Bab 2. Utang Satu Milyar

1294 Words
"Saya terima nikah dan kawinnya Maya Wulandari dengan maskawin tersebut dibayar tunai." Bhaskara Adiwijaya melafalkan kalimat ijab kabul dengan lancar tanpa sedikitpun terjadi kesalahan. Kedua mata Weni menitikkan air mata. Dalam ucapan ijab kabul tersebut nama ayah kandung Maya tidak disebutkan karena gadis itu adalah anak hasil pelecehan yang diterima Weni sebelum menikah dengan Hendra, sehingga Maya tidak bisa dinasabkan kepada Hendra melainkan kepada ibunya. Itulah mengapa saat ijab kabul hanya disebutkan nama lengkap Maya tanpa embel-embel nama ayah kandungnya. "Bagaimana para saksi? Sah?" "Sah!" "Alhamdulillah. Barakallahu lakuma wa baroka alaikumma wa jama'a bainakuma bil khoir." Penghulu kemudian melanjutkan membacakan doa dan nasehat pernikahan untuk kedua mempelai, lalu mempersilakan Bhaskara menyematkan cincin pernikahan ke jari manis Maya. Wanita itu pun menjabat dan mencium punggung tangan lelaki yang baru saja menghalalkannya itu, dilanjutkan Bhaskara yang menjatuhkan kecupan di puncak kepala Maya. Acara ijab kabul pun terlaksana dengan lancar. Beberapa tetangga dan saksi dipersilakan pulang setelah acara ramah tamah. Sementara Maya bersiap untuk diboyong ke rumah Bhaskara hari itu juga setelah sesi foto bersama selesai. Dengan berat hati, Weni melepaskan putrinya untuk mengikuti sang suami. Meskipun sempat menangis karena tidak tahu bagaimana nasib Maya nanti jika hidup bersama lelaki yang lebih pantas menjadi ayahnya, tetapi Weni hanya bisa pasrah. Semua atas kemauan Maya sendiri dan itu untuk menyelamatkan dirinya dan juga Nathan. "Bu, setelah ini Rossa akan menjemput ibu dan Nathan. Kalian harus segera pergi dari rumah ini. Ikuti saja ke mana Rossa pergi. Jangan khawatirkan aku. Insya Allah aku akan baik-baik saja," pesan Maya sebelum akhirnya masuk ke mobil Bhaskara dan meninggalkan rumah kedua orang tuanya. Sementara itu, Hendra yang baru saja mendapatkan uang dari Bhaskara, yaitu maskawin Maya, segera pergi ke klub malam untuk mabuk dan bersenang-senang dengan wanita. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Weni dan Nathan. Keduanya dijemput oleh Rossa, sahabat baik Maya dan pergi meninggalkan rumah Hendra. Rossa sudah mempersiapkan rumah kontrakan di luar kota atas permintaan Maya. Di sana nanti, Weni bisa memulai hidup baru berdua hanya dengan Nathan dan memulai usaha membuka warung makan karena wanita itu memang pandai memasak. Kebetulan rumah kontrakan yang akan ia tempat di terletak di pinggir jalan raya, sehingga cukup strategis untuk membuka warung. Sementara itu, dalam perjalanan ke rumah Bhaskara, Maya hanya terdiam tanpa berani membuka suara. Diam-diam wanita itu memperhatikan lelaki yang kini menjadi suaminya. Meski sudah berusia 45 tahun, tetapi wajah dan fisik Bhaskara masih terlihat muda seperti usia 35 tahun. Selain tampan dan memiliki tubuh ideal, Bhaskara juga gemar berolahraga dan pandai merawat diri. Di samping itu, faktor ekonomi yang serba kecukupan juga menunjang penampilannya lelaki itu. Tidak ada obrolan antara sepasang pengantin baru itu layaknya orang yang baru saja menikah. Keduanya sama-sama dingin dan bagaikan orang asing, hingga mobil BMW warna hitam metalik yang dikendarai Bhaskara memasuki pekarangan sebuah rumah mewah yang ada di kompleks perumahan elit di Kota Surabaya. Bhaskara langsung membawa Maya ke kamar utama yang ada di lantai dua. "Apa yang membuatmu mau menikah denganku?" tanya Bhaskara sembari melepas pakaiannya. Maya memalingkan wajah saat melihat tubuh atletis sang suami terekspos sempurna. "Saya--" Maya menggantung kalimatnya. Gadis itu bingung mau menjawab apa karena takut salah bicara. "Karena dipaksa ayahmu?" tanya Bhaskara membuat Maya akhirnya mengangguk pelan. Sementara mantan duda itu tersenyum miring, lalu mendekati Maya yang duduk di tepi ranjang. "Jangan kamu pikir aku menerima pernikahan ini karena aku menyukaimu." Ucapan Bhaskara membuat Maya terkejut. Tadinya gadis itu mengira kalau Bhaskara adalah lelaki hidung belang yang tentu saja menyukai daun muda sepertinya. Namun, ternyata dia salah. "Kalau Om tidak menyukai saya, kenapa Om setuju kita menikah?" tanya Maya heran membuat Bhaskara tertawa. "Kamu memang cantik, Maya. Kamu masih muda dan punya tubuh yang seksi. Aku menikah denganmu tentu saja karena ingin menikmati tubuhmu karena aku tidak suka jajan di luar dan tentu saja karena kamu masih virgin," ucap Bhaskara sembari menatap Maya penuh nafsu. Lelaki itu juga mengulurkan tangannya, lalu meraba tubuh Maya. Spontan gadis itu memundurkan posisi duduknya. "Om, tapi aku belum siap. Bisakah yang itu kita tunda dulu?" tanya Maya memberanikan diri. Namun, hal tersebut membuat wajah Bhaskara berubah murka. "Kamu tahu berapa utang ayahmu?" tanya Bhaskara yang dijawab gelengan kepala oleh Maya. "Utang ayahmu, satu miliar. Dia sering kalah judi dan selalu minta pinjaman padaku. Aku sudah berbaik hati menukar uang sebanyak itu dengan tubuhmu, lalu kamu minta malam ini aku tidak melakukannya? Kamu pikir aku bodoh?" Bhaskara menatap tajam ke arah Maya. "Tapi, Om. Saya belum siap. Semuanya terlalu mendadak buat saya. Tolong beri saya waktu." Maya mencoba bernegoisasi dengan Bhaskara membuat lelaki itu membuang napas kasar. "Kalau kamu tidak melayaniku malam ini, maka aku akan mengembalikanmu pada Hendra dan aku akan minta uang satu miliarku kembali," ancam Bhaskara membuat Maya menggeleng. "Jangan, Om. Ayah bisa menyiksaku. Tolong kasihani aku, Om," pinta Maya memelas. Namun, mantan duda arogan itu tidak peduli. "Layani aku atau kembali ke rumahmu," ucap Bhaskara membuat Maya tidak punya pilihan lain. "Baiklah, Om. Saya akan melayani Anda malam ini," ucap Maya dengan bibir bergetar, membuat Bhaskara tersenyum. Setidaknya melayani lelaki itu lebih baik daripada dikembalikan ke rumah Hendra. Maya bisa mendapatkan siksaan bahkan pelecehan dari suami ibunya itu. "Tunggu apa lagi? Cepat buka semua bajumu! Aku ingin melihat tubuh seksimu tanpa sehelai benang pun." Mendengar ucapan Bhaskara, Maya hanya bisa menelan ludah yang terasa mengental di tenggorokan. Kedua matanya sudah dipenuhi kristal bening. "Kenapa masih diam? Cepat buka bajumu!" titah Baskara membuat Maya terhenyak. Dengan tangan gemetar, gadis itu membuka satu persatu kancing baju tidurnya hingga tampak bukit kembar yang masih terbalut bra hitam. Bhaskara menelan saliva. "Buka lagi," titahnya lagi. Sambil bercucuran air mata, Maya melepaskan pakaian bawahnya hingga tinggal segitiga pengaman yang menutupi area sensitifnya. "Cukup! Yang itu biar aku yang luka," ucap Bhaskara sembari mendekati Maya. "Jangan menangis, aku akan membuatmu merasakan kenikmatan yang belum pernah kamu rasakan sebelumnya," bisik Bhaskara membuat Maya bergidik ngeri. Apalagi saat tangan lelaki itu mulai beraba bukit kembar miliknya dan melepaskan penutup itu. Maya pun sontak memejamkan mata. Baru kali ini ada seorang laki-laki yang melihatnya tanpa busana. Walaupun lelaki yang ada di hadapannya kini adalah suami yang telah halal untuknya, tetapi Maya merasa risih sekaligus malu. Bhaskara mendaratkan ciuman di bibir mungil Maya dengan begitu rakus. Sementara Maya hanya bisa pasrah tanpa memberikan perlawanan. Ciuman itu kemudian turun ke leher, ke area d**a bahkan perut Maya, membuat gadis itu rasakan sensasi yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Bhaskara kemudian membaringkan tubuh Maya di atas ranjang dan melepaskan kain terakhir penutup area sensitif gadis itu. Melihat bagian inti itu telah terbuka, Maya sontak merapatkan kedua pahannya. Namun, Bhaskara segera membukanya kembali dan tersenyum penuh gairah. "Hendra bilang kamu masih virgin. Jadi, aku akan bermain dengan lembut agar kamu tidak kesakitan," ucapnya sembari mendaratkan kecupan di area sensitif itu. Sontak Maya menjerit. Belum lagi saat Bhaskara menggigit lembut bagian itu. Tubuh Maya pun bergetar. Hatinya menolak sentuhan Baskara ,tetapi tidak dengan tubuhnya. Saat merasakan area itu telah basah, Bhaskara pun segera melakukan penyatuan yang membuat Maya kembali menjerit karena merasakan sesuatu yang robek di area sensitifnya. "Kamu tenang saja, May. Sakitnya cuma sebentar, setelah itu hanya akan ada kenikmatan," bisik Bhaskara. Namun, Maya hanya memejamkan mata merasakan sensasi rasa sakit bercampur nikmat yang timbul oleh gerakan lelaki itu. Hingga akhirnya, gadis itu merasakan cairan hangat masuk ke area sensitifnya itu bersamaan dengan tubuh keduanya yang bergetar hebat. "Ah, sial! Kenapa aku kebablasan? Harusnya aku keluarkan," batin Bhaskara sembari melepas penyatuan mereka. Lelaki itu segera bangkit dan membersihkan diri ke kamar mandi, lalu pergi meninggalkan kamar itu dan membiarkan Maya tidur sendirian. Sementara Maya hanya bisa menangis merasakan perih di area sensitifnya. Maya merasa seperti seorang p*****r yang setelah habis dipakai, ditinggalkan oleh pelanggannya. "Ya Allah, pernikahan macam apa ini? Apakah aku hanya akan menjadi b***k nafsunya Om Baskara?" batin Maya dalam hati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD