Penghalang Diri

2367 Words
“Oh, kau sudah pulang?” Rigel mengangkat kepalanya, mengarahkan pandangannya ke arah sumber suara. Suara yang sudah cukup lama tidak Rigel dengar. Kedatangannya adalah hal yang sangat wajar, mau bagaimanapun rumah ini dulu juga tempat tinggalnya tetapi kehadirannya di sekitar Rigel sering kali membuat Rigel merasa kurang nyaman. “Kak Vega, kapan datang?” Rigel memilih untuk mengurungkan niatnya menuju kamar dan menghampiri Vega dan Arsella, Mama Rigel. “Belum lama.” “Duduk, Gel. Kau mau teh atau s**u?” Arsella menatap Rigel. “Teh aja, Ma.” Rigel menarik kursi makan di depan Vega dan duduk dihadapannya. Semuanya terdiam, Rigel ragu untuk memulai obralan terlebih dahulu. Vega masih sibuk dengan ponsel miliknya dan Arsella sibuk membuat teh untuk anak keduanya sementara Rigel memilih diam dari pada harus menanggung sakit hati jika memulai obrolan terlebih dahulu. “Terima kasih, Ma.” Rigel menerima secangkir teh hangat. Rigel meniup teh dengan perlahan dan menyeruputnya. Badannya terasa hangat setelah merasakan dinginnya malam di luar rumah. Rigel mulai merasa terganggu dengan tatapan Vega yang terlihat begitu mengintimidasi. Rigel meletakkan cangkir teh miliknya dan menatap Arsella tetapi Arsella hanya diam tidak mengerti. “Kenapa?” Tanya Rigel bingung. Vega meletakkan ponselnya diatas meja sehingga menimbulkan suara ditengah kesunyian. Vega kembali menatap Rigel dengan penuh amarah. “Hei! Kau!” “Ada apa denganmu sampe kau berpikir untuk mengundurukan diri?! Kurang enak apa hidupmu coba? Kau pulang ke Jakarta langsung dapat pekerjaan jadi manajer terus kau dengan seenaknya mau mundur gitu aja, huh?!” Rigel memutar bola matanya jengah. “Ma.” Rigel memanggil Arsella karena tahu siapa sumber dari kemarahan Vega malam ini. “Rigel, tidak ada salahnya kalau Vega tahu seharusnya kau yang menceritakannya langsung pada kakakmu.” Ucapan Arsella tidak membuat Rigel semakin baik tetapi justru sebaliknya. “Benar, kau ini punya Kakak tetapi kau tak pernah sedikitpun cerita ke aku. Selalu saja aku tahu dari Mama. Padahal aku kurang baik apa ke kau, semua informasi aku kasih tetapi kau justru kaya gini seperti tidak tahu terima kasih. Coba saja dulu aku tidak menyarankanmu ke Singapura pasti sekarang kau tidak bisa pulang langsung dapat kerjaan menjadi manajer. Sekali-kali ceritalah sedikit padaku, Gel.” Telinga Rigel terasa begitu panas mendengar ocehan Vega. Semua yang telah lalu pasti akan kembali diungkit apalagi menyangkut kebaikan Vega terhadap Rigel. Ucapan Vega selalu saja membuat Rigel seolah-olah buta terhadap kebaikan Vega dan membuat Rigel semakin terlihat menjadi adik yang kurang ajar. “Vega, jaga ucapanmu. Jangan seperti itu.” Arsella memperingati. “Jaga? Ma, bukan kali ini aja, aku tahu masalah Rigel dari mama. Kalau saja, bos nya kemarin benar-benar menandatangani surat pengunduran dirinya bagaimana? Apa tidak gila?! Orang susah-susah mencari kerja tetapi kau malah bersikap seenaknya. Bukan begitu menyelesaikan masalah. Belajarlah dari pengalamanku, lagian masalah kerjaanmu belum seberapa jika dibandingkan dengan aku!” “Vega, cukup!” Arsella menaikan nada bicaranya. Vega membuang napas tak percaya. “Ma, sampai kapan mama mau bersikap seperti ini? Terus saja memanjakan Rigel, pantas lah dia jadi seenaknya.” “Vega, mama bilang cukup!” “Terus saja seperti itu.” Vega bergumam menatap Rigel tak suka. “Sudah?” Rigel akhirnya bersuara. Arsella dan Vega saling tatap. “Aku tanya, sudah belum kau menghakimi akunya?!” Rigel hampir berteriak. “Sudah, sudah. Rigel kau balik ke kamarmu saja, ya. Istirahatlah kau pasti capek.” Arsella berusaha melerai. Rigel mengambil tas di kursi makan dengan kasar dan berlalu meninggalkan Arsella dan Vega di ruang makan. Telinganya terasa panas, hatinya terasa sesak mendengar semua ucapan Vega. Selalu saja berakhir seperti ini. Rigel masih terdiam di dekat tangga dan samar-samar obrolan Vega dan Arsella masih terdengar dan membuat Rigel semakin merasa tidak nyaman. Semua yang ada di rumah ini selalu menuntut Rigel untuk menjadi seperti yang mereka mau tetapi mereka tidak pernah mencontohkannya bagaimana untuk bersikap dengan baik. Justru, setiap ucapan dan perbuatan mereka membuat Rigel semakin tertekan dan membenci mereka semua. Rigel melempar tas ke sembarang arah. Firasatnya tidak pernah salah jika menyangkut Vega. Hanya dengan ucapan Vega dapat menghancurkan semua impian Rigel dalam waktu yang singkat. Rigel selalu mengatakan pada dirinya sendiri untuk mengabaikan ucapan Vega dan tetap fokus dengan Rigel tetapi berkali-kali semua itu Rigel coba dan berkali-kali pula Rigel harus gagal. Selalu ada air mata yang keluar dari ucapan Vega. Terlalu lelah bagi Rigel untuk terlarut dalam rasa sakitnya dan lebih baik jika Rigel tidak membuang energinya terlalu banyak untuk menangis dan memilih untuk tertidur. Belakangan ini, waktu istirahat Rigel berkurang cukup banyak. Siang dan malam selalu Rigel gunakan untuk mempersiapkan rencana penyelamatan bagian penerbitan. Rigel tengah mempersiapkan sebuah kejutan besar untuk King Karlo Company setelah kejutan pemecatan 15 pegawai secara sepihak yang dilakukan oleh Rigel di hari pertamanya kerja. Rigel cukup cerdik untuk mempersiapkan semua rencananya dengan rapi tanpa ada yang tahu. Mungkin memang benar jika Rigel marah karena merasa telah ditipu dan dibohongi oleh Elnath. Namun, sebenarnya pengajuan surat pengunduran diri Rigel kepada Elnath bukan hal yang benar-benar Rigel inginkan. Ada alasan lain untuk Rigel melakukan sandiwara yang terlalu beresiko itu. Rigel bahkan sempat merasa menyesal setelah menyadari semua tindakannya. Meskipun sering kali ucapan Vega memang benar adanya jika Rigel adalah orang yang seenaknya sendiri namun, terlalu sulit bagi Rigel untuk bisa menerima ucapan Vega begitu saja. Benar-benar keuntungan yang besar bagi Rigel karena secara tidak langsung Elnath sudah berada dalam kendali Rigel dan langkah berikutnya adalah melancarkan rencana Rigel selanjutnya untuk King Carlo Company.  Rigel sudah bersiap dengan rencana utama dan berbagai rencana cadangan. Tidak mungkin bagi Rigel melihat kehancuran bagian penerbitan di depan mata. Maka dari itu, Rigel akan melakukan segala cara untuk bisa mengembalikan kejayaan bagian penerbitan milik King Carlo Company. Seratus persen Rigel yakin jika rencannya pasti akan ditentang mati-matian tetapi tidak ada pilihan mundur bagi Rigel sehingga Rigel harus mempersiapkan diri untuk mempersiapkan hari esok. Rigel harus berusaha mengenyahkan semua kekacauan pikirannya malam ini dan kembali dengan dirinya yang baru di esok hari.                                                                                      ^^^ Rigel duduk dengan tegap di depan meja rias kamarnya. Masih untung, tangisnya semalam tidak membuat kedua matanya sembab. Rigel menyapu wajahnya dengan riasan tipis yang membuatnya sama sekali tidak terlihat seperti gadis yang tiga tahun lagi usianya akan diawali angka tiga. Rigel memperbaiki tata letak jam di pergelangan tangannya. Tatapan angkuhnya kembali, Rigel kembali menatap cermin. Menatap dirinya sendiri untuk menyakinkan jika Rigel akan baik-baika saja dan semua rencananya di kantor akan berjalan sesuai dengan keingingan Rigel. Sebuah senyum menyeringai terpantul dari cermin rias. Rigel tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika semuanya berjalan sesuai dengan rencana Rigel. Rigel tersentak saat mendengar suara yang membuat tubuhnya langsung bergetar. Rigel menggelengkan kepala berharap apa yang di dengarnya adalah suara dari dalam pikirannya sendiri. Rigel terus menggelengkan kepalanya berusaha untuk menghilangkan suara-suara itu tetapi sia-sia, suara itu tetap ada dan terdengar semakin jelas. “Jaga ucapanmu, jangan terlalu keras nanti Rigel dengar.” “Biar!!! Biar dia dengar langsung semuanya!!!!” Ceklek........ Rigel membuka pintu kamar, menengok ke arah kanan dan kiri tetapi tidak menemukan apapun. Rigel langsung menuruni anak tangga mendekati ke arah sumber suara. “Aku adanya seperti ini! Jangan tuntut aku macam-macam!” “Aku tidak menuntutmu lebih! Aku hanya minta kau sedikit beri Rigel perhatian!” “Kurang perhatian apa aku, huh?! Aku sudah menyekolahkannya sampai sarjana bahkan aku selalu memberinya uang meski dia sudah kerja di Singapura. Kurang apa lagi?!! Berhenti bicara yang tidak-tidak!” “Cobalah ajak bicara dia! Kau tau dia tidak baik-baik saja selama ini!” “Kau tidak perlu berlebihan! Rigel baik-baik saja, kau lihat sendiri dia sehat dan dia baik-baik saja!” “TIDAK!!!!!! RIGEL SAMA SEKALI TIDAK BAIK-BAIK SAJA!!!” “Apa yang kau tahu tentang anakmu?! Apa kau tahu kalau selama ini Rigel selalu menangis sendiri setiap malam, Apa kau tahu itu?!!!!” “Tentu saja tidak, kau bahkan tidak peduli dengan anakmu sendiri!” Rigel yang masih berdiri di tangga dapat mendengar dan melihat jelas apa yang sedang terjadi diantara Arsella dan Roy. Ingin sekali Rigel menghentikan semua ini sebelum nantinya bisa bertambah parah tetapi apa daya tubuh Rigel seolah terpaku tidak mampu digerakkan sama sekali. Hanya ada air mata yang terus mengalir dari kedua sudut mata Rigel. PRANNNNNGGGGGGG!!!!!!!! Suara piring yang dipecahkan oleh Roy mampu membuat Rigel tersentak dan tersadar untu segera bertindak. Tidak mungkin Rigel memilih untuk diam sementara keselamatan Arsella sedang terancam. “Cukup!!!! Sampai kapan Papa akan terus bersikap seperti ini, menyakiti keluarga papa sendiri?!” Rigel akhirnya bersuara dengan diiringi oleh isak tangis. Namun, sekuat mungkin Rigel berusaha untuk tegar. “Rigel.” Arsella menggelengkan kepala memberikan kode kepada Rigel untuk tidak mendekat. “Papa, seharusnya mau mendengarkan sedikit saja apa kata Mama. Aku begini karena Mama selalu saja mengeluhkan sikap Papa padaku. Jika Mama, Papa, dan Kak Vega selalu melampiaskan kekesalannya padaku lalu aku harus melampiaskan pada siapa? Aku lelah, Pah. Jadilah, orang tua yang sesungguhnya untuk aku dan Kak Vega. Kita tidak hanya butuh uang tetapi juga butuh perhatian, kasih sayang, dan............” PRANNNGGGGGGGGG!!!!!!!!!!!!!!! Roy kembali memecahkan piring yang ada di depannya. Pagi yang Rigel harapkan menjadi pagi yang indah setelah malam yang suram berubah menjadi hari yang gelap dengan mimpi buruk yang tak pernah henti. “Kau sepintar apa sampai bisa menggurui orang tua, huh?! Aku sudah menyekolahkanmu sampai selesai. Tugasmu cukup jalani hidup ini dengan baik tanpa harus mengajariku sebagai orang tua!” “Apa hidupku bisa lebih baik jika orang tuaku seperti ini! Ck, sungguh nasib buruk terlahir di keluarga ini. Kenapa kalian dulu tidak bunuh aku saja sejak bayi jika kalian hanya membesarkanku untuk disakiti!!!” “RIGEL CUKUP!!!!” “Aku tidak main-main denganmu kali ini! Aku sudah cukup bersabar dengan sikapmu yang seenaknya. Selamanya aku akan buat rumah ini seperti nereka. Kalau kau memang tidak ingin ada di keluarga ini silakan pergi, pergi dari rumah ini!!!!!” “Papa mengusirku?” “Ya, aku mengusirmu anak tidak tahu diri!” “Roy jaga ucapanmu!!” Arsella mendekat ke arah Rigel, mendekap putrinya erat. Mencoba membisikan kata-kata yang sekiranya bisa menenangkan pikiran Rigel. “Baiklah aku akan pergi. Terima kasih untuk semuanya, maaf aku belum bisa membalas.” Rigel melepas dekapan Arsella dan beranjak ke atas untuk mengemasi barang-barang. “Rigel” “Tetaplah disini, nak.” “Mama mohon jangan pergi!” Arsella terus mengejar Rigel dan mengupayakan apapun untuk menghalangi Rigel mengemas barang-barangnya. Namun, Rigel tetaplah Rigel yang tidak mudah terkoyak keputusannya oleh siapapun termasuk Arsella. “Semua baik-baik saja saat aku di Singapura. Baru beberapa bulan aku disini semuanya sudah kembali seperti ini. Memang lebih baik jika aku tetap di Singapura dan tidak kembali ke Jakarta atau semua justru akan lebih baik lagi jika aku tidak pernah terlahir di dunia ini.” “Rigel jangan seperti itu, nak. Kau sangat berharga untuk Mama. Mama mohon jangan pergi.” Rigel meletakan kopernya diatas lantai. Menatap Arsella dengan penuh haru dan meminta izin untuk membiarkan Rigel pergi. “Aku akan baik-baik saja diluar sana. Mama jaga diri baik-baik jangan sampai terluka karena Papa. Aku akan meminta Mbak Mar untuk menjaga Mama. Biarkan aku pergi dan menenangkan pikiranku yang kacau. Aku sayang mama.” Rigel memeluk Arsella erat dan bergegas meninggalkan kediaman Roy Hillary. Rigel manarik kopernya tanpa arah dengan air mata yang masih terus berderai. Terasa seperti de javu ketika Rigel dengan pakaian kantor lengkap nan rapi dan berjalan sembari menarik satu koper. Hanya saja kali ini, sedikit berbeda karena Rigel tidak tahu kemana harus melangkah. Halte bus yang tak jauh dari rumahnya menjadi pilihan Rigel untuk berteduh. Sejak pagi, matahari memang malas untuk bangun. Langit menjadi hitam keabuan, membuat awan tak sanggup menahan air lebih lama lagi. Jalanan basah karena air hujan sama halnya dengan wajah Rigel yang basah karena air matanya. Beruntungnya, kondisi halte bus sepi sehingga Rigel tak perlu bersusah payah menahan air matanya dan mendapat tatapan aneh dari orang lain. Rigel memanfaatkan waktunya untuk terus terisak, menumpahkan segela emosi yang ada dalam diri Rigel. Jam terus berjalan dan hujan tak kunjung henti. Rigel sudah tidak lagi memperdulikan tentang pekerjaannya. Untuk saat ini, Rigel lebih memilih untuk memperbaiki kondisinya terlebih dahulu dari pada Rigel harus ke kantor dengan kondisi seperti ini yang justru akan menimbulkan pertanyaan dalam benak banyak orang dan semakin membuat Rigel merasa tidak nyaman. Pilihan terbaik saat ini bagi Rigel adalah menghilang sejenak. Meski sedang berada di halte bus namun, Rigel memilih untuk mencari taksi. Setidaknya jika menggunakan taksi, Rigel dapat diantar tepat sampai di tujuan Rigel. Di dalam taksi, Rigel hanya diam termenung, sesekali air matanya masih mengalir namun, sesegera mungkin ia seka. Begitu taksi telah membawa Rigel sampai di tujuan, Rigel langsung turun dan sedikit merapikan penampilannya. Rigel merogoh tas miliknya, mencari kacamata untuk menyamarkan matanya yang terlalu merah dan sembab. Rigel memasuki sebuah lobby hotel dan setelah berbincang sebentar dengan resepsionis, Rigel diberikan sebuah kartu sebagai akses masuk ke dalam kamar. Rigel menyadari jika sejak tadi ponselnya terus bergetar, mulai dari telepon masuk hingga pesan masuk sama sekali tidak ada yang Rigel acuhkan. Rigel menatap nanar, pemandangan kota dari jendela kamar hotel. Meratapi nasibnya yang tak kunjung membaik dan menemukan arti kata bahagia. Sejauh apapun Rigel pergi melangkah, selalu ada hal yang menghalangi diri. Bayang-bayang kelam akan masa lalunya membuat Rigel semakin takut untuk melangkah dan kembali mempertanyakan arti keberadaannya di dunia ini. Jiwanya telah mati sejak lama. Terlalu lelah bagi Rigel untuk terus terlihat baik-baik saja di depan semua orang. Namun, masih begitu  sulit bagi Rigel untuk melepaskan semua kenangan dan bayang-bayang buruk masa lalu. Seharusnya, hari ini menjadi hari yang penting bagi Rigel karena Rigel harus mempersiapkan pemaparan rencana utamanya nanti dihadapan Elnath. Rigel juga harus bertemu dengan beberapa rekan penulis untuk mengikat kontrak kerja sama tetapi lagi-lagi Rigel hanya mampu berencana dengan semua ini. Mungkin semesta tidak mengizinkan Rigel untuk menjalankan rencana utamanya untuk bagian penerbitan King Carlo Company. Rigel hanya bisa pasrah dengan keadaan karena tak mungkin bagi Rigel untuk memaksakan keadaan dalam situasi sulit seperti ini. Drt......Drt...........Drt............. Ponsel Rigel kembali bergetar dari dalam saku blazer hitam yang ia kenakan. Dengan malas, Rigel mengambil ponsel miliknya dan menatap layar ponsel. Tidak mengherankan jika terdapat puluhan pesan masuk dan panggilan dari Arsella. Rigel sama seklai tidak berniat untuk membalas atau menelepon balik Arsella. Tetapi Rigel meninggalkan pesan kepada Yera untuk mengganti jadwal temunya dua hari ini tanpa alasan jelas sebelum akhirnya Rigel benar-benar mematikan ponselnya. Dan. PRANGGGGG!!!!!! Rigel membanting ponselnya ke lantai hingga layarnya pecah. Rigel sama sekali tidak peduli dengan apapun saat ini karena yang terpenting bagi Rigel saat ini adalah menghindar dari semua orang karena Rigel benar-benar sama sekali tidak ingin diganggu oleh siapapun.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD