"Astaghfirullahaladzim, aku kesiangan," ucap Maya sembari beranjak dari ranjang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 06.00 pagi. Semalaman wanita itu tidak bisa memejamkan mata memikirkan nasib pernikahannya dengan Bhaskara. Namun, Maya sadar, semua telah menjadi keputusannya demi menebus utang sang ayah dan menyelamatkan ibu serta adiknya dari lelaki temperamental itu.
Maya segera ke kamar mandi dan mengambil air wudhu, lalu mengerjakan salat subuh. Meskipun sudah kesiangan, wanita itu tetap mengerjakan kewajiban dua rakaatnya. Tidak terlihat tanda-tanda Bhaskara memasuki kamar. Tadi malam setelah melakukan ritual suami istri, Bhaskara langsung meninggalkannya begitu saja dan hingga saat ini masih belum kembali.
Beberapa saat setelah mengerjakan salat subuh terdengar suara seseorang mengetuk pintu. Seorang wanita berpakaian seragam pelayan warna hitam kombinasi putih masuk dan memberikan hormat.
"Selamat pagi, Nyonya. Perkenalkan saya Sundari, salah satu asisten rumah tangga di rumah ini. Saya ingin bertanya apakah Nyonya mau turun sarapan atau saya bawakan sarapan ke kamar?" tanya wanita itu membuat Maya terkesiap. Gadis itu lupa kalau sekarang sudah menjadi istri sah salah satu sultan di Kota Surabaya. Bhaskara memang termasuk jajaran pengusaha kaya yang ada di kota pahlawan itu.
"Apa Om Baskara juga akan sarapan bersama?" tanya Maya.
"Tidak, Nyonya. Tuan Bhaskara sudah berangkat ke kantor pagi-pagi sekali."
"Apa? Sudah ke kantor? Kalau begitu aku sarapan di kamar saja."
"Baik, Nyonya." Pelayan itu kemudian mohon diri.
"Bukannya baru tadi malam kami menikah? Kenapa sekarang dia sudah pergi ke kantor? Sungguh aneh. Tidak ada pesta maupun inisiatifnya untuk mengenalkan aku dengan keluarga. Mungkin benar kalau pernikahan ini memang tidak ada artinya bagi Om Bhaskara. Aku hanya dianggap layaknya p*****r yang bisa dia pakai untuk menyalurkan hasrat. Ah, sudahlah. Sepertinya aku harus terbiasa menerima nasibku. Bukankah dia telah membeliku satu miliar dari Ayah?" pikir Maya. Tanpa terasa kedua matanya basah oleh air mata.
"Sabar, May. Semoga pengorbananmu tidak sia-sia. Yang terpenting adalah Ibu dan Nathan sudah aman." Maya mencoba menghibur dirinya sendiri.
Seharian Maya hanya di kamar sambil berselancar di media sosial dan enggan keluar. Para asisten rumah tangga tampak menjaga jarak karena menghormati dirinya sebagai Nyonya rumah. Berita pernikahannya dengan Bhaskara pun tidak terlalu diketahui oleh teman-temannya karena memang sang ayah tidak mengadakan pesta. Maya bebas berinteraksi dengan teman-teman kuliahnya di media sosial seperti biasanya tanpa memberitahukan mereka soal pernikahannya.
Saat malam tiba, Bhaskara tiba-tiba muncul di kamar membuat Maya terkejut. Lelaki itu tampak sudah rapi menggunakan jas lengkap dan memang terlihat sangat tampan dan lebih muda daripada usianya.
"Ayo ikut aku!" titahnya membuat Maya yang tadinya duduk di tepi ranjang seketika berdiri.
"Kita mau ke mana, Om?"
"Nanti juga kamu tahu," balas Bhaskara sembari menarik pergelangan tangan Maya.
"Tapi, Om. Aku belum ganti baju," ucap Maya yang hanya menggunakan dress pendek sebatas lutut.
"Nggak perlu. Nanti saja di salon," ucap Bhaskara sembari berjalan ke luar kamar. Maya yang tangannya ditarik oleh Bhaskara pun terpaksa mengikuti langkah lelaki itu keluar, hingga kini keduanya sama-sama berada di dalam mobil.
Wanita itu tidak berani bertanya lagi, sehingga sepanjang perjalanan, keduanya kembali terjebak dalam keheningan. Bhaskara membelokkan mobilnya ke sebuah salon kecantikan ternama. Mantan duda tampan itu mengajak Maya masuk dan keduanya langsung disambut oleh dua orang wanita cantik.
"Selamat datang, Tuan Bhaskara. Ada yang bisa kami bantu?" tanya salah satu dari keduanya sembari melirik ke arah Maya.
"Namanya Maya. Dandani dia! Aku ingin malam ini dia tampil cantik dan elegan. Kalian sudah tahu bagaimana seleraku, kan? Jangan khawatir, aku pasti berikan tips buat kalian kalau hasilnya tidak mengecewakan." Bhaskara menunjuk ke arah Maya.
"Wah terima kasih, Tuan. Kami tidak akan mengecewakan Anda. Silahkan, Nona Maya!" Dua wanita cantik itu segera mengajak Maya masuk untuk menjalani perawatan. Sementara Bhaskara menunggu di ruang sambil memainkan ponselnya. Setelah hampir satu jam berlalu, akhirnya dua wanita itu keluar bersama Maya yang sudah diubah penampilannya.
Bhaskara yang semula fokus pada ponselnya langsung memandang takjub dengan penampilan baru Maya. Lelaki tampan itu tidak menyangka kalau gadis penebus utang yang kini menjadi istrinya itu berubah menjadi bidadari yang begitu cantik. Maya sendiri tidak menyangka kalau penampilannya malam ini benar-benar sempurna.
