Setelah aku tidak membutuhkanmu lagi nanti, aku bisa melepasmu tanpa beban. Kamu bisa menikah lagi dengan lelaki seusiamu. Jadi, kamu tidak akan aku rugikan. Kamu tidak perlu khawatir akan hamil anakku," balas Bhaskara membuat hati Maya bagaikan disayat belati tajam. Ternyata memang benar Bhaskara hanya menganggapnya sebagai tempat melampiaskan nafsu yang suatu saat akan dibuang jika bosan. Namun, apa yang bisa dia lakukan selain hanya pasrah dan menikmati takdirnya? Tanpa terasa, desahan-desahan manja lolos dari bibir Maya akibat sentuhan Bhaskara. Lelaki berumur 45 tahun itu pun tersenyum melihat Maya sudah mulai bisa menikmati permainannya. "Sarah, andaikan kamu tidak berkhianat, maka aku tidak akan pernah melakukan ini pada wanita lain. Aku hanya akan mendengar desahanmu di atas ranjang ini. Namun, kamu yang membuatku seperti ini. Jangan salahkan kalau sekarang aku menjadi penjahat wanita. Aku tidak akan menjadi lelaki setia yang bodoh dan bucin pada satu wanita seperti dulu," batin Bhaskara geram sembari melanjutkan aktivitasnya menghujam inti tubuh Maya. Sementara itu di luar kamar, Aditya mengepalkan kedua tangannya dan bertekad akan memisahkan sang Papa dengan istri barunya. "Tunggu kejutan dariku, Pa."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD