Plak. Sebuah tamparan mendarat keras di pipi kiri Davren, meninggalkan bekas merah berbentuk lima jari. Wanita yang menampar Davren tersebut menatap murka dengan tatapan tajam ke arah Davren. "Saya mempercayakan Resty pada kamu dan apa yang terjadi hari ini? Anak saya kembali mendapat pembullyan dan kamu hanya bisa diam?!" Wanita itu menggelengkan kepalanya tidak habis pikir. "Hilya ... gadis itu lagi?" Davren segera menggeleng dengan tegas. "Hilya justru yang membela Resty, dia sama sekali nggak ada hubungannya dengan pembullyan yang dialami Resty." Wanita itu mengacungkan jari telunjuknya tepat di depan wajah Davren. "Saya tidak ingin mendengar anak saya mengalami hal seperti ini lagi, mengerti?" Da

