Chapter 12

1022 Words
Davren menoleh, menatap gadis yang terlelap di jok sampingnya. Gadis itu terlihat nyenyak, meski tubuhnya beberapa kali bergerak tidak nyaman. Kepala gadis itu bersandar pada kaca mobil Davren yang berada di sisi kiri gadis itu.             Hilya pasti kelelahan, gadis itu sangat bersemangat membuatkan makanan untuk anak-anak, menemani mereka bermain, dan membantu membersihkan panti.             Di saat mungkin cewek lain akan mengeluh melakukan semua pekerjaan itu, Hilya malah melaluinya dengan senyuman yang terpatri di bibir soft pinknya.             Gadis itu terlihat begitu menikmati waktunya bersama anak-anak panti. Bahkan Davren masih dapat mengingat dengan jelas tawa ceria Hilya saat bercanda dengan anak-anak.             Davren kembali menatap ke arah depan saat bunyi klakson terdengar, pertanda lampu merah telah berganti hijau.             Cowok itu refleks menoleh saat merasakan sesuatu diletakan di bahu kirinya secara tiba-tiba. Masih dengan mata tertutup rapat, kepala Hilya bersandar di bahu kokoh Davren, memberikan kenyamanan sendiri di bawah alam sadar gadis itu.             "Kak Daplen beluntung dapetin Kak Hilya." Ucapan bocah laki-laki bernama Vero itu seakan bergema, terus berputar di kepala Davren.             Sorot mata tulus Vero, menyatakan ucapannya tentang Hilya bukan hanya sebuah pujian belaka. "Kak Hilya itu selain cantik, juga baik. Kalo Valo besal, pasti Valo nikahin."             Bocah kecil itu mampu membuat perasaan Davren yang tak terjama menjadi terinjak-injak. Vero sama sekali tidak tahu apa yang terjadi selama ini antara Davren dan Hilya, tapi ucapan anak itu seakan menampar Davren secara halus.             Davren akui, Hilya memang berbeda. Gadis itu dapat membuat seseorang menyukainya saat bertatapan pertama kali dan dapat membuat seseorang jatuh cinta saat obrolan pertama mereka.             Davren mengalami hal itu.             Bahkan Davren dapat memastikan kalau semua anak panti dekat dengan gadis itu. Cara mereka tersenyum bahagia dan sangat antusias adalah bukti kalau Hilya berharga bagi mereka.             Peri cantik, Davren tau siapa yang pertama kali memberikan julukan itu pada Hilya. Namun, satu hal ... Davren setuju.             Davren menghentikan laju mobilnya tepat di depan rumah Hilya. Cowok itu tidak berniat sedikit pun untuk membangunkan Hilya, tangannya malah terangkat mengelus pipi lembut gadis itu.             Sorot mata cowok itu melunak, mengisyaratkan rindu yang tak terbendung.             "I miss you," bisik Davren pelan sebelum menyandarkan kepala Hilya pada sandaran jok, kemudian cowok itu keluar dari mobilnya dan membuka pintu jok samping kemudi.             Perlahan, Davren mencondongkan tubuhnya ke depan membuka seat belt yang menahan tubuh Hilya. Cowok berahang kokoh itu meletakan tangannya di lipatan bawah paha Hilya dan juga pundak gadis itu, mengangkat tubuh itu, dan membawanya menuju rumah.             Davren memencet bel dengan hidungnya, ada untungnya juga memiliki hidung mancung saat situasi seperti ini.             Sekitar beberapa menit kemudian, wanita paruh baya membukakan pintu. "No-non Hilya kenapa?" tanyanya khawatir saat melihat Nona majikannya yang sudah ia anggap seperti anaknya itu berada di gendongan seseorang.             "Ketiduran. Kamarnya di mana?" tanya Davren menjawab sekaligus bertanya.             Wanita paruh baya yang Davren yakini adalah pembantu di rumah Hilya itu, menggeser posisi untuk memberi jalan pada Davren masuk, dan menunjukan kamar Hilya yang ada di lantai dua.             Wanita itu menghembuskan napasnya lega, ternyata hanya tidur.             "Di sini, Den." Wanita itu membukakan pintu kamar Hilya untuk Davren.             "Terima kasih," ucap Davren sopan sebelum masuk ke kamar gadis itu dan meletakan tubuh Hilya dengan hati-hati di atas ranjang dengan selimut bernuansa bintang dan bulan.             Davren beranjak melepaskan sepatu Hilya dan menarik selimut hingga menutupi d**a gadis itu.             Seakan ada tarikan tak kasat mata, Davren mencondongkan wajahnya, mengecup singkat kening Hilya sambil bergumam.             "Good night." ♡♡♡               Hilya melenguh, mempererat pelukannya pada guling kesayangannya saat mendengar suara pintu kamar yang diketuk, bersamaan dengan suara Bi Lesta yang memanggil-manggil namanya.             "Non Hilya, Non ada temen Non yang tadi malem di bawah. Non Hilya, Non."             Bukannya bangun, Hilya malah menarik selimutnya hingga menutupi seluruh tubuhnya. Hilya merasa kepalanya sangat berat, bahkan membuka matanya saja sangat susah.             "Non." Bi Lesta memutuskan membuka pintu kamar Nonanya itu.             "Non bangun Non, nanti si Non telat," ucap Bi Lesta sambil menepuk-nepuk pelan pundak Hilya yang dibalut selimut. Tidak biasanya Hilya susah dibangunkan seperti ini.             Hilya membuka selimutnya, menatap Bi Lesta dengan mata yang merah. "Bi, tolong bilangin sama Pak Jaja buat nganterin surat ke sekolah Hilya, ya? Hilya nggak enak badan," ucap Hilya dengan suara seraknya.             Hilya tidak berbohong, kepalanya pusing dan ia merasa kedinginan.             Wajah Bi Lesta berubah menjadi cemas, wanita paruh baya itu menempelkan punggung tangannya di dahi Hilya. "Non teh demam, Bibi teleponin dokter, ya?"             Hilya terbatuk, tenggorokannya benar-benar tidak nyaman. "Nggak usah, Bi. Hilya mau istirahat aja," ucap Hilya dengan senyuman tipis mengakhiri ucapannya.             "Ya sudah, Bibi bawain sarapan buat Non ya." Bi Lesta melangkah keluar dari kamar Hilya membuat gadis itu kembali menarik selimut hingga menutupi wajahnya.             Hilya memasukan tubuhnya lebih dalam ke dalam selimut saat mendengar suara pintu kamarnya yang dibuka kembali. Pasti Bi Lesta, perawatnya dari kecil itu pasti akan memaksa Hilya makan, lalu minum obat.             "Bi, Hilya nanti aja makannya," ucap Hilya dari balik selimut, tidak memberikan kesempatan pada wanita yang dianggapnya sebagai Ibu keduanya itu untuk membujuknya agar makan.             Sedetik kemudian, selimut yang membalut tubuh Hilya ditarik turun hingga pinggang gadis itu. Refleks, Hilya membulatkan mata dengan tindakan itu dan semakin kaget saat melihat siapa pelakunya yang ternyata bukan Bi Lesta             "Davren?!"             Davren menaikan sebelah alisnya melihat respon Hilya yang seperti habis melihat setan di siang bolong. Tanpa mau repot-repot meminta izin, Davren duduk di tepian ranjang Hilya.             Punggung tangan cowok itu terulur menyentuh kening Hilya. "Panas," gumam cowok itu.             Hilya mengerjapkan matanya tidak percaya, seperti orang bodoh, Hilya mengangkat tangannya menyentuh hidung mancung Davren dengan jari telunjuknya.             "Aku mimpi, ya?" Gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya.             "Kok Davren ada di sini? Astaga Hilya ... masa udah bangun, tapi masih tetap mimpi sih." Sudut bibir Davren melengkung, membuat senyuman tipis saat mendengar ucapan Hilya.             "Gue nyata."             "Hah?"             Davren berdecak pelan, membantu Hilya untuk duduk. "Lo harus makan."             Sekali lagi, Hilya mengerjapkan matanya sambil menggelengkan kepala ke kiri dan kanan. Menatap cowok di hadapannya itu dari bawah sampai atas.             Menginjak tanah dan berpakaian putih abu-abu.             "Kamu ...." Hilya meneguk salivanya susah payah. "Davren?"             Saking kagetnya, Hilya bahkan tidak menyadari kalau Davren sudah menyendokan bubur dan mengarahkannya ke bibir Hilya. "Makan," suruh cowok beralis tebal itu.             Hilya mengangguk dan menerima suapan Davren itu dengan jantung berdebar. Masih antara percaya dan tidak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD