“Aish, hari ini aku, kok, s**l sekali, sih?” gerutu Rara ingin menangis. Ia memutuskan lebih baik melanjutkan kegiatannya di rumah sakit sembari menemani ibunya saja. Sebenarnya, Rara masih bisa membeli notes baru dan menulis ulang, mumpung masih sedikit. Tapi, karena ada beberapa hal yang membebaninya saat ini, terutama konflik antara dia dan Shinta, semuanya terasa jadi berat. Air matanya bahkan sudah menumpuk di pelupuk matanya. “Hai, Ra. Udah mau pulang?” Oh, Tuhan. Suara ini lagi? Apa tidak cukup semua masalah hari ini? Batin Rara. Gadis itu mengangkat kepalanya dan mendapati Avin bersandar di depan kap mobil. Gadis itu mengerutkan keningnya. Ada yang familiar. Ia lantas mendengus pelan ketika melihat plat mobil itu. “Iya, aku mau pulang. Kenapa?” Avin tersenyum manis sembari me

