5: Si Pemuda Idaman

1041 Words
Senyum Shinta mengembang lebar ketika menatap Avin beberapa lama. Pahatan wajah pemuda itu nyaris sempurna dengan tubuhnya tegap dan senyuman ramah yang sangat santun. Shinta bukan asal tebak saja saat mengatakan Avin santun, buktinya tadi saat datang ke rumahnya, Avin tak segan-segan untuk mencium tangan kedua orangtuanya. "Kakak aku gantengnya kebangetan, ya, Kak?" tanya Vika polos. "Eh? Ah, nggak kok. Eh, maksudnya Avin emang ganteng." Shinta menggaruk tengkuknya, salah tingkah karena kedapatan mengamati Avin terang-terangan. Mereka terdiam beberapa saat, sampai akhirnya Shinta kembali membuka obrolan saat mengingat Rara. "Emm, Vin, kamu udah punya pacar?" tanya Shinta hati-hati. Avin menoleh, menatap gadis itu dengan tatapan yang sulit diartikan. "Sebenarnya aku malu bilang ini, tapi sampai sekarang emang masih sendiri, sih,” ujar pemuda itu dengan kikuk. "Iya tuh, Kak Avin muka ganteng gitu, tapi masih jomblo," celetuk Vika cuek. "Bisa diem, gak?" geram Avin. "Tapi yang Vika omongin barusan emang bener, kan?" balas Vika. "Nggak peduli. Kamu juga nggak usah buka aib aku di sini. Urus aja pacar kamu itu." "Pacar? Vika gak punya pacar, tuh!" Vika membuang mukanya sembari mengibaskan rambutnya yang panjang ke wajah Avin. "Terus Geral itu siapa, heh? Pacar sendiri gak diakui," cibir Avin. Vika tak membalas lagi. Hanya mulutnya yang komat-kamit mengucapkan sumpah serapah untuk kakaknya. Sementara itu, Shinta mengamati keduanya sembari tertawa menyaksikan perdebatan kakak-adik di hadapannya ini. "Gini, Vin, aku mau kenalin kamu sama temen aku. Kamu mau gak? Siapa tau aja kalian cocok. Dia tuh tipe cowoknya high class banget! Kamu tau? Udah ratusan cowok yang dia tolak dan putusin, parah, gak, sih? Kalau kamu mau, aku bakal atur pertemuan kalian. Siapa tahu aja kalian cocok, gimana?" tawar Shinta dengan semangat. Avin terdiam beberapa saat dengan wajah bingung, antara memikirkan berapa banyak mantan cewek yang akan diperkenalkan oleh Shinta dan mempertimbangkan tawaran dari gadis itu. Beberapa saat kemudian dia mengangguk setuju dan membuat senyum Shinta mengembang lebar. "Oke! Ntar, aku hubungi dia. Besok kalian ketemuan di cafe, ya?" tanya Shinta meminta persetujuan. Tanpa pikir panjang, Avin mengangguk. "Nama temanmu itu siapa?" tanyanya lirih. "Rara Khaliza, kalau nyari dia di kampus itu gampang banget. Kamu tinggal sebut nama 'Ratu Jomblo', otomatis mahasiswa yang kamu tanyain itu pasti tahu." Avin mematung mendengar nama itu. Namun, dengan cepat dia menguasai dirinya dan kembali bersikap normal. "Boleh aku lihat fotonya?" Shinta mengangguk semangat. Dia sudah yakin Avin tak akan bisa mengelak pesona Rara walau hanya lewat foto saja. "Nah, ini dia fotonya," ujar Shinta sembari memberi ponselnya pada Avin. Avin menerima foto itu dengan tangan yang gemetar, namun berusaha ditutupi. Perlahan, dia menatap foto yang terpampang di layar ponsel itu. Tiba-tiba saja, dirinya merasakan sensasi aneh. Antara bahagia dan geli. Tak lama kemudian, bibirnya menyunggingkan senyum tipis. “Oke, besok ketemuan di cafe, ya.” *** Rara bangkit dari tempat tidurnya dengan malas-malasan. Lima menit yang lalu, suara Shinta dari seberang telepon berkoar-koar minta di tabok menyuruhnya segera bersiap-siap ke cafe tempat mereka biasa nongkrong. Dengan penuh keterpaksaan, dia beringsut menjauhi dari tempat tidur dan segera masuk ke dalam kamar mandi. Setelah mandi, gadis itu segera merias diri dan memakai baju kemeja dipasangkan celana jeans. Kata Shinta, hari ini dia mendapatkan target baru dan Rara harap kali ini tidak mengecewakan. Setelah rapi, Rara keluar dari kamarnya, menuruni tangga dan menghampiri Ayahnya yang duduk di sofa ruang tengah sembari membaca dokumen-dokumen pekerjaan. "Ayah, Rara pengen keluar dulu, ya?" "Kemana dan bareng siapa?" "Ke cafe, sama Shinta tapi nanti ketemuan di cafe, Ayah," jawab Rara jujur. Rara segera meraih tangan Ayahnya dan menyaliminya. Setelah itu, dia beranjak keluar dari rumah. "Memangnya mau ngapain, Ra?" tanya ayahnya ketika Rara sudah ada di depan pintu. "Mau ketemu sama calon masa depan Rara, Yah." "Emang udah ada?" Rara yang sudah berada di ambang pintu berbalik kesal. "Ish!" Sedetik kemudian, tawa ayah Rara menggema di ruang tengah rumah itu. *** Shinta melambaikan tangannya ke arah Rara yang sudah berdiri di depan pintu cafe sembari menoleh kesana-kemari. "Sini, Ra!" Rara menoleh, dia segera mendekati Shinta dan duduk berhadapan dengan gadis itu. "Mana, Ta?" "Bentar, sabar dikit, kek," ucap Shinta dengan senyum mengejek. Rara berdecak pelan lalu mengalihkan pandangannya ke arah jendela kaca yang menyuguhkan pemandangan luar cafe. Kendaraan lalu lalang di jalan, menyebarluaskan asap knalpot yang mengganggu pernapasan. Diam-diam, Shinta melambaikan tangannya ke arah seorang lelaki yang sejak tadi duduk di sudut lain cafe. Lelaki itu Avin. Mengerti dengan kode Shinta, Avin segera berdiri dari tempatnya dan perlahan mendekati meja tempat Shinta dan Rara. "Rara." "Hmm?" "Nih, ini dia cowok yang mau aku kenalin ke kamu." Rara segera menoleh. Dirinya mendapati seseorang berdiri tegap di sampingnya. Matanya melotot speechless menatap lelaki yang kini berdiri disampingnya sembari menatapnya juga. Laki-laki itu benar-benar mendekati idamannya! "Oke, kalau gitu aku keluar dulu, ya. Kalian ngobrol apa aja, deh," ucap Shinta geli. "Ra, matanya biasa aja, dong, ntar dimasukin debu, lho," sindir Shinta. Dia segera pergi menjauh dari situ sebelum menerima dampratan dari Rara. "Aku boleh duduk?" tanya Avin santun. Rara hanya mengangguk. Dalam hati dan pikirannya, dia masih mengamati cowok di depannya ini sembari menyesuaikannya dengan kriterianya. "Boleh, silakan duduk." "Kamu udah pesan?" "Belum. Aku baru aja mau pesan. Kamu mau pesan juga?" Avin hanya mengangguk. Rara memanggil waitress, lalu menanyakan kepada Avin apa yang ingin di pesannya. "Aku mau ngomong sesuatu sama kamu," ucap Avin saat waitress tersebut telah pergi. "Ngomong aja." "Mulai saat ini kita pacaran, ya? Aku nggak mau denger penolakan.” Mata Rara nyaris keluar dari tempatnya. Kini, dia makin takjub melihat cowok didepannya ini. Kalau cowok lain lebih berani mengajaknya PDKT terlebih dahulu, cowok yang ada di hadapannya saat ini malah langsung menembaknya begitu saja tanpa basa-basi. Masih dalam keterkejutan, Rara mencoba bersikap santai. “Kamu ... maksudnya, kenapa kamu langsung nembak gitu aja tanpa PDKT dulu? Mantan atau gebetanku yang dulu itu selalu ngajak PDKT dulu baru pacaran,” ujar Rara dengan raut wajah yang dibuat datar. Avin tersenyum kecil. “Karena aku tidak mau disamakan seperti mantan-mantanmu itu.” Diam-diam Rara tersenyum. Dia yakin cowok di depannya ini sudah pas dengannya. Jawaban pemuda itu berhasil menyentuh hatinya. Setelah pesanan mereka datang, mereka segera menyantapnya dalam diam. "Eh, ngomong-ngomong kita dari tadi belum kenalan, lho," ucap Rara sembari tertawa kecil. "Oh iya, aku juga lupa. Kamu terlalu cantik, sih," goda Avin. Mendengar itu, Rara tertawa. Oke, humorisnya Avin terdengar kental. "Kalau begitu, kenalin nama aku Rara Khaliza," ucap Rara ramah. "Aku Avinclaus John Putra, panggil aja Avin atau Sayang," ucap Avin sembari mengedipkan matanya sebelah. Mendengar itu, Rara yang tengah mengunyah makanannya langsung tersedak. Matanya melotot kaget menatap Avin yang kini juga menatapnya dengan senyum geli. "KAMU!" Teriakan Rara yang melengking cempreng membuat Avin langsung tertawa terbahak-bahak. "Ternyata kamu masih ingat sama mantanmu ini, ya."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD