“Gimana, Pa?” tanya Rara, begitu ayahnya keluar dari ruang ICU.
Nico terlihat berpikir sejenak. Ia masih bisa melihat siluet dari bayangan Avin yang menuruni tangga menuju lantai satu. Dua sudut bibir pria itu terangkat, seolah sedang memikirkan hal yang lucu.
“Pa?” Rara memanggil ulang.
“Dari segi fisik, Avin itu mendekati sempurna, menurut Papa. Kalau dipikir-pikir dari sudut pandang perempuan, perempuan mana yang mau nolak dia? Kepribadiannya juga baik. Itu di depan Papa, tidak tahu kalau dengan orang lain.”
“Nah, Om Nico aja setuju Avin itu cowok sempurna.” Shinta nimbrung namun buru-buru dipotong Nico.
“Mendekati sempurna.” Nico meralat.
“Iya, Om, maksudnya mendekati sempurna. Udah, akui aja dan jadi pacarnya Avin, Ra,” terobos Shinta.
“Ck, nggak semudah itu, ya.” Rara mendelik.
“Sebentar, kamu bilang Avin itu dulu ... jelek gimana, gitu?” tanya Nico ragu-ragu. Sedikit merasa bersalah karena mengucapkan k********r yang seolah menghina Avin. Padahal kenyataannya, ia hanya bingung mau mengatakan apa. Soalnya, Rara selalu cerita kalau Avin itu jelek makanya dia mengakhiri hubungan mereka.
“Yaelah, Pa, nggak tahu aja skincare jaman sekarang, tuh, kayak gimana. Jangankan dari beberapa tahun yang lalu. Rutin skincare-an aja, tujuh hari udah bisa glow up,” cecar Rara.
“Oh, begitu, ya.”
“Iya, Pa. Jadi, tadi bahas apa aja di dalam?” tanya Rara antusias.
“Yaa, Papa nanya-nanya aja pendidikannya sekarang, terus lanjut cerita soal Mama kamu. Itu aja.”
“Itu aja?”
Nico mengangguk.
“Pasti kamu berharap, ‘kan, Om Nico sama Avin bahas kamu,” tuding Shinta dengan senyum yang menjengkelkan.
Rara memutar bola matanya dan memperbaiki letak tali tasnya, “Nggak!”
“Menurut Papa, sih, kamu coba ikut alur aja dulu. Avin itu termasuk laki-laki yang gentleman. Dia berani minta maaf sama Papa karena perihal masalalu dan langsung minta izin buat coba dekatin kamu lagi. Papa iyain aja. Kesempatan selalu ada. Dilihat dari wajahnya, Avin kelihatannya serius buat jalin hubungan lagi sama kamu. Makanya Papa kasih kesempatan itu,” tutur Nico panjang lebar.
Rara spontan mengeluh. “Kok, gitu sih, Pa? ‘Kan, tadi perjanjiannya Papa mau nakut-nakutin dan ancam dia biar nggak mau deket-deket sama Rara lagiii!”
“Ck, Papa nggak pernah janji gitu. Papa cuma iyain aja permintaan kamu untuk temuin dia. Kamu coba aja dulu, Ra. Lagipula, kamu kira Papa percaya begitu saja sama dia? Papa tadi sudah mewanti-wanita dia supaya tidak mempermainkan kamu dengan wajah mengintimidasi dan Avin dengan tenangnya mengangguk yakin. Itu tipe menantu idaman Papa. Jadi, kamu jalani aja dulu. Kalau memang dia ngecewain kamu, Papa yang akan tanggung jawab.”
“Kalau dia benar-benar bikin kecewa Rara, Papa mau tanggung jawab apa?” tantang Rara.
“Papa punya bawahan yang sudah kenal baik luar dalam. Kalau Avin macam-macam sama kamu, Papa akan langsung nikahkan kamu dengan dia.”
Rara memandang wajah ayahnya dengan jengah. Shinta terkikik geli melihatnya. Terkadang se-absurd itu pemikiran Nico di mata putrinya.
Namun, bagi Nico, dia tahu ini sudah tepat. Ia sudah pernah mengalami yang namanya menjalin hubungan. Tatapan mata Avin tadi mengingatkan Nico pada dirinya sendiri ketika melamar ibu Rara di depan sang calon mertua.
???
Suara patahan yang disusul rebahnya pohon hampir tua itu membuat Rara lari dari tempatnya jongkok. Ia mengibaskan tangannya di depan wajah, menjauhkan debu yang beterbangan.
Setelah mendingan, dia mendekati om-nya yang tengah melepas tali tambang dari pohon mangga itu. “Makasih, ya, Om, sudah bantu,” ucap Rara sembari membantu menggulung tali itu.
“Iya, sama-sama, Ra.”
“Masuk ke rumah dulu, Om. Rara udah siapin kopi sama makanan ringannya.”
“Papa kamu ada di dalam?”
“Oh, ada, ada. Kayaknya ada di ruang kerjanya. Masuk aja, Om, kalau ada yang mau diobrolin,” ucap Rara tersenyum kecil. Bersamaan dengan itu, Shinta datang dengan motor scoopy-nya.
“Wah, udah ditebang aja, ya,” ujar gadis itu sembari melompati batang pohon yang menghalangi jalan masuk ke halaman rumah Rara. Sementara itu, Om Riki sudah berada di dalam rumah.
“Iya, nih. Tinggal mau disingkirin. Tapi, Om Riki istirahat dulu. Lumayan capek, tadi lama soalnya ranting-rantingnya dulu yang ditebang biar nggak ngerusak bunga.”
Shinta mengangguk-angguk kecil. “Jadi, ini tali tambangnya udah selesai kepake?”
“Udah. Sekalian karena kamu datang, nanti pulang bawa aja. Omong-omong, ngapain ke sini?” tanya Rara. Gadis itu sibuk menyingkirkan patahan ranting-ranting yang menyebar dan mengumpulkannya ke samping rumah untuk dibakar. Shinta ikut membantunya. “Mau tanya-tanya soal proposal skripsi. Udah nemu judul?”
“Udah. Kamu?”
“Udah juga, sih. Eh, ada salam dari di Avin. Tadi pas mau ke sini, dia lagi nyuci mobil. Dia juga nitip, besok ada waktu, nggak? Mau ngajak jalan katanya.”
“Nggak, besok mau konsultasi proposal,” tolak Rara mentah-mentah. Ia melanjutkan kegiatannya dengan wajah lempeng.
“Yaudah, kalau kamu nolak, kirimin pesan, gih. Jangan sampai besok dia datang tapi kamunya nggak bisa pergi.”
“Males. Kamu aja yang bilangin.”
Shinta menghentikan kegiatannya. “Ra, jangan gitulah. Avin katanya selalu kirim pesan sama kamu, tapi nggak pernah dibalas. Nitip di aku begini, kamu juga nolak.”
“Ya, terus?”
“Coba, deh, lupain aja dendam kamu itu. Perlahan aja, buka hati kamu untuk dia. Menurut aku, Avin, tuh, bener-bener serius sama kamu, lho. Papa kamu aja setuju.”
“Tapi, menurut aku, tidak,” ucap Rara menekankan kata terakhirnya. “Lagipula, kamu, kok, kelihatannya maksa banget? Kalau begitu, kamu aja yang pacaran sama dia. Toh, kamu juga sampai sekarang belum pacaran lagi sejak putus dari Mario.”
“Ra! Kok, kamu ngomong begitu, sih?” Shinta mengerutkan dahinya dengan tatapan tak percaya. “Aku udah bela-belain cariin kamu laki-laki ——“
“Memangnya aku pernah minta? Aku cuma cerita sama kamu soal kutukan itu. Yang punya ide mati-matian nyariin aku laki-laki, tuh, dari kamu sendiri, ‘kan? Aku nggak pernah minta tapi nggak nolak juga. Jadi, kalau kamu mau bilang aku harus terima Avin karena kerja keras kamu selama ini, dari dulu aku seharusnya nolak bantuan kamu selama ini.”
Rara menjatuhkan ranting di tangannya. “Bukan kamu yang ngerasain ini, Ta. Kamu nggak tahu gimana aku diam-diam selalu dihantui dengan pemikiran akan punya masa depan yang bagaimana saat coba jalin hubungan begini, harus gagal terus. Dan saat orang yang bikin aku hampir stress itu muncul lagi di depanku dan minta pacaran lagi? Memangnya semudah itu untuk aku terima?”
“Ra, aku cuma berharap yang terbaik buat kamu. Di sini, bukan kutukan yang menjadi penyebabnya. Tapi, tipe high class kamu itu.”
“Beni, Johan, Jordi? Siapa lagi? Apa harus aku sebutin nama-nama mereka yang sempat pacaran dengan aku dan putus dengan alasan yang kadang-kadang bikin aku tambah stress dan merasa semua ini nggak masuk akal?” Mata Rara memerah karena emosional.
“Ra, hubungan kamu dengan Avin bisa aja nggak berakhir seperti yang lalu-lalu itu. Kamu tahu, ‘kan, kutuk itu bisa ditarik kembali? Nggak ada yang tahu, Avin yang akan hilangkan kutuk itu.” Shinta masih berusaha meyakinkan, walaupun merasa sedikit kecewa dengan perkataan Rara yang menohok hati.
“Dari kata-kata kamu aja, kamu masih belum yakin juga Avin bakal jadi yang terakhir.” Rara meringis kecil dan mengambil tali tambang yang sudah tergulung rapi. “Makasih, untuk tali tambangnya. Kalau sudah nggak ada lagi yang pengen kamu keluarkan, lebih baik kamu pulang, Ta,” lirihnya tak berani menatap mata temannya itu.
Shinta menghela napas. Ia menahan tangan Rara ketika gadis itu hendak berjalan masuk ke rumahnya. “Maaf,” ujarnya dengan nada lirih. Sejenak, Shinta berpikir untuk mencaci Rara, namun ego itu akhirnya tersingkirkan dengan pemikiran dewasa. Dia tidak mau terus ada dalam masalah ini. Walaupun terasa berat, Shinta memberanikan diri untuk meminta maaf lebih dulu.
Rara terdiam sejenak dengan pandangan kosong. Ia lalu melepas tangannya dari genggaman Shinta dengan pelan. “Kamu pulang, gih,” lirihnya dan berjalan masuk ke dalam rumah.