6: New Boyfriend

1193 Words
“Kita balikan, ya!” Avin mengedipkan sebelah matanya membuat mata Rara makin melotot. Hilang sudah segala jenis ketertarikannya pada pemuda itu. Gadis itu segera meraih garpu yang ada di atas meja dan mengacungkannya didepan Avin. “Bagus kamu di sini. Udah lama aku pengen cincang kamu!” Avin tertawa. Dia berdiri lalu segera merampas garpu yang ada di tangan Rara. Gadis berponi itu tak menyerah, dia langsung meraih leher Avin dan mencekiknya. Namun, kekuatan Avin lebih kuat, dia dengan mudah melepas tangan Rara di lehernya dan menariknya hingga wajah mereka hanya berjarak sejengkal. Netra mereka bertubrukan beberapa detik. Keduanya tak terpengaruh oleh bisik-bisik pengunjung cafe lainnya yang kini menatap mereka berdua. “Gimana kutukan jombloku?” bisik Avin tersenyum mengejek. Rara terdiam. Dia bisa mendengar deru nafasnya dan Avin yang seakan saling memburu. Dalam hati dia merutuk, mengapa sekarang jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. “Ya, ya, aku tahu, sekarang kamu terpesona dengan ketampanan ku, ya, ‘kan?” Plak! “Aww!” “Enak aja kalau ngomong! Mukamu dari dulu sampai sekarang sama saja, sama jeleknya. Cuma warnanya aja yang berbeda.” Bohong. Rara berkata seperti itu karena rasa dendamnya. Seandainya saja Avin tidak mengaku lebih dulu, dia pasti belum tahu pemuda di depannya ini adalah mantannya. Ia lalu melepas tangannya dengan kasar dari genggaman Avin dan mendengus keras. Avin mengelus bibirnya yang ditampar oleh Rara. Dasar cewek, kalau mau memukul tidak pikir-pikir dulu, gerutunya dalam hati. “Hm, ya, terserah kamu mau ngomong apa,” tukasnya cuek lalu merapikan kemejanya yang sedikit kusut. Avin menatap jam yang melingkar di tangannya, “Aku harus pergi, ada urusan, kamu pulang dengan Shinta, ya? Ingat, kamu sekarang adalah pacarku.” Mata Rara melotot. “Aku belum jawab, ya!” “Dah, pacar!” “AVIN JELEK!!!” “Hm, ya terserahlah.” *** Shinta duduk di luar cafe. Cheesecake-nya sudah habis namun Rara dan Avin belum kunjung keluar. Dia tersenyum simpul, mungkin mereka sedang mengobrol di dalam. Dilihat dari kepribadian dan fisik Avin, hati Rara sepertinya akan tercantol pada pemuda yang satu itu. Dia menoleh ketika pintu cafe terbuka. Avin terlihat keluar sendiri dan berjalan terburu-buru. “Hey, Vin!” Shinta melambaikan tangannya. Avin menoleh, lalu segera mendekati Shinta. “Oh? Hai, Ta.” “Gimana?” “Lancar, kok! Oh iya, aku ada urusan sebentar, kamu pulangnya sama Rara, ya?,” pinta Avin. “Pacarku dijaga baik-baik, oke?” bisik Avin dengan senyum jahil lalu segera menuju parkiran. Mata Shinta membulat senang sembari menatap punggung Avin yang makin menjauh. Akhirnya, setelah beberapa lama mengabdikan hidupnya untuk mencarikan Rara pasangan, dia bisa pensiun sekarang. Baru saja ingin masuk kedalam cafe, Rara sudah keluar terlebih dahulu dengan wajah kusut. “Hey, Ra, wajah kamu jangan kayak gitu, dong! ‘Kan, udah ketemu yang tepat,” ucap Shinta mencubit pipi Rara. “Apaan yang tepat, dia itu Avin, Shintaaa!” Rara mencak-mencak gemas. Sudut bibirnya turun ke bawah dengan raut wajah mewek. “Iya tahu, dia itu Avin, emangnya kenapa lagi, sih? Katanya kalian udah pacaran, ya? Kencang banget, Ra.” Shinta terbahak. “Asal kamu tahu ya, Ta, dia itu mantanku yang selalu aku ceritain ke kamu,” ujar Rara cemberut. Dia duduk di kursi tempat Shinta tadi. Kini, giliran Shinta yang terkejut. “Hah? Maksudnya mantanmu yang jelek, hitam, dekil dan yang kutuk kamu jomblo itu?!” teriak Shinta membuat beberapa orang menoleh ke arah mereka. “Ngomongnya rem dikit, Ta! Jangan malu-maluin, ish!” ujar Rara gemas. Shinta meringis kecil. “Masa, sih, itu Avin? Aku tidak percaya. Sekarang Avin itu seperti makhluk paling sempurna di mataku.” “Aku juga mana tahu, Ta. Awalnya juga aku tidak menyangka dia itu mantanku yang dulu aku putuskan semasa SMA. Tidak tahu deh, itu cowok pakai jampi-jampi apa sampai bisa berubah total begitu.” Rara mendengkus keras. “Jangan begitu, Ra. Ingat, manusia itu selalu berproses. Mungkin dulu Avin menurut lo jelek, hitam terus dekil, tapi lihat sekarang, dia udah berubah, udah tampan. Tidak usah cemberut gitu, Ra. Lumayan kamu pacaran sama dia, ganteng gitu, kok. Adiknya juga cantik.” “Vika maksud kamu?” “Iya.” “Kalau Vika dari dulu emang cantik, sih,” tukas Rara lalu berdiri dari tempatnya. “Yuk, kita ke rumah sakit, pengen jenguk Mama dulu. Papa juga pasti masih ada di kantor jam segini,” ajak Rara. “Oke, aku ikut.” *** Pintu ruang ICU terbuka. Rara dan Shinta masuk dalam ruangan yang selalu hening itu. Hanya terdengar suara teratur dari bedside monitor yang menandakan jantung Lizasya, ibu Rara masih berfungsi dengan baik. Rara mendekati brankar dimana ibunya terbaring. “Rara datang, Ma.” “Halo Tante, maaf Shinta baru datang lagi,” sapa Shinta berdiri disamping Rara. Shinta tahu, Lizasya masih dalam keadaan koma, namun dia tetap menyapa ibu dari temannya itu walaupun tak mendapat jawaban. “Om Nico pulang jam berapa?” “Biasanya sore-sore, sih, kadang juga malam kalau lagi banyak kerjaan di kantor. Sekarang kalau pulang dari kantor sering ke rumah dulu, istirahat bentar terus kita sama-sama kesini. Aku senang, sih, Papa tetap sadar sama kesehatannya dan juga aku.” Ada nada sedih yang terdengar jelas saat Rara mengatakan itu, “Papa juga sekarang udah kurus banget, beda sebelum Mama kecelakaan. Tapi aku bersyukur, Papa tetap udah perhatiin pola makannya.” Rara tersenyum di akhir kalimat. Dia memang selalu merasa lega ketika selesai mencurahkan isi hatinya pada Shinta. Shinta menatap Rara lama lalu mengusap bahu Rara, “Kamu yang sabar, ya. Aku doain semoga Tante Lizasya cepat bangun dari komanya dan kalian bisa ngumpul lagi,” ucapnya menyemangati. Rara mengangguk, dalam hati dia beberapa kali mengaminkan ucapan Shinta. Lagu Whistle dari girlband K-Pop Blackpink yang menjadi nada dering ponsel Rara berbunyi. Dia membuka tas selempang yang selalu dibawanya dan mengambil ponselnya yang tersimpan di sana. Matanya menatap layar ponsel yang menunjukkan nomor tak dikenal menelponnya. “Ta, kira-kira kamu tahu nomor siapa ini?” Shinta melihat layar ponsel Rara. Keningnya mengerut beberapa saat, merasa familier dengan nomor itu. “Oh, itu nomor ponselnya Avin,” ujarnya beberapa saat kemudian. “Kok, kamu bisa tahu?” “Soalnya aku yang kasih nomormu ke dia,” kata Shinta tanpa menghiraukan tatapan horor dari Rara. “Ck!” Rara mendecak kesal. “Udahlah Ra, sejak kami pertama ketemu aku udah kasih ke dia. Sana angkat dulu, tidak baik lho membiarkan pacar menunggu.” Shinta menaik-turunkan alisnya. Rara memutar bola matanya lalu menyingkir ke dekat jendela. Dia men-slide ke ikon hijau dan suara berat milik Avin terdengar. [“Halo?”] “Ya, halo, ada apa?” [“Ini Rara, kan?”] “Bukan.” [“Bohong kamu.”] “Kalau tahu kenapa bertanya lagi,” ketus Rara. [“Iya, iya. Kamu sekarang dimana?”] “Lagi di Rumah Sakit.” [“Siapa yang sakit?”] Suara Avin terdengar sedikit khawatir. “Mamaku.” [“Aku kesitu, ya? Mau jenguk calon mertua.”] “Apaan, sih kamu. Nggak usah ke sini!” ketus Rara memutar bola matanya. [“Rumah sakit mana?”] tanya Avin tak menghiraukan nada ketus Rara. “Apa?” [“Nama rumah sakit tempat Ibu kamu dirawat, Ra. Kamu kira di Makassar cuma ada satu rumah sakit?”] “Oh, Rumah Sakit Unhas.” [“Kamar?”] “Dibilang nggak usah ke sini!” “Mbak, tolong suaranya dijaga,” tegur salah seorang perawat yang berjaga. Rara langsung meringis bersalah dan menunduk sekilas pada perawat itu. Shinta yang mendengar percakapan mereka walaupun samar-samar segera menoel pundak Rara. “Hei, jangan gitu. Avin, ‘kan, punya niat baik mau jenguk Tante,” bisiknya. Rara memutar bola matanya lalu berujar, “ICU.” “Nomor?” “Banyak nanya! Cari sendiri!” ucap Rara gemas dengan volume suara tertahan. Ia lalu menutup sambungan teleponnya secara sepihak. Gadis itu kembali mendekati Shinta yang sedang mengamati pemandangan di luar melalui jendela. “Ngomong apa sama pacar?” “Dia mau kesini.” “Cie, cie,” goda Shinta. Rara mengangguk cuek. “Dia niatnya mau jenguk mama, jadi aku nggak bisa tolak, dong, seperti yang kamu bilang. Sekesal apa pun aku sama dia, kalau emang punya niat baik, aku nggak bisa larang. Lagipula, dia bukan pacarku.” Shinta tersenyum senang. Masa bodo dengan keras kepala Rara yang masih belum menerima Avin. Namun, perkataan Rara selanjutnya membuat senyum Shinta memudar. “Iya, nggak larang, tapi aku udah punya kejutan spesial untuk dia,” ujar Rara riang dan menarik Shinta keluar dari ruang ICU, “ayo keluar, di sini nggak bisa ribut.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD