Senyuman manis itu tak sirna dari paras ayu Hilya sejak gadis itu memasuki mobil Davren.
Jujur, Hilya merindukan aroma mint yang menyeruak memenuhi mobil itu. Aroma khas dari Davren.
Gadis itu menoleh, menatap Davren secara terang-terangan. Memanfaatkan waktu sebaik mungkin karena tidak ada yang tau kapan hari itu datang. Hari di mana Hilya tidak dapat lagi menatap Davren.
Davren yang merasa ditatap, menoleh membuat mata mereka bertabrakan.
Kadang Hilya ingin menghentikan waktu, bukan karena tetap ingin ada dalam moment itu, tapi karena Hilya takut tentang apa yang akan terjadi nanti.
"Kenapa?"
Hilya mengalihkan tatapannya, menggeleng pelan. "Hm kamu nggak sibuk?"
Davren menaikan sebelah alisnya, tidak berniat menjawab ucapan Hilya. Cowok itu kembali fokus menyetir mobilnya, sambil sesekali melirik ke arah Hilya. Entah mengapa setiap Davren menatapnya, gadis itu juga menatap Davren membuat suasana menjadi sangat canggung.
"Persimpangan belok kanan," ucap Hilya.
Setelah beberapa menit kemudian, mobil Davren kini sudah memasuki pekarangan panti asuhan Mulia. Hilya dengan semangat keluar dari mobil Davren dan membuka pintu jok belakang untuk mengambil belanjaannya.
Belum sempat Hilya menyentuhnya, tangan seseorang yang lebih panjang, lebih dahulu meraihnya. "Gue aja."
Hilya sempat membulatkan matanya, lalu tersenyum manis. "Makasih."
Tanpa menunggu respon Davren selanjutnya, Hilya sudah berlari memasuki panti dengan sorot mata berbinar.
"Assalamualaikum."
Semua anak panti serta seorang perempuan paruh baya menoleh, menatap Hilya dengan satu sorot yang sama. Bahagia.
"Kak Hilya!" Anak-anak panti berlari ke arah Hilya dan langsung memeluk Hilya, membuat tubuh gadis itu hampir saja jatuh jika seseorang tidak menahannya.
Gadis bermata belo itu menoleh, menatap seseorang yang menahan tubuhnya. Jantungnya berdetak tak beraturan bersamaan dengan bibirnya yang seakan ditarik paksa agar melengkung.
"Kak Hilya kok lama nggak ke sini?"
"Iya, Kak. Kami kangen."
"Kakak nggak kangen sama kami, ya?"
"Kak Adrian nggak datang, Kak?"
Hilya berjongkok, mencium satu persatu anak-anak itu. "Menurut kalian, apa mungkin Kakak nggak kangen sama kalian?"
Gadis itu menggoyangkan dagu salah satu anak panti yang berumur enam tahun. "Gemes."
"Kak Lyaaa!" Seorang bocah laki-laki yang berumur sekitar lima tahun berlari ke arah Hilya.
Senyuman Hilya semakin merekah, merentangkan tangannya menyambut bocah laki-laki itu.
Anak laki-laki bernama Vero itu mengerucutkan bibirnya menatap Hilya dengan tangannya yang masih melingkar di leher Hilya.
"Kak Lya jahat! Velo nungguin Kakak."
Hilya terkekeh kecil, mengecup bibir anak menggemaskan itu. "Ulu ulu Vero nungguin Kakak?" Hilya menjepit hidung Vero dan menggoyang-goyangkannya ke kiri dan kanan.
Vero memajukan bibirnya, membuat Hilya tidak tahan untuk tidak mengecupnya. "Kecayangan acu, jangan ngambek dong."
Senyuman terpatri di bibir Vero, memajukan wajahnya mengecup pipi kanan Hilya. "Velo sayang Kak Lya."
Hilya terkekeh kecil, kembali menarik Vero ke dalam pelukannya, memeluk bocah laki-laki itu lebih erat lagi. Menurut cerita Ibu panti, beliau mendapatkan Vero di dalam tong sampah di depan panti saat di pagi hari ingin membuang sampah. Mendengar cerita itu, Hilya meragukan apa kedua orang tua Vero pantas disebut sebagai Ayah dan Ibu saat mereka dengan teganya membuang bayi mungil tak berdosa.
Entah karena alasan kemiskinan, apalagi hamil di luar nikah, bayi kecil tak berdosa itu tidak pantas menerima hukuman dari kesalahan yang tidak dilakukannya.
Hilya bersyukur pernah merasakan keluarga yang lengkap, memiliki Ayah dan Ibu yang selalu mencoba membahagiakannya meski pada akhirnya semua hancur.
Vero yang sedang memeluk Hilya, tidak sengaja melihat Davren. "Kakak itu siapa, Kak?"
Pertanyaan Vero membuat semua menatap ke arah Davren dengan tatapan bingung.
Hilya melepaskan pelukannya dari Vero, menatap ke arah Davren. Beberapa saat Hilya terdiam, Davren pasti tidak suka jika Hilya mengatakan kalau ....
"Kakak pacarnya Kak Hilya."
Deg.
Hilya menatap Davren dengan jantung yang melompat-lompat, sejak kapan Hilya memiliki halusinasi tingkat tinggi seperti ini?
Tidak! Tidak mungkin Davren mengakui Hilya sebagai kekasihnya, apalagi di depan umum seperti ini. Ya Tuhan, sejak kapan Hilya bisa bermimpi di saat tidak tidur?
Melihat respon Hilya, tangan Davren terangkat, mengacak rambut Hilya membuat gadis itu mengerjapkan matanya tidak percaya.
"Cieee!" sorak anak-anak panti.
Adrian tersenyum simpul, ikut bahagia saat melihat senyuman Hilya juga memancar dari sorot mata gadis itu. Adrian merasa seakan melihat Adiknya yang sedang tersenyum.
"Nama Kakak siapa?" Gadis, anak perempuan yang berusia tujuh tahun itu menatap kagum ke arah Davren.
Davren tersenyum, mengelus lembut pipi Gadis. "Nama Kakak Davren," kenalnya.
Gadis tersenyum lebar, merasa berbunga saat tangan kekar Davren mengelus pipinya lembut. Jika nanti Gadis besar, ia ingin mencari jodoh seperti Davren. Ganteng dan lembut.
"Kak Dap ganteng," puji Aqilla, anak perempuan berusia empat tahun membuat tawa mereka semua pecah.
♡♡♡
"Kamu kumpul sama anak-anak aja, aku bisa sendiri kok," ucap Hilya merasa canggung saat Davren terus menatapnya dalam diam saat Hilya menyiapkan bahan-bahan membuat pisang nugget dan es kepal milo.
Davren menaikan sebelah alisnya. "Bukannya ini yang lo mau? Lo mau gue yang dulu, 'kan?" Cowok itu melangkah maju, berdiri tepat di hadapan Hilya.
"Jangan munafik."
Hilya balas menatap Davren. "Jadi diri kamu sendiri, aku jatuh cinta sama Davren yang artinya aku harus mencintai dia bagaimanapun dia."
Davren cukup tertohok oleh kalimat yang dilontarkan Hilya itu.
Hilya tersenyum, melanjutkan aktivitasnya membuat adonan untuk pisang nugget dan es kepal milo.
"Gue bantu." Davren mengambil alih kompor saat Hilya hendak menggoreng pisang nuggetnya.
Gadis itu mengangguk. "Hati-hati."
Hilya sibuk dengan es kepal milonya, mulai menghaluskan es batu dengan menggunakan alat pemarut es. Mengeluarkan berbagai jenis topping dari bungkusnya.
Anak-anak pasti suka, batinnya.
"Asstt." Hilya menoleh saat mendengar ringisan, Davren mengibas-ngibaskan tangannya.
Hilya melangkah mendekat, meraih tangan Davren yang memerah. Sebelumnya, gadis itu sempat mematikan kompor terlebih dahulu.
Gadis itu mendekatkan tangan Davren ke bibirnya, meniup dengan hati-hati. "Kan udah aku bilang hati-hati."
Hilya menarik tangan Davren dan membawanya ke wastafel untuk membasuh tangan itu dengan air mengalir. "Harusnya kamu nggak usah bantuin aku, gini kan jadinya."
Tatapan Davren terkunci pada Hilya yang sibuk meniup tangannya, gadis itu terlihat sangat khawatir padahal tangan Davren hanya terbakar sedikit.
Entah kenapa, Davren merasakan sesuatu yang seharusnya tidak ia rasakan. Perasaan itu nantinya akan menghancurkan tujuan Davren, tapi semakin Davren mencoba tidak peduli ... Hilya justru menunjukan kepeduliannya, hal itu membuat hati Davren terenyuh.
Saat gadis itu tidak membawakannya bekal dan berbicara dengan intens pada Adrian dan juga Adlan, Davren merasa tidak suka. Davren merasa takut.