4: Tetangga Baru

1329 Words
Suasana kelas hening untuk sejenak. Dalam kurun waktu lima detik, tidak satu pun yang mengeluarkan suara. Sampai akhirnya, suara bass milik Rojak melengking di depan pintu, merusak keheningan yang cukup singkat. “Ada apa ini, Anak-anak? Kenapa hening sekali?” serunya berlagak seperti dosen. Serentak pandangan tertuju pada cowok berambut kribo itu. Melihat raut-raut antara syok dan kebingungan itu, Rojak mengerutkan keningnya. “Kenapa, sih?” Della lantas menunjuk Rara. “Mau bunuh diri,” ujarnya dengan wajah polos. “Anjir! Maksud kamu, Rara?!” tanya Rojak langsung heboh. Della mengangguk dengan wajah lugunya. “Kagak percaya! Itu beneran, Ra?” Rara memutar bola matanya dengan raut jengah. “Ya, kamu memang nggak boleh percaya. Ya kali, aku mau bundir. Aku nggak sebodoh itu, ya.” “Iya, maaf-maaf. Kamu, sih, pake minta tali tambang segala. Aku, ‘kan, otomatis ingat yang waktu itu aku omongin.” Shinta duduk di dekatnya dengan bibir dimajukan. “Memangnya pohon mangga kamu kenapa ditebang?” tanyanya kemudian. “Udah sakaratul maut. Dari pada nakut-nakutin, mending ditebang.” “Nakut-nakutin?” “Itu ... ah, nggak usah di ceritain. Nggak penting, kok. Nanti kukabarin kalau mau kuambil, oke?” “Oke, deh. Pagi-pagi udah bikin heboh aja. Dikira mau bundir beneran,” cibir Shinta. “Dih, kamu aja yang nggak mikir kalau mau ngomong,” balas Rara. “Tapi, Ra ....” Rara menoleh pada Rojak yang sudah duduk di kursinya. “Why?” “Kalau kamu emang udah se-frustasi itu nungguin jodoh, kamu cukup ingat aku aja. Aku masih setia, kok, sama kamu.” Nada suara Rojak terdengar meyakinkan. Saking meyakinkannya, seisi kelas terbahak-bahak mendengarnya. Jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi. Karena dosen matkul terakhir hari ini sedang berhalangan masuk, Rara dan Shinta beralih ke perpustakaan, mengumpulkan referensi untuk proposal skripsinya. Setelah mendekam lebih satu jam, keduanya segera menuju meja bagian peminjaman buku. “Abis ini mau ke rumah sakit, Ra?” tanya Shinta seraya menyerahkan bukunya pada staf perpustakaan. Rara mengangguk pelan sembari menatap buku yang dipinjamnya sedang diberi surat berstempel. “Nggak enak juga bikin Tante Rima nunggu lama. Lagi pula, udah nggak ada lagi alasan buat tinggal di kampus.” “Terima kasih,” ucap keduanya sembari menerima buku yang dipinjamnya. “Aku pengen ikut temenin kamu. Tapi, aku disuruh cepet pulang sama Mama. Nggak apa-apa, ‘kan?” tanya Shinta. “Nggak apa-apa, kok.” “Tenang aja, Ra, nanti aku kasih tahu lagi kalau ada cowok, oke?” Shinta mengedipkan sebelah matanya dengan genit. Rara tertawa geli dan keduanya berjalan keluar gedung FISIP. “Kamu bawa motor?” Rara bertanya ketika mereka sudah sampai di parkiran. Shinta mengangguk. “Itu di sana. Mau nebeng sekalian?” “Iya, deh, aku nebeng, ya.” Sampai di depan RS Unhas, Rara turun dan berdiri di sana sampai Shinta beranjak pergi. Ia lantas berbalik memasuki RS dan langsung ke lantai dua. Kakinya melangkah masuk ke ruang ICU. Ketika membuka pintu, hawa dingin langsung menyapa kulitnya. Berbagai suara khas monitor jantung mengisi ruangan yang lengang itu. Rara lalu mendekati bilik mamanya yang terletak paling ujung. Alisnya terangkat ketika melihat lima orang berpakaian serba putih mengelilingi brankar tempat mamanya terbaring. Salah satunya sudah paruh baya, sementara empat lainnya yang semuanya laki-laki masih terlihat muda. “Permisi,” sapanya mendekat dengan kikuk. Kelima orang itu berbalik menatapnya. “Oh, anaknya Bu Lizasya?” tanya dokter senior. “Iya, Dok. Ada apa, ya?” “Tidak apa-apa. Keadaan Ibu Lizasya stabil, tapi belum ada tanda-tanda bahwa beliau akan sadar. Untuk sementara ini, tim dokter akan terus memantau perkembangannya,” terang dokter senior bernama Zul, terlihat dari name tag-nya. “Ah, iya, Dok. Terima kasih.” “Kevin, kamu sudah catat apa yang tadi saya bilang?” tanya Dokter Aldi pada salah satu koasnya. Pemuda yang bernama Kevin langsung mengangguk tegas. “Sudah.” “Baik. Mbak, kamu permisi dulu,” pamit Dokter Aldi. Rara mengangguk ramah. Ia sempat bertemu pandang dengan dokter muda bernama Kevin itu. Dia lantas menunduk ketika dokter itu tersenyum ramah padanya. Ketika semuanya sudah keluar, Rara meletakkan tasnya di meja dan duduk di samping brankar ibunya. “Halo, Ma, Rara datang,” sapanya berusaha tersenyum. Tangannya bergerak menggenggam jemari lemas ibunya. Rara menarik napas panjang dan menunduk. Entah kenapa begitu banyak masalah yang mendatanginya akhir-akhir ini. Ibunya kecelakaan dan belum sadar sampai saat ini. Kini ia juga sibuk dengan proposal skripsinya. Belum lagi kutukan jomblo yang seolah menghantuinya setiap saat. Ayahnya juga pasti setiap saat sibuk di pekerjaannya. Menduduki jabatan General Manager di PT. Graha Pena Makassar membuat ayahnya punya banyak tanggung jawab. Di satu sisi, Rara ingin ayahnya meluangkan banyak waktu bersama ibunya saat ini, namun di sisi lain dia juga tidak mau ayahnya banyak pikiran karena keadaan ibunya. Makin naik jabatan, makin banyak beban yang harus ditanggung. Pada akhirnya, Rara-lah yang harus mengerti dan lebih dewasa saat ini. Ia tidak mau waktu istirahat ayahnya berkurang karena harus menjaga ibunya lagi. Karena itu, dia meminjam banyak buku di perpustakaan, menyiapkan kuota internetnya dan terkadang belajar di ruang khusus untuk keluarga pasien ICU saat ada waktu luang dan ia tidak bisa pulang ke rumah. “Rara?” Lamunan Rara pecah. Ia mengangkat kepalanya dan tersenyum pada Tante Rima yang muncul. “Tante baru ke sini atau gimana?” “Tante sudah di sini sejak pagi tadi. Tapi, ke bawah sebentar untuk tebus obatnya Aira,” jawab Tante Rima dan membuka laci di samping brankar untuk mengambil tasnya. “Oh, Aira sakit apa, Tante?” Aira adalah anak Tante Rima dan Om Riki. “Diare, Ra. Oh iya, Tante pulang sekarang, ya? Yang pohon mangga itu Tante sudah kasih tahu sama Om kamu, katanya nanti hubungin kamu kalau sudah mau ditebang.” “Oke, Tante. Makasih, ya, udah datang. Semoga Aira cepat sembuh.” “Iya, Ra. Tadi Tante sudah bersihin tubuh mama kamu. Jadi, besok baru kamu bersihin lagi, ya. Tante pulang dulu, ya. Dah, Sayang.” “Dah, Tante. Hati-hati di jalan.” Rara tersenyum memandang kepergian adik dari ibunya itu. Setidaknya bantuan dari tantenya untuk menjaga ibunya, membantu Rara meringankan masalahnya saat ini. Shinta langsung merebahkan diri di ranjangnya setelah menyelesaikan semua pekerjaan rumah. Dia mengecek ponselnya. Saat asyik bermain ponsel, dia mendengar suara ribut-ribut dari rumah kosong yang bersebelahan dengan rumahnya, hanya dibatasi pagar besi. Penasaran, dia menengok dari jendela kamarnya. Cukup ramai, ada dua mobil sedan hitam dan satu truk pengangkat barang dan beberapa orang yang lalu lalang mengangkat barang-barang masuk kedalam rumah. Shinta menebak, empat orang yang berdiri di halaman itu adalah tetangga barunya. Tebakan Shinta benar, karena malamnya keluarga itu datang ke rumahnya hendak bersilaturahmi untuk mengakrabkan diri. Keluarga itu terdiri dari suami istri, seorang pemuda dan cewek kisaran SMA. Tak butuh waktu lama, Shinta bisa mengakrabkan diri dengan dua anak tetangga barunya itu. Sementara para orangtua ngobrol di ruang tamu, Shinta membawa dua orang itu ke ruang tengah. “Kalian pindahan dari mana?” tanya Shinta setelah menyajikan cemilan dan minuman pada mereka. “Kami pindah dari BTP¹, Kak. Deket kok,” jawab gadis yang berambut sebahu itu. Shinta mengamati wajah kedua orang itu. Nyaris sempurna, ganteng dan cantik. Shinta lalu melirik kedua orang tua mereka yang duduk ngobrol bersama orangtuanya. Shinta yakin, wajah mereka ini pasti didapatkan dari kedua orangtua mereka. “Terus kalian berdua sudah kelas berapa?” “Aku udah semester 7, lagi nyusun skripsi, kuliah di UNM²,” kata pemuda itu. “Wah, sama dong! Aku juga udah semester 7, tapi kuliahnya di Universitas Hasanuddin. Kalau kamu?” pertanyaan Shinta beralih pada gadis itu. “Aku kelas 2 SMA, Kak.” Shinta terdiam sejenak lalu sedetik kemudian tawanya tersembur. “Dari tadi kita asyik ngomong tapi nggak tau nama masing-masing.” Dua kakak-beradik itu ikut tertawa. “Iya juga, ya, Kak. Oh iya, ini diterima, ya, Kak. Minggu lalu aku baru pulang study tour dari Toraja. Aku beli banyak ole-ole dan ini untuk kakak. “Wah, terima kasih, ya. Ini banyak banget, lho,” seru Shinta gembira. Dia memeriksa isi totebag itu sebentar dan menemukan gantungan kunci dengan miniatur tongkonan³, baju khas toraja, dan sebuah ikat kepala bermotif toraja. “Iya, Kak. Sama-sama. Oh iya, Kaka ini anak tunggal, kah?” tanya gadis itu ramah. “Aku punya dua adik, satu cowok, satu cewek. Tapi dua-duanya lagi di sekolah, katanya, sih, lagi latihan buat pentas seni.” “Oh, ya? Sudah kelas berapa, Kak?” Shinta mengibaskan tangannya, “Masih kelas dua SMP. Masih bocil semua.” Bahu gadis itu melorot. “Yah, padahal aku berharap banget punya teman sebaya di sini.” “Nggak apa-apa, kok. Sering-sering aja ke sini. Kalau kalian udah akrab, umur pun nggak akan jadi masalah.” Gadis itu menganggukkan kepalanya antusias. “Jadi ...,” Shinta menjeda ucapannya lalu menatap keduanya bergantian, “nama kalian siapa?” Gadis itu lebih dahulu mengulurkan tangan, Shinta menyambutnya dengan hangat. “Shinta Yumari, panggil aja Shinta.” “Viclaus Jennie Putri, panggil Vika aja, Kak,” ucap gadis itu ramah. “Nama kmau cantik, Vika,” ujar Shinta tulus. “Kalau kamu?” Shinta melihat ke arah cowok itu. Pemuda itu menjabat tangan Shinta. “Namaku Avinclaus John Putra, panggil aja Avin.” ¹= Bumi Tamalanrea Permai ²= Universitas Negeri Makassar ³= Rumah adat Toraja
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD