Bekerja Bersama

2787 Words
Sudah sejak beberapa hari lalu sejak Rigel menandatangani kontrak kerja dengan King Carlo Comapany Rigel selalu menghabiskan waktu malamnya dengan begadang. Setumpuk dokumen dan puluhan e-mail harus segera Rigel pelajari sebelum menyambut hari pertamanya bekerja sebagai seorang manajer bagian penerbitan milik perusahaan King Carlo Company. Berkali-kali Rigel harus menguatkan diri agar tidak patah arah menyesali keputusannya untuk bekerja di King Carlo Company. Sejak pertama memang perusahaan ini tidak memberikan kesan yang baik bagi Rigel dan benar saja berbagai rintangan dan kekesalan harus Rigel lewati terlebih dahulu sebelum akhirnya bisa bekerja sebagai manajer. Meskipun kali ini, Rigel mendapatkan jabatan yang lebih tinggi dari pada ketika Rigel bekerja di Singapura namun, Rigel sama sekali tidak merasa bersemangat untuk bekerja. “Arghhhhh, apa sebenarnya yang sudah aku lakukan?! Kenapa semua jadi seperti ini?!” Rigel mengacak rambutnya sendiri dengan melemparkan dokumen perusahaan yang membuat otaknya terasa panas. Raut lelah tercetak jelas dalam wajah Rigel. Meskipun Rigel tidak bisa membohongi jika tetap ada perasaan senang ketika Rigel dapat menemukan pekerjaan yang masih berhubungan dengan dunia sastra hanya saja Rigel tidak pernah mengira jika keadaan bagian penerbitan milik King Carlo Company benar-benar kacau dan hanya butuh waktu sebentar lagi sebelum dinyatakan resmi gulung tikar. Semua ini secara langsung menjadi beban dan tanggung jawab untuk Rigel. Rigel berkali-kali dibuat terkagum dengan kekayaan King Carlo Company. Rigel sama sekali tak habis pikir, bagaimana mungkin setiap tahunnya bagian penerbitan selalu mendapatkan dana suntikan untuk mengganti kerugian akibat selalu mengalami defisit. Dan bagaimana mungkin bagian penerbitan dibiarkan begitu saja menerbitkan buku yang sama sekali tidak diminati oleh pasar. Rigel benar-benar dibuat geram denga ketidaktegasan CEO perusahan terhadap salah satu bagian perusahan karena untuk apa mempertahankan satu bagian yang sama sekali tidak memberikan keuntungan bagi perusahaan. Dan parahnya lagi, Rigel kini terjebak dalam situasi yang tidak menguntungkan itu. “Wajar saja bagian penerbitan seperti ini, CEOnya saja seperti itu. Tidak tegas!” Rigel mengumpat. Terbesit dalam pikiran Rigel, bagaimana sebenarnya rupa dari CEO itu. Rigel sungguh dibuat penasaran. Bagaimana bisa CEO seperti itu tetap dipertahankan padahal untuk mengurus satu bagian yang kacau saja tidak becus. Tetapi intinya bagaimanapun rupa CEO King Carlo Company, sama sekali tidak akan membuat Rigel jatuh terkesima. Sejak pertama kesan yang ditinggalkan oleh CEO itu kepada Rigel sudah terlanjur buruk. Rigel segera menepis pikirannya akan penyesalan Rigel karena telah menandatangani kontrak ini. Rigel merasa dijebak karena sebelumnya Rigel sama sekali tidak diberi tahu tentang bagaimana keadaan bagian penerbitan sebenarnya. Barulah ketika Rigel selesai menandatangani kontrak kerja itu, beberapa e-mail langsung menyerbu kotak masuk miliknya dan tidak berselang lama kemudian, beberapa orang suruhan dari King Carlo Company mendatangi rumah Rigel dan mengantarkan dokumen-dokumen perusahan yang harus Rigel pelajari sebelum masuk kerja. Jika Rigel lebih peka terhadap perasaannya, sudah tentu saat ini Rigel tidak terjebak dalam perangkapnya sendiri. Mungkin saja, Rigel saat ini sudah mulai merintis untuk mewujudkan impiannya, memiliki perusahaan penerbitan sendiri. Rasanya berada di bagian penerbitan King Carlo Company akan lebih buruk jika dibandingkan dengan Rigel membangun perusahaan penerbitan sendiri. Rigel menghela napas panjang, mengenyahkan pikiran-pikiran itu. Saat ini bukan saatnya menyesali yang sudah seharusnya terjadi. Tidak ada guna untuk mengandaikan semua yang telah terjadi. Mungkin memang ini jalan yang harus Rigel lewati terlebih dahulu sebelum nantinya Rigel bisa tersenyum bangga dengan impian yang akan diraihnya. Rigel segera mematikan laptopnya dan merapikan dokumen-dokumen. Setidaknya poin besar permasalahan yang membelenggu bagian penerbitan sudah dapat Rigel temukan dan pahami. Rigelpun sudah menyusun beberapa langkah awal untuk menyelamatkan bagian penerbitan. Sungguh hati Rigel akan hancur jika harus menyaksikan bagian penerbitan gulung tikar di depan mata. Dan Rigel harus segera istirahat sebelum esok Rigel harus mulai bekerja sebagai seorang manajer di perusahan terbesar dan ternama, King Carlo Company.                                                                                    ^^^ Dengan memadukan celana berwarna putih dengan blazer berwarna hitam dan sentuhan pita putih dibagian tengahnya, Rigel berjalan menyusuri koridor kantor menuju bagian penerbitan.  Suara sepatu heels Rigel begitu merdu terdengar. Rambut yang tergerai dan handbag berwarna abu-abu menyempurnakan penampilan Rigel dihari pertama bekerja. Rigel langsung disambut oleh seorang perempuan yang sepertinya tidak terpaut jauh usianya dengan Rigel. Dia adalah orang yang selama ini menjadi pemimpin sementara bagian penerbitan. Semua staff dibagian penerbitan langsung menunduk memberikan hormat kepada Rigel. Dapat Rigel rasakan jika semua staff yang ada disini tersenyum senang saat mengetahui kedatangan Rigel. Dua cangkir kopi terhidang di atas meja ketika Rigel sedang mengamati ruangan yang kini sudah menjadi miliknya. Ruangan yang menurut Rigel tidak terlalu buruk karena terdapat dinding dari kaca. “Terima kasih.” Ucap Rigel kepada Yera, perempuan yang menyambut Rigel dan baru Rigel ketahui namanya belum lama ini. “Sama-sama, Nyonya.” Rigel menatap Yera memperingati. “Maaf maksud saya Manajer.” “Kau boleh memanggil namaku saja, jika ingin.” Rigel berjalan menuju dinding kaca. “Tidak, Maaf kalau begitu saya akan memanggil anda Manajer.” “Hm baiklah. Terserah kau saja.” Rigel menyesap kopi panas. Masih dengan cangkir di tangnnya, Rigel menatap jalanan Ibukota dari dinding jendela. Tanpa mengalihkan pandangnnya, Rigel bertanya kepada Yera. “Apa aku boleh bertanya sesuatu?” “Tentu, Manajer. Silakan.” Rigel berbalik arah menghampiri Yera dan meletakan cangkir kopi diatas meja. “Aku rasa sejak aku datang semua staff disini tersenyum gembira, apa ada sesuatu yang terjadi?” “Oh tentang itu. Sudah menjadi tradisi untuk bagian penerbitan jika ada manajer baru akan mengadakan pesta satu hari penuh.” Rigel terkejut mendengar jawaban Yera dan mengintrogasi Yera lebih dalam. “Seperti itu? Lalu, aku dengar sudah cukup lama bagian penerbitan tidak memiliki manajer bahkan direktur. Apa kau tahu alasannya?” “Untuk alasan itu, mereka tidak bertahan lama karena merasa tidak sanggup dengan permasalahan yang dihadapi bagaian penerbitan. Meski mereka diberi gaji tinggi pun, mereka hanya akan bekerja sesuai kontrak dan tanpa kinerja yang jelas. Bahkan banyak dari mereka yang keluar sebelum kontrak kerja mereka habis. Beberapa manajer dan direktur sebelumnya justru membuat kondisi penerbitan menjadi lebih buruk.” “Apa mereka tidak diberi tahu permasalahannya terlebih dahulu sebelum tanda tangan kontrak?” Yera hanya mengelengkan kepala. Rigel langsung menyandarkan punggungnya pada sofa tidak menyangka dengan apa yang telah terjadi. “Kenapa perusahaan tidak memberi tahu tentang permasalahannya terlebih dahulu? Aku rasa itu bukan hal yang buruk?” Rigel terus bertanya dan merasa memiliki kepentingan untuk mengetahui sejarah di bagian penerbitan. “Benar, itu sama sekali bukan hal yang buruk tetapi beberapa kali ketika perusahan memberitahu kondisi yang sebenarnya banyak dari manajer dan direktur profesional yang memilih untuk mundur. Karena itu, akhirnya perusahan memilih untuk memberi tahu setelah mereka diterima.” “Wow, apa memang separah ini?” Tanya Rigel pura-pura tidak tahu. “Ya, Manajer. Bahkan jika saya bisa memilih sudah pasti saya akan tinggalkan bagian penerbitan ini.”  “Sekarang bagaimana kondisi penerbitan yang sebenarnya sudah tersebar luas. Karena itu beberapa kali kita kesulitan untuk mencari penganti manajer bahkan direktur. Biasanya orang-orang yang bisa sampai ditahap wawancara dengan CEO adalah mereka yang baru saja bekerja di luar negeri karena pasti mereka tidak tahu apa yang terjadi di sini. Dan karena kesulitan itu akhirnya Tuan Elnath menunjukku untuk menjadi pemimpin sementara dan membiarkan bagian perusahaan tetap berjalan tanpa manajer dan direktur.” Lanjut Yera. Rigel menatap iba ke arah Yera. Sudah pasti ini bukan perkara mudah untuk Yera berada dalam situasi ini apalagi dia tidak memiliki kekuasaan apapun. Satu sisi Rigel merasa kesal karena merasa dibohongi akan kondisi bagaian penerbitan yang sebenarnya. Namun, disisi lain Rigel juga memahami alasan King Carlo Company melakukan hal itu kepada calon manajer mereka tetapi masih ada satu hal besar yang masih Rigel tidak mengerti. “Kalau memang kondisinya separah ini, kenapa tidak ditutup saja? Membiarkan bagian penerbitan tetap berjalan seperti ini hanya akan membuat perusahaan semakin merugi.” Yera hanya tersenyum menatap Rigel. “Sampai saat ini pun, saya masih tidak mengerti jawaban dari pertanyaan Manajer. Meski Tuan Elnath paham betul dengan kondisi bagian penerbitan tetapi Tuan Elnath tetap bersikeras untuk mempertahankan bagian penerbitan apapun yang terjadi. Bahkan Tuan Elnath siap untuk menanggung beban defisit bagian penerbitan berapapun itu.” “Sungguh, diluar akal sehat manusia.” Rigel bergumam. “Bagaimana, Manajer?” Tanya Yera memastikan ucapan Rigel. “Ah, tidak. Baiklah, aku minta kau membantuku untuk mengumpulkan semua staff penerbitan ke ruang rapat sekarang.” Perintah Rigel kepada Yera. “Tetapi Manajer, biasanya pesta untuk menyambut hari pertama kerja manajer baru akan di gelar di restaurant bukan di ruang rapat.” Kata Yera memberi tahu. Rigel langsung menatap Yera tajam. “Tidak ada pesta kali. Cepat kau laksanakan perintahku. Panggil aku ketika semua sudah siap.” “Ba...ik....Ma..na...jer.” Ucap Yera terbata dan meninggalkan ruangan Rigel. Dengan langkah cepat tanpa keraguan Rigel langsung berjalan menuju ruang rapat bagian penerbitan setelah mendapatkan kabar dari Yera jika semuanya sudah siap. Tidak seperti tadi ketika pertama kali datang, Rigel dapat merasakan jika saat ini mereka merasa bingung dan sedikit kesal dengan tindakan Rigel. Sama sekali tidak masuk dalam pikiran Rigel, dalam kondisi bagian penerbitan yang seperti ini mereka masih mengharapkan pesta untuk menyambut manajer baru. Tidak akan, tidak akan terjadi dibawah pimpinan Rigel Daffina. Tanpa basa-basi Rigel kembali membuat seluruh staff yang ada di ruang rapat ini bingung keheranan saat Rigel meminta Yera untuk membantunya membagikan selebaran kertas kepada masing-masing staff. Hanya dengan cara seperti inilah Rigel dapat menyeleksi mereka dengan cepat. Rigel langsung meminta Yera bergabung dengan yang lain dan tak lupa memberi Yera selebaran kertas itu. “Terima kasih, Yera. Duduk dan bergabunglah dengan yang lain.” Rigel memberikan Yera selebaran kertas itu. Yera sungguh merasa tertekan dan terintimdiasi karena kelakuan Rigel. Yera harus menanggung dampaknya karena mendapatkan tatapan sinis dan penuh tanya dari semua staff yang ada di ruangan ini. Yera hanya bisa menunduk dan menggelengkan kepala karena Yera juga sama sekali tidak mengerti maksud semua ini. “Berhentilah menatap Yera seperti itu. Dia sama sekali tidak tahu dengan semua ini.” Rigel memperingati dan masih sibuk dengan laptop di depannya. Melihat semuanya sudah siap, Rigel bangkit dari duduknya. Berdiri, menjelaskan apa yang harus mereka lakukan dengan kertas itu tanpa memberi tahu apa maksudnya mereka diminta untuk mengerjakan soal yang ada di selebaran kertas itu. Tidak ada yang berani menyangkal dan menuruti semua perintah Rigel. “Waktu kalian 45 menit dimulai sekarang.” Rigel menatap jam silver yang melingkar di pergelangan tangannya. 45 menit berlalu dan Rigel langsung meminta semuanya untuk meninggalkan ruang rapat termasuk Yera. Rigel meminta mereka untuk menunggu hasilnya selama dua jam. Dan selama dua jam itu, Rigel bebas mempersilakan semua staff bagian penerbitan jika ingin menghabiskan waktunya untuk berpesta. “Aku akan beri tahu hasilnya 2 jam dari sekarang. Dan kalian boleh berpesta di kantin kantor dengan kartu masing-masing. Aku tidak akan memberikan anggaran untuk berpesta disaat kondisi bagian penerbitan sedang sekacau ini.” “Selamat berpesta dan silakan tinggalkan ruangan ini!” Perintah Rigel dengan senyuman yang membuat siapapun yang melihatnya akan semakin kesal terhadap Rigel. Rigel benar-benar harus memanfaatkan waktu yang sedemikian singkat ini untuk bisa menyaring staff bagian penerbitan yang memang layak untuk dipekerjaan. Pandangan Rigel sedikit berbeda terhadap kondisi bagian penerbitan, bukan hanya sistemnya yang bermasalah tetapi juga orang-orang di dalamnya juga bermasalah. Akhirnya dari 30 pegawai yang ada di bagian penerbitan, Rigel meminta 15 diantaranya untuk kembali menemui Rigel di ruang rapat. Meski Rigel sudah berusaha untuk menyampaikan apa yang sebenarnya terjadi. Namun, Rigel memahami jika 15 pegawai itu merasa tidak adil dan kesal kepada Rigel karena harus diberhentikan secara sepihak. Meskipun Rigel memberhentikan mereka dengan sangat hormat dan memberi pesangon dengan nominal yang tinggi tetap saja tindakan Rigel tidak bisa diterima begitu saja. Berkali-kali Rigel juga mengucapkan maafnya dan memang inilah yang harus terjadi, hasil tes mereka tidak menunjukkan kecakapan mereka bekerja di bagian penerbitan sehingga tidak ada hal lain yang bisa Rigel lakukan selain memberhentikan mereka. Tindakan Rigel yang terkesan semana-mena dan tanpa berdasar ini langsung tersiar ke seluruh bagian di King Carlo Company. 15 pegawai yang Rigel berhentikan dengan tiba-tiba mengajukan protes hingga terdengar ke telinga Elnath Gaincarlo. Bahkan keputusan Rigel juga ditentang oleh bagian keuangan. Mereka tidak bisa menuruti perintah Rigel untuk memberi 15 pegawai itu pesangon karena surat pemberhentian yang dikeluarkan oleh Rigel tidak tertera tanda tangan dari CEO King Carlo Company, Elnath Gaincarlo. Keributan sempat terjadi di bagian keuangan. Entah sudah berapa kalimat umpatkan yang harus Rigel terima dari orang-orang yang Rigel berhentikan. Tidak ada gunanya bagi Rigel untuk membalas karena yang terpenting saat ini adalah menyingkirkan 15 pegawai itu dari bagian penerbitan. Apabila tidak, selamanya bagian penerbitan akan seperti ini. Kekacauan yang dibuat oleh Rigel membuat Jonathan yang sedang mendampingi Elnath menghadiri pertemuan penting langsung kembali ke kantor. Suasananya masih sama ketika Jonathan datang hanya saja sudah tidak ada lagi suara saling adu mulut satu sama lain. Dengan wibawanya, Jonathan langsung meminta semuanya untuk membubarkan diri dan Jonathan juga mengatakan kepada 15 pegawai yang dipecat oleh Rigel, jika dirinya akan berusahan menyelesaikan masalah ini sesuai dengan harapan mereka. Dengan tatapan dingin, Jonathan langsung menghampiri Rigel yang masih berdiri dengan angkuhnya di depan pintu masuk bagian keuangan dan memintanya untuk ikut keruangannya. “Silakan ikut keruangan saya!” Perintah Jonathan dingin. Rigel masih bergeming dan membuat Jonathan berbalik arah menatap Rigel penuh tanya. “Tidak, kita keruanganku saja lebih dekat.” Kata Rigel berlalu melewati Jonathan begitu saja. Dan kali ini Jonathan benar-benar dibuat kesal oleh sikap Rigel. Sejak awal Jonathan memang sudah tidak setuju jika Rigel akan memimpin bagian penerbitan tetapi lagi-lagi tidak ada yang bisa Jonathan lakukan ketika Elnath sudah memustukan. “Silakan duduk Tuan Jonathan Miller.” Rigel menyambut Jonathan ramah. “Tidak perlu!” Rigel sempat terkejut dengan nada bicara Jonathan yang terdengar begitu mengerikan. “Baiklah.” Rigel menganggukan kepala. Semua masih terdiam, Jonathan masih menatap Rigel tajam. Jonathan berdiri di dekat pintu masuk dan berjalan mendekati Rigel yang sedang bersandar di meja kantor miliknya. Rigel berusaha untuk tenang menghadapi Jonathan yang saat ini menatapnya dengan aura penuh kemarahan. “Ada apa?” Tanya Rigel membuat Jonathan menghela napas kesal. “Bagaimana mungkin seorang manajer bisa bertanya ada apa setelah membuat kegaduhan seperti ini dengan memecat pegawai sepihak?” Jonathan kembali dengan ketenangannya. “Aku? Kegaduhan?” Rigel beranjak dan membalas tajam tatapan Jonathan. “Seharusnya kau sudah tahu bagaimana kondisi bagian penerbitan ini seperti apa dan kau seharusnya tidak lagi mempertanyakan alasanku memecat mereka dengan sepihak! Semua ini aku lakukan untuk menyelamatkan bagian penerbitan! Lagian orang seperti apa yang masih mempertahankan bagian dengan kondisi sekacau ini dan seenaknya melimpahkan masalah ini kepada orang yang baru bekerja, huh?!” Rigel mulai kesal dan kehilangan kesopanannya terhadap Jonathan. “Berhenti mengintervensi aku! Sekarang aku berhak atas nasib mereka.” Lanjut Rigel. “Jabatan Nona sebagai manajer tidak lantas membuat Nona semena-mena terhadap pegawai kita yang telah bekerja jauh lebih lama dari Nona!” Balas Jonathan tak kalah mengintimidasi. “Hei! Aku sama sekali tidak peduli mereka bekerja sudah berapa lama bekerja disini, yang aku pedulikan saat ini adalah mencari cara bagaimana menyelamatkan bagian penerbitan dan mereka sama sekali tidak mampu untuk membantuku menyelamatkan bagaian ini, paham?” Rigel merapatkan jaraknya dengan Jonathan dan membuat Jonathan tergerak mundur ke belakang. “Sudahlah Tuan Jonathan, kau hanya akan mengguras energi jika tetap disini karena aku akan tetap pada prinsipku. Jika memang kalian akan mempertahankan mereka, aku dengan senang hati akan mengundurkan diri dari tempat ini.” “Tetap saja, Nona tidak bisa bertingkah seperti itu tanpa persetujuan Tuan Elnath Gaincarlo.” Kata terakhir Rigel membuat Elnath merasa lega, setidaknya saat ini kunci permasalahan ada di Elnath, jika Elnath memilih mempertahankan pegawainya sudah pasti Jonathan merasa diuntungkan karena pengunduran diri Rigel. “Dia lagi.” Rigel bergumam, rasanya begitu malas hanya untuk mendengar nama CEO itu. “Kalau begitu telefon dia sekarang, aku tidak punya nomornya. Dan jangan lupa gunakan pengeras suara biar kita sama-sama mendengar apa keputusannya.” Jonathan langsung segera mengambil ponsel milikinya dan menelepon Elntah denga pengeras suara. Tak butuh waktu lama, dalam dering kedua suara Elnath sudah terdengar dari balik telepon. “Hallo, Jo. Bagaimana? Apa kabar itu benar?” “Benar Tuan.” “Apa kau berhasil menyelesaikan masalahnya?” “Maaf, Tuan.” “Ah, sial. Aku belum bisa meninggalkan pertemuan ini.” “Tidak apa Tuan. Tuan hanya perlu memilih.” “Memilih?” “Ya, Nona Rigel Daffina masih tetap dengan prinsipnya untuk memecat 15 pegawai bagian penerbitan dan jika kita mempertahankan mereka maka Nona Rigel sendiri yang akan mengundurkan diri.” Jonathan mengatakan dengan penuh penekanan dan menatap sinis Rigel. “A....pa?!” “Iya, Tuan. Tuan hanya perlu memilih siapa yang akan di pertahankan di bagian penerbitan ini. Manajer yang baru sehari bekerja atau para pegawai yang telah lama berdedikasi di bagian penerbitan.” “Cih, berdedikasi katanya?” Rigel membuang muka malas saat mendengar ucapan Jonathan. Hening cukup lama, Elnath di seberang telepon belum memutuskan apapun sedangkan saat ini Rigel dan Jonathan sama-sama saling adu tetap dengan kepercayaan diri masing-masing. “Halo Jo.” Suara Elnath membuat Rigel dan Jonathan kembali fokus terhadap ponsel Jonathan. “Ya, Tuan. Bagaiamana?” Tanya Jonathan tak sabar. “Baiklah, kalau begitu biarkan Manajer Rigel melakukan apa yang dia inginkan di bagian penerbitan. Untuk saat ini kita percayakan saja padanya.” Elnath langsung mengakhir panggilan telefon begitu selesai menyampaikan keputusannya. Jonathan dibuat tidak menyangka dengan keputusan Elnath yanglagi-lagi  diluar dugaan jika berhubungan dengan Rigel sedangkan Rigel saat ini sedang tersenyum penuh kemenangan menatap Jonathan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD