3: Gara-gara Candaan Shinta

1316 Words
Lelaki berkacamata yang mempunyai kulit sawo matang itu kini berdiri di hadapan gadis berambut sabhu dan berponi dengan kulit putih bersih. Keduanya masih berseragam putih abu-abu lengkap. "Kamu kenapa tiba-tiba hubungi aku lebih dulu? Biasanya aku yang selalu menghubungimu duluan. Jangan-jangan kamu kangen, ya, sama aku?" tuding pemuda itu sembari menahan senyum. Berbanding terbalik dengan gadis di hadapannya yang memasang wajah datar. Kepala gadis itu menggeleng pelan membuat pemuda itu mengerutkan keningnya. "Terus apaan?" "Aku ...." Gadis itu menggantung ucapannya. Walaupun raut wajahnya terlihat datar, namun suaranya tak terdengar demikian. "Aku?" "Aku ... ingin putus saja,” cicit gadis itu kemudian. Pemuda berkulit sawo matang itu seketika menegang. Wajah yang tadinya selalu dihiasi sorot humor kini terlihat kaku. "Ma-maksudmu?" "Aku ingin putus dari kamu! Aku nggak suka kamu lagi dan sekarang kamu bukan tipeku lagi. Sudahlah, hubungan kita sampai sini aja." Gadis itu akhirnya mengucapkan isi hatinya. "Tapi aku nggak mau. Aku sayang kamu. Kamu tau, kan?" lirih pemuda itu memelas. "Maaf, aku udah nggak bisa lanjutin hubungan kita," gadis itu berujar dingin lalu berbalik dan melangkah menjauhi mantannya yang masih dalam mode keterkejutan. "Ra, aku sayang kamu!" teriak pemuda itu. "Tapi aku nggak!" Pemuda itu berlari kecil mengejar gadis yang sudah berjalan agak jauh itu. Hingga akhirnya berhasil meraih pergelangan tangan gadis itu. "Memangnya aku salah apa? Bilang, biar aku bisa perbaiki. Tapi aku mohon jangan akhiri hubungan kita." Si gadis menatap pemuda itu beberapa saat dengan tatapan datar. Setelah itu, dia menghempas dengan kasar tangan pemuda itu dan melangkah jauh. "Aku membencimu!" Si pemuda yang tidak rela di putuskan sepihak begitu langsung berteriak lantang. "BAIKLAH, KALAU BEGITU! AKU TERPAKSA MENGUTUKMU JOMBLO SEUMUR HIDUP!" Gadis itu berbalik sembari menahan tawa. Hahaha, kutukan jomblo, ya? Bodo amat, dia tak percaya hal begitu. Dia mengendikkan bahu tak peduli lalu melangkah pergi. Rara lantas terbangun dengan napas terengah-engah. Ia berhasil melepaskan diri dari mimpi yang membawanya pada dendam kesumat. Gadis itu mengelap keringat yang mengucur deras di dahinya. Kurang ajar, kejadian beberapa tahun silam itu masih saja sering menghantuinya sampai mimpi bahkan menjadi kenyataan dalam hidupnya. Rara ingin memuaskan rasa dendamnya, namun kota Makassar terlalu luas untuk mencari pemuda gila itu lagi. Lagipula, dia tidak mau menghabiskan waktu berharganya untuk laki-laki itu. Alangkah baiknya kalau dia memakai waktu yang masih panjang ini untuk menemukan pasangan sejatinya. Drrrttt .... Alarm ponsel Rara yang diatur dalam mode getar akhirnya berbunyi. Layar ponselnya sudah menunjukkan pukul 5 subuh. “Huh.” Mulutnya mendengus kecil. Rara menarik tisu dan mengelap wajahnya. Suhu lebih dingin dari biasanya, padahal Rara tidak menyalakan AC di dalam kamarnya. Ketika ia menoleh ke arah jendela, perasaannya langsung tidak enak. Dari balik gorden putihnya yang nyaris tembus pandang, Rara melihat sebuah bayangan yang berbentuk aneh. Suasana makin terasa horor ketika angin bertiup pelan hingga menyibak sedikit gorden jendela kamarnya. Hari masih gelap, matahari belum memamerkan cahayanya. Suasana di luar jendela terlihat hitam. Rara memberanikan diri turun dari tempat tidurnya dan melangkah mendekati jendela. Bayangan itu tak bergerak sedikit pun. Syut! Rara berbalik ketika merasa sesuatu mengikutinya dari belakang. Tak ada apa pun. Ia meneguk ludah, memendam rasa takutnya dan terus melangkah maju. Layaknya diiringi soundtrack horor, Rara benar-benar merasa seperti sedang syuting film horor. Kenapa tiba-tiba ada bayangan di depan jendela kamarnya, seingatnya tidak ada apa pun yang menghalangi pemandangan jendelanya. Srek! “Haish!” Rara lantas mengumpat. Ternyata itu bayangan dari batang kering pohon mangga di halaman rumahnya. Gara-gara lampu jalan yang tidak jauh dari gerbang rumahnya sehingga menimbulkan bayangan tepat di gordennya. Omong-omong, lampu jalan depan rumahnya sudah menyala lagi. Rara ingat, terakhir kali dia melihat lampu itu menyala setahun yang lalu. Ia mengedikkan bahu tak peduli. Memangnya dia punya waktu seluang ini untuk memikirkan hal itu? Mungkin saja petugasnya baru datang memperbaikinya. Rara tidak pernah menutup jendelanya karena lebih suka udara segar masuk ke dalam kamarnya. Lagipula ia tidak perlu khawatir kemalingan karena jendelanya dilindungi jeruji besi. Ia menghela napas panjang, antara lega dan ingin tertawa. Lega karena itu tidak sesuai dengan ekspetasinya dan ingin menertawakan kebodohannya yang terbawa dengan suasana horor. Matanya menatap lama pohon mangga itu lalu mengangguk-anggukkan kepala. Sejenak, masalah kutukan itu terlupakan, namun tak lama kemudian kembali lagi hingga membuatnya berdecak kesal. “Pagi, Papa,” sapa Rara menuruni tangga dan langsung menuju meja makan. “Pagi juga, Sayang. Ayo, kamu makan dulu.” Rara mengangguk pelan dan duduk berhadapan dengan Nico, ayahnya. Telur dadar dan nasi goreng menjadi menu sarapan mereka pagi ini. Sangat sederhana karena Rara tidak sempat memasak banyak-banyak. Ia harus berangkat ke kampus karena ada kuliah pagi. “Enak, Pa?” tanya Rara. Nico mengangguk pelan dan mengacungkan jempolnya. Rara lantas terkekeh pelan dan mulai makan. “Kamu ada kuliah pagi?” tanya Nico setelah makan. “Iya, Pa. Kenapa?” “Oh, begitu, ya. Papa ada meeting  dengan atasan hari ini. Tidak tahu sampai jam berapa, tapi sepertinya akan lama. Kalau begitu, telepon Tante kamu, ya, buat cek keadaan mama kamu pagi ini.” Rara mengangguk. “Iya, Pa. Nanti pulang dari kantor, Papa langsung pulang saja, ya. Jangan terlalu kecapean, nanti biar Rara yang jagain Mama,” ujarnya dengan nada khawatir. Akhir-akhir ini ia prihatin terhadap ayahnya. Beliau tidak punya cukup istirahat sejak insiden kecelakaan mama Rara. Nico hendak menyanggah, namun suaranya tertahan. Pria itu akhirnya mengangguk pelan dan mengulas senyum kecil. Ia mengerti putri tunggalnya juga khawatir dengan keadaannya dan ia menghargai hal itu. Selesai makan, Rara menoleh jam dinding yang menunjukkan pukul 7 pagi. Ia mempercepat sarapannya dan kembali mengecek barang-barang dalam tasnya. Rara kini sudah mulai menyusun proposal skripsinya. Karena itu, dia makin mempersiapkan dirinya. “Papa ke depan duluan, ya. Mau manasin mobil dulu,” ujar Nico sambil lalu. Rara kembali mengecek isi tasnya. Setelah semuanya lengkap, ia memakai sepatunya dan keluar dari rumah lalu menutup pintunya. Gadis itu mematut dirinya di depan kaca jendela, memastikan gayanya sudah rapi. Ia lantas masuk ke dalam mobil setelah ayahnya mengeluarkan kendaraan roda empat itu dari garasi. “Papa,” panggil Rara. “Hm?” sahut Nico menggumam. Keningnya mengerut, terlihat fokus pada jalanan sempit komplek NTI, tempat mereka tinggal. “Pohon mangga yang depan rumah itu, boleh di tebang aja, nggak?” “Memangnya kenapa?” “Eh? Engh, itu batangnya sudah kering, kayaknya nggak bakal berbuah lagi, deh.” “Ooh, iya tidak apa-apa. Tapi, yang mau tebang siapa? Pohonnya besar, lho.” Rara berpikir sejenak. Ketika melewati rumah Shinta yang juga ada berada di NTI, dia tersenyum lebar sembari menjentikkan jarinya. “Yang itu biar Rara yang urus.” Nico menatap anaknya sejenak dan mengendikkan bahu. “Halo? Iya, Tante, ini Rara. Rara boleh minta tolong? Bisa jagain mama pagi ini? Rara lagi ada kuliah pagi, Papa juga sudah berangkat kerja karena ada meeting hari ini.” Rara memasang mimik serius. Ponselnya menempel di telinganya. Teman-teman sekelasnya sudah datang, namun suasana tidak terlalu ribut. Semuanya disibukkan dengan tugas yang akan dikumpul nanti. “Iya, Tante, terimakasih banyak. Oh iya, Tante, Om Riki ada? Wah pas banget kalau gitu, Rara boleh minta tolong, tidak? Anu ... itu pohon mangga yang depan rumah Rara pengen ditebang. Oh, beneran, Tante? Oke, Tante. Iya, nanti itu biar Rara yang cariin. Kalau begitu, Rara tutup teleponnya, ya. Pagi, Tante.” Rara menjauhkan ponselnya dari telinga. Ia lalu memperbaiki poninya dengan bercermin di layar ponselnya. “Jiah! Sudah rapi banget, kok, Ra.” Nada suara mengejek terdengar. Rara mengangkat pandangannya, lantas berseri-seri ketika melihat Shinta di depannya. “Ta, aku minta tali tambang kamu, ya?” Wajah Shinta yang tadinya cerah mendadak suram. “Tali tambang?” beonya. “Tenang, Ra. Kalau kamu mau, aku punya tali tambang di rumah.” Mata Shinta melotot sempurna. Tas di tangannya terjun bebas ke lantai. “Heh? Kamu beneran mau bunuh diri?!” teriaknya dengan nada melengking. Sontak seisi kelas menoleh ke arahnya. Bukan karena teriakan Shinta, tapi karena perkataan gadis itu yang terdengar tabu di telinga mereka. Rara sendiri langsung berdiri, seolah ingin menjelaskan sesuatu. Namun, Shinta sudah keburu panik dan tidak memberinya waktu untuk berbicara. “Astaga, Ra! Sadar! Kamu tahu, ‘kan, orang bunuh diri itu berakhir di mana? Neraka, Ra, di neraka! Aku tahu, kamu sudah frustasi dengan kutukan jomblo itu. Tapi, kamu tidak perlu berbuat sejauh ini, dong! Ingat Tuhan, Ra. Tuhan pasti bakal kirimin jodoh yang tepat buat kamu. Astaga, Rara! Aku nggak habis pikir kamu ada kepikiran buat ngelakuin hal itu. Waktu itu aku cuma main-main doang bilangnya. Coba pikir, gimana perasaan orangtua kamu kalau tahu anak tunggalnya mau bu——“ “Ck! Yang bilang aku pengen bunuh diri, siapa sih? Pohon mangga depan rumahku mau ditebang, mesti pakai tali tambang, Bambang!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD