Gatta menyamar?

795 Words
Aku menghembuskan napas panjang begitu mobil Septa berhenti tepat di depan gerbang hitam menjulang. "Lo beneran nggak mau pulang ke rumah gue dan Bang Atta?" tanya Septa menyadarkan lamunanku. Mendengar nama Gatta membuatku geram. Cowok sialan itu seharian ini tidak menghubungiku sama sekali. Tidak menelfon ataupun mengirim pesan. Tapi biarkan saja. Aku tidak peduli. "Gak Sep. Ntaran aja," aku menyambar tas selempang yang ada di atas dashboard. "Lo nggak mau mampir?" lanjutku membuka pintu mobil. Kondisiku belum sehat total. Sebenarnya si Dokter yang menanganiku tidak memberikan ijin pulang. Tapi aku berkata 'sudah tidak papa, rawat jalan saja'. Beruntung dokter berjenis laki-laki itu mau mengerti. Akhirnya aku diperbolehkan pulang. "Nggak deh. Gue ada pemotretan di luar kota besok. Gue juga sebenernya tadi pagi baru sampe, belum sempet istirahat sama sekali. Waktu jagain di RS juga gabisa tidur karena ibu-ibu itu. Jadi sekarang gue mau langsung balik terus tidur." Aku mengangguk. "Oke take care. Be careful." Septa mengacungkan jempol. "Sip. Gue balik duluan ya," pamitnya menyalakan mesin mobil. Aku kembali mengangguk. "Lo jangan banyak pikiran. Jangan lupa makan dan minum s**u. Jangan keseringan berantem sama Bang Atta-" Aku mengisyaratkan Septa untuk berhenti bicara. b*****h itu akan terus berbicara jika tidak dihentikan paksa. Septa nyengir kuda, memperlihatkan deretan gigi putih rapinya. "Hehe... Yaudah deh. Gue balik ya. Jangan kangen. Kalau butuh apa-apa gausah sungkan langsung chat gue aja." Satu yang kusuka dari Septa adalah di balik sifat judesnya, ia termasuk orang yang perhatian. Septa orang pertama yang tahu kehamilanku. Ia juga yang menghajar Gatta habis-habisan. Septa tidak peduli meski yang digebuki adalah kakak kandungnya sendiri. Aku sangat beruntung punya teman seperti dia. Setelah mengucap salam perpisahan mobil Septa melaju kencang lalu menghilang. Aku sempat tersenyum sebelum akhirnya memencet bel gerbang. Satu sosok berbadan tinggi tegap membukakan gerbang untukku. "Ada yang bisa saya bantu?" Aku masih memperhatikan wajahnya. Siapa dia? Kenapa aku baru melihatnya? "Hello, Mbak?" Cowok itu melambaikan tangannya di depan wajahku. "Ha?" "Mbaknya cari siapa?" Aku mengerutkan dahi. Nyari siapa? "Siapa, Guh?" seseorang yang sudah kukenal mulai bergabung. Sejenak Pak Wandi melihatku lalu tersenyum sembari menyikut lengan cowok tadi. "Itu anak bungsunya Tuan Gerald. Kamu itu gimana sih!" bisiknya pelan. Pak Wandi tersenyum malu. "Maaf Mbak atas ketidaktahuan anak saya. Ngomong-ngomong ini Teguh anak saya dan Guh ini Mbak Racilla," jelasnya memperkenalkan. Oh anaknya? Tak mau ambil pusing aku langsung berpamitan dengan mereka berdua. "Aku masuk dulu deh Pak." Pak Wandi mengangguk. Aku langsung masuk ke dalam rumah. Terlihat jejeran mobil mewah terparkir rapi di halaman rumah. Mungkin sedang ada tamu. Biarkan saja apa peduliku. Aku masuk dan mendapati banyak orang-kuyakini mereka adalah teman Bang Dovi- duduk di ruang tamu. Tanpa peduli, aku menaiki anak tangga. Sampai di depan kamar, aku bersiap membuka pintu. Tapi, baru saja memegang gagangnya seseorang mengeluarkan suaranya. "Masih inget rumah?" tanyanya. Aku menoleh mendapati seseorang yang jarang kutemui. Aku menyeringai. "Anda masih ingat saya?" Dia diam sementara aku tersenyum menang. Kuperkenalkan dia padamu, namanya adalah Immanuel Gerald. Sang raja yang memiliki kekuasaan tertinggi dalam rumah ini. Pria terhormat berwajah bijaksana itu adalah ayah kandungku. Sayang sekali sifatnya tidak sebijaksana wajahnya. Sebenarnya Tuan Gerald adalah orang yang baik dan penyayang. Tapi, semua berubah ketika seseorang pergi dari hidup kami karena ulahnya. Ah lupakan untuk sekarang aku tidak mau membahas kejadian itu. Papa masih bergeming. Merasa bosan karena tak kunjung bersuara aku pun meninggalkannya. Membanting pintu dengan keras lalu membaringkan tubuh di atas ranjang kesayangan. ... Aku kembali membuka mata saat jarum jam menunjukan pukul setengah dua malam. Rasa mual sialan ini kembali datang. Aku segera berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perut. Beruntung rasa mualnya tidak terlalu parah. Jadi aku tidak perlu berlama-lama di kamar mandi. Aku kembali ke atas ranjang sembari menyalakan gawai. Begitu gawaiku menyala, aku menghidupkan data. Tidak ada pesan atau telefon dari Gatta sama sekali. Yang ada malah boom chat dari Septa. Septania: lo baik-baik aja kan?(69) Kubuka ruang obrolan Septa. Pertanyaanya berbeda-beda. Dan tunggu dulu... Bukanya tadi Septa bilang kalau sampai rumah langsung tidur karena besok pagi ia harus pergi ke luar kota? Tapi kenapa? Septania: njing lo cuma R doang? Septania: gue nanya seriusan lo gpp kan? Me: gpp tai anjing. Itu td abis muntah aja sih. Septania: masih mual? Septania: vitamin sama s**u udah lo minum kan? Aku semakin menyergit. Firasatku mengatakan kalau itu bukan Septa. Lalu apa mungkin itu Gatta? Tapi, kenapa ia tidak menghubungiku dengan nomornya? Tanpa pikir panjang, aku langsung menghubunginya. Tersambung, tapi tidak di angkat. Aku masih terus berusaha menghubungi Septa. Hasilnya nihil karena tidak ada jawaban sama sekali. Dan dugaanku terbukti benar kalau yang menghubungiku itu bukan Septa. Hell ya mungkin si Gatta sialan itu sedang menyamar. Ia terlalu bodoh untuk membohongi orang pintar sepertiku. Dasar payah! Tbc. #sasaji
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD