“Assalamu’alaikum, Tih ….” Terdengar suara Ricky di ujung telepon. Siang itu setelah menerima sebuah foto yang dikirimkan oleh sahabatnya—Alfarizy yang berfoto bersama Ratih dengan penampilan barunya memakai hijab, dirinya langsung menghubungi Ratih. “Wa’alaikumussalam, Mas,” jawab Ratih. Ia menahan ponsel itu dengan menjepitnya diantara telinga dan pundaknya, sedangkan kedua tangannya sibuk memotong sayuran yang belum terpotong semua. “Kamu lagi apa, Tih?” “Aku lagi motong sayuran, Mas. Mau nyediain makan siang untuk non Riri. Ada apa ya, Mas?” “Tih, jangan teleponan kalau lagi kerja!” Tiba-tiba sang ibu sudah kembali ke dapur dan memperingati anaknya dengan menepuk pundak anaknya pelan. “Iya, Bu. Sebentar!” Ratih berbisik lirih pada Ibunya. Ia menyimpan pisau yang dari tadi dipegang

