"May, kamu ke kamar dulu! Aku mau bicara dengan Adit sebentar," titah Bhaskara. Maya hanya menjawab dengan anggukan kepala, kemudian bergegas menuju lantai dua setelah sebelumnya sempat melirik ke arah Aditya yang juga menatap ke arahnya.
Maya menghela napas panjang. Sepertinya akan sangat tidak nyaman bagi wanita itu jika Aditya tinggal di rumah suaminya. Namun, Maya sadar diri kalau dirinya hanya istri penebus utang. Tidak mungkin Bhaskara akan meminta pendapatnya tentang Aditya yang meminta tinggal di rumah mereka.
"Apa yang membuatmu tiba-tiba berubah pikiran dan ingin tinggal dengan Papa? Bukankah saat di persidangan perceraian kami, kamu ngotot ingin tinggal bersama mamamu?" tanya Bhaskara setelah Maya meninggalkan tempat itu. Lelaki yang masih terlihat gagah dan tampan di usia 45 tahun itu duduk di hadapan Aditya sambil menatap tajam ke arah putranya.
"Aku ... maafkan aku, Pa. Aku salah menilai Papa. Ternyata Mama memang layak untuk ditinggalkan."
"Maksudmu?"
"Aku baru tahu kalau Mama dan Om Adrian punya hubungan di belakang Papa, bahkan sejak lama. Sebelum Papa membongkar semuanya," ucap Aditya membuat Bhaskara tersenyum miring.
"Hmm, lalu apa yang kamu inginkan sekarang?"
"Aku hanya ingin tinggal dengan Papa." Mendengar jawaban putranya, Bhaskara mengangguk, lalu berdiri dari tempat duduknya dan membelakangi Aditya.
"Apa ini ada hubungannya dengan pernikahanku dan Maya?" tanya Bhaskara tanpa menoleh ke arah putranya. Lelaki itu curiga motif Aditya untuk tinggal bersamanya adalah Maya.
"Pa, aku--"
"Kamu pernah punya hubungan dengan Maya?" tuduh Bhaskara membuat Aditya terkejut.
"Nggak ada, Pa. Sungguh. Aku memang mengenal Maya dari SMA, tapi hubungan kami hanya sekadar teman, itu saja. Lagi pula aku memang sudah dari beberapa hari yang lalu ingin tinggal dengan papa. Apa Papa keberatan kalau aku tinggal di sini?" Aditya mulai ragu lelaki muda itu takut kalau Bhaskara tidak mengizinkannya tinggal di rumah itu.
"Tentu saja tidak. Jika memang kamu ingin tinggal di sini, Papa malah senang. Kamu adalah anak Papa satu-satunya. Mana mungkin Papa keberatan." Mendengar jawaban Bhaskara, Aditya menghala napas lega.
"Serius, Pa?"
"Mana mungkin Papa bercanda untuk hal semacam ini. Jika kamu tinggal di sini, Papa tidak perlu repot-repot lagi menafkahi mamamu karena tidak ada kewajiban seorang lelaki menafkahi mantan istrinya. Selama ini nafkah yang aku kirimkan kepada Sarah adalah untuk biaya hidup dan juga pendidikanmu. Kalau kamu tinggal di sini, aku tidak perlu lagi menafkahi Sarah karena aku langsung bisa memberikannya kepadamu." Ucapan Bhaskara membuat Aditya terkejut.
"Bilang sama mamamu kalau minggu depan aku akan stop pengiriman uang pada rekeningnya. Aku akan buatkan rekening sendiri untukmu." Lagi-lagi ucapan Bhaskara membuat Aditya melongo. Tidak menyangka kalau jadinya akan seperti ini.
"Kamu keberatan?"
"Ah, nggak, Pa. Bagiku itu tidak masalah. Aku setuju saja," balas Aditya cepat, takut kalau sang Papa berubah pikiran. Bhaskara mengangguk, lalu memanggil salah satu asisten rumah tangganya untuk membersihkan kamar Aditya sebelum akhirnya ditempati oleh putranya itu. Bhaskara pun kembali ke kamar, sementara Aditya meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Halo, Dit. Bagaimana? Apa kamu berhasil?" tanya seorang wanita dari seberang telepon begitu panggilan tersambung.
"Tentu saja berhasil, Ma. Papa tidak mungkin menolak aku untuk tinggal di sini. Aku kan anak satu-satunya."
"Bagus, kalau begitu kamu siap menjalankan tugas dari Mama, bukan?" tanya wanita yang tidak lain adalah Sarah itu membuat Aditya menghela napas panjang.
"Aku akan lakuin apa saja asalkan Mama bisa kembali sama Papa. Tapi--"
"Tapi kenapa lagi?" Sarah meninggikan suaranya.
"Papa akan menghentikan nafkah yang dikirimkan kepada Mama tiap minggu."
"Apa? Kenapa bisa begitu? Kenapa Bhaskara jadi pelit dan perhitungan?" tanya Sarah sembari membuang napas kasar.
"Papa bilang karena aku sudah tinggal di sini, maka tidak perlu lagi mengirimkan nafkah pada Mama. Papa bilang tidak ada kewajiban seorang lelaki menafkahi mantan istri."
"Apa? Pasti istri barunya itu yang melarang papamu mengirim uang pada Mama. Iya, kan?" tuduh Sarah kesal.
"No, Ma. Maya sama sekali tidak tau soal ini. Papa langsung memintanya masuk ke kamar begitu mereka sampai. Dia sama sekali tidak ikut campur pembicaraanku dengan Papa."
"Kalau papamu tidak lagi mengirimkan uang, lalu Mama makan apa?" tanya Sarah cemas.
"Mama tenang saja. Sebagai gantinya, nafkah yang biasa dikirim ke rekening Mama akan langsung diberikan padaku." Setelah mendengar penjelasan Aditya, tidak ada jawaban dari seberang telepon. Sarah terdiam dan berpikir.
"Mama jangan khawatir. Aku akan kirimkan uang dari Papa pada Mama, asalkan Mama janji akan tinggalkan Om Adrian. Aku ingin membuat Mama dan Papa bisa rujuk lagi. Jangan sampai kehadiran Om Adrian mengacaukan segala rencanaku."
"Iya, Mama janji. Tapi, kamu harus berhasil."
"Mama tenang saja. Rencanaku pasti berhasil, hanya saja kita butuh kesabaran karena rencana ini tidak bisa instan."
"Oke, mama percaya padamu. Makasih, Sayang. Jangan lupa kalau Papa kamu transfer langsung kirim ke Mama."
"Iya, Ma. Iya." Aditya menyudahi panggilan saat asisten rumah tangga di rumah Bhaskara mengatakan kepadanya kalau kamar sudah siap ditempati. Lelaki muda itu kemudian menyeret kopernya naik ke lantai dua menuju kamar lamanya yang sudah lebih dari satu bulan ia tinggalkan.
Semenjak perceraian kedua orang tuanya diresmikan, Aditya memang lebih memilih tinggal bersama sang mama, terlepas kesalahan fatal yang dilakukan oleh wanita itu karena telah berselingkuh dengan sahabat papanya. Alasannya memilih tinggal bersama Sarah adalah untuk melindungi sang mama dari Adrian karena Aditya tahu Sarah hanya kurang sayang dari sang papa.
Bhaskara memang lelaki yang dingin, arogan serta kaku. Tidak pernah ada keromantisan dalam nuansa kehidupannya, sehingga membuat Sarah tergoda dengan Adrian yang jauh lebih bisa meratukannya. Meskipun tentu saja Adriyan tidak sekaya Bhaskara.
Saat melintasi kamar Bhaskara, Aditya menghentikan langkah. Lelaki muda itu penasaran dengan apa yang dilakukan sang papa di dalam sana bersama Maya. Aditya mendekati pintu kamar lalu menempelkan telinganya. Namun, kedua matanya melebar saat mendengar suara desahan-desahan manja keluar dari mulut Maya. Meskipun terdengar tak begitu jelas, tetapi Aditya bisa membayangkan adegan apa yang saat ini terjadi di dalam sana. Lelaki itu mengepalkan kedua tangannya.
"Ah, sial. Rupanya Papa doyan banget sama daun muda. Maya juga, mau-maunya dia sama lelaki tua kayak papa. Pasti dia hanya mengincar harta Papa. Gue nggak nyangka sama sekali, kalau Maya yang begitu lugu dan polos ternyata sangat materialistis. Gue akan buat elo menyesal karena telah masuk dalam kehidupan orang tua gue, May. Gue nggak akan membiarkan lo dan Papa hidup bahagia di atas penderitaan Mama. Tunggu saja! Permainan akan segera dimulai," batin Aditya sembari meninggalkan kamar sang papa. Lelaki itu mempercepat langkah menuju kamar sembari menyeret koper besar miliknya.