"Maya, lo ngapain di sini?" tanya lelaki muda yang tidak lain adalah Aditya itu sembari menatap ke arah Maya dan Bhaskara secara bergantian. Sepasang pengantin baru itu hanya bisa diam dalam pikiran masing-masing.
"Kamu kenal perempuan ini, Dit?" tanya Sarah, mantan istri Bhaskara sembari menoleh ke arah putranya.
"Iya, Ma. Dia ini Maya, teman kuliahku." Jawaban Aditya membuat Sarah maupun Bhaskara terkejut. Sementara Maya seolah kesulitan menelan ludahnya sendiri saat tahu kalau ternyata Aditya adalah anaknya Bhaskara.
"Jadi, dia teman kuliahmu?" tanya Sarah memastikan.
"Iya, Ma. Bukan hanya teman kuliah, kami juga satu sekolah saat masih SMA. Iya, kan, May?" Aditya menoleh ke arah Maya yang tampak salah tingkah.
"Bhas, kita harus bicara," ucap Sarah sembari menarik tangan lelaki itu menjauh dari Maya dan Aditya. Entah kenapa Bhaskara tidak menolak saat sang mantan istri mengajaknya menjauh dari Maya.
"Kamu apa-apaan, sih?" Bhaskara melepaskan tangannya dari Sarah saat mereka sudah menjauh dari keramaian terutama dari Maya dan Aditya.
"Bhas, bilang sama aku kalau semua ini hanya lelucon. Kamu tidak benar-benar menikah dengan gadis itu, kan? Lihat, bahkan dia seusia anak kita. Dia lebih pantas jadi anakmu," ucap Sarah dengan napas naik turun,
"Ini bukan lelucon, Aku benar-benar sudah menikah dengan Maya," balas Bhaskara tegas membuat Sarah menggelengkan kepala.
"Nggak, Bhas. Nggak mungkin secepat itu kamu menikah lagi. Kita baru satu bulan bercerai. Secepat itukah kamu move on dariku? Aku yakin kamu masih sangat mencintaiku dan aku pun demikian. Tolong bilang padaku, Bhas! Apa yang harus aku lakukan agar kamu memaafkanku. Aku ingin bisa kembali seperti dulu. Aditya pasti akan bahagia kalau kita bersatu lagi."
Mendengar ucapan Sarah, Bhaskara terdiam. Tak dapat dipungkiri, jauh di dalam lubuk hati yang terdalam, lelaki itu masih menyimpan cinta kepada sang mantan istri. Hanya saja rasa sakit karena telah dikhianati membuatnya tidak bisa memaafkan wanita itu. Bagi Bhaskara, seorang laki-laki apabila telah dikhianati, maka dia tidak akan pernah mau kembali. Meskipun sebenarnya masih cinta.
"Kamu salah, Sar. Aku sudah tidak mencintaimu. Sekarang sudah ada Maya yang mengurus hidupku. Aku lelaki normal yang butuh pelayanan biologis dan aku tidak suka berselingkuh apalagi jajan celup sana-sini. Aku seorang lelaki yang menjunjung tinggi kesetiaan. Lagipula, Maya lebih muda dan enerjik. Memang dia lebih pantas menjadi anakku, tetapi dia pandai menyenangkanku di atas ranjang. Dia membuatku serasa sepuluh tahun lebih muda," ucap Baskara berlebihan.
Pada dasarnya, lelaki itu sama sekali tidak mencintai Maya. Sesungguhnya, Sarah masih menduduki tahta tertinggi di hatinya. Bhaskara hanya butuh pelampiasan kebutuhan biologis. Itulah sebabnya lelaki itu menerima tawaran Hendra untuk menukar uang satu miliar yang telah dipinjam lelaki itu dengan Maya.
"Nggak, Bhas. Kamu bohong. Aku tahu kamu belum move on dariku. Kita masih saling cinta." Sarah masih belum menyerah untuk mendapatkan maaf dari Bhaskara. Wanita itu tidak ingin melewatkan kesempatan ini karena semenjak sidang perceraian mereka diputuskan, Bhaskara selalu menghindari pertemuan dengannya.
"Apa kamu pikir aku akan meratapimu dan memohon agar kita rujuk lagi? Jangan mimpi! Aku bisa dapatkan sepuluh kali wanita yang lebih baik daripadamu. Sekali penghianat tetaplah penghianat. Tidak ada maaf untuk penghianat sepertimu."
"Bhas, aku khilaf. Sungguh, Adrian lah yang merencanakan semua ini. Dia datang ke rumah dan merayuku. Kami benar-benar tidak punya hubungan apa-apa sebelumnya. Malam itu kami--"
"Cukup! Aku tidak mau mendengar apapun lagi, Sarah. Aku sudah menikah dan kuharap kamu move on dariku. Menikahlah dengan Adrian dan jangan ganggu kehidupanku." Setelah berkata demikian, Bhaskara berbalik hendak meninggalkan Sarah. Namun, wanita itu memeluk sang mantan suami dari belakang.
"Aku mohon, Bhas! Kembalilah padaku! Aku menyesal. Aku akan memperbaiki semuanya," mohon Sarah sembari mempererat pelukannya. Namun, dengan cepat Bhaskara melepaskan tangan mantan istrinya tersebut.
"Sudah terlambat. Tidak ada yang bisa diperbaiki dalam hubungan kital Aku tidak akan pernah memaafkan penghianatan apapun alasannya."
"Bhaskara--"
"Cukup! Jangan mendekat lagi! Aku tidak mau menjadi pusat perhatian orang. Aku ke sini untuk urusan bisnis. Jadi jangan menggangguku dengan tingkah konyol yang akan mempermalukan dirimu sendiri. Antara kamu dan aku sudah selesai saat Hakim mengetuk Palu dan mengabulkan perceraian kita." Setelah berkata demikian kita sekarang melangkah meninggalkan Sarah.
"Baskara, tunggu!" panggil Sarah lagi. Namun, lelaki itu mengabaikan. Hatinya masih begitu sakit saat mengingat bagaimana wanita itu bergumul mesra dengan Adrian yang tidak lain adalah sahabatnya sendiri. Yang lebih membuat Bhaskara terhina adalah mereka melakukan perselingkuhan itu di dalam rumah Bhaskara, di kamar utama mereka. Penghinaan yang tidak akan pernah dilupakan oleh Bhaskara seumur hidupnya.
Beberapa bulan yang lalu saat anniversary pernikahan mereka yang ke 21, Bhaskara yang tadinya sedang ada urusan bisnis di Jakarta menyempatkan diri pulang ke Surabaya hanya untuk merayakan hari ulang tahun pernikahan mereka. Lelaki itu tidak memberitahukan kedatangannya pada sang istri karena ingin memberi kejutan. Namun, ternyata malah dirinya yang mendapatkan kejutan karena mendapati Sarah sedang bergumul mesra dengan sahabatnya sendiri di dalam kamar mereka tanpa sehelai benang pun.
Hati Bhaskara benar-benar hancur kala itu. Jijik dan juga tak menyangka kalau Sarah, istri yang benar-benar ia cintai dengan setulus hati dan sudah 21 tahun menemaninya mengarungi bahtera rumah tangga ternyata mengkhianatinya. Sedangkan Adrian, sahabat sekaligus orang kepercayaannya telah menusuknya dari belakang.
Sementara itu Aditya dan Maya juga tengah berdebat sengit. Lelaki muda itu terus mendesak Maya dan menanyakan tentang hubungannya dengan sang papa. Hingga akhirnya, wanita itu pun jujur bahwa dirinya telah menikah dengan Bhaskara.
"Apa? Lo pasti sedang bercanda, kan, May? Mana mungkin lo menikah dengan papa gue?" Aditya menggelengkan kepalanya. Ingin sekali lelaki itu tidak mempercayai pengakuan Maya yang mengatakan telah menikah dengan papanya.
"Gue minta maaf, Dit." Maya menundukkan wajah tanpa berani menatap lelaki muda yang berdiri di hadapannya itu. Satu tahun yang lalu, saat keduanya sama-sama baru memasuki bangku kuliah, Aditya mengungkapkan perasaannya kepada Maya. Lelaki itu mencintai Maya dan ingin menjadi pacarnya. Namun, Maya yang masih ingin fokus belajar mengatakan agar mereka berteman saja.
"Lo bilang masih ingin fokus belajar dan nggak mau pacaran, tetapi kenapa tiba-tiba lo menikah, May? Kenapa juga harus sama papa gue?" Aditya menyunggar kepalanya dengan kasar. Harapan terbesarnya setelah menyelesaikan kuliah nanti adalah melamar Maya dan menikah dengan wanita itu, punya keturunan dan bahagia selamanya. Namun, semua itu pupuslah sudah.
"Maafkan gue, Dit." Hanya itu yang bisa keluar dari mulut Maya. Mana mungkin wanita itu menceritakan pada Aditya kalau dirinya hanya menjadi alat penebus utang sang ayah kepada Bhaskara.
"May, sudah bicaranya?" tanya Bhaskara yang tiba-tiba sudah berada di dekat mereka, membuat kedua sejoli itu terhenyak. Bhaskara terlihat kurang suka melihat Maya berbicara berdua dengan putranya, apalagi setelah tahu mereka ternyata teman kuliah.
"Sudah, Mas," balas wanita itu sembari mendekat ke arah Bhaskara. Maya tidak ingin membuat masalah dengan suami arogannya itu. Lagipula kedatangan Bhaskara telah menyelamatkannya dari Aditya yang masih ingin bertanya banyak hal terhadapnya.
Maya pun mendampingi Bhaskara menemui rekan-rekan bisnisnya. Tanpa rasa canggung, Bhaskara memperkenalkan Maya sebagai istri barunya. Mereka pun mengagumi kecantikan Maya yang paripurna. Sebagian besar dari mereka merasa heran, kenapa wanita muda dan cantik seperti Maya malah menikah dengan Bhaskara yang jarak usianya terpaut jauh.
Sedangkan Sarah dan Aditya sudah terlebih dahulu pulang karena mereka mempunyai urusan yang berbeda di hotel tersebut.
Bhaskara mengajak Maya pulang setelah urusan pertemuan dengan rekan bisnisnya selesai. Malam itu Bhaskara merasa puas karena mendapatkan banyak pujian dari rekan-rekannya yang mengatakan dirinya pintar mencari istri. Mereka juga memuji Bhaskara yang tidak larut dalam kesedihan karena dikhianati sang istri. Justru mereka kagum karena lelaki itu begitu cepat mendapatkan pengganti Sarah yang tentu saja jauh lebih muda dan cantik.
Mobil BMW hitam metalik yang dikendarai Bhaskara akhirnya sampai di halaman rumah mewahnya di kompleks perumahan elit yang ada di kota Surabaya. Setelah memarkirkan mobil, mereka pun turun dan berjalan memasuki rumah. Namun, keduanya terkejut saat melihat seorang lelaki muda sudah duduk di sofa ruang tamu menyambut kedatangannya.
Baik Baskara maupun Maya melebarkan kedua matanya saat melihat sebuah koper besar di letakkan tak jauh dari tempat duduk lelaki itu.
"Adit, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Bhaskara sembari menatap koper besar milik putranya itu.
"Aku memutuskan untuk tinggal bersama Papa di sini. Boleh, kan, Pa?" Pertanyaan Aditya membuat Bhaskara dan Maya saling berpandangan.