Gaun panjang warna merah dengan belahan depan hingga ke paha, serta bagian atas yang terbuka terlihat begitu kontras dengan kulit Maya yang putih bersih hampir tanpa cela. Belum lagi rambut panjang yang disanggul ke atas, hingga leher jenjang indah milik gadis itu tampak begitu menggoda membuat Bhaskara kesulitan menelan salivanya.
"Bagaimana, Tuan Baskara? Apa Anda senang dengan penampilan baru, Nona Maya?" tanya salah satu dari wanita itu membuat Baskara terbuyar dari lamunannya.
"Sempurna! Kalian memang tidak pernah mengecewakanku," puji Bhaskara. Kedua mata elang lelaki itu tidak lepas memandang kecantikan sang istri. Ada yang menghangat di hati Maya melihat tatapan kekaguman dari Bhaskara terhadapnya. Entah kenapa lelaki itu berubah lembut tidak seperti tadi malam yang dingin.
"Terima kasih pujiannya, Tuan. Nona Maya memang sangat cantik. Oleh sebab itu, memakai dandanan apapun terlihat sangat pantas," balas wanita yang satunya.
"Hmm, kalian benar. Aku puas dengan hasil kerja kalian dan ini tips untuk kalian." Bhaskara menuliskan sejumlah angka di atas selembar cek lalu memberikannya kepada dua wanita yang bekerja di salon kecantikan itu. Keduanya pun sangat senang dan berterima kasih karena menerima tips dalam jumlah yang besar dari Bhaskara.
Lelaki itu kemudian mendekat ke arah Maya, lalu melingkarkan lengannya di pinggang ramping sang istri. Maya sempat kaget dengan perlakuan Bhaskara. Namun, entah kenapa gadis itu malah merasa nyaman.
"Wah Anda berdua serasi sekali," ucap salah satu dari wanita pekerja Salon itu.
"Maaf kalau saya lancang, Tuan. Apa Nona Maya ini pacar baru Anda?" tanya wanita yang satunya.
"Bukan pacar. Dia istri saya." Jawaban Bhaskara membuat dua wanita itu menjerit histeris. Sementara wajah Maya merona. Entah kenapa wanita itu merasa bahagia saat Bhaskara mengakuinya sebagai istri di depan dua karyawan salon itu.
"Wah, Tuan Baskara so sweet. Nggak denger pacarannya tiba-tiba sudah menikah. Pasti Nona Maya ini sangat istimewa," balas wanita yang tadi bertanya. Bhaskara hanya tersenyum, lalu mengajak Maya ke mobil.
"Om, saya--"
"Jangan panggil aku Om lagi. Panggil Mas. Kamu istriku, bukan sugar baby, paham?" potong Bhaskara membuat Maya bingung dengan perubahan sikapnya. Namun, gadis itu tidak berani protes.
"Iya, Om. Eh maksud saya ... Mas."
"Hmm, bagus. Kamu harus patuh pada semua yang aku perintahkan. Ingat, aku sudah membelimu satu miliar dari Hendra. Jadi, jangan sampai kamu membuat aku marah dan terpaksa mengembalikanmu pada ayahmu yang tukang judi dan mabuk itu," tegas Bhaskara kembali ke setelan awal. Dingin dan arogan.
Maya hanya bisa mengangguk patuh karena baginya, bertahan dengan Bhaskara yang arogan sebagai istri jauh lebih baik daripada kembali pada Hendra yang suka menyiksanya.
"Kita akan mendatangi pertemuan penting. Jadi bersikaplah yang manis. Jangan banyak bicara kalau tidak aku minta." Setelah berkata demikian Bhaskara lalu mulai menjalankan mobil BMW hitam metalik miliknya meninggalkan area parkir salon kecantikan menuju sebuah hotel berbintang. Lagi-lagi tidak ada obrolan antara keduanya.
Bhaskara menggandeng tangan Maya memasuki lobby hotel. Lelaki itu memperkenalkan sang istri kepada beberapa rekan yang kebetulan berpapasan dengannya. Maya merasa bagaikan boneka pajangan yang hanya mengikuti kemauan sang suami tanpa banyak bicara maupun protes.
"Bhaskara, aku nggak nyangka kita akan bertemu di sini. Siapa dia?" tanya seorang wanita cantik saat Bhaskara mengambil kue. Namun, bukannya menjawab pertanyaan wanita itu, Bhaskara malah menyuapi Maya dengan kue yang ada di tangannya.
Maya yang terkejut melihat perlakuan sang suami hanya bisa mengimbangi dengan membuka mulutnya dan menerima suapan dari Bhaskara. Lelaki itu pun mengusap mulut Maya dengan lembut menggunakan ibu jari tangan kirinya saat potongan kue yang ia suapkan menempel di bibir gadis itu. Lagi-lagi kelakuan Bhaskara membuat Maya terkejut.
"Bhas, aku tanya padamu. Siapa dia?" tanya wanita itu sedikit meninggikan suaranya karena merasa tidak dihiraukan oleh Bhaskara.
"Dia istriku."
"Apa? Istri? Kamu pasti bercanda. Tidak mungkin secepat ini kamu move on dariku," balas wanita yang tidak lain adalah mantan istri Bhaskara itu.
"Buat apa aku berbohong? Dia memang istriku. Dia jauh lebih muda dan cantik daripada kamu. Jadi, untuk apa aku meratapi pengkhianat sepertimu?" balas Bhaskara sembari menatap tajam ke arah sang mantan istri.
"Mama di sini rupanya?" Seorang lelaki muda tiba-tiba datang menghampiri mantan istri Bhaskara membuat Maya terkejut.
"Aditya?"