Semua beban dan kekhawatiran yang membelenggu pikiran Elnath sudah sirna. Kini, Elnath dapat bernapas dengan lega dan berjalan dengan tenang. Elnath selalu menyapa siapapun pegawai yang ia temui saat berjalan menuju parkiran kantor dengan senyuman. Bahkan baru kali ini Jonathan mendapati atasannya itu terlihat begitu ceria.
Mobil mewah milik Elnath melaju kencang, menyusuri jalanan Ibukota. Sepanjang jalan tak henti-hentinya Elnath bersenandung riang. Kali ini, Elnath tidak akan pulang ke rumahnya karena hari ini, Edward meminta Elnath dengan Antares untuk menginap di rumahnya. Sebenarnya, Elnath sering kali merasa tidak nyaman jika harus kembali ke rumah Edward. Semua yang ada di rumah Edward, mengingatkan Elnath dengan kenangan indahnya ketika dapat merasakan kehangatan dari sebuah keluarga yang utuh. Terlebih lagi, tidak hanya akan membawa Elnath mengingat kenangan bahagiannya namun, juga kenangan buruk Elnath ketika harus melewati masa-masa berat dalam hidupnya diusia Elnath yang belum cukup dewasa.
Namun, perasaan tidak nyaman Elnath kali ini tertutupi oleh perasaan lain yang membuat Elnath mengiharukan semau trauma kelam di rumah Edward. Pintu gerbang yang menjulang tinggi langsung di buka oleh dua penjaga yang selalu siap siaga di pos keamanan kediaman milik Edward Gaincarlo. Rumah yang sangat mewah dengan taman dan air mancur di tengah halaman membuat rumah Edward terlihat semakin mewah. Letaknya yang jauh dari keramaian memberikan kesan eksklusif bagi para penghuninya.
Kedatangan Elnath langsung disambut hormat oleh beberapa maid yang siap membantu membawakan jas dan tas milik Elnath. Dan setelah memastikan atasannya sampai dengan selamat, Jonathan langsung pamit undur diri. Elnath melonggarkan dasi yang dikenakan dan menggulung lengan kemejanya hingga ke siku.
Elnath berjalan menuju ruang keluarga, menyusuri setiap ruangan mewah milik Edward Gaincarlo. Semuanya masih sama, tidak banyak barang yang berubah. Hanya saja, semua foto yang terpajang di dinding tidak lagi sama. Foto-foto yang terpajang di dinding hanya menyisakan potret Edward dan kedua putranya, Elnath dan Antares Gaincarlo tanpa ada satu pun foto yang menyisakan potret mereka berempat bersama Merie.
“Anakku, kau sudah datang?” Suara Edward menggelegar begitu melihat Elnath sedang berjalan.
Elnath mengurungkan niatnya pergi menuju ruang keluarga karena ternyata Edward baru saja keluar dari kamarnya dan sedang menuruni anak tangga.
“Papah.” Edward berlari menuju tangga dan memeluk erat Edward.
Edward menepuk-nepuk bahu kekar Elnath sembari mengucapkan kerinduannya kepada anak sulungnya. “Terima kasih, El. Papah senang akhirnya kau datang.”
“Tidak perlu berterimakasih. Aku yang seharusnya minta maaf karena jarang mengunjungi Papah.” Elnath melepaskan pelukannya menatap sendu Edward.
Edward menghela napas berat. “Tidak apa. Papah mengerti ini semua adalah konsekuensi yang harus Papah hadapi ketika menyerahkan jabatan CEO kepadamu. Terima kasih kau sudah bekerja dengan baik, anakku. Papah bangga padamu, akan Papah lakukan apapun untuk kebahagianmu, El.”
Elnath hanya mengangguk dan tersenyum mendengar ucapan Edward. “Terima kasih juga untuk semuanya, Pah.”
“Kalau begitu, cepetalah naik dan mandi. Papah tunggu di ruang makan.” Perintah Edward.
“Um, Pah, Antares?”
Edward tergelak mendengar pertanyaan Elnath. “Kau tak perlu khawatir, dia sudah di sini. Mungkin saja si bungsu sedang merecoki kepala koki.”
Mendengar jawaban Edward, Elnathpun turut tergelak. Mengingat kebiasaan adiknya yang terlalu senang membantu para pekerja namun, tak sering juga niat baik Antares di tolak mentah-mentah oleh mereka. Dulu, bukan pemandangan yang aneh ketika Antares marah setelah tidak diizinkan untuk membantu oleh para pekerja dan justru melaporkan Antares kepada Merie. Sungguh kenangan yang tak akan terlupakan bagi Elnath. Dan meskipun telah melewati begitu banyak badai, pada kenyataannya kebiasaan Antares yang senang membantu tidak berubah sama sekali.
“Baiklah, Pah. Aku akan segera turun begitu selesai.”
Edward kembali menuruni anak tangga dan langsung melangkahkan kakiknya menuju ruang makan yang menyatu dengan dapur. Dan benar saja dugannya jika Antares sedang sibuk mengngerecoki kepala koki. Edward hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan Antares. Padahal tugas Antares hanya cukup menunggu hingga makanan siap tersaji diatas meja.
“Ares sini nak.” Edward memanggil Antares untuk duduk di kursi makan.
“Sebentar, Pah.” Jawab Antares tanpa memalingkan pandangan.
“Antares sini cepat!” Teriak Edward.
“Ah, iya tunggu sebentar Pah.” Ucap Anatres sembari melepas apron berwarna hitam.
“Tolong, itu diberi garam sedikit. Aku rasa itu sedikit kurang asin.” Perintah Antares kepada salah satu pembantu koki kepala dengan menunjuk salah satu masakan.
Dari kejauhan koki kepala memberikan senyuman hormat kepada Edward seolah mengungkapkan ucapan terima kasihnya karena telah menyelamatkan pekerjaanya dari bantuan Antares yang sebenarnya sama sekali tidak diperlukan oleh mereka.
“Ada apa, Pah?”
“Duduk.” Perintah Edward dan langsung dituruti oleh Antares yang duduk persis dihadapan Edward.
Cukup lama Edward terdiam dan hanya tersenyum.
“Papah, kalau hanya diam dan tersenyum menatapku. Aku akan kembali ke dapur.” Ucap Antares dan bersiap untuk bangkit.
“Jangan, jangan. Tetap duduk.” Kata Edward sedikit panik.
“Ada apa?” Antares kembali bertanya.
“Tidak ada apa-apa. Papah hanya rindu bercengkrama denganmu saat menunggu makan malam.”
Antares hanya tersenyum ketika tiba-tiba Edward membahas persoalan yang sebenarnya sangat dihindari oleh Antares.
“Bagaimana keadaanmu. Apa kau senang tinggal bersama Elnath?”
Anatares mengangguk dan hanya mempu menunduk untuk mengucapkan permohonan maafnya karena jarang pulang untuk menemui Edward. Tidak jauh berbeda dengan Elnath, alasan Antares memilih untuk tinggal di rumah Elnath saat pindah ke Jakarta adalah tidak lain karena Antares tidak ingin terbelenggu dalam ingatan kelam yang ada di rumah ini saat mengetahui kedua orangtuanya saling bertengkar sebelum akhirnya memutuskan untuk bercerai.
“Maafkan Ares, Pah karena tidak bisa menemani Papah setiap saat.”
“Tidak apa, jangan merasa bersalah seperti. Kau balik ke Jakarta dan tinggal bersama kakakmu saja sudah membuat Papah senang. Setidaknya Papah tidak harus pergi jauh ke Singapura jika sedang rindu padamu.”
Antares bangkit dan beralih menuju kursi di samping Edward, duduk dan memeluk Edward dengan erat. Air mata tidak bisa lagi Antares tahan namun, sesegera mungkin langsung disekanya agar tidak terlihat oleh Edward.
“Anak Papah yang kuat. Terima kasih, nak sudah bertahan selama ini. Papah bangga padamu dan maafkan Papah karena tida bisa memberikanmu keluarga yang utuh.”
“Tidak, Pah. Jangan terus menerus menyalahkan diri Papah. Semua badai sudah berhasil kita lalui saatnya kita menjalani hidup yang sekarang. Sejak dulu sampai sekarang dan bagaimanapun kondisi yang telah terjadi Ares tetap sayang pada Papah.”
Antares melepas pelukannya dan menggenggam tangan Edward untuk saling menguatkan satu sama lain.
“Kalau begitu, karena aku sudah menetap di Jakarta setiap minggu akan akan pulang dan menghabiskan akhir pekan bersama Papah, bagaimana?”
“Ide yang sangat bagus. Papah setuju.”
“Tidak, Pah.”
Edward menatap Antares penuh tanda tanya. “Bukan hanya aku tetapi juga El. Aku akan menyeretnya setiap minggu untuk kesini dan kita akan menghabiskan waktu bersama.”
Mata Edward begitu berbinar mendengar ucapan Antares. “Janji.”
“Janji.” Antares menjawab dan menunjukkan jari kelingkingnya dan setelah itu keduanya saling menautkan jari mengikat janji.
“Apa yang sedang kalian lakukan?” Suara Elnath terdengar tiba-tiba dan langsung dibuat penasaran oleh kelakukan Papah dan adiknya.
“Oh, ini Ares baru saja,”
Ucapan Edward terpotong oleh Antares yang tiba-tiba berdiri dan mengatakan tidak ada sesuatu yang terjadi.
“Tidak, tidak ada apa-apa. Kau tak perlu tahu. Cepatlah duduk makanan sebentar lagi datang.”
Antares kembali ke bangku tempatnya duduk sebelumnya dan mempersilakan Elnath untuk duduk disamping Edward. Saat akan duduk, Antares melihat beberapa maid sedang berjalan membawa hidangan makan malam. Naluri Antares langsung tergerak untuk membantu para maid itu namun, baru satu langkah Antares akan menuju dapur, Edward langsung bertitah untuk melarangnya.
“Tidak, Res. Duduk dan diam.”
“Tapi, Pah.”
“Antares duduk!”
Dan dengan lesu akhirnya Antares mengalah dengan kembali duduk tanpa bisa membantu para maid membawakan hidangan makan malam.
Topik perbincangan untuk menemani makan malam ini di d******i oleh obrolan seputar kisah Antares selama hidup jauh seorang diri di Asrama. Meskipun sama-sama tinggal dalam satu negara, nyatanya Antares dan Merie tidak tinggal satu atap. Dan setelah Antares menyelesaikan studinya, Antares langsung memustuskan untuk kembali ke Jakarta meskipun beberapa kali Merie meminta Antares untuk tetap tinggal dan mencari pekerjaan di Singapura.
“Apa kau kesulitan mencari pekerjaan?” Tanya Edward tiba-tiba.
Pertanyaan Edward sempat membuat Antares dan Elnath terkejut dan saling tatap. Bukan tanpa alasan untuk Edward menanyakan perihal itu karena sudah hampir beberapa bulan berlalu sejak Antares pindah ke Jakarta, Edward belum melihat tanda-tanda jika putra terakhirnya ini akan segera bekerja.
“Tentu saja tidak. Memangnya kenapa?”
“Kau sudah beberapa bulan di sini dan Papah lihat kau belum ada tanda-tanda akan bekerja. Papah kira nilaimu cukup bagus untuk bisa melamar kerja di sekolah Internasional.”
“Yah, Pah. Kalau itu bukan karena kesulitan mencari pekerjaan tetapi karena emang dianya aja yang belum mau cari kerjaan.” Elnath menyambar, mendahului sebelum Antares sempat menjawab.
“Begitu? Kenapa?”
Antares menatap Elnath tajam. “Tidak apa-apa, Pah. Ares masih ingin istirahat dulu. Lagian selama kakak Ares masih CEO rasanya tidak ada yang perlu dikhawatirkan selama apapun Ares menganggur.”
Jawaban Anaters hanya ditanggapi dengan senyuman tak percaya oleh mantan CEO dan CEO King Carlo Company. Sejak awal masuk SMA, Antares memang sudah mengungkapkan keinginannya kalau dia tidak berminat untuk bekerja di perusahaan Edward. Antares memiliki pilihannya sendiri, dia senang belajar dan senang mengajar. Makannya, Antares memilih jalannya sendiri untuk bersekolah keguruan. Beruntungnya, meskipun Edward adalah seorang konglomerat, ia sama sekali tidak menentang impian Antares. Apapun pilihan Antares, Edward selalu ada untuk mendukung dibelakangnya.
“Baiklah, kalau memang itu pilihanmu. Tetapi kalau kau kesulitan melamar pekerjaan, kasih tahu Papah nanti akan Papah bantu masuk di salah satu sekolah Internasional manapun yang kau mau.”
Antares terbelalak mendengar ucapan Edward dan spontan langsung menolak bantuan yang ditawarkan oleh Edward Gaincarlo.
“Tidak, Pah. Tidak Perlu, biarkan Antares berjuang sendiri. Ares juga harus merasakan bagaimana susahnya merintis karir dari bawah. Memang, mungkin tidak dalam waktu dekat tetapi biarkan Ares menemukan jalan Ares sendiri ya, Pah?” Antares memohon.
Edward langsung menatap Elnath seolah meminta pendapat karena merasa tidak yakin untuk memenuhi permintaan Antares. Namun, dengan anggukkan kepala dari Elnath akhirnya Edward berusaha untuk kembali memberikan kepercayaan penuh kepada Antares untuk menentukan jalan hidupnya tanpa adanya campur tangan dari Edward Gaincarlo.
“Baiklah tetapi, segera hubungi Papah jika kau merasa kesulitan atau membutuhkan bantuan.” Edward belum menyerah.
“Baik, Pah.”
Melihat piring anak-anaknya sudah kosong tanpa tersisa. Edward menghela napas panjang sebelum memulai obrolan yang lebih serius dengan Elnath. Sore tadi, Edward mendapatkan laporan yang cukup mengejutkan sehingga ia membutuhkan Elnath untuk memberi penjelasan.
“El, bagaimana keadaan perusahaan saat ini?”
“Baik, Pah.” Jawab Elnath santai sembari memilih buah apa yang akan menjadi pencuci mulutnya.
“Hm, begitu. Bagaimana dengan 5 miliar?”
“Uhukkk.” Antares tersedak oleh air minum saat mendengar nominal uang yang begitu besar sementara Elnath hanya terdiam mengerti kemana arah pembicaraan ini,
“Kenapa? Ada apa dengan 5 miliar? Apa perusahaan rugi sebanyak itu?” Antares begitu penasaran dan menghujani Elnath dengan berbagai pertanyaan.
“Mister Niel?” Tanya Elnath memastikan.
Edward mengangguk menanggapinya. Antares masih sibuk menatap Edward dan Elnath secara bergantian untuk mengetahui maksud dari pembicaraan dua orang yang duduk dihadapannya ini.
“El ada apa?” Tanya Antares penasaran.
Meskipun terlihat tidak yakin tetapi Elnath berusaha menjawab pertanyaan Antares dan tidak ada salahnya membahas ini dengan keluarga. Siapa tahu pendapat mereka bisa menjadi bahan pertimbangan lain bagi Elnath sebelum mengambil keputusan.
“Kalau kau ingat, aku pernah bercerita padamu jika saat ini bagian penerbitan telah memiliki manajer baru setelah sekian lama dipimpin oleh tangan-tangan kotar dan akhirnya aku biarkan kosong begitu saja. Lalu manajer baru ini, berjanji akan memperbaiki sistem di bagian penerbitan dan akan memberikan keuntungan besar dari bagian penerbitan jika aku dan mister Niel memberinya dana produksi sebesar 5 miliar.”
Antares terpaku mendengar penejelasan Elnath dengan seksama. “Wow, 5 miliar. Luar biasa.”
“Lalu bagaimana keputusanmu?”
Elnath terlihat menimbang-nimbang sebelum menjawab. “Um, El belum memustukan akan memberikan atau tidak tetapi El rasa 5 miliar itu sesuai dengan rencana produksi yang akan dijalankan.”
“Papah juga dengar jika manajer baru itu sudah memecat 15 pegawai bagian penerbitan di hari pertamanya kerja?”
“Apa?!” Antares kembali dikejutkan dengan pertanyaan Edward.
“Sungguh, El? Dia memecat 15 pegawai di hari pertamanya kerja? Sungguh di luar dugaan.” Antares tidak percaya.
“Benar, sungguh di luar dugaan. Papah yang mendengarpun sempat terkejut dan lebih mengejutkannya lagi kakakmu justru menandatangani surat pemecatan itu.”
“Wow, apa sekarang kau sudah berubah El menjadi CEO yang kejam, angkuh, dan menyebalkan seperti di novel-novel?”
Elnath hanya pasrah mendengar semua ucapan Edward dan Antares.
“El mengizinkannya karena memang selama ini merasa kalau di bagian penerbitan itu terlalu banyak pegawai yang hanya akan membuat beban defisit semakin membengkak.” Ujar Elnath mencari pembelaan.
“Sebanarnya jika terus merugi kenapa kau tidak tutup saja bagian itu. Untuk apa tetap dipertahankan? Lagian dengan kekuasaanmu sebagai CEO bukan hal sulit untuk menutup satu bagian kecil yang terus merugi.” Antares kesal dengan sikap Elnath yang terus berusaha mempertahankan bagian penerbitan sejak pertama kali menjabat ebagai CEO.
Edward menghela napas, menyayangkan kondisi penerbitan saat ini yang terlihat sangat memprihatinkan. “Sejak penerbitan ditinggal oleh Direktur Laura semuanya memang menjadi kacau dan tidak terurus dengan baik. Terlalu banyak tangan kotor yang usil disana. Sampai akhirnya penerbitan harus cukup lama berjalan tanpa pemimpin dan tanpa keuntungan.”
“Tetapi El, apa kau yakin dengan manajer yang sekarang? Maksud Papah dihari pertamanya kerja, dia sudah berani memecat 15 pegawai tanpa berdiskusi dulu denganmu. Lalu, baru beberapa bulan dia bekerja, sudah berani mengajukan dana produksi sebesar itu. Apa kau tidak merasa curiga dengannya jika tangannya itu juga sama-sama kotor bahkan biasa saja lebih kotor dari manajer-manajer sebelumnya?”
Pertanyaan Edward membuat Elnath terdiam cukup lama. Tidak bisa dipungkiri jika semua yang diucapkan oleh Edward juga menjadi pikiran bagi Elnath tetapi lagi-lagi entah keyakinan dari mana Elnath merasa bahwa Rigel adalah orang yang tepat untuk memperbaiki bagian penerbitan.
“Akan El pikirankan semuanya dengan hati-hati, Pah.” Elnath memilih menjawab dengan jawaban aman.
“Siapa nama manajer baru itu, El?” Tanya Edward ingin tahu lebih.
“Rigel Daffina.”
“Nama yang cantik.” Antares turut berkomentar.
“Baiklah, El. Papah sudah tidak bisa lagi ikut campur terlalu banyak di perusahaan tetapi Papah yakin apapun keputusanmu nanti kau pasti sudah memikirkannya dengan baik dan siap dengan segela resikonya. Papah sangat percaya padamu, El karena kau tidak akan mengkhianati perusahaan apalagi mengkhianati Papah.” Edward tersenyum yakin dan menggenggam tangan Elnath.
“Terima kasih, Pah sudah percaya pada El.”
Edward tersenyum. “Kalau begitu, Papah akan ke kamar dulu. Kalian jangan terlalu larut tidurnya.”
“Selamat malam, Pah.” Ucap Elnath dan Antares bersamaan saat Edward beranjak meninggalkan ruang makan.
“Kau akan langsung ke kamar, El?”
“Entah, kenapa?” Elnath mengendihkan bahu.
“Rasanya aku sudah lama tidak melihatmu meruntuki kekalahanmu.” Antares menautkan jarinya dan meregangkan ke depan dan atas sembari memberi tatapan menantang pada Elnath.
“Ck, apa selama di Singapura tingkat kepercayaan dirimu meningkat drastis, huh?” Cibir Elnath.
“Tentu saja. Kepercayaan diriku tidak akan pernah luntur sedikitpun.”
Keduanya langsung pergi meninggalkan ruang makan dan bersiap untuk saling beradu dalam layar Play Station. Keduanya terlihat begitu bersemangat untuk mengalahkan satu sama lain. Meski berkali-kali harus menanggung kekalahan dari adiknya sendiri, Elnath tetap tidak kehilangan kepercayaan diri karena satu kali saja Elnath menang akan membuat Antares murung berhari-hari. Bukan perkara yang sulit sebenarnya bagi Elnath untuk mengalahkan Antares tetapi lebih penting dari kemenangannya, Elnath lebih memilih mengalah untuk melihat adiknya tersebut bahagia atas kemenangannya.
Tiba-tiba permainan mereka terhenti oleh suara getaran dari ponsel milik Elnath. Elnath mengernyit, cukup lama manatap layar ponselnya membuat Antares penasaran siapa yang mengirim Elnath pesan di malam hari. Raut takut dan khawatir tercetak jelas di wajah Antares ketika Elnath menjawab siapa yang mengirimnya pesan.
“Mamah.”