Kesempatan Kedua

2364 Words
Sejak Elnath pulang dari kantor, Elnath merasa ada sesuatu yang mengganjal dalam hatinya dan begitu menganggu pikiran Elnath. Setelah melepas jas hitam miliknya, Elnath lantas melepas jam tangan mewahnya dan menyimpan jam itu di dalam nakas. Elnath duduk dan terdiam di atas ranjang king size miliknya sembari mengingat semua kejadian hari ini dan rasanya tidak ada yang salah dan harus dikhawatirkan tentang hari ini karena semua rencana Elnath hari ini berjalan dengan baik bahkan sangat baik. Merasa frustasi dengan pikirannya yang tak kunjung menemukan jawaban atas keresahannya, Elnath memilih untuk pergi berendam di dalam bath-up dan menenangkan pikirannya. Jika biasanya Elnath akan pulang ke kediamannya larut malam kali ini Elnath sengaja pulang lebih cepat. Elnath tidak ingin melewatkan kesempatannya untuk makan malam bersama Antares. Dari pada menghabiskan waktu untuk memikirkan sesuatu yang tidak jelas, Elnath memilih untuk pergi menuju kamar Antares dan mengajaknya makan malam bersama. Hari ini Elnath benar-benar mendapatkan banyak kebahagiaan. Selain keberhasilannya mengikat kerja sama dengan JR Company dan acara makan siang bersama kedua orangtuanya. Elnath juga merasa bersyukur karena akhirnya Antares memilih untuk tinggal bersama dirinya. Sudah sejak lama, Elnath tinggal seorang diri di rumah ini dan terkadang Edward berkunjung hanya untuk bisa makan bersama dengan Elnath karena akan sangat lama bagi Edward untuk menunggu Elnath datang mengunjunginya apalagi setelah Edward menyerahkan jabatannya kepada Elnath sebagai CEO. Waktu Elnath menjadi tersita begitu banyak untuk mengurus perusahaan dan membuat Elnath begitu sulit untuk bisa bertemu dan bercengkrama kembali dengan Edward. Keadaan dan kondisi Elnath yang saat ini jauh berbeda membuatnya tidak hanya sulit bertemu dengan Edward tetapi juga dengan Merie dan Antares. Tetapi setidaknya untuk sementara ini, Elnath merasa kerinduan terhadap keluarganya dapat sedikit terobati dengan keberadaan Antares di rumahnya. Adanya Antares di rumah Elnath membuat Elnath ingin segera bergegas pulang ke rumah untuk menghabiskan waktu bersama Antares. Elnath merasa ada seseorang yang tengah menunggu dirinya di rumah dan membuat Elnath ingin segera tiba di rumah. Begitu banyak waktu dan kesempatan terbuang sia-sia untuk menghabiskan waktu bersama Antares karena keadaan. Sehingga Elnath tidak akan melewatkan sebentar saja waktu yang ia miliki bersama dengan Antares. Elnath begitu bersyukur meskipun keadaan sempat memisahkan keduanya namun, hubungan Elnath dan Antares tetap berjalan dengan baik. Tidak ada kecanggungan diantara keduanya. Berangkat pagi dan pulang malam sudah menjadi rutinitas Elnath sehari-hari. Elnath selalu menyibukkan dirinya di kantor. Bahkan ketika pekerjaannya telah usia sebelum pukul 10.00 malam, Elnath akan mencari kesibukan lain yang dapat ia kerjakan. Setidaknya, dengan menghabiskan banyak waktu di kantor, Elnath akan segera tertidur jika sampai di rumah. Semua itu sengaja Elnath lakukan untuk menghalau semua perasaan sepi yang selama ini ia rasakan. Terkadang Elnath merasa tidak betah untuk tinggal di rumah bukan karena rumahnya yang kurang mewah tetapi karena suasanya yang terasa memilukan. Senyum merekah tercetak jelas di wajah Elnath, berjalan menyusri tiap ruangan untuk menuju kamar Antares. Ceklek... Elnath membuka pintu kamar Antares dan membuat Elnath sedikit terkejut karena tidak menemukan Antares di dalam kamarnya. Terbesit ketakutan dalam benak Elnath apabila Antares mengurungkan niatnya untuk tinggal bersama Elnath. Namun, ketakutan itu segera Elnath tepis ketika menemukan koper bermotif Captain America di ujung kamar Antares. Elnath langsung menutup pintu kamar Antares dan bergegas menuruni anak tangga menuju dapur. Dan sesuai dugaannya, Antares pasti sedang di dapur membantu Bi Susi yang sedang sibuk menyiapkan makan malam. Elnath hanya tertawa melihat Elnath yang terus menerus memaksa untuk membantu Bi Susi meski sudah diperintahkan untuk duduk sebentar dan semuanya makanan untuk makan malam akan segera siap. “Sudahlah duduk, jangan kau mengganggu Bi Susi.” Elnath datang dan menarik kursi makan untuknya duduk. “Aku tidak mengganggu, aku hanya sedang membantu.” Jawab Antares yang masih sibuk memindahkan nasi dari rice cooker ke dalam mangkuk besar. Bi Susi menatap Elnath, mengharapkan pertolongan Elnath untuk meminta Antares tidak mengambil alih pekerjaannya. Namun, Elnath hanya mengindahkan bahu karena Elnath juga tidak tahu bagaimana caranya untuk menghentikan adiknya itu yang terlalu senang membantu orang lain. “Sudah siap.” Ujar Elnath sembari meletakan semangkuk nasi panas di meja makan. Semua hidangan makan malam sudah lengkap. Kali ini Bi Susi memasak makanan istimewa sesuai dengan permintaan Elnath. Berbagai macam sayuran dan lauk pauk khas nusatara sudah tersaji di depan meja makan. Antares langsung segera menarik salah satu kursi dan mempersilakan Bi Susi untuk duduk dan makan malam bersama. Namun, Bi Susi yang dipanggil namanya oleh Antares sama sekali tidak menyaut dan hanya tersenyum menatap makanan yang ada di meja makan. Bahkan, Antares harus menepuk bahu Bi Susi untuk menyadarkan Bi Susi dari lamunannya. “Bi Susi, Bi...” Bi Susi yang terkejut menggelengkan kepala mengembalikan kesadarannya yang sempat hilang. “Ya, kenapa Res?” Antares memicingkan mata menatap Bi Susi. “Bibi yang kenapa? Dipanggil diem aja malah senyum-senyum sendiri.” “Bi Susi kenapa?” Tanya Elnath yang juga merasa penasaran. “Tidak apa-apa. Bibi hanya merasa senang akhirnya Bibi bisa masak makan malam lagi untukmu, El. Bibi senang melihatmu ada di rumah ini apalagi ada Antares juga.” Ucap Bi Susi seraya menatap Elnath dan Antares secara bergantian. Elnath yang mendengarnya hanya tersenyum dan di dalam hatinya mengiyakan ucapan Bi Susi. Tidak hanya Bi Susi yang senang namun, Elnath juga merasakan hal yang sama bahkan lebih. Antares yang mendengar ucapan Bi Susi dan melihat reaksi kakaknya merasa ingin tahu apa yang sebenarnya telah terjadi di rumah ini. “Memang kau tidak pernah makan malam di rumah sampai Bibi lama tidak memasak?” Tanya Antares kepada Elnath. “Benar kakakmu tidak pernah makan malam di rumah. Bibi jadi sedih, kakakmu selalu pulang lewat pukul 10.00 malam.” Jawab Bi Susi mendahului Elnath. “Sungguh? Hei, ada apa denganmu? Kau menyia-nyiakan kesempatan untuk bisa makan masakan Bi Susi. Padahal aku selalu rindu dengan masakan Bi Susi.” Tanya Antares kepada Elnath dengan tatapan tak habis pikir mengetahui sikap Elnath selama ini. “Ya, apalagi. Aku sibuk di kantor. Kau tau sekarang aku CEO, sudah pasti ada banyak hal yang aku kerjakan hingga larut malam.” Elnath berkilah. Dari pada menanggapi ucapan Elnath, Antares lebih memilih untuk menghibur Bi Susi. “Sudah, sekarang Bibi tidak usah khawatir karena ada aku di rumah ini kau akan memasak setiap hari bersamaku.” Bi Susi menganggukkan kepala dan tersenyum riang menatap Antares. “Sekarang cepatlah duduk, mari makan bersama.” Ucap Elnath mempersilakan Bi Susi duduk. “Tidak, kalian makanlah berdua. Aku harus menelpon seseorang.” Kata Bi Susi meninggalkan ruang makan dengan senyum yang merekah. Antares merasa terheran dengan sikap Bi Susi dan menaruh curiga jika Bi Susi kini sedang mengalami puber lanjutan. “Apa kau akan menelpon pacarmu?!” Tanya Antares setengah berteriak. “Jaga ucapanmu, Res!” Bi Susi memperingati Antares. Elnath hanya tertawa melihat tingkah keduanya dan semua ini membuat suasana rumah Elnath terasa lebih hidup. “Makanlah.” Perintah Antares seraya memberikan piring kosong kepada Elnath. “Terima kasih.” Jawab Elnath tersenyum bahagia. Bi Susi sudah bekerja untuk keluarga Gaincarlo sejak Elnath dan Antares masih kecil. Itulah alasan keduanya merasa begitu dekat dengan Bi Susi. Meski usia Bi Susi sudah lebih dari setengah abad, Bi Susi selalu merasa dirinya masih muda sehingga Bi Susi tidak pernah merasa canggung untuk berbicara dengan Elnath dan Antares. Bahkan Bi Susi selalu mencari informasi terbaru untuk nantinya ditanyakan kepada Elnath atau Anteras sebagai alasan untuk tetap menjalin komunikasi dengan mereka. Bagi Elnath dan Anatares, Bi Susi bukan lagi orang lain yang sedang bekerja namun, Bi Susi sudah Elnath dan Antares anggap sebagai bagian dari keluarga mereka. Keberadaan Bi Susi bagi Elnath dan Anteras sangatlah penting karena hanya Bi Susi yang selalu ada disamping Elnath dan Antares ketika mereka harus melewati masa terberat mereka manakala menyaksikan saat-saat dimana kedua orang tuanya harus  bercerai. Meski kebersamaan Antares dengan Bi Susi tidak selama kebersamaan Elnath dan Bi Susi. Namun, bagi Antares Bi Susi tetaplah sosok salah satu sosok yang paling penting karena mampu membuat Antares bertahan sejauh ini di tengah badai yang sempat melanda keluarga Gaincarlo. Setelah perceraian kedua orang tuanya, Elnath memutuskan untuk pergi dari rumah dan membeli rumah baru sedangkan Antares memilih untuk meneruskan pendidikannya di Singapura bersama Merie yang juga turut serta pindah ke Singapura setelah bercerai dengan Edward. Meskipun Edward dan Merie telah berpisah dan Elnath dan Antares yang juga harus hidup terpisah jauh tidak membuat hubungan mereka memburuk. Semuanya terlihat masih seperti dulu hanya saja Edward dan Merie tidak lagi ada di dalam satu ikatan pernikahan. Bahkan mereka sering mengadakan acara makan bersama ketika Merie dan Antares berkunjung ke Jakarta dan Edward dan Merie juga selalu menyempatkan waktu untuk mengadakan pesta ketika Elnath ataupun Antares berulang tahun. Ketika akhirnya Elnath memustuskan untuk tinggal sendiri usai percerain kedua orang tuanya, Elnath meminta kepada Edward untuk membawa Bi Susi dan beberapa pekerja di rumah Edward tinggal bersama Elnath. Dengan dalih jika Elnath tidak terbiasa dengan orang baru yang satu atap dengannya, Edward mengizinkan Elnath membawa Bi Susi dan beberapa pekerja lainnya untuk menemani Elnath dan membantunya untuk mengurus rumah. Makan malam yang penuh dengan canda tawa itu terhenti ketika tiba-tiba Elnath bertanya dengan sedikit keraguan kepada Antares. “Um, ngomong-ngomong kapan mamah balik ke Singapura?” Antares menghentikan aktivitas makannya dan beradu tatap dengan Elnath. Dapat Antares ketahui melalui tatapan Elnath jika terdapat suatu kekhawatiran dalam diri Elnath. “Mungkin lusa, kenapa?” “Tidak, tidak apa-apa ta...pi...” Ucap Elnath sedikit gagap. Terlalu lama menunggu Elnath menuntaskan kalimatnya, Antares memilih untuk menanyakan lanjutan dari kalimat Elnath. “Tapi kenapa?” Meski terlihat tidak yakin namun, perlahan Elnath akhirnya menyelesaikan ucapannya yang tadi menggantung dengan waswas. “Tapi apa kau juga akan kembali ke Singapura bersama mamah lusa?” Antares cukup terkejut dengan pertanyaan Elnath. Antares meletakan sendok dan garpunya diatas piring dan menatap Elnath lekat. Sebelum Antares menjawab, terlebih dulu ia memperhatikan baik-baik air muka Elnath untuk memastikan jika pikirannya tentang Elnath yang khawatir akan ditinggalkan oleh Antares itu benar. Dan setelah merasa yakin Antares pun tidak langsung menjawab pertanyaan Elnath dan justru malah tertawa karena melihat ekspresi kakanya yang seperti bocah kecil takut ditinggal pergi oleh Ibunya. “Kenapa kau ketawa?” Tanya Elnath bingung. “Mukamu terlihat seperti bocah kecil yang takut ditingal mamanya.” Antares masih tergelak tawa. “Cepat jawab!” Nada bicara Elnath meninggi untuk menjaga kewibawaannya di depan adik laki-lakinya ini. “Baiklah, aku tidak akan kembali ke Singapura. Aku akan tetap disini bersamamu.” Jawab Antares tersenyum. Begitu mendengar jawaban dari Antares raut wajah Elnath langsung berubah, merasakan sebuah kelegaan yang membuatnya merasa nyaman. “Aku lupa memberi tahumu, El. Aku datang kemari bukan hanya untuk mengunjungimu saja tapi lebih tepatnya aku datang kesini untuk menumpang hidup kepadamu karena aku tahu kakaku adalah CEO. Jadi, bekerjalah dengan baik untuk menghidupi adik laki-lakimu ini.” Gurau Antares mengedipkan satu matanya kepada Elnath. “Cih, dasar!” Cibir Elnath dengan senyum yang merekah. “Katakan apapun yang kau mau pasti akan aku belikan.” Titah Elnath. “Apa kau sedang menyombongkan diri di depanku, huh?” Antares menatap sinis Elnath. “Tentu saja, aku akan menyombongkan diriku untuk memenuhi semua keinginan adiku.” Elnath dan Antares saling melepas tawa, sudah lama hal ini begitu dirindukan oleh keduanya. Elnath tidak akan melepaskan kesempatan berharga ini untuk bisa menjadi kakak yang baik bagi Antares. Makan malam yang hampir menghabiskan waktu satu jam lebih nyatanya belum cukup bagi Elnath dan Antares. Keduanya masih saling melempar cerita satu sama lain. “Bagiaman kalau setelah ini kita bermain PS?” Ajak Elnath kepada Antares. “Boleh, aku sudah lama tidak mengalahkanmu.” Jawab Antares percaya diri. “Harusnya itu menjadi kalimatku.” Elnath menatap Antares tak terima. Kedua kakak adik ini akhirnya kembali ke kamar masing-masing menjelang dini hari. Antares langsung dapat tertidur dengan nyenyak di kamar mewah yang sengaja Elnath buatkan khusus untuk Antares. Sementara sejak kembali ke kamar Elnath hanya sibuk berbalik ke kanan dan ke kiri, tidak bisa tertidur. Pikirannya kembali terganggu akan sesuatu yang masih mengganjal di dalam dirinya. Ketika sedang bersama Antares, rasa bersalah itu tertutup oleh kebahagiaan Elnath dengan Antares. Namun, ketika kembali ke kamar perasaan itu datang kembali tanpa pernah diundang. Rasanya-rasanya Elnath dihantui oleh hutang yang begitu besar terhadap seseorang. Elnath memilih untuk bangkit dan membuka laptop miliknya, mencari sesuatu yang sekiranya bisa membantu menemukan jawaban atas keresahan dan rasa bersalah dalam diri Elnath tetapi nihil Elnath tidak dapat menemukan jawaban itu. Elnath membuka pintu balkon di kamarnya, keluar mencari udara segar. Elnath berjalan mondar-mandir mencari cara yang tepat untuk mencari jawaban itu. Dan Elnath segera merogoh saku celananya, mengambil ponsel dan langsung menghubungi nomor Jonathan. Meski awalnya sempat ragu untuk melepon Jonathan karena sudah tengah malam namun, Elnath nekat untuk tetap menelpon Jonathan dari pada membiarkan dirinya tidak bisa tidur semalaman karena hal yang tidak jelas. Cukup lama, Elnath menunggu hingga pada dering ke tujuh barulah Elnath mendengar suara parau Jonathan. “Halo, Jo. Maaf aku mengganggu tidurmu. Ada yang ingin aku tanyakan kepadamu.” Sambar Elnath tak sabar. “Tidak apa-apa Tuan. Apa yang bisa saya bantu?” Suara bicara Elnath berubah menjadi lebih jelas. “Sejak pulang dari kantor aku merasa ada yang mengganggu pikiranku. Apa hari ini aku melakukan kesalahan? Aku sudah berusaha mengingat bahkan aku sudah melihat laporanmu tentang agendaku hari ini tapi rasanya tidak ada yang salah dengan kegiatanku hari ini. Aku benar-benar merasa tidak tenang Jo.” Hening. Jonathan terdiam mendengar cerita dari bosnya itu. Berusaha mengingat agenda Elnath hari ini. “Hallo, Jo. Kau masih disana?” Tanya Elnath memastikan. “Ya, Tuan.” “Bagaimana menurutmu?” “Um, Tuan. Apa mungkin rasa bersalahmu itu karena tadi Tuan menunda wawancara dengan calon manajer kita. Sebelumnya saya meminta maaf meski Tuan meminta saya untuk mengatakan kepada calon manajer untuk menunggu tapi saya  memintanya untuk pulang dan mengatakan jika kita akan mengatur ulang jadwal wawancaranya dengan dia karena saya tidak melihat tanda-tanda jika pertemuan Tuan dengan Sir Demian akan segera berakhir. Maafkan saya, Tuan karena bertindak tidak sesuai dengan perintah Tuan.” Dan akhirnya Elnath tersadar atas musabab dirinya merasa tidak tenang sejak pulang kantor. Semua ini tidak lain karena Elnath telah membuat kecewa seseorang dengan membatalkan jadwal wawancara secara sepihak dan tiba-tiba. Elnath menarik napas panjang, memikirkan jika perempuan yang tadi pagi mencuri perhatiannya itu pasti begitu kecewa dengan ketidakdisiplinan Elnath sebagai seorang CEO. Elnath merasa dirinya begitu buruk bahkan di mata seseorang yang baru menjadi kandidat calon manajer. “Jo.” “Ya, Tuan.” “Segera hubungi dia untuk datang ke kantor besok pagi jam 07.00 dan sampaikan jika aku akan meminta maaf secara langsung kepadanya. Dan kau jangan lupa, untuk memastikan wawancara ini akan berjalan dengan baik besok.” “Tapi Tuan..........” Tut........Tut........Tut........... Baru saja Jonathan ingin menyampaikan sikap calon manajer itu kepada Elnath. Namun, sambungan telfon sudah terlanjur dimatikan oleh Elnath. Mau tidak mau Jonathan harus menghubungi perempuan itu pagi hari sebelum pukul 07.00.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD