Bimbang

3381 Words
Mamah  El, apa kita bisa bertemu sebentar sebelum Mamah kembali ke Singapura? Antares terus berjalan mondar mandir di kamarnya, memikirkan pesan singkat yang dikirimkan oleh Merie kepada Elnath malam tadi. Selepas sarapan pagi bersama Edward dan Elnath, Antares langsung pamit untuk kembali ke rumah Elnath sementara Elnath berangkat ke kantor. Meski sebenarnya, Edward melarang Antares untuk tidak pulang dulu  ke rumah Elnath. Tetapi dengan berbagai alasan yang sengaja Antares buat akhirnya Edward dengan berat hati mengizinkan Antares pulang. Tidak mungkin bagi Antares untuk tetap berada di rumah Edward sementara pikirannya sedang begitu kalut. Bisa-bisa, dengan melihat perubahan Antares yang lebih diam dan tidak secerewet biasanya akan menimbulkan kecurigaan oleh Edward. Untuk saat ini, Antares lebih memilih diam dan menyembunyikan semua kebenaran yang Antares ketahui dari Edward maupun Elnath. Antares tidak akan sanggup jika harus menyaksikan Edward dan Elnath terluka karena masa lalu. Mungkin memang sudah seharusnya Antares mengubur semua bukti yang ia miliki dan menganggap jika semuanya sudah sepantasnya terjadi pada keluarga Gaincarlo. Toh, juga saat ini semuanya tetap baik-baik saja. Tetapi Antares merasa tidak yakin dengan pilihannya itu. Dalam hatinya mengatakan untuk mengungkapkan semuanya yang Antares ketahui selama ini terutama kepada Elnath, yang tidak lain adalah kakak Antares sendiri. Antares merasa jika saat ini dirinya berada dalam persimpangan jalan yang keduanya sama-sama memiliki jurang di bagian kanan dan kirinya. Sejak tadi malam Antares merasa begitu resah ketika mengetahui Merie mengajak Elnath bertemu berdua saja. Keresahan Antares semakin menjadi ketika Elnath tidak memberikan jawaban yang jelas atas permintaan Merie. Sempat terpikirkan oleh Antares untuk pergi ke bandara dan memastikan sendiri apakah Elnath menemui Merie atau tidak. Tetapi setelah Antares pikir-pikir lagi, hal itu terlalu beresiko untuk dilakukan. Dan pada akhirnya, Antares memilih terlelap untuk mengistirahatkan pikirannya yang sejak semalam terus bekerja. “Apa?! Selama ini kau anggap aku ini apa, huh?! Bagaimana mungkin kau menyembunyikannya semua ini dari aku?! “Bagaimanapun aku! Aku tetap kakakmu, Res. Kau tidak bisa seenaknya merahasikan hal ini dari aku?!” “Apa kau sudah tidak lagi menganggapku kakak dengan menyimpan semua ini sendiri?! Katakan!!!” “Aku benar-benar kecewa padamu!” “El, maaf. Aku tidak bermaksud untuk menyembunyikannya darimu apalagi tidak menganggapmu kakak. Tidak, semua tidak seperti itu. Aku hanya bingung dan takut dengan apa yang aku ketahui. Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku mohon maafkan aku, El.” “Kau pikir maafmu bisa merubah keadaan dan bisa memperbaiki namaku yang sudah terlanjur buruk?!” “Tidak sama sekali, bocah bodoh!” “Andai saja kau memberitahu semua ini lebih awal, pasti kondisinya tidak akan semenyedihkan ini.” “El, aku mohon. Aku benar-benar minta maaf padamu. Akan aku lakukan apapun agar kau bisa memaafkan aku. Aku bersedia jika kau menghukumku untuk membersihkan rumahmu seorang diri selama sebulan bahkan lebih.” “Aku mohon, El. Maafkan aku dan jangan benci padaku.” “Aku sudah memaafkanmu dan segera kemasi barang-barangmu dari rumahku.” “Aku sudah muak denganmu, Res!  Aku benci kalian semua dan jangan pernah sekali-kali muncul dihadapanku karena semuanya sudah benar-benar selesai.” Antares langsung terbangun dan langsung terduduk saat menyadari itu semua hanya terjadi di alam bawah sadarnya. Peluh keringat mengucur deras dari dahi Antares, seluruh badannya gemetar. Antares meringkuk dan menyandarkan punggungnya pada sandaran kasur. Napas Antares masih terengah-engah. Dipeluknya kedua kaki Antares. Air mata tiba-tiba mengalir dari kedua sudut mata Antares ketika membayangkan mimpi mengerikan itu yang tampak begitu nyata. Antares begitu menyesal memilih istirahat. Lebih baik Antares akan terus terjaga dari pada harus tertidur, hanya untuk bertemu dengan mimpi buruk itu. Cukup lama Antares terdiam dengan kondisi seperti itu sebelum kondisinya membaik dengan sendirinya. Mimpi itu terasa sangat nyata. Apalagi Antares harus melihat kemarahan Elnath yang begitu mengerikan karena mengetahui jika selama ini Antares merahasikan hal penting darinya. Selama ini, Antares sama sekali tidak pernah melihat Elnath marah. Bagaimanapun keadaannya dalam posisi yang kurang menyenangkan dan menguntungkan sekalipun, Elnath selalu dapat melewati semuanya dengan elegan, tanpa kemarahan dan berhasil membalikan keadaan. Dan itu adalah kali pertama bagi Antares harus menyaksikan kemarahan Elnath terhadap dirinya di dalam mimpi sehingga membuat Antares merasa takut dengan Elnath. Mimpi itu sungguh meninggalkan kesan yang amat sangat buruk bagi Antares Gaincarlo. Setelah menunggu beberapa saat, kondisi Antares sudah mulai membaik. Meski kepalanya masih terasa begitu pening. Namun, Antares tetap memaksakan diri beranjak untuk mengambil segelas air diatas nakas. Antares meneguk habis air mineral itu tanpa tersisa. Matanya masih sembab dan pandangannya masih terlihat begitu kosong. Antares semakin kalang kabut saat melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul 8 malam. Antares tidak menyaka ternyata dirinya cukup lama tertidur. Namun, tidur dalam waktu yang lama tidak membuat kondisi Antares membaik melainkan sebaliknya. Pikirannya menjadi berkali-kali lipat lebih runyam dari tadi pagi bahkan semalam. Panggilan bocah bodoh dari Elnath di alam mimpinya kembali mengusik pikiran Antares. Berkali-kali Antares menggeleng-gelengkan kepala dan menyakinkan diri jika Elnath tidak mungkin menyebut dirinya sebagai bocah bodoh. Seketika, rasanya Antares sama sekali tidak keberatan jika Elnath terus-terusan memanggilnya dengan bocah kecil dari pada harus mendengar panggilan bocah bodoh itu benar-benar keluar dari mulut Elnath. Sungguh, Antares berharap jika mimpi itu bukanlah suatu pertanda buruk dan tidak akan pernah terjadi selamanya. Antares menuruni anak tangga untuk mencari Bi Susi. Jika tidak ada pekerjaan seharusnya Elnath sudah ada di rumah sejak tadi. Beberapa kali Antares mengecek ponselnya juga tidak ada pesan masuk ataupun panggilan tak terjawab dari Elnath yang mengabarkan jika Elnath akan pulang larut. Ya, seharusnya Elnath sudah di rumah. Tetapi jawaban yang di dapat dari Bi Susi sama sekali tidak membuat Antares tenang. Waktu terus berjalan dan ternyata Elnath sama sekali belum pulang. Ditambah lagi, Elnath juga sama sekali tidak menelepon rumah untuk memberitahu jika dia terlambat pulang. Dan tidak mungkin jika Elnath masih bertemu dengan Merie karena setahu Antares pesawat Merie terbang di sore hari. “Apa yang sedang dia lakukan?” Antares bergumam. Antares langsung merogoh saku celananya dan mengambil ponsel. Antares terlebih dulu mengirim pesan singkat kepada Elnath untuk menanyakan posisinya saat ini. Dengan gusar, Antares mengecek ponselnya hampir di setiap detik menunggu jawaban dari Elnath. Namun, nihil tidak ada satupun pesan masuk dari Elnath. Dan tanpa menunggu lebih lama lagi, Antares langsung menelepon Elnath. Dering pertama hingga dering ketiga Antares masih berharap Elnath segera mengangkat telepon darinya tetapi ternyata semua sama saja. Tidak menyerah, Antares terus mencoba menghubungi Elnath melalui sambungan telepon namun, hasilnya tetap tidak ada balasan. Antares langsung mengumpulkan tekad dan keberanian. Tidak ada cara lain yang bisa Antares lakukan selain menemui Elnath di kantornya. Setelah mengganti pakaian santainya dengan pakaian yang lebih casual. Antares mematut dirinya di depan cermin. Kembali menanyakan apakah Antares yakin untuk memberi tahu Elnath tentang semuanya dengan segela resiko yang harus Antares tanggung nantinya. Jika saja tidak ada mimpi menyebalkan itu, mungkin keraguan dalam diri Antares tidak sebesar ini. Antares membuka lemari baju miliknya dan menarik laci yang ada di dalam lemari itu. Sebuah kotak yang berukuran kecil masih tersimpan rapi di sana. Dengan perlahan dan sangat hati-hati Antares mengambil kotak kecil itu. Air mata kembali menggenang di pelupuk matanya. Ada perasaan sakit yang teramat dalam apabila harus kembali melihat apa yang ada di dalam kotak ini. Rasanya Antares masih tidak mempercayai dengan bukti kebenaran ini. Dengan segala kekuatan yang masih tersisa, Antares membuka kotak kecil itu dan semuanya masih lengkap tidak ada yang hilang sedikitpun. Mulai dari obat-obatan hingga vitamin masih ada di kotak kecil itu. Meski masih belum sepenuhnya yakin dengan keputusannya saat ini namun, Antares tetap memasukan kotak kecil itu ke dalam weist bag abu-abu miliknya. Bersiap jika nanti keputusan Antares tidak berubah. Tidak seperti Elnath yang akan diantar sopir kemanapun pergi, Antares memilih untuk pergi dengan menggunakan kendaraan umum. Hidup seorang diri dan mandiri  di Singapura membuat Antares terbiasa hidup tanpa fasilitas mewah. Meskipun beberapa kali Merie menawarkan Antares fasilitas mewah dan berkali-kali itu pula Antares selalu menolak. Tidak butuh waktu terlalu lama untuk akhirnya Anteres bisa tiba di gedung mewah yang dipimpin oleh Elnath Gaincarlo, mengingat jalanan Ibukota yang sudah tidak terlalu padat seperti siang hari. Antares terpaku cukup lama, memandangi kemegahan dari gedung King Carlo Company. Antares masih sering tidak percaya jika gedung semegah ini adalah milik Ayahnya, Edward Gaincarlo yang dipimpin oleh Kakaknya, Elnath Gaincarlo. Antares sama sekali tidak tahu di mana ruangan Elnath sementara saat ini kondisi gedung sudah sangat sepi tidak begitu banyak orang yang berlalu-lalang untuk Antares tanyai. Terakhir kali Antares ke kantor ini adalah sebelum kedua orang tuanya bercerai, sudah hampir lima tahun Antares tidak menginjakkan kaki disini. Terlebih lagi setelah perceraian kedua orang tuanya, Antares memilih melanjutkan pendidikannya dan tinggal seorang diri di Singapura sebelum akhirnya Merie juga turut pindah mengikuti Antares. Antares berjalan masuk ke dalam gedung. Melewati dua orang resepsionis yang sedang tugas di malam hari. Sebenarnya bisa saja, bagi Antares untuk bertanya kepada resepsionis di mana ruangan Elnath tetapi Antares sadar diri dengan penampilannya yang kelewat casual ini sama sekali tidak meyakinkan siapapun jika Antares adalah bagian dari Gaincarlo. Apalagi Elnath adalah seorang CEO yang pastinya tidak mudah untuk bisa bertemu dengannya begitu saja. Pasti akan ada banyak prosedur yang harus dilewati sedangkan Antares terlalu malas untuk mengatakan siapa dia sebenarnya. Sepanjang Antares melangkahkan kakinya di gedung King Carlo Company, tatapan aneh dari beberapa pegawai dialamatkan kepadanya. Mereka pasti tidak akan mengira jika Antares merupakan adik dari CEO mereka. Bahkan tatapan tajam dari petugas keamanan gedung terus mengintai gerak gerik Antares. Namun, Antares memilih untuk mengabaikan semua tatapan itu dan terus mengitari pandangannya melihat kemegahan gedung. Tidak hanya nampak bagus di luar namun, juga di dalamnya. Dan karena terlalu memperhatikan setiap interior dari gedung King Carlo Company membuat Antares tidak fokus dengan jalannya hingga tiba-tiba. BRAKKKK “Aw!” Antares langsung membelalakan matanya saat menyadari jika dirinya menabrak seorang pegawai yang tengah memegang gelas berisi es Americano dan beberapa dokumen penting. Untung saja itu bukan Americano panas jadi tidak membuat dia terluka. Ya, tumpahan es Americano itu lebih banyak mengenai perempuan itu. Sedangkan Antares hanya terkena sedikit di bagian d**a. Antares semakin merasa bersalah saat melihat dokumen yang sedang dibawanya jatuh dan tertimpa es Americano yang tumpah. Antares langsung memunguti dokumen-dokumen itu sementara perempuan yang Antares tabrak masih diam mematung kebingungan. “Maaf, saya benar-benar minta maaf.” Antares menunduk dan menyerahkan dokumen-dokumen itu. “Apa yang saya bisa saya lakukan untuk menebus kesalahan saya?” “Saya benar-benar meminta maaf.” “Jika Nona berkenan biarkan saya menganti rugi ini semua. Terserah Nona apapun itu akan saya lakukan. Saya tidak keberatan jika harus mencuci baju Nona dan mencetak ulang dokumen-dokumen milik Nona atau jika Nona ingin saya mengganti dengan uang akan saya lakukan. Saya benar-benar meminta maaf.” Ucap Antares begitu panik. Ucapan Antares sama sekali tidak dihiraukan oleh perempuan itu. Dia masih saja terdiam dan menatap Antares tajam dan membuat insiden ini mengundang perhatian beberapa orang yang sedang berada di lobby gedung. Tak lama kemudian, dua petgas keamanan yang sejak tadi mengincar Antares datang menghampiri perempuan itu dan menawarkan bantuan jika ingin mengusir Antares. Namun, perempuan itu menolak dan hanya meminta petugas kemanan untuk memanggilkan office boy  agar membersihkan lantai. Antares sempat terkejut dan dibuat semakin tidak enak ketika perempuan itu mengatakan jika Antares adalah kenalannya. Antares dapat bernapas lega karena Antares mengira jika ia akan habis dipermalukan oleh petugas kemanan itu dengan diseret paksa untuk keluar dari kantor mewah ini. “Terimakasih Nona dan sekali lagi saya benar-benar minta maaf.” “Hm, baiklah. Aku sudah maafkanmu dan kau tak perlu ganti rugi. Ini bukan hal besar.” Akhirnya perempuan itu bersuara membuat Antares lega sembari menunjukkan bagian bajunya yang basah. Perempuan itu masih memberikan Antares tatapan yang mematikan membuat Antares gugup setengah mati. Namun, tiba-tiba sebuah senyum terukir dari bibir perempuan itu yang semakin membuat Antares merasa ngeri. “Tetapi kau harus janji. Perhatikan jalanmu dan hati-hati.” Kata Perempuan itu sembari menunjukkan jari kelingkingnya. Dan tidak ada hal lain yang bisa Antares lakukan selain mengaitkan kelingkingnnya mengikat janji dengan orang yang tidak Antares kenal. Untung saja ini bukan perjanjian yang dapat mengancam hidup Antares. “Janji.” Antares tersenyum. “Ada perlu apa kau datang kesini malam-malam?” Pertanyaan perempuan itu membuat Antares melihat ada secercah harapan untuk bisa sampai di ruangan Elntah Gaincarlo. Meski terlihat mengerikan namun, dapat Antares rasakan jika sebenarnya perempuan ini adalah orang yang baik. Buktinya dia tidak marah sama sekali dan menolak semua tawaran ganti rugi dari Antares. “Um, sebenarnya aku ingin bertemu dengan Elnath tetapi aku belum memiliki janji dengannya dan aku juga belum tahu dimana ruangannya.” “Apa bisa kau mengantarkan aku ke sana?” Tanya Antares ragu. Perempuan itu kembali bergeming, membuat Antares merasa bingung. “Nona tenang saja aku bukan orang aneh dan aku bisa jamin jika aku tidak akan menimbulkan kegaduhan apapun saat bertemu Elnath nanti.” Ujar Anatres meyakinkan. Perempuan itu masih terdiam dan menatap Antares penuh selidik. “Baiklah akan aku antar.” Ucapan perempuan itu membuat Antares begitu lega karena perjuangannya ke sini tidak sia-sia. Ternyata selalu ada hal yang baik dibalik sesuatu yang buruk. Andai saja tadi Antares tidak meleng dan menabrak perempuan itu mungkin malam ini Antares tidak akan mengetahui di mana ruangan Elnath Gaincarlo. Antares hanya diam mengikuti kemana perempuan itu melangkah. Antares tersenyum saat perempuan itu menekan angka 11 saat berada di dalam lift. Sesuai dugaan Antares, ternyata  kecintaan Elnath dengan angka 11 membuat Elnath rela memindahkan lantai khusus CEO. Padahal, seingat Antares dulu ketika Edward masih bekerja, ruangannya berada di lantai teratas gedung ini. Meski Antares telah memperkirakan jika ruangan Elnath ada di lantai 11 namun, Antares merasa tidak yakin dengan itu karena saat Edward menceritakan jika Elnath melakukan perubahan yang signifikan terhadap ruangan di setiap lantai gedung, Antares  hanya menanggapi dengan seperlunya dan tidak menanyakan lebih lanjut. Sesuai dugaannya, baru saja sampai di bagian depan lantai 11, nuansa seorang Elnath Gaincarlo sudah sangat terasa. Nuansa yang penuh dengan kesederhanaan namun, tampak begitu elegan. Antares hanya terdiam saat perempuan yang membawanya sedang berbicara dengan petugas keamanan yang ada di lantai 11. Antares hanya berharap jika dirinya bisa mememui Elnath malam ini. Tidak butuh waktu lama akhirnya Antares mendapatkan akses untuk masuk ke dalam ruangan Elnath dan setelahnya perempuan itu pergi meninggalkan Antares setelah Antares mengucapkan banyak terima kasih dan kembali mengulang perminta maafannya. Rasa penasarannya terhadap Elnath membuat Antares membuka pintu ruangan CEO King Carlo Company itu tanpa ragu. Antares sungguh penasaran apa yang sedang Elnath lakukan sampai-sampai tidak mengabari dirinya dan bahkan tidak membalas dan mengangkat telepon Antares. Ketika pintu itu terbuka nampak jelas sosok yang Antares cari sejak tadi dan betapa menyebalkannya ketika Antares menemukan Elntah sedang tertidur. Semua kecemasan Antares sirna seketika digantikan dengan perasaan kesal. Bagaimana bisa Elnath tertidur di kantor padahal waktu sudah semakin larut.  Tidak ingin berbaik hati, Antares langsung mengambil segelas air dan mencipratkannya ke wajah Elnath namun, Antares kurang beruntung karena Elnath hanya mengeliat dan kembali melanjutkan tidurnya. Tidak ingin membuang kesempatan, Antares langsung mengguyur segelas air ke wajah Elnath. “Hujan...hujan....hujan...” Elnath merancu terbangun dari tidurnya. “Apa hujannya kurang deras?” Tanya Antares sinis. “Antares.” Panggil Elnath masih setengah sadar. “Ya, kenapa?!” Kata Antares menantang. Elnath mengusap wajahnya dan menfokuskan penglihatanya untuk memastikan jika yang dihadapannya saat ini memang Antares. Elnath bertingkah seperti orang linglung, mengitari pandangannya ke seluruh arah ruangan dengan penuh kebingungan. “Kau kenapa disini?” “Kau yang kenapa?! Pesanku tak dibalas, teleponku tak diangkat. Buat orang khawatir saja!” Antares meruntuki Elnath dan berlalu menduduki kursi kebesaran Elnath. “Wow, indahnya!” Antares terkesan dengan pemandangan kota dari dinding kaca ruangan Elnath. Begitu menenangkan memang melihat gemerlap Ibukota dari kursi CEO yang begitu nyaman ini. Elnath masih terdiam, beberapa kali mengambil napas panjang untuk mengembalikan kesadarannya. Baju yang basah karena ulah Antares sudah tidak lagi dipedulikan oleh Elnath. Dan jika dipikir-pikir dalam beberapa jam saja Antares sudah menyiram dua orang dengan air. Bedanya yang satu tanpa sengaja dan satunya memang sengaja Anatres lakukan. Begitu kesadarannya pulih, Elnath menghampiri adiknya dan duduk di depan kursi yang biasanya menjadi singgasananya. “Res.” “Hm” “Ada apa kau kesini?” Anatres terdiam, keresahannya kembali datang. Apakah harus tetap Antares katakan semua ini kepada Elnath. Beberapa kali panggilan dan pertanyaan Elnath, Antares hiraukan bahkan Antares masih belum mau untuk membalikan arah kursi menatap Elnath. Sikap Antares yang tidak biasanya seperti ini semakin membuat Elnath yakin jika adiknya sedang tidak baik-baik saja. Melihat Antares datang tanpa di suruh ke kantor adalah sebuah keajaiban dan pastinya kedatangan Antares bukanlah tanpa tujuan. Meskipun beberapa kali ucapannya diabaikan oleh Antares namun, Elnath tetap mencoba sabar dan memahami adik satu-satunya ini. Akhirnya Elnath pergi beranjak, membiarkan Antares mengambil waktu untuk dirinya. “Aku akan mengambil cokelat panas untukmu.” “Tidak usah.” Antares akhirnya bersuara dan membalikan arah kursi. “Apa kau sudah makan?” Tanya Antares khawatir. “Ya, tadi sebelum Mamah pergi aku makan bersamanya.” Deg. Jantung Antares langsung berdegub lebih kencang. Kenyataan bahwa Elnath pergi menemui Merie membuat Antares semakin merasa tidak karuan. “Apa kau sudah makan?” Elnath bertanya balik. Antares hanya menggeleng. “Aku menunggu kabar darimu tetapi kau tidak membalas sama sekali.” Elnath menepuk jidatnya, merasa sangat bersalah kepada Antares karena tidak mengabarinya jika harus pulang larut. Setelah bertemu dengan Merie, Elnath harus menghadari pertemuan mendadak dengan salah satu kolega. Dan sebelum pulang ke rumah, Elnath sengaja untuk beristirahat sebentar di kantor sekalian Elnath harus mengambil barangnya yang tertinggal. Tetapi sialnya, Elnath justru tertidur dan sama sekali tidak mendengar ada panggilan masuk dari Antares. “Aku benar-benar minta maaf padamu. Lalu, kau ingin makan apa? Aku akan segera belikan.” Elnath merasa khawatir karena waktu sudah lewat pukul 9 dan Antares belum makan malam karena menunggunya. “Nasi goreng.” “Baiklah aku akan minta Jonathan untuk membelikannya. Kau ingin nasi goreng dari restaurant mana? Akan aku belikan nasi goreng terenak untukmu.” “Tidak, aku mau nasi goreng abang-abang pinggir jalan. Asal kau tau El, beberapa kali aku makan nasi goreng di restauran tetap rasa terbaik adalah nasi goreng pinggir jalan. Cepat belikan.” Elnath tidak menyangka dengan permintaan Antares. Padahal Elnath sudah bersiap mengeluarkan banyak uang hanya demi sepiring nasi goreng. “Kau serius?” “Serius cepat belikan, sebelum aku pingsan kelaparan dan jangan lupa minta bungkuskan dua gelas es teh untukku.” Elnath mengangguk ragu. “Baiklah, akan aku belikan sesuai dengan permintaanmu.” Elnath lantas langsung menelepon seseorang untuk membelikan satu piring nasi goreng pinggir jalan dan dua gelas es teh untuk adik tersayang, Antares Gaincarlo. "Bukankah kita juga selalu makan di pinggir jalan saat di Lombok, El?" Tatapan Anatres berubah menjadi sendu. Semuanya terdiam. Elnath menatap Antares penuh selidik, adiknya sama sekali tidak bisa berbohong. Meski tatapan Antares berubah sendu tetapi jelas terlihat dari mimik wajahnya jika ada sesuatu yang ingin disampaikannya kepada Elnath. “Katakan apa yang membuatmu gusar?” Antares menatap Elnath tak percaya. Bagaimana bisa Elnath mengathui jika ada sesuatu yang membuat Antares merasa gusar. “Wajahmu tidak bisa berbohong.” Antares memegang wajahnya dengan kedua tangannya dan mengumpat pelan. “Sial.” “Cepat katakan atau nasi goreng dan es tehmu akan aku habiskan.” “Ck, dasar.” Antares menarik napas panjang, menyiapkan diri untuk memulai obrolan yang tidak mengenakan hati ini. “Apa yang kau bicarakan dengan mamah?” Mendengar pertanyaan Antares, Elnath langsung menyandarkan tubuhnya pada punggung kursi.  “Um, mamah hanya bercerita.” Jawab Elnath ragu. “Duros.” Tebak Antares yang membuat Elnath terkejut. “Bagaimana kau tahu?” “Aku sudah pernah bertemu dengannya.” Elnath semakin terkejut dengan jawaban Antares tetapi Antares hanya tersenyum dengan terpaksa.  “Bagaimana menurutmu, El?” “Aku setuju.” Cukup lama Antares menatap Elnath, bukan jawaban itu yang Antares harapakan meski sudah Antares perkirakan sebelumnya. “Apa kau serius dengan ucapanmu?” “Hm.” Jawab Elnath yang terdengar begitu ragu. “Apa kau tidak curiga?” “Maksudmu?” Elnath mengernyit tidak mengerti. Dan pada akhirnya keputusan Antares tetap sama. Meski sempat merasa ragu dan bimbang namun, Antares tidak ingin menyimpan semua ini sendiri terlalu lama. Bagaimanapun juga, Elnathpun berhak untuk mengetahui hal ini. Antares mengeluarkan kotak kecil dari dalam weist bag abu-abunya dan meletakan kotak itu di atas meja serta menyodorkannya kepada Elnath. “Apa ini?” Tanya Elnath semakin tidak mengerti. “Bukalah.” Sebuah kotak kecil berhasil membuat Elnath terkejut dan mematung cukup lama, tidak percaya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD