2: Pertahankan Wajah Lokal

1033 Words
“Rajo.” Rara mendongak dan menatap Rojak, temannya yang memiliki rambut keriting itu. Ia menenangkan dirinya sendiri agar tak menggeram kesal mendengar julukan yang sudah melekat erat padanya itu. “Kenapa?” tanyanya sembari memasukkan buku-bukunya ke dalam tas, bersiap untuk pulang. Dosen matkul terakhir baru saja keluar semenit yang lalu. “Nih, ada cowok namanya Ravi dari Fakultas Sastra Indonesia, katanya dia suka kamu. Nih, aku kasih fotonya. Sesuaikan aja dengan list kriteria cowok idaman kamu.” Setelah meletakkan selembar foto di meja Rara, Rojak berpindah dan duduk di kursi dekat Rara. Ia mengamati wajah Rara dari samping yang serius menatap foto darinya. “Ra.” “Apa lagi, sih, Jak?” “Sebenarnya aku juga suka kamu, tapi kamu nggak usah jawab. Aku sudah tahu, kok, jawaban kamu. Aku, ‘kan orangnya sadar diri, hehe,” kata Rojak sembari tertawa garing. Rara menoleh dan menatapnya datar. Baguslah kalau kamu sadar diri, aku jadi  nggak repot-repot untuk cari kata-kata  penolakan yang halus, batin Rara.  “Terus, masih banyak juga, kok, cewek yang lebih cantik dan lebih baik dari kamu untuk aku deketin,” sambung Rojak kemudian. Rara spontan memelototi cowok itu, sementara Shinta yang duduk di sampingnya dan beberapa teman sekelasnya yang sempat mendengar itu lantas terkekeh geli. Baru saja Rara ingin melepas sepatu kets-nya, Rojak sudah ambil langkah seribu dari kelas. Melihat itu, semuanya langsung terbahak-bahak, terlebih lagi saat Rara menatap pintu kelas dengan mata berapi-api. Rojak memang pakarnya mengerjai Rara. “Awas kamu! Ketemu, aku langsung jadiin bakwan!” seru Rara kesal. “Udah, udah, Ra. Jangan marah-marah mulu. Tuh, fotonya coba dilihat. Siapa tahu kamu tertarik, aku bersedia jadi mak comblang,” ujar Shinta. Rara mengambil foto yang tadi diberi Rojak dari meja dan memandangnya lama-lama. Shinta dan teman sekelasnya yang lain sampai dibuat tegang menunggu respons darinya. Ganteng iya, tinggi iya, namun terasa mengganjal di mata Rara. Kening gadis itu berkerut ,namun tak terlihat karena ditutupi poni, saat menyadari senyum Ravi di foto itu terlihat seperti dipaksa, posturnya juga terlihat kaku, seolah baru pertama kali bergaya. Kaku banget, batinnya mengeluh. Rara sudah tahu, pemuda ini pasti orangnya agak pemalu dan tak humoris. Ia meletakkan foto itu di atas meja. Shinta dan lainnya yang sedari tadi memperhatikannya langsung memutar bola mata jengah. Gagal lagi. Shinta dan Rara kini berada di sebuah cafe yang terletak di lantai satu Rumah Sakit Unhas. Keduanya memutuskan ke sana karena ada ‘bisnis’ yang harus mereka selesaikan. Selain itu, Lizasya, ibu Rara tengah menjalani perawatan di ruang ICU rumah sakit itu. Seminggu yang lalu, ibu Rara terlibat kecelakaan mobil yang menyebabkan ibunya harus menjalani operasi di bagian kepala dan sampai kini belum sadar sejak operasi dinyatakan berhasil. Sejak itu, Rara menghabiskan waktunya lebih banyak di area Universitas Unhas. Terkadang ia pulang ke rumah ketika ayahnya pulang dari kantornya dan mengganti Rara untuk menjaga. Sembari menunggu pelayan membawakan jus dan cemilan pesanan mereka, Rara memandang keluar cafe yang berdinding kaca. Parkiran RS Unhas terlihat penuh. Samar-samar terdengar alunan lembut piano dari lobi rumah sakit. Rara menoleh ke sumber suara. Piano yang terletak di tengah-tengah lobi kini sedang dimainkan oleh seorang gadis berpakaian pasien dan duduk di kursi roda. Beberapa orang yang berada di sana menikmati permainan gadis itu, termasuk Rara dan Shinta yang duduk di dalam cafe. Walaupun hanya samar-samar, tapi cukup menghibur telinga keduanya. Mata Rara beralih pada sekumpulan orang berjas putih berjalan keluar dari lobi menuju rumah makan yang ada di depan rumah sakit. Mereka adalah teman-teman Rara dari fakultas kedokteran yang kini tengah praktek di RS Unhas. “Terima kasih,” ucap Shinta ketika pesanan mereka datang. Shinta akhirnya mengeluarkan beberapa lembar foto dari dalam tasnya. Rara hanya memerhatikan kegiatannya sembari menyeruput jus melon dan mencomot kentang goreng. Setelah yakin tak ada lagi lembar foto yang tersisa dalam tasnya, Shinta menghitung lembaran foto itu dan meletakkannya di meja mereka. “Disini ada sekitar dua puluh lembar foto kating tampan, laki-laki yang berprofesi sebagai model, dan ada juga teman-teman satu kampus kita,” ucap Shinta menyebarkan foto-foto itu di meja. Rara mengangguk paham, dia mengambil foto itu satu per satu dan mengamati wajah-wajah yang ada di foto itu. Shinta memperhatikannya sembari menikmati cemilan mereka. Beberapa saat kemudian, Rara mendesah letih lalu menyandarkan punggungnya di kursi. Shinta yang mengamati itu lantas was-was. “Kenapa, Ra?” “Nggak ada yang ... berhasil.” Shinta rasanya ingin menangis saja. Dia sudah lelah mencari pemuda-pemuda terbaik itu dan dalam sepuluh menit semuanya sia-sia saja. Gadis itu menjedotkan kepalanya ke meja, lalu menarik rambutnya sendiri. “Kamu kenapa, Ta?” Shinta mengangkat kepalanya lalu menatap Rara dengan tajam. “Terus sekarang aku harus nyari lelaki yang terbaik buat kamu dimana, Ra?” Shinta bertanya gemas, “Aku tuh udah kek keliling Makassar nyari cowok buat kamu dan sampai sekarang nggak ada yang berhasil. Kamu maunya cowok apa, sih? Tumming, Abu, atau Raditya Dika sekalian? Eh, nggak deh, Raditya Dika udah punya istri, ntar kamu dijitak sama istrinya.” Rara memutar bola matanya jengah. “Punya istri atau tidak pun, aku juga nggak bakalan mau sama mereka.” “Terus aku bantu nyari dimana lagi, Rara? Lama-lama aku nggak mau bantuin kamu, nih. Kenapa tidak dicoba dulu, sih? Setidaknya satu atau dua di antara mereka.” Shinta nyaris berteriak kalau tak sadar mereka sekarang berada di Cafe rumah sakit. Rara menaikkan bola matanya ke atas seolah sedang berpikir. Tangannya kini mulai mengelus dagunya. Seperti om-om yang mempertimbangkan untuk menikahi gadis belasan tahun. “Aku, tuh, maunya laki-laki kayak boyband Korea gitu, siapa namanya? Suho? Sehun? EXO? Ah, apalah itu, aku nggak tau. Tapi ... enggak deh, aku maunya cowok lokal aja, biar wajah khas Indonesia tetap terlestarikan. Jaman sekarang udah banyak banget yang pakai wajah blasteran, ntar kalau aku tambah makin banyak terus wajah lokal makin hilang.” Rara berkoar panjang lebar membuat Shinta menganga. “Ck, bener-bener kamu, ya.” Shinta tidak tahu harus mau bilang apa lagi. Rara mendesah frustasi. Tidak satu pun foto-foto di depannya yang menarik perhatiannya. Rara tahu, dia tidak seharusnya kebut-kebutan cari jodoh di umur yang masih termasuk muda ini, yaitu 21 tahun. Namun, masalahnya setiap hubungan yang ingin dia jalin selalu saja berakhir gagal. Bagaimana kalau itu terus berlanjut hingga umurnya sudah matang. Balik lagi ke kutukan itu, semuanya gara-gara mantan pacarnya itu! “Aish, kalau begini aku kayak sudah tidak mau hidup aja,” keluh Rara. Shinta terkekeh pelan. “Tenang, Ra. Kalau kamu mau, aku punya tali tambang di rumah.” Rara memandang keluar. Candaan Shinta tidak dihiraukannya. Gadis berponi itu benar-benar memikirkan masa depannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD