Sebuah Jawaban

2929 Words
Rigel berjalan menyusuri koridor kantor dengan memutar bola matanya jengah. Sudah menjadi kebiasaan bagi Rigel untuk selalu mendapat tatapan intimidasi sejak pertama kali masuk kerja di King Carlo Company. Tatapan dari orang-orang kantor yang bahkan tidak Rigel kenal sama sekali semakin harinya membuat Rigel merasa muak. Namun, Rigel memilih untuk diam dan menikmati semua ini dengan menyaksikan penghakiman orang-orang terhadap dirinya tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi. Toh, juga kejadian seperti ini bukan hal baru bagi seorang Rigel Daffina. Setelah insiden pemecatan 15 pegawai di hari pertama kerja. Nama Rigel menjadi bahan omongan untuk semua orang yang ada di King Carlo Company. Tanpa harus Rigel repot memperkenalkan diri sebagai manajer baru di bagian penerbitan, semua orang telah mengetahui siapa Rigel. Tetapi sayangnya, meskipun mereka baru saja mengenal nama Rigel, ucapan mereka tentang Rigel menunjukkan seolah mereka telah mengenal Rigel sejak lama dan mengetahui sisi tergelap Rigel. Rigel terus berjalan menyusuri koridor dengan tingkat kepercayaan diri yang sama sekali tidak menurun sedikitpun. Bohong jika Rigel mengatakan dirinya tidak merasa terganggu sama sekali dengan ucapan dan tatapan orang-orang kantor tetapi lagi-lagi Rigel memilih untuk diam karena Rigel menyadari bahwa dirinya tidak mampu mengontrol sesuatu yang diluar kendali Rigel seperti omongan mereka tentang Rigel. Rigel memilih untuk menyiapkan energinya hari ini untuk mengikuti rapat utama dengan CEO King Carlo Company dari pada harus menghabiskan energinya untuk berurusan dengan mereka. Semangat Rigel begitu membara hari ini.  Setelah beberapa hari bekerja di King Carlo Company, mulai tumbuh rasa senang dalam benak Rigel. Melihat potensi besar di bagian penerbitan membuat Rigel begitu berupaya untuk mempertahankan dan memperbaiki sistem yang ada di bagian penerbitan. Rigel tidak akan membiarkan bagian penerbitan harus berhenti beroperasi dengan begitu saja atau tetap beroperasi dengan seperti ini tanpa menghasilkan. Banyak hal yang harus segera Rigel kerjakan dari pada harus memusingkan omongan orang-orang satu kantor tentang Rigel. Saat ini, di dalam diri Rigel sudah bertekad untuk merubah bagian penerbitan milik King Carlo Company. Senyum merekah tergambar jelas dalam wajah Rigel begitu tiba di ruangan bagian penerbitan. Semua staffnya menyambut Rigel ramah. Beruntungnya, ketika Rigel menjelaskan alasan pemecatan itu harus dilakukan kepada semua staff di bagian penerbitan yang tersisa, mereka dapat mengerti dan memahami  Rigel. Sehingga tidak ada lagi dendam dari meraka karena kawannya yang dipecat oleh Rigel.  Pikiran Rigel saat ini hanya fokus pada rapat utama yang sebentar lagi akan digelar. Meski sempat merasa tidak sanggup dengan jam masuk di kantor ini namun, sekarang Rigel sudah mulai terbiasa untuk bangun pagi dan sampai di kantor tepat pukul 07.00. Meskipun semua itu sebenarnya sangat memberatkan bagi Rigel. Posisinya begitu menuntut Rigel harus menjadi disiplin karena Rigel sudah bukan lagi pegawai biasa, saat ini Rigel adalah seorang manajer yang tidak ingin memberikan contoh buruk bagi para staffnya. Rigel sungguh tidak sabar ingin segera bertemu dengan CEO King Carlo Company. Rasa penasaran Rigel terhadap CEO King Carlo Company begitu mencuat ketika tanpa di duga CEO itu memberi lampu hijau bagi Rigel untuk memecat 15 pegawai di bagian penerbitan secara sepihak. Dimana keputusan CEO-nya itu sama sekali tidak bisa membuat siapapun dari 15 pegawai itu berkutik. Rigel merasa rasa kesalnya terhadap CEO itu perlahan mulai memudar terutama sejak hari pertama Rigel bekerja. Meski belum sempat bertemu namun, Rigel ingin mengucapkan rasa terima kasihnya dan perasaan bersalahannya karena terlalu berprasangka buruk terhadap CEO King Carlo Company. Tok...........Tok..........Tok........... Suara ketukan pintu membuyarkan fokus Rigel terhadap beberapa dokumen yang harus disiapkan untuk mengikuti rapat utama. Pintu ruangan Rigel terbuka, menampakkan Yera dari baliknya dan mengabarkan jika rapat utama sebentar lagi akan segera dimulai. “Baiklah, Terima kasih Yera.” Rigel bergegas keluar ruangan dan pergi menuju lantai 12. Dua orang dari pihak keamanan dengan berseragam jas lengkap berdiri tegap di depan pintu ruang rapat utama. Rigel sedikit terheran dengan sistem keamanan yang ada di kantor ini. Bahkan hanya untuk rapat dengan para direktur dan CEO, pengamanan ini menurut Rigel terlalu berlebihan. Rigel tidak ingin mengambil pusing tentang hal-hal aneh yang Rigel temui di kantor ini. Kedua orang berbadan besar itu langsung menunduk hormat saat Rigel hampir tiba di depan pintu. “Selama Pagi, Manajer Rigel.” Ucap salah satu diantara mereka. “Pagi.” Balas Rigel dan langsung masuk ketika pintu dibuka oleh meraka berdua. Cukup lama Rigel bergeming, mengamati situasi di dalam ruangan. Semua kursi sudah penuh dan hanya tersisa dua. Satu diantaranya bertuliskan nama Rigel sebagai manajer bagian penerbitan dan satunya lagi bertuliskan CEO dengan nama terang Elnath Gaincarlo. Rigel tersenyum canggung dan langsung segera menuju tempat duduk yang sudah dipersiapkan untuknya. Aura di dalam ruangan langsung berubah. Dari yang tadinya para direktur itu, saling berbincang dan tertawa kini semuanya menjadi terdiam. Dan Rigel menyadari betul jika belum lama ini namanya menjadi topik yang sedang mereka perbincangkan. Rigel benar-benar kagum dengan kedisiplinan pegawai di kantor ini. Sudah pasti semua ini bisa terlaksana dengan baik karena tidak lepas dari peran seorang CEO. Perlahan mulai muncul rasa kekaguman dalam diri Rigel terhadap CEO yang katanya tidak berbeda jauh usianya dengan Rigel. Untuk kali pertama, Rigel menjadi satu-satunya manajer yang dapat mengikuti rapat utama bersama para direktur dan CEO. Semua ini, tidak lain karena bagian penerbitan tidak memiliki seorang direktur. Bahkan, biasanya ketika rapat utama sedang di gelar akan ada satu kursi kosong milik bagian penerbitan. Para direktur bangkit dari duduknya, Rigel pun hanya bisa mengikutinya. Pintu ruangan terbuka lebar, semua orang menghadap ke arah pintu bersiap untuk memberi hormat. Langkah kaki terdengar semakin dekat. Dan seseorang yang tidak asing bagi Rigel berjalan dengan senyum ramahnya dan diikuti oleh satu orang yang sangat Rigel kenali, Jonathan Miller. “Selamat Pagi, semua.” Sapa Elnath kepada semua orang yang ada di ruangan. “Oh, dan selamat pagi juga untuk manajer baru kita di bagian penerbitan. Selamat bergabung bersama kami Manajer Rigel.” Elnath tersenyum hangat kepada Rigel. “Pa...gi.” Balas Rigel memicingkan matanya berusaha mengingat siapa sebenaranya CEO itu kenapa Rigel merasa pernah bertemu dengannya. Elnath segera bersiap membuka rapat utama hari ini tetapi Jonathan tiba-tiba menghentikannya karena melihat Rigel yang masih berdiri penuh tanya ketika semuanya sudah duduk siap untuk mengikuti rapat. “Manajer Rigel silakan duduk.” Tegur Jonathan namun, Rigel masih bergeming. “Manajer Rigel!” Jonathan memperkeras suaranya dan berhasil membuat Rigel tersadar. “Ah, iya. Maafkan saya.” Tatapan Rigel penuh kebingungan dan segera terduduk. Bisik-bisik tentang dirinya mulai terdengar dari mulut para direktur di sela-sela rapat. Selama rapat berlangsung, Rigel sama sekali tidak bisa berkonsentrasi. Pikirannya masih berusaha untuk mengingat kapan dirinya pernah bertemu dengan Elnath. Rigel merasa ada yang tidak beres dengan semua ini tetapi meskipun pikiran Rigel sedang kalut namun, pemaparan rencana Rigel untuk kelangsungan bagian penerbitan dapat berjalan dengan baik bahkan mendapatkan pujian dari Elnath Gaincarlo. Begitu selesai memaparkan rencana dari bagian penerbitan. Rigel kembali berusaha keras mengingat semuanya. Beberapa kali Rigel melempar tatapan tajam kepada Jonathan namun, nihil. Jonathan sama sekali tidak melihat bahkan menganggap keberadaan Rigel. Dan hingga rapat hampir usia, Rigel belum juga mampu menemukan jawabannya. Elnath segera pamit dari ruangan dan kembali menatap Rigel dengan senyuman khas miliknya. Dan, Senyuman Elntah yang baru saja itu berhasil mengingatkan Rigel. Elnath adalah orang yang Rigel temui di restaurant bernama Antares saat melakukan tes wawancara. Ya, Elnath adalah Antares. Rigel masih mencerna semuanya karena waktu itu orang yang Rigel temui di restaurant mengatakan jika dia hanyalah suruhan CEO. BRAKK..... Rigel menggebrak meja dan membuat beberapa direktur yang masih ada disitu terkejut dan menatap heran ke arah Rigel. “Manajer Rigel apa yang sedang kau lakukan?” “Hei, manajer baru. Jagalah sikapmu. Jika Tuan Elnath mendengar bisa-bisa kau yang akan segera menyusul 15 pegawai di bagian penerbitan.” Persetan dengan omongan-omongan para direktur terhadap sikap Rigel hari ini. Rigel benar-benar tidak habis pikir dengan semua ini. Sejak pertama kali mendapat balasan email dari King Carlo Company, Rigel memang sempat merasa janggal dan curiga. Dan ternyata semua kecurigaan Rigel selama ini benar, keberadaan Rigel hanya untuk dibohongi dan dipermainkan oleh CEO sialan itu. Rigel pun yakin jika keputusan CEO itu untuk mendukung tindakan Rigel memecat 15 pegawai di hari pertamanya kerja bukanlah tanpa alasan. Dan bodohnya Rigel merasa senang dengan sikap CEO sialan itu. Rigel menatap tajam para direktur yang masih ada di ruangan. Tidak ada lagi rasa takut terhadap siapapun karena saat ini yang tersisa dalam diri Rigel adalah rasa kesal yang semakin menumpuk terhadap CEO King Carlo Company, Elnath Gaincarlo. “Sial! Biasa-bisanya dia membohongiku!” Rigel mengemas barangnya dengan kasar dan segera meninggalkan ruang rapat utama. Rigel mondar-mandir di dalam ruangannya, mencoba untuk mengenyahkan rasa kesalnya kepada Elnath meskipun begitu sulit untuk dilakukan. “Selamat manajer Rigel, sepertinya Tuan Elnath begitu menyukai kinerjamu.” Rigel terkejut dengan ucapan Yera yang tiba-tiba itu muncul dari balik pintu ruangan Rigel. “Apa maksudmu?!” Tanya Rigel masih dengan raut wajah yang kesal. Yera yang menagkap kondisi Rigel langsung pamit undur diri padahal Yera hanya merasa senang karena Rigel akhirnya bagian penerbitan bisa unjuk diri jika bagian penerbitan bukanlah bagian yang hanya bisa menerima bantuan defisit dari CEO. “Maaf, manajer. Saya permisi dulu.” Rigel menghela napas panjang. “Katakan Yera.” “Um, tadi setelah selesai rapat. Tuan Elnath singgah sebentar disini dan memintaku untuk mengatakan jika kau dipanggil untuk segera ke ruangannya karena Tuan Elnath ingin mengucapkan selamat kepadamu dan ingin mengetahui lebih detail lagi tentang rencanamu terhadap kelangsungan bagian penerbitan.” Jelas Yera. “Hm, baiklah nanti akan aku temui.” Jawab Rigel dengan malas. Rigel melempar dengan asal semua dokumen yang tadi dibawanya. Duduk di kursi dengan menatap jalanan Ibu kota, memikirkan kebodohan dirinya sendiri yang terus-terusan ditipu oleh Elnath. Seharusnya, memang sejak awal Rigel tidak kembali ke Jakarta hanya untuk pekerjaan ini. Rigel memutar kursinya, menatap komputernya dan mulai mengetikan sesuatu. Rigel harus membawa sesuatu untuk ditunjukkan kepada Elnath. Dan Rigel memutuskan bertaruh dengan dirinya sendiri untuk membalas dendam kepada Elnath dengan membuat Elnath Gaincarlo tunduk dalam perintah Rigel. Masih dengan perasaan kesal Rigel bergegas langsung menuju lantai khusus yang hanya ada ruangan Elnath disana. Rigel tidak menemukan siapapun di lantai ini. Tidak ingin melewatkan kesempatan Rigel langsung berjalan menuju ruangan yang bertuliskan CEO King Carlo Company. Tanpa basa-basi Rigel langsung membuka pintu itu dengan keras dan melemparkan sebuah map ke depan meja di hadapan Elnath. Suara pintu yang terbuka dengan keras, membuat Jonathan langsung bergegas menuju ruangan Elnath, khawatir terjadi sesuatu yang buruk dengan CEOnya itu. Sengaja, Elnath meminta beberapa pegawai yang khusus bertugas di lantai CEO untuk menyarap bersama di salah satu ruangan tak jauh dari ruangan Elnath. Dengan napas yang masih terengah-engah karena merasa khawatir, Jonathan berusaha menanyakan kondisi Elnath. “Ada apa, Tuan? Tuan baik-baik saja. Saya mendengar ada suara pintu terbuka dengan keras.” Elnath hanya tersenyum manatap Jonathan dan beralih menatap Rigel. “Manajer Rigel, apa yang sedang kau lakukan disini?” Tanya Jonathan terkejut saat mengikuti arah pandangan Elnath. “Aku tadi memintanya untuk.............” Ucapan Elnath kembali terpotong oleh ucapan Rigel. “Cepat tanda tangani surat pengunduran diriku sekarang!” Kata Rigel tegas menatap tajam Elnath. Mendengar ucapan Rigel membuat Elnath dan Jonathan membeku. Jonathan dengan sigap langsung mengambil langkah dengan meminta Rigel untuk keluar. “Manajer Rigel, sebaiknya anda tinggalkan ruangan ini dulu sebelum kembali tanpa emosi seperti ini.” “Tidak, aku tidak akan pergi sebelum bosmu itu menandatangai surat pengunduran diriku!” Kata Rigel menunjuk Elnath. “Manajer Rigel, bersikaplah dengan sopan kepada atasan!” Bentak Jonathan yang sudah mulai kehilangan kesabaran menghadapi tingkah seenaknya Rigel. “Sopan katamu?! Aku tidak akan pernah bersopan santun dengan seorang atasan yang mempermaikan bawahan.” Balas Rigel tajam. “Jaga ucapanmu, Manajer Rigel! Segeralah pergi dari sini.” “Kau yang seharusnya enyah dari sini, Tuan Jonathan.” Ucapan Rigel begitu pelan namun, membuat semua orang yang mendengar bergidik ngeri. “Khm.” Elnath berdeham. “Maafkan saya Tuan.” Jonathan langsung membungkuk saat menyadari kesalahannya berdebat dengan Rigel dihadapan bosnya. Elnath menatap Rigel yang masih berdiri tidak jauh darinya. Dengan tatapan angkuh dan tangan yang terlipat di depan d**a, membuat Rigel terlihat begitu menakutkan. Dan akhirnya Elnath memilih untuk meminta Jonathan meninggalkannya berdua dengan Rigel. “Tinggalkan aku berdua denganny, Jo.” Perintah Elntah. “Tapi, Tuan.” “Tidak apa.”  Jonathan akhirnya memilih untuk menunggu di depan pintu ruangan Elnath, khawatir jika Rigel berbuat nekat dan membahayakan keselamatan Elnath. “Mari duduk, manajer Rigel.” Kata Elnath mempersilakan Rigel duduk di sofa yang ada di ruangannya. “Aku tidak perlu duduk, aku hanya perlu kau untuk mentandatangani segera surat pengunduruan diriku.” Rigel masih kekeh dengan pendiriannya. Elnath menghela napas berusaha bersabar dengan sikap Rigel yang terlalu frontal. “Tapi kau baru bekerja disini beberapa hari manajer, apa kau yakin dengan keputusanmu itu?” “Sangat yakin.” Elnath menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Lama-lama sikap dan tatapan Rigel mampu mengintimidasi Elnath. “Apa ada sesuatu yang membuatmu tidak nyaman di kantor ini sampai kau memutuskan untuk mengundurkan diri?” “Ya, sangat tidak nyaman.” “Kalau begitu katakanlah aku akan bereskan, yang terpenting kau tetap bekerja di bagian penerbitan.” Ucap Elnath dengan senyum terpaksa. Rigel memperdekat jarak berdiri dengan Elnath, menatapnya dengan lebih intens dan membuat Elnath harus mundur beberapa langkah. “Apa kau tidak bisa mengira, apa yang membuatku tidak nyaman di kantor ini?” “Tidak, karena itu katakanlah.” Rigel membuang napas kesal, tatapannya semakin tajam. “Apa kau tidak bisa berpikir kalau kaulah yang membuatku tidak nyaman bekerja disini. Sejak pertama perusahaanmu mengirimku email ditengah malam dan memintaku untuk datang wawancara esok harinya jam 07.00 pagi sedangkan saat itu aku ada di Singapura. Dan aku tetap berusaha untuk datang dengan penerbangan terpagi tetapi apa yang kau lakukan padaku, huh?! Kau membuatku menunggu dan akhirnya membatalkan wawancara itu dengan senaaknya.” “Kau juga membohongiku tentang kondisi bagian penerbitan yang sebenarnya. Aku bahkan sudah menanyakannya sebelum aku menandatangi kontrak tetapi jawabanmu sama sekali tidak berguna. Meski aku memaksa kau justru mengalihkan pembicaraan dan meyakinkan aku jika pekerjaan ini menyenangkan.Dan ketika aku telah menandatanganinya, barulah kau memberi tahu apa yang sebenarnya terjadi di bagian penerbitan.” “Aku sudah berusaha bersabar dengan semua ini tapi lihatlah dirimu. Bagaimana mungkin kau bersikap seperti anak kecil dengan membohongiku saat wawancara di restaurant dengan mengatakan kau adalah suruhan dari Elnath Gaincarlo padahal kau sendiri orangnya. Sekarang kau sudah ingat semua itu?! Sudahkan kau cukup mempermainkan aku, Tuan Elnath Gaincarlo?!” Rigel berjalan mendekati Elnatah dan mendorong bahu Elnath dengan jari telunjuknya. Tanpa amarah, Rigel berhasil mengungkapkan semua kekesalannya pada Elnath. Tanpa harus berteriak-teriak, hanya dengan nada yang penuh penekanan Rigel berhasil membuat wajah Elnath memucat seketika. Rigel kembali menarik napas panjang dan menjauh dari Elnath. “Aku tidak menuntut apapun darimu atas kebohongan yang telah kau lakukan padaku. Aku hanya perlu kau menandatangani surat pengunduran diriku.” Elnath masih mematung, mendengarkan ucapan Rigel. Tanpa Elnath sangka, hal yang menurut Elnath sepele ternyata bisa membuat orang lain merasa begitu sakit hati.  Elnath sama sekali tidak tahu harus bersikap apa. Semua kebohongan itu memang sengaja Elnath lakukan untuk bisa mengetahui sisi lain dari Rigel. Dengan menyamar sebagai seorang suruhan, Elnath berharap bisa membuat Rigel mengikat kontrak dengan cepat tetapi kenyataannya hal itu justru membuat Elnath hampir kehilangan Rigel. Elnath hanya tertunduk di hadapan Rigel. “Aku minta maaf kepadamu. Aku sungguh menyesal telah membohongimu dengan cara seperti itu. Aku sungguh meminta maaf kepadamu Manajer Rigel.” “Sudahlah, maafmu tidak bisa menghilangkan kekesalanku. Hanya tanda tanganmu itu bisa membuat sedikit rasa kesalku hilang.” Elnath menimbang berbagai macam cara untuk memepertahankan Rigel. Tidak mungkin Elnath akan melepaskan Rigel begitu saja. Dan ada satu cara yang dapat Elnath gunakan untuk bisa mempertahankan Rigel. “Aku tidak akan menandatangani surat itu.” Ucapan Elnath membuat Rigel sempat terkejut namun, ketenangan kembali terpancar dari dalam diri Rigel. “Kalau begitu, silakan saja. Aku akan tetap pergi dari kantor ini.” Rigel bersiap untuk meninggalkan ruangan Elnath, tidak ingin menghabiskan energi lebih untuk tetap disini. “Bagaimana dengan denda 500 juta jika kau akan tetap keluar?” “Sial.”  Rigel membatin, tidak mungkin Rigel meralakan uang tabungannya untuk mebayar denda itu tetapi Rigel juga tidak ingin kalah dalam taruhan ini. Rigel berbalik menatap Elnath dengan santainya. “Kirim saja rekeningmu, akan segera aku transfer denda itu.” Elnath terkejut mendengar jawaban Rigel. “Kenapa? Cepat kirimkan, aku akan transfer dan hari ini kerjaku benar-benar selesai.” Perintah Rigel dengan hati yang berdebar, takut Elnath benar-benar memberikan nomor rekeningnya dan 500 juta milik Rigel harus segera berpindah. “Sial.” “Sial.” “Sial.” Rigel mengumpat dalam hati. Dibalik ketenangannya, Rigel sungguh khawatir jika harus melepas 500 juta milknya untuk membayar denda. Jantung Rigel berdegub dua kali lebih cepat, berharap semua ini berjalan sesuai dengan rencananya. “Sebanarnya, aku tidak ingin menandatangani surat pengunduran dirimu itu dan aku juga tidak ingin menerima uang darimu. Aku sungguh ingin kau tetap bekerja di bagian penerbitan, apa aku bisa memberimu pilihan lain?” Elnath menghilangkan semua ego dan kewibawaannya sebagai seorang CEO demi mempertahankan manajer baru yang banyak orang tidak tahu diri ini. Rigel terlihat menimbang tawaran Elnath. Padahal dalam hatinya begitu mensyukuri ucapan Elnath. Rigel hanya ingin membuat permainan ini sedikit lebih lama. “Apa?” “Aku akan melakukan apapun yang kau mau. Asalkan kau tetap bekerja di bagian penerbitan.” Dan, Ya! Dalam hati Rigel tersenyum penuh kemanangan. Uang tabungannya selamat dan Rigel juga tetap memiliki pekerjaan. Terlebih penting dari itu, Rigel berhasil membuat Elnath menuruti semua perintahnya. “Apapun?” Tanya Rigel memastikan. “Ya apapun.” Tanpa berpikir panjang Rigel langsung mengungkapkan keinginannya kepada Elnath. Sementara Elnath sudah bersiap jika Rigel meminta gaji yang lebih besar dari saat ini. Tetapi lagi-lagi, Elnath dibuat tidak menyangka dengan permintaan Rigel. Dan dengan keberadaan Rigel sebagai manajer di bagian penerbitan maka nantinya akan semakin memudahkan Elnath dalam menentukan direktur untuk bagian penerbitan karena tidak mungkin Elnath membiarkan bagian penerbitan kosong terlalu lama tanpa direktur. “Aku sama sekali tidak akan memintamu menaikkan gajiku. Aku hanya meminta kau percayakan semua bagian penerbitan padaku tanpa campur tangan bagian lain termasuk kau. Dan angkatlah Yera sebagai sekretarisku, beri dia gaji yang tinggi. Bagimana?” Tanya Rigel. “Baiklah itu hal mudah untukku. Asal kau bisa membuat bagian penerbitan bisa lebih baik. Ada lagi?” Dan terakhir permintaan Rigel membuat Elnath diam tak berkutik. “Tentu, jangan pernah kau angkat direktur untuk bagian penerbitan sebelum ada perintah dariku, mengerti?!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD