Rara menatap keluar jendela mobil tanpa minat. Deretan rumah-rumah dengan pintu tertutup rapat entah kenapa membuatnya bad mood, terlebih saat melewati rumah Shinta dan Avin tadi. Sekilas, ia melihat motor Shinta berada di depan rumah, menandakan gadis itu masih berada di rumahnya. Nico yang tengah menyetir hanya sesekali menoleh sekilas pada putrinya karena harus fokus pada jalan yang cukup sempit. “Proposal skripsi kamu bagaimana, Ra?” tanya sang ayah membuka topik. “Judul untuk proposal udah disetujui, Pa. Sekarang Rara lagi fokus nyari bahan untuk draft bab 1 sampai 3, makanya ini mau ke kampus,” sahut Rara tanpa menoleh sedikitpun. “Dosen pembimbing udah ada?” “Udah ada, Pa.” Hening sejenak. Sebelum akhirnya Nico berdehem sejenak dan mengeluarkan suaranya dengan hati-hati. “Kem

