Bagaimana Rasanya Menjadi Seorang Ayah?

820 Words
jangan lupa tap love yess . . . "Gimana rasanya jadi seorang ayah?" Tadinya suasana ruangan ini rame, tapi setelah gue nanya semua para diem. Teman-teman gue yang beranggotakan Justo, Tomy, dan Vasya serentak natap gue. Mungkin mereka mikir pasti gue lagi mabuk lem tikus atau kesambet dedemit pengkolan. Tapi sumpah gue juga nggak sadar kenapa melontarkan pertanyaan itu. Reflek aja gitu. Mungkin pengaruh karena mereka lagi ngomongin bayi kali ya. Fyi, di antara mereka bertiga, cuma gue dan Tomy yang belum berkeluarga. Justo-Vasya penganut kepercayaan nikah muda berkah. Sedangkan gue? Gue rasa umur dua puluh tujuh masih terlalu muda untuk mikirin duit belanja dan t***k bengeknya. "Cilla beneran positif?" itu komentar Tomy. "Huh, akhirnya akan ada cs Arfa. Unch bahagianya," Justo ikut menimpali. "Wanjeng selamat bro. Cepat atau lambat lo bakal ngerasain gimana nyenyaknya tidur saat ada bayi," Si sialan Vasya nepuk-nepuk punggung gue. Gue hanya nyengir pasrah. Gak tahu mesti seneng atau sedih. Soal positif, iya, gue berhasil membuahi seorang cewek bernama Emmanuel Racilla Geraldin. Ngomong-ngomong soal Cilla, dari kemarin sejak dia masuk RS sampai udah pulang, gue belum hubungin sama sekali. Bukannya gue gak khawatir, tapi gue mau dia mikir sama perkataannya kemarin lusa. Gue nggak mau dia gegabah. "Seriusan Cilla hamil?" tanya Tomy. Kenapa gue ngerasa ada yang beda dari nadanya saat bertanya? "Ya seriusan lah, Tom! Lo gak tahu ya kalau mereka naena tiap hari?" sahut Justo. Tomy tersenyum kaku. Oh iya! Gue baru inget kalau dulu Tomy pernah ada rasa ke Cilla atau mungkin sampai sekarang? Entahlah. "Gue gak tahu sih. Soalnya belum cek ke dokter," dusta gue. Detik itu pula gue liat Tomy tersenyum lega. Tanpa ba-bi-bu Vasya menjitak kepala gue kasar. "Lo cek dong, njing! Kenapa gue gemes banget sama lo ya?" katanya memiting gue. "Tespack nggak seratus persen akurat. Lo harus mastiin ke dokter. Yaelah masa buat periksa ke dokter aja lo gak mampu? Sini deh gue bayarin," kata Justo. "Tanda-tanda ada kan, Ta? Dari kemarin Cilla ngeluh mual terus kan?" lanjutnya memasang tampang serius. Tadinya Vasya biasa-biasa aja sekarang mereka semua ngeliatin muka gue-minus Tomy. Demi Tuhan... Tangan gue gatel pengen gampar mereka berdua rasanya. "Iya sih lo berdua bener. Tapi, buat apa cek ke dokter kalau hasilnya-" "Eh gue cabut dulu. Mau nganter nyokap arisan soalnya," Tomy beranjak lalu segera ngacir ninggalin kami bertiga. Setelah kepergian Tomy, gue, Justo, dan Vasya saling bertatap muka. Kami serentak mengerutkan dahi. "Sejak kapan Tomy jadi anak mama?" Seketika tawa kami bertiga menggema. Bukannya apa-apa, Tomy itu tipe anak pembangkang yang gak suka aturan. Jadi, mana mungkin dia mau menuruti perintah ibunya? Apa mungkin itu hanya alasannya saja? Ntahlah. Puas ketawa, Justo dan Vasya kembali menatap gue. Justo berdeham sembari membenarkan posisi duduk. "Ta sekarang serius." Gue berhenti, Vasya juga. Gue juga ikut-ikutan membenarkan posisi duduk. Oke, gak ada Tomy, gue bebas cerita ke Justo dan Vasya. Gak tahu kenapa gue kalau cerita ke mereka berdua lebih ngalir aja. Mungkin karena Justo adalah temen gue dari orok sementara Vasya temen dari SD kali ya? Gue mengusap wajah kasar. "Cilla beneran hamil." Mereka berdua nggak ada tampang terkejut sama sekali. Yang ada malah saling berebut untuk berjabat tangan dengan gue. Katanya mau ngasih ucapan selamat. Anjing memang. "Lo berdua emang gila," kata gue menggeleng. Kedua teman gue nyengir bersamaan. "Tata sayang gini deh," cowok yang mau dikaruniai anak ketiga itu mulai merangkul gue. "Anak itu Karunia Tuhan. Kalau lo dihadiahi anak sama Tuhan artinya Tuhan percaya sama lo dan Cilla. Itu semua harus disyukuri." Justo mengangguk kepala setuju. "Iya bener! Lo juga harus ingat bahwa diluaran sana banyak orang yang udah nikah bertahun-tahun, tapi belum juga dikaruniai anak. Tiap hari mereka berdoa, nggak pernah absen Gereja, tapi Tuhan masih belum juga percaya. Lo harus bersyukur karena nggak perlu kerja keras, Tuhan sudah percaya," ucapnya menepuk pundak gue. Mereka berdua benar, tapi, "Gue sama Cilla belum nikah. Itu sama aja dosa." Mereka berdua diam. Cukup lama sampai Justo kembali bersuara. "Ya lo harus penebusan dosa. Datang Gereja, temuin Romo tanya solusinya." "Gue rasa nggak perlu ke Romo deh. Lo bisa nebus dosa dengan menjadi ayah dan suami yang baik buat Cilla beserta calon anak kalian. Bukan cuma lo doang, tapi Cilla juga harus bisa jadi Ibu yang baik buat anak kalian." Justo dan Vasya. Mereka itu bisa gue ajak bercanda, bisa gue ajak gila, bisa jadi motivator, serta pemberi saran dan solusi seperti sekarang ini. Kadang gue nggak ngerti sama jalan pikiran mereka. Cepet berubah, soalnya. "Lo berdua kenapa deh?" tanya gue heran. Dua sialan ini bergantian menjitak kepala gue. "Giliran kita kasih saran bener aja lo heran. Anjing bener lo, Ta!" Bener juga apa kata mereka. "Gue mau nanya serius deh." "Apa?" "Lo berdua kan udah jadi seorang Ayah," kata gue sengaja digantung. Mereka berdua kembali mengangguk bersamaan."Gimana rasanya?" lanjut gue menanti jawaban mereka. Keduanya bergantian menjawab. Dan entah kenapa setelah mendengar jawaban mereka gue jadi lebih excited untuk menjadi seorang Ayah. Tbc #sasaji
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD