Avin berjalan di lobi rumah sakit sembari bersiul pelan. Tatapan para perawat dan pengunjung rumah sakit lainnya tak di hiraukan olehnya. Pesona seorang Avin memang seperti magnet.
Bahkan salah satu perawat yang membawa meja dorong berisi obat-obatan hampir saja menabrak dinding karena terus menatap Avin yang berpapasan dengannya. Menyusul dengan seorang gadis berseragam pink muda yang membawa meja dorong berisi makanan untuk pasien.
Pemuda itu berjalan menuju lift lalu segera menekan tombol 2 menuju lantai, tempat di mana ruangan ICU berada. Padahal cowok itu bisa saja naik tangga.
Saat lift terbuka, matanya langsung melotot kaget ketika melihat isi lift cewek semua, sekitar 5 orang. Avin makin merinding ketika dia masuk sembari mengawasi cewek-cewek yang menatapnya dengan centil.
"Hai, Mas, namanya siapa, sih?" tanya cewek berambut pirang.
Dengan senyum paksa, Avin menjawabnya, "Avin, Mbak."
"Bagus, ya, namanya sesuai sama mukanya yang ganteng!" pekik cewek berambut hitam lurus.
"Boleh minta nomor ponselnya gak?" tanya cewek yang rambutnya di-curly.
"Aku juga dong, Avin!"
"Aku juga, aku juga!"
Avin menahan napasnya. Para cewek ini kecentilannya benar-benar sudah overdosis. Kalau tahu akan begini, seharusnya dia naik tangga saja tadi. Memang betul, penyesalan selalu berada di depan. Lain kali, Avin mau menyesal duluan ketika ingin melakukan sesuatu.
Cabe-cabean jaman sekarang urat malunya udah pada putus emang, batinnya merinding pelan.
Ting!
Avin menghela napas lega. Lift terbuka menyelamatkan dirinya. Dengan cepat dia keluar dari lift. Namun langsung terhuyung ke belakang karena salah satu cewek itu menarik kerah belakang bajunya.
"Ihh, main keluar aja, nomor ponselnya dulu, dong!" ujar cewek berambut pirang dengan ekspresi wajah yang dibuat cemberut.
Mati aku! Pekik Avin dalam hati.
Avin menghela napas panjang sebelum akhirnya menarik paksa tangan cewek itu dari kerah bajunya lalu segera berlari tunggang-langgang. "Maaf, Mbak, tapi saya lagi buru-buru! Calon istri saya udah nunggu!" teriaknya, entah masih didengar cewek-cewek itu atau tidak.
Bodo amat kalau setelah ini para cewek itu akan mengejarnya. Intinya harus menjauh dari mereka dulu!
Setelah berlari cukup jauh, Avin berhenti sejenak lalu menyandarkan punggungnya ke dinding.
“Astaga, Tuhan, punya muka seganteng ini memang ribet,” keluhnya sembari menyeka keringat di dahinya.
“Dari mana, sih, mereka? Kok tiba-tiba ada dalam lift?” gumam Avin bertanya-tanya sendiri. Namun sejurus kemudian dia menepuk kepalanya, teringat dengan lantai bawah tanah rumah sakit. Kemungkinan cewek-cewek itu dari bawah dan hendak naik ke lantai atas. Semoga saja mereka tak mengikutinya.
Mata Avin memandang sekelilingnya, menatap pintu yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
“Ruang operasi,” gumamnya lalu berjalan terus dan akhirnya mendapat pintu ruang ICU.
Baru saja ingin menarik gagang pintu, seseorang dari dalam sudah terlebih dahulu membukanya.
“Lho, udah datang?” tanya Rara tersenyum miring
Di belakangnya ada Shinta yang sibuk merogoh tas selempangnya.
“Hmm iya, kalau nggak, mana mungkin aku sekarang ada disini.”Avin tersenyum lebar.
“Kok, keringat gitu?”
“Ahh, ternyata kamu perhatian juga, ya!” goda Avin dengan senyum manis.
Rara memutar bola matanya, “PD banget kamu! Udah sana minggir, aku sama Shinta mau lewat!”
“Ehh, kalian mau kemana?”
“Turun ke bawah beli makanan!”
“Aku ikut, ya?”
“Nggak usah, katanya mau jengukin, mama aku. Udah masuk sana, ada papaku, kok. Dia lagi nungguin kamu,” ucap Rara cuek lalu melenggang pergi bersama Shinta.
Mata Avin melotot.
Apa? Papa? Apa ini artinya dia bakalan berbincang dengan ayahnya Rara? Oh tidak! Pantas saja tadi Shinta hanya diam tanpa mengatakan apapun.
Avin masuk ke dalam ruang ICU. Hawa dingin langsung terasa. Dia melihat seorang wanita yang terbaring di atas brankar paling ujung dengan seorang pria yang duduk membelakangi Avin. Jantung pemuda itu berdegup kencang ketika melihat ayah Rara kini berbalik pelan dan melayangkan tangannya, memanggil Avin.
“Ayo duduk di sini,” panggil Nico pelan
“Ba-baik, Om.” Avin melangkah dengan perlahan, berusaha tetap tenang.
Avin berdiri di sisi lain brankar, berhadapan dengan Nico. Berdiri dengan posisi begini makin membuat jantungnya berdegup kencang.
Nico menumpukan siku tangannya di atas lutut dengan telapak tangan menangkup dagunya. Pria yang sudah hampir setengah abad itu menatap Avin dengan padangan datar.
“Jadi ...,” Nico menjeda perkataannya, “kamu pacar anak saya sekaligus bocah SMA yang dulu pernah kutuk dia jadi jomblo?”
???
Shinta menggigit buku jarinya dengan wajah cemas. Kakinya tak berhenti bergerak memijak lantai. “Ra, apa nggak bahaya, tuh, biarin Avin berdua aja sama Papa kamu di sana?” tanya Shinta dengan raut cemas.
“Nggak apa-apa, kok, lagipula mereka nggak berdua, ada mama, perawat dan pasien lain di sana,” ucap Rara cuek sembari melihat aneka kue yang ada dalam etalase kaca kantin rumah sakit.
“Ya, itu mah beda, Ra.”
“Udah gak apa-apa, tenang aja. Lagipula ayah nggak bakal bunuh Avin,” ucap Rara santai. “Mbak, saya pesan puding yang ini, ya!” lanjutnya sembari menunjuk puding berwarna coklat kemerahan.
Pelayan itu mengangguk ramah. Ia sudah kenal baik dengan Rara karena gadis itu sering memesan makanan atau kue di kantin ini sejak ibunya dirawat.
Sembari menunggu pesanannya dibungkus Rara menyandarkan punggungnya di dinding.
“Kita lihat aja sampai sejauh mana nyali cowok itu saat ketemu Papa,” ujar Rara tersenyum miring.
Shinta memutar bola matanya, “Terserah kamu ajalah!”
“Gak sabar pengen lihat muka pucatnya.”
“Hm.”
“Gak sabar pengen lihat dia segera tunggang langgang lari dari depan Papa.”
“Ya kali kamu lihat dia, mana tau sekarang udah lari,” balas Shinta.
“Aku udah pesan sama Papa jangan biarin dia keluar dari kamar sebelum kita kembali.”
“Ih anjir, sumpah! Kamu niat banget, ya, ngerjain dia?” Shinta tak sengaja mengumpat saking kagetnya.
Alih-alih menjawab pertanyaan Shinta, Rara malah senyum-senyum sendiri. “Aku juga udah gak sabar tunggu waktunya dia jauhin aku.”
Mendengar itu, mata Shinta melotot lebar. “Please, Ra, jangan ngomong begitu! Kamu nggak lihat apa perjuangan aku dapat cowok se-perfect Avin itu gimana? Omongan kamu yang tadi di-cancel, ya? Ya, ya, ya?” pinta Shinta. “Emangnya kamu bener-bener nggak ada rasa sama Avin gak, sih?” tanyanya heran.
“Hmm, aku tahu kok perjuangan kamu selama ini cariin aku pasangan, tapi aku emang nggak mau sama Avin. Lagi pula kamu nggak perlu capek-capek nyariin pasangan buat aku lagi, nanti aku cari sendiri. Dan kalau masalah perasaan ... ya, awalnya aku memang suka sama dia, tertarik sama dia, tapi waktu tahu dia itu mantanku, rasa tertarik itu langsung hilang begitu aja. Sekarang aku cuma ingat dendam yang aku pendam sampai saat ini. Jadi kesimpulannya, aku nggak suka dia dan nggak jatuh cinta sama dia.”
“Nggak jatuh cinta belum tentu nggak akan pernah jatuh cinta, ‘kan?” tanya Shinta dengan senyum tertahan.
“Hell——“
“Mbak, ini kuenya,” potong pelayan wanita itu sembari menyodorkan plastik berisi puding yang sudah dibungkus dalam kotak kardus.
“Eh iya, jadi harganya berapa?”
“Lima puluh ribu, Mbak.”
Rara menyodorkan selembar uang berwarna biru.
Setelah selesai, dua cewek itu segera berjalan menaiki tangga menuju lantai dua.
“Ra, jadi gimana? Kamu tadi belum jawab pertanyaan aku, loh.”
“Ahh, udah lupain aja!” ucap Rara gusar. Shinta yang menyusul dari belakang tertawa ngakak melihat raut wajah sahabatnya itu.
Sesampainya di lantai dua, Rara melangkahkan kakinya lebar-lebar menuju depan ruang ICU. Karena aturan yang hanya memperbolehkan dua kerabat saja yang bisa masuk dalam ruang ICU, Rara harus menunggu di luar sampai Avin keluar. Dia benar-benar tak sabar melihat wajah pucat Avin berhadapan dengan papanya.
Saat asyik berkelakar dengan Shinta di kursi tunggu depan ICU, pintu akhirnya terbuka.
“Ehh, kalian udah dateng? Ahh, padahal aku masih mau ngobrol sama kamu tapi aku lagi ada urusan,” ucap Avin tersenyum lebar.
“Baguslah. Aku juga nggak suka lama-lama deket sama kamu,” ketus Rara.
“Nanti juga bakalan suka, kok. Eh, by the way, kayaknya aku perlu kerja keras lagi, deh, supaya papa kamu tertarik sama aku.”
Rara tersenyum miring. Tidak perlu kerja keras, Vin, karena semua itu sia-sia saja, batinnya tersenyum iblis.