bc

Give me your heart

book_age0+
168
FOLLOW
1K
READ
like
intro-logo
Blurb

Tidak ada yang tahu dengan permainan takdir, panji yang sangat mencintai Viana harus mengikhlaskannya saat wanita itu memilih menikah dengan Ivan. Namun setelah beberapa tahun kemudian, ia kembali di pertemukan sebagai calon kakak ipar. Panji tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Karena baginya kakaknya adalah segalanya, sedangkan Viana kehidupannya. 

chap-preview
Free preview
Bab 1
Tidak akan ada yang bisa menebak takdir. Awal kata indah bisa berubah menjadi airmata. Keindahan sebuah cerita cinta yang terbayang, menjalin sebuah cerita kasih dalam sebuah ikatan cinta. Namun semua cerita itu terbakar pada takdir perpisahan. Perpisahan yang terbentang jauh, tanpa batas dan tanpa sebuah ujung. Tangis hanya menjadi pelarian, namun kemana rindu harus dilepaskan? Semua kesedihan hanya tertampung dalam kediaman. Memendam sebuah kerinduan dan kesedihan, dengan berusaha mencintai sesuatu yang berada di dekat kita. Memeluk seerat mungkin, sebelum jarak kembali terbentang. ****** Bab1 Matahari masih malas untuk terbangun. Embun pun masih terasa dingin dengan daun yang bergoyang mengikuti angin sejuk yang berhembus. Viana merapikan pakaiannya, mengambil tas dan berjalan keluar dari kamar setelah mencium dua malaikat yang masih tertidur nyenyak. Menuruni tangga Viana berjalan ke ruang makan dan duduk di bangku meja makan. “ pagi ma, pa.” ucap Viana pada dua orang yang sudah duduk di bangku meja makan. “ pagi, sayang.” balas papa, seraya bangun dari tempatnya dan mencium kening Viana. “ anak-anak belum bangun?” tanya mama seraya mengambil roti gandum untuk Viana. “belum ma, mereka kayaknya capek abis liburan kemarin.” balas Viana, tangannya mengambil teko kopi dan menuang pada cangkirnya. “mereka sudah mulai sekolah, kan?” tanya papa sambil memakan sarapannya. “iya pa, nanti aku pulang sebentar untuk antar mereka ke TK.” ucap Viana. “biar mama aja yang anter, kamu kerja aja.” Ucap seorang wanita yang terlihat penuh dengan kasih sayang. Viana selalu menyayangi dua orang tua di hadapannya, dua orang tua yang lebih dari sekedar pelindung baginya. Dan rasa hormat yang seakan tidak akan pernah berkurang untuk keduanya. “ Aku gak mau ngerepotin…” “Kamu anak mama Vi, mama gak ngerasa kamu repotin. Lagi juga mama seneng jaga anak-anak.” balas mama. Viana menghela nafas, ia tidak akan pernah menang dari ibunya.” baiklah, tapi nanti biar Viana yang jemput ya.” ucapnya. ****** Memarkirkan mobil di parkiran, Bayu menghentikan mesin mobil dan berjalan keluar dari mobil. Ia berjalan memasuki gedung perusahaan dan membalas sapaan beberapa orang. Sedangkan beberapa orang hanya tertunduk seakan dia dewa agung yang harus di hormati. Bayu merapikan jasnya seraya menunggu lift terbuka. Lagi-lagi beberapa orang terlihat kaku dengannya. Kepala Bayu sudah terasa panas, ingin membentak manusia di sampingnya yang tak bisa memperlakukan dirinya seperti manusia pada umumnya. Namun satu tepukan di bahu membuat Bayu menghilangkan niatnya. “ Muka lo biasa aja. Orang makin risih dan takut kalo ngeliat muka lo kayak singa nyari daging.” Bayu menoleh pada panji, kakak tirinya. Bayu tidak membencinya, ia tetap menganggapnya saudara, tapi ada perasaan yang membuat Bayu tidak ingin terlalu dekat dengan kakaknya itu. “ Gue udah biasa aja.” ucap Bayu. “Biasa aja, tapi taringnya masih keliatan.” ejek Panji. Bayu tak bisa membalasnya, karena pintu lift sudah lebih dulu terbuka dan Panji sudah masuk ke dalam lift. Bayu mengikuti Panji sedangkan manusia yang lain hanya berdiri menatap dua adik kakak yang berbeda. ******* Duduk di bangku kantornya, Bayu bersandar pada bangkunya dengan kepala menengadah ke langit. Ia lahir sebagai anak kedua dari keluarga yang tak bisa ia pahami. Ayah yang menceraikan istri keduanya di saat ajalnya hampir tiba dan menikah kembali dengan istri pertamanya. Rasa benci pun seakan tertanam sepenuhnya pada dirinya. Seakan ia adalah seluruh kesalahan yang ayahnya lakukan. Cara ayah memperlakukan Bayu dan Panji pun sangatlah berbeda. Panji bagaikan anugerah terindah, dan seluruh keberuntungan yang dimiliki ayah. Berbeda dengan Bayu yang hanya menjadi seorang pengganggu dalam hidup ayah. Ketukan pintu mengalihkan perhatian Bayu. Seorang wanita berdiri dengan canggung di depan pintu ruangan Bayu dan berucap,” pak… rapat sudah… siap.” ucapnya dengan nada gugup. Bayu berdiri merapikan jas dan berjalan keluar melewati sekretaris yang mengikutinya dari belakang. ***** “ Bu, ini semuanya sudah saya salin. Dan juga klien baru untuk mendesain rumah di daerah jakarta selatan.” Viana mengambil berkas dari Nanda dengan senyum ramah. Ia membaca beberapa berkas dari Nanda dan membaca alamat dan ukuran rumah. Juga bagian mana saja yang ingin di desain. Viana belum bisa mengambil terlalu banyak klien, karena ia baru memiliki beberapa desain interior di tambah dengannya. Jadi ia harus memilih-milih beberapa rumah yang bisa dia ambil dan mungkin harus ia tolak, kecuali si klien mau sabar menunggu. Viana sangat bahagia karena banyak klien yang mempercayai perusahaan kecilnya untuk mendesain rumah-rumah mereka. Setelah membaca dan memilih milih, Viana meregangkan tubuhnya dan membuka ponselnya. “ Astaga! Anak-anak!” Viana menarik tasnya dan berlari keluar. “ Nan, aku jemput anak-anak dulu ya.” Melihat Nanda mengangguk, Viana berjalan dari kantor dan memasuki mobilnya. Viana cukup bersyukur dengan ibukota yang tidak sepadat hari biasa, mungkin karena ini masih hari senin. Membuat semua orang memilih bersantai di kamar, atau di kantor daripada keluar dari ruangan. Setelah memarkirkan mobil, Viana berjalan di halaman sekolah mencari dua malaikat dalam hidupnya. Perjalanan hidupnya sangat tidak bisa di tebak. Berawal pada kata cinta, berjalan pada sebuah pernikahan yang membahagiakan, namun pada akhirnya tuhan mengakhiri kisah cintanya dalam sebuah perpisahan tanpa jarak. Viana menarik nafas pelan dan menghembuskannya. Dengan sedikit memaksa kan diri ia tersenyum dan berjalan mencari dua malaikat titipan malaikatnya yang sudah berada di surga. “ Mommy….!!” teriakan dua anak membuat Viana menoleh dan menghampiri dua malaikat yang memeluknya dengan erat. “mom, tadi aku bernyanyi bersama kak Gabs.” “ Miss juga bercerita sama seperti mommy…” Viana tertawa mendengar celoteh dua anak kembarnya. Gabriel Ivan Sbastian dan Angelina Ivania Sbastian. Malaikat yang membuatnya semakin kuat dan bertahan hingga saat ini. “ Untuk hari pertama sekolah, bagaimana kalau kita rayakan dengan makan ice cream?” “ I want it, mom…” teriak kedua putra putrinya bersamaan. Viana tersenyum senang dan berjalan menggandeng tas kedua anaknya. Sementara Gabriel menggandeng adik kembarnya menuju mobil. Viana seperti melihat sosok Ivan dalam diri Gabriel. Ia menjaga Angel dan selalu menyayanginya di setiap kali Angel merasa sedih. Kedua putra putrinya duduk di bangku belakang. Menyanyikan lagu yang tadi dinyanyikan di sekolah. Kebahagiaan yang tersisa dalam kisah hidupnya. ***** Viana menuruni tangga setelah membacakan dua buku dongeng untuk Angel dan Gabriel. Rutinitas yang selalu terputar dengan sama, dari rumah ke kantor dan balik lagi ke rumah. Namun Viana tidak suka mengerjakan pekerjaan kantor di rumah. Baginya di rumah ia hanyalah seorang ibu dan anak. Kini langkah Viana mendekati ruang tengah. Mainan si kembar masih berantakan dimana-mana, untungnya seorang pembantu rumah tangga dengan baik hati membantu Viana membenahi rumah. “Vi….” Viana menoleh dan melihat papa yang berdiri tak jauh darinya. Mama pun sudah duduk di bangku ruang tamu. “Kenapa pa?” Tanya Viana sambil berjalan mendekati papa yang sudah duduk di samping mama. Viana mendekati mereka dan duduk di bangku dekat dengan mereka. Viana sangat mengenal keduanya, ia tahu mereka tidak akan mengajaknya berbicara santai. Pasti ada sesuatu yang akan mereka katakan, tapi Viana tidak tahu ia akan sanggup atau tidak. Duduk di bangkunya, Viana menatap kedua orang tua yang sudah sangat lama menjaga dan melindunginya. Menggantikan posisi orang-orang yang hilang dalam hidup mereka. “Nak, kamu tahu papa dan mama sangat menyayangimu. Dan kami ingin yang terbaik untukmu.” Viana sudah merasa tidak enak dengan pembicaraan ini. Ia tidak bisa mengelak dari permintaan keduanya. Tapi apapun permintaan keduanya, Viana tidak akan pernah sanggup. “papa dan mama tidak memaksa kamu. Tapi kami harap kamu mau datang di pesta perusahaan Hermawan group akhir pekan ini.” ucap papa. “Aku akan usahakan ya, pa.” Ucap Viana. Ia tersenyum pada papa dan mama lalu beranjak pergi. ***** Viana menatap pigura yang berada di meja nakas kamarnya. Satu pria yang tak pernah lepas dari hatinya. Satu cinta yang memberikan seluruh kebahagiaan dan berjuta cerita dan lika-liku. Satu titik air mata terjatuh di pipi Viana. Membuka sebuah kenangan yang berusaha di tutupnya.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Jaded Hearts (Book 2 of Blue Moon Series)

read
7.8M
bc

Alpha Nox

read
102.0K
bc

Her Triplet Alphas

read
7.0M
bc

The Vampire's Servant

read
514.9K
bc

Scattered Dreams (Book 4 of the Blue Moon Series)

read
2.6M
bc

Enslaved By The Alpha

read
2.3M
bc

My Brothers Mate

read
1.5M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook