Air mata Susan berlinang dan terdengar pekikannya, sebab saat ini dia dihukum David dengan memukul kedua telapak tangan pakai kayu.
Selepas pernikahan Wyne dan Herman, sang ayah mencecer Susan, benarkah penculikan Wyne dilakukan sama putri bungsu itu. Sang anak terpaksa membenarkan, dan membuat dia memberi hukuman.
“Papa!” Imelda di sisi David tampak berurai air mata melihat tangan Susan dipukul, “Jangan terus memukul tangan Susan.” Kembali merengekin suaminya untuk berhenti memukul tangan anak mereka.
David berhenti memukul, dipandang istrinya.
“Jangan merengek, Melda!” dihardik si istri, “Anak ini bikin malu Papa tadi!” dia merasa sangat malu di pesta tadi sebab Wyne dengan jelas mengatakan diculik dan menjebak Susan untuk mengaku sebagai pelaku, “Wyne berhasil membuat Susan mengaku sudah menculik Wyne!”
Imelda menghela napas, andai Kun tidak menahan dia, sudah pasti Susan tidak kena jebakan Wyne. Lantas wajah dia pun kesal, mengapa Wyne yang dikenal bodoh, bisa cerdik di pesta itu? Siapa pula yang menyelamatkan putri sambungnya itu?
“Papa!” Susan bicara dengan air mata berderai, “Susan terpaksa mengaku karena Wyn berkeras menikah sama Herman.” Dia menolak kemenangan Wyne.
Plak!
Satu pukulan kayu mendarat bergantian di kedua tangannya.
“Akh!” dia memekik kesakitan, karena pukulan itu dari David.
“Masih juga menyangkal, hmm?” lalu terdengar hardikan sang ayah, “Wyn bukan anak pembohong seperti Kamu!” dimaki si anak yang masih saja menyangkal, “Hal lain, Kamu sendiri sudah mengaku memang menculik dia agar Herman menikahimu!” serunya membeberkan kebodohan si anak yang masuk jebakan Wyne, lantas kembali memukulkan kayu bergantian ke telapak tangan sang anak.
Plak, plak!
“Akh!” Susan kembali menjerit kesakitan, “Ampun Papa!” dia minta ampun, “Iya, memang Susan menyuruh orang menculik dia!” akhirnya mengaku melakukan kejahatan itu, “Susan tidak rela Herman menikah sama Wyn!”
Sejurus kemudian datang Kate ditemani Tristan, Jenderal Adam, dan beberapa polisi.
“David!” Kate memanggil David yang masih memukul kedua telapak tangan Susan.
Suara ini membuat David terkaget, cepat berhenti memukul, memutar pandangan, dan tergesa menghampiri sang ibu.
“Mama!” dia pun berlutut dihadapan si ibu, “Maafkan David.” Dia minta maaf, “David lalai menjaga Susan.”
Kate menghela napas, dulu saat dia mengizinkan Wyne kembali ke Jakarta untuk mengelola Scoot Clinic, meminta David berjanji menjaga Susan agar tidak mengusik Wyne. Meski Wyne tinggal di penthouse, bukan di rumah David ini.
“Sudahlah-“ Kate memandang si anak dengan tatapan dingin, “Sudah terjadi, David.” Dia tidak mau mengungkit peristiwa itu, “Mama datang-“ lantas mengalihkan pembicaraan, “Untuk memberi hukuman ke Susan.”
Sang anak terkaget, menatap ibunya ini yang tegas.
“Menghukum gimana, Mama?”
“Susan merencanakan menculik dan merusak hidup Wyn, David.” Kate menjelaskan, “Semua itu tindak criminal, maka harus Mama beri hukