Kebahagiaan

2467 Words
Tepat pukul 06.30 mobil Mercedes-Benz keluaran terbaru telah tiba di gedung parkir khusus untuk para petinggi King Carlos Company. Tanpa disadari kata disiplin sudah sejak lama menjadi nama belakang bagi Elnath. Dengan setelan jas lengkap berwarna hitam Elnath Gaincarlo keluar dari kursi penumpang setelah pintu mobil di buka oleh Jonathan. Selain sebagai sekretaris, Jonathan Miller juga merangkap tugas sebagai asisten pribadi Elnath. Meski usia Jonathan lebih tua dua tahun dari Elnath namun, hal itu tidak membuat Elnath merasa sungkan kepada Jonathan. Elnath menuruni mobil dengan tangannya yang masih sibuk memegang ponsel. Pandangannya masih tertuju pada layar ponsel di hadapannya. Tepat disampingnya, Jonathan membantu mengarahkan Elnath menuju lift khusus untuk CEO karena sejak tadi Elnath sama sekali tidak memperhatikan jalan dan hanya fokus pada ponselnya. Begitu pintu lift terbuka, Elnath langsung berjalan menyusuri lorong yang begitu mewah untuk akhirnya bisa tiba di ruangan CEO. Masih dengan pandangnya yang terfokus pada layar ponsel, Elnath meminta Jonathan untuk memaparkan jadwal Elnath hari ini. “Jo, apa saja jadwalku hari ini?” Tanya Elnath tanpa sekalipun menghentikan langkahnya dan menatap Jonathan. Dengan sigap, Jonathan langsung membuka layar i-pad yang sejak tadi ada di gengamannya dan terus menyusuri jalan sembari menjelaskan jadwal Elnath hari ini. “Seperti kemarin, Tuan. Pukul 07.00 anda harus mewawancari kandidat terakhir calon manajer kita. Pukul 10.00 anda harus menghadiri konferensi bisnis digital di Hotel Moreno dan Pukul 12.00 anda harus menghadiri acara makan siang bersama Tuan Edward dan Nyonya Merie.” “Setelah itu?” “Sudah, Tuan. Hari ini jadwal Tuan tidak terlalu padat seperti biasanya.” “Baiklah.” Jonathan mempercepat langkahnya ketika hampir tiba di pintu ruangan Elntah. Jonathan sedikit berlari mendahului Elnath untuk membukakan pintu untuk Elnath. Elnath langsung segera duduk di kursi kebesarannya dan meletakan ponsel miliknya di atas meja. Fokusnya langsung berubah kepada beberapa dokumen yang sudah menanti dirinya. “Apa ada hal lain yang Tuan perlukan sebelum saya meninggalkan ruangan?” Elnath melirik ke arah jam tangan miliknya. “Masih ada 20 menit sebelum jam tujuh. Minta siapapun untuk mengantarkan kopi ke ruanganku.” “Baik, Tuan.” Pamit Jonathan undur diri dari hadapan Elnath. Tidak perlu menunggu lama, seorang office boy datang dengan secangkir Americano panas, favorit Elnath. Setelah office boy itu meninggalkan ruangan sang CEO. Elnath langsung menyesap kopi panas itu sembari memutar kursinya, menatap jalanan Ibukota yang sudah mulai kembali ramai melalui dinding kaca besar yang menutupi ruangnnya. Meski dengan jarak yang cukup jauh. Elnath dapat melihat sebuah taksi berhenti tepat di depan kantor miliknya. Dan keluarlah seorang perempuan dengan setelan kantor nan rapi. Sudah dapat Elnath pastikan jika dia bukan pegawai King Carlo Company karena kebanyakan pegawai Elnath selalu membawa kendaraan pribadi atau jika tidak mereka akan menggunkan bus kantor yang sengaja Elnath sediakan untuk para pegawainya agar tidak bersusah payah dan berdesak-desakan menggunakan angkutan umum. Seorang perempuan dengan postur tubuh yang tidak terlalu tinggi mencuri perhatian Elnath. Bahkan Elnath harus bangkit dari kursi dan mendekat ke arah jendela untuk memperjelas penglihatannya. Namun, tetap saja Elnath tidak mampu mengenali wajahnya dengan jelas. Elnath dibuat semakin penasaran dengan perempuan itu karena dari bentuk badannya Elnath merasa tidak asing namun, Elnath sama sekali tidak dapat mengingat siapa sosok itu. Dari pakaian perempuan itu dapat Elnath tebak jika dia adalah salah satu kandidat manajer yang akan diwawancarainya hari ini. Dan Elnath masih belum mampu melepaskan pandangan dari perempuan yang menurutnya tidak asing itu. Rasa penasaran Elnath terhadap perempuan itu membuat Elnath segera bergegas untuk bersiap turun ke lantai 9. Tiba-tiba pintu ruangan Elnath terbuka dan memperlihatkan Jonathan dengan raut wajah yang begitu panik. Melihat Jonathan yang tidak biasanya berekspresi seperti itu, Elnathmerasa terheran. “Jo, ada apa denganmu?” Tanya Elnath sembari meletakan pena di saku jasnya. “Maaf, Tuan.” Jawab Jonathan masih dengan raut wajahnya yang panik. Elnath menatap Jonathan. “Bicaralah, tidak biasanya kau seperti ini.” “Sir Damien Baldwin dari JR Company sedang menuju ke sini ingin bertemu dengan Tuan dan mendengar secara langsung tawaran kerja sama internasional kita dengan mereka dari Tuan.” Ucap Jonathan dengan tegas. Elnath yang sejak tadi terlihat santai tiba-tiba air mukanya berubah sedikit pucat. Bukan karena permasalahan akan bertemu dengan orang luar secara mendadak seperti ini. Bertemu dengan relasi bisnis dari luar negara bukan menjadi hal baru bagi seorang Elnath Gaincarlo. Namun, yang menjadi pikiran Elnath adalah Elnath belum mempelajari tawaran kerja sama yang akan diberikan King Carlo kepada JR Company. Jelas saja, karena dengan mudahnya Elnath hanya meminta salah satu direkturnya untuk mengurus kerja sama ini tanpa mengetahui detailnya. Dan sunggu diluar dugaan jika tawaran kerja sama itu juga menarik perhatian sang CEO dari JR Company. Elnath masih terdiam dengan pikirannya yang tiba-tiba kalut. “Tuan masih memiliki waktu sekitar 30 menit untuk mempersiapkan materi karja sama dan jika Tuan menolak untuk mempresentasikannya sendiri secara langsung mereka akan...............” Kata Jonathan menggantung karena terlebih dulu dipotong oleh Elnath. “Akan apa?” “Akan membantalkan kerja sama ini.” Jawab Jonathan lesu dan menundukan kepala. “Kenapa tiba-tiba seperti ini?” Tanya Elnath sembari memijit kepalanya. “Maaf Tuan. Kedatangan Sir Demian memang tiba-tiba dan hanya beberapa hari saja di Indonesia karenanya sebelum nanti malam Sir Demian kembali ke Prancis, Sir Demian ingin terlebih dulu bertemu dengan Tuan untuk membahas kelanjutan dari tawaran kerja sama ini, Tuan.” Elnath tidak bisa jika hanya berdiam diri saja. Mau tidak mau, Elnath harus memaparkan mekanisme kerja sama yang ditawarkan King Carlo. Bagaimanapun juga jika kerja sama ini berhasil akan memberikan keuntungan besar bagi King Carlo karena dapat memperluas jaringannya di pasar internosional. “Cepat panggil Rossa!” Perintah Elntah kepada Jonathan dan berlalu meninggalkan ruangan. Dengan langkah yang sama cepatnya Jonathan mengabarkan jika Rossa sudah berada di ruang pertemuan. “Rossa sudah di ruang pertemuan, Tuan. Hanya tersisa sedikit waktu untuk Rossa menjelaskan detail kerja sama yang kita tawarkan.” “Apa maksudnya sedikit waktu? Rossa juga bisa membantuku untuk menjelaskannya nanti.” “Tapi Tuan, Sir Demian hanya meminta pertemuan berdua saja dengan Tuan tanpa ada siapapun.” Ucapan Jonathan mampu menghentikan langkah Elnath. Raut panik tercetak jelas dalam wajah Elnath. Elnath menatap tajam ke arah Jonathan yang hanya bisa menunduk pasrah dengan situasi yang tak terduga ini. “Sial!” Elnath membuka pintu ruang pertemuan dengan kasar, langkahnya begitu tergesa-gesa. Rossa yang sedang sibuk dengan berbagai dokumen langsung bangkit memberikan hormat. Dan tanpa membuang waktu lagi, Rossa sebagai direktur utama yang ditunjuk Elnath untuk mengatur semua kerja sama ini langsung menjelaskan dengan singkat dan rinci uraian dan inti dari kerja sama ini. Untungnya Elnath memiliki tingkat kecerdasan yang cukup baik sehingga dengan waktu yang terbatas ini Elnath dapat menangkap poin utama yang nanti harus dipaparkan kepada CEO JR Company, Demian Baldwin. Rossa segera pamit undur diri manakala kabar tentang kedatangan Demian Baldwin telah tersiar. Begitupula Jonathan yang harus pergi menjemput dan mengantarkan langsung Demien Baldwin menuju ruang pertemuan. Sebelum pamit meninggalkan Elnath, Jonathan terlebih dulu meminta persetujuan Elnath untuk mengabarkan kepada calon manajer jika wawancara hari ini harus di tunda. Namun, sungguh mengejutkan jika biasanya Elnath akan langsung mengiyakan ketika dalam sistuasi semacam ini. Kali ini Elnath memberi perintah kepada Jonathan untuk menyampaikan kepada calon manajer itu menunggu beberapa saat. Selama pertemuan kedua CEO itu berlangsung, Jonathan masih dengan setia menunggu di depan ruangan dengan perasaan risau karena menggantungkan nasib dari salah satu kandidat calon manajer. Setengah jam, satu jam, dan dua jam berlalu begitu saja. Sementara pertemuan antar CEO itu belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir. Akhirnya Jonathan mengambil langkah untuk segera pergi menuju lantai 9 dan menemui calon manajer itu karena tidak mungkin Jonathan akan membiarkan seorang calon manajer menunggu lebih lama lagi tanpa kepastian yang jelas. Jonathan sangat mengerti bagaimana perasaan perempuan itu yang telah menunggu cukup lama tetapi akhirnya harus dibatalkan sepihak. Jonathan merasa sangat bersalah ketika beradu tatap dengan kandidat terakhir ini. Namun, Jonathan dibuat terkagum dengan sikapnya yang tidak menunjukkan amarah dan hanya memperlihatkan rasa kecewanya. Dan menurut Jonathan itu adalah hal yang wajar. Akan Jonathan sampaikan kepada Elnath tentang kejadian ini sebagai nilai lebih bagi calon manajer ini. Namun, sungguh diluar dugaan Jonathan ketika perempuan itu hendak meinggalkan ruang tunggu wawancara, dia memberikan u*****n terhadap seseorang yang begitu Jonathan hormati dan seketika itu pula membuat Jonathan mengurungkan niatnya untuk menceritakan kejadian ini dan menyakinkan Elnath jika perempuan ini layak bekerja sebagai manajer di King Carlo Company. Sungguh, u*****n itu membuat Jonathan diam mematung. Di dalam ruang pertemuan Elnath menyambut kedatangan Demian Baldwin. Memberikan senyuman ramahnya dan menjabat tangan Demian Baldwin. Sungguh diluar perkiraan Elnath jika usia CEO dari JR Company tidak terpaut jauh darinya. Dan kekhawatiran Elnath akan ketidaksiapannya untuk memaparkan detail materi kerja sama kepada Demian nyatanya tidak terbukti.  Jarak usia mereka yang berdekatan membuat pertemuan ini terasa lebih santai dari biasanya. Bahkan pertemuan ini pun tidak seperti pertemuan antar CEO dua perusahan yang sedang membahas persoalan serius terkait masa depan masing-masing perusahaan. Baik Elnath maupun Demian dapat membawa suasana menjadi lebih cair dengan cepat. Bahkan terlebih dari itu, keduanya lebih banyak membicarakan tentang keluh kesah keduanya sebagai CEO perusahaan besar di usia yang terbilang muda ketimbang membahas kelangsungan kerja sama antar dua perusahaan itu. Bukan hanya sikap Demian yang menjadi kejutan besar bagi Elnath. Namun, juga ucapan Demian menjelang akhir pertemuan mereka. Baru Elnath ketahui ketika itu,  jika selain untuk menghadiri acara pernikahan rekannya di Pulau Dewata, kedatangan Demian ke Indonesia kali ini adalah untuk menemui Elnath secara langsung dan mengabarkan jika JR Company menerima tawaran kerja sama dengan King Carlo Company dan setelah itu keduanya pun saling menandatangani kontrak kerja sama. Padahal perkiraan jadwal Elnath hari ini tidak terlalu sibuk akan tetapi kehadiran Demain Baldwin secara tiba-tiba membuah harinya terasa begitu sibuk dan melelahkan dari biasanya. Setelah kepergian Demian, Elnath harus langsung menuju Hotel Moreno untuk menghadari konferensi bisnis digital. Dan setelahnya, Elnath baru bisa bernapas dengan lega karena acara selanjutnya hanyalah makan siang bersama Tuan Edward dan Nyonya Merie. “Apa ada yang sudah sampai di restaurant?” Tanya Elnath kepada Jonathan yang duduk di kursi depan. “Sudah, Tuan.” “Siapa?” “Nyonya Merie, Tuan.” Elnath hanya terdiam mendengar jawaban Jonathan. Matanya sibuk memandangi jalanan dari kaca mobil dengan siku yang ia sandarkan di pintu mobil bagian dalam untuk menyangga dagunya. Perasaan haru dan bahagia bercampur menjadi satu. Entah mengapa tiba-tiba Elnath merasa berdebar akan bertemu dengan Nyonya Marie.  Sungguh, Elnath sudah tidak sabar untuk segera tiba di restaurant. “Tolong lebih cepat, aku ingin segera tiba di restaurant!” Perintah Elnath kepada sopir. “Baik, Tuan.” Jawab sang sopir dan melanjukan mobil mewah milik Elnath dengan lebih kencang. Tidak butuh waktu yang lama, akhirnya Elnath sampai di restaurant yang dituju. Segera Elnath menuju lantai dua untuk menemui Tuan Edward dan Nyonya Merie. Sama sekali tidak ada orang yang ada di lantai dua selain, perempuan paruh baya yang tengah duduk menatap pemandangan dari jendela restaurant. Meski usianya terus bertambah namun, parasanya sama sekali tidak berubah, masih tetap anggun seperti dahulu ketika Elnath masih tinggal bersama dengannya. Secara khsusus, Elnath mereservasi semua meja di lantai dua ini hanya untuk mempersiapkan makan siang yang istimewa untuk Elntah dan Antares. Elnath memilih diam terlebih dahulu, tersenyum memandangi sejenak perempuan paruh baya itu sebelum akhirnya menyapanya dengan rindu. “Mamah.” Suara lembut milik Elnath, mampu mengalihkan pandangan Merie. Begitu melihat putra sulungnya, Merie langsung bangkit dari tempat duduknya dan berjalan mendekati Elnath sembari merentangkan kedua tangannya. Tak ingin membuat Merie berjalan terlalu jauh, Elnath berlari menuju arah Merie dan memeluknya erat. Sebuah tempat yang begitu Elnath rindukan dan tanpa disadari air mata Elnath mengalir perlahan. Namun, segera ia tepis agar tidak diketahui oleh Merie. “Bagaimana kabarmu, sayang?” Kata Merie, melepaskan pelukan Elnath dan menatap lembut bola mata putranya ini. “Baik, sangat baik.” Jawab Elnath bahagia. “Mamah sendiri bagaimana kabaranya?” Tanya balik Elnath, menuntun Merie kembali ke tempat duduknya. “Sepertimu, sangat baik.” Merie tersenyum bahagia menatap Elnath. Elnath mengitari pandangannya mencari sosok Antaras yang juga begitu dirindukan oleh Elnath. Ketika Elnath tiba di tempat parkir restaurant, Jonathan mengabari jika Antares juga sudah tiba. “Ada apa, El?” Merie bertanya ketika melihat sikap Elnath yang kebingungan. “Dimana Antares?” “Disini.” Suara yang tidak asing bagi Elnath terdengar dari arah toilet. “Aress!” Elnath berteriak, mukanya kegirangan dan langsung memeluk adik satu-satunya ini. “Oh, aku sungguh merindukanmu kak.” Ucap Antares dalam dekapan Elnath. “Aku juga merindukanmu bocah kecil.” Elnath melepaskan pelukannya dan mengusap kasar rambut Antares. “Cih, berhentilah memanggilku bocah kecil aku sudah hampir 25 tahun.” Protes Antares. “Haa..haaa...baiklah bocah kecil.” “Kakak!” Teriak Antares memperingati Elnath. Merie yang sejak tadi terdiam hanya bisa tersenyum menyaksikan pemandangan yang amat langka bagi dirinya. Hatinya begitu menghangat ketika melihat Elnath bersama dengan Antares meski keduanya kerap kali berkelahi ketika bersama. Dan kebahagian mereka pun bertambah ketika kedatangan Edward. Semuanya saling melepas rindu satu sama lain. Mereka saling bercengkrama, bertukar cerita, dan berbagi kebahagiaan. Meski keadaan mereka sudah tidak lagi seperti dulu namun, tidak membuat mereka menjadi merasa canggung satu sama lain. Dan tanpa harus menunggu waktu lebih lama lagi, hidangan mewah mulai disajikan di meja mereka satu persatu, mulai dari hidangan pembuka, utama, dan penutup. “Kapan kau akan menikah, El?” Tanya Merie disela-sela acara makan siang mereka. Seharusnya Elnath sudah mempersiapkan diri untuk mendengar pertanyaan ini dari Merie namun, tetap saja pertanyaan itu terdengar begitu manakutkan bahkan membuat Elnath tersedak. Antares yang duduk disebelahnya pun langsung memberikan minum kepada Elnath sementara Merie nampak sama sekali tak khawatir melihat anaknya tersedak karena pertanyaannya. “Mah,.........” Ucapan Elnath mengantung karena terlebih dahulu disambar oleh Merie. “Berapa usiamu tahun depan?” Tanya Merie dingin. “30.” “Apa jabatanmu?” “CEO.” “Lalu?” Tanya Merie menatap tajam ke arah Elnath. Elnath memilih untuk tidak menjawab pertanyaan Merie dan mengalihkan pandangannya kepada Edward yang duduk di hadapannya. “Kenapa?” Tanya Edward bingung. “Pah, berhentilah meminta Mamah untuk membujukku menikah. Aku tahu ini semua pasti perintah Papah.” Protes Elnath tak terima. “Apa kau sedang menuduhku?” Edward berbalik tanya kepada Elnath. “Tidak El, Papahmu sama sekali tidak memintaku untuk mengatakan ini padamu. Ini keinginan terbesar Mamah dari dirimu. Mamah ingin segera melihatmu menikah.” Elnath mulai terlihat frustasi ketika obrolan sudah mulai membahas tentang usia Elnath, karir Elnath, dan jodoh Elnath yang belum juga terlihat. Elnath menghela napas panjang, menyiapkan diri untuk mengucapkan kalimat yang sebenarnya Elnath sendiri masih ragukan. “Baiklah, Mah aku akan mencoba mencari seseorang untuk aku nikahi.” Ucap Elnath mengalah. “Bukan mencoba tetapi harus mencari, sebelum mamah yang mencarikannya untukmu!” Tegas Merie. “Baiklah.” Edward dan Antares hanya mampu terdiam tanpa bisa berbuat sesuatu untuk membantu Elnath. Sejak dulu jika Merie telah bertitah kepada Elnath maupun Antares tidak ada satupun orang yang bisa menghentikannya. Setelah obrolan yang menurut Elnath begitu menyebalkan itu, acara makan siang terus berlangsung . Dan yang lebih menyenangkannya lagi bagi Elnath kini obrolan telah berubah fokus membahas tentang Antares. Elnath hanya tertawa setiap kali Edward dan Merie menceritakan tindakan konyol Antares waktu kecil. Elnath mengingat semua yang terjadi hari ini, meski tadi pagi Elnath sempat ingin mengutuk hari ini namun, pada akhirnya Elnath mendapatkan sesuatu yang berharga dan sangat membahagiakan hari ini. Bahkan kebahagiaan Elnath karena berhasil bekerja sama dengan JR Company dan makan siang bersama keluarganya meskipun hanya sesaat mampu membuat Elnath melupakan sesosok perempuan yang pagi tadi berhasil mencuri perhatian Elnath.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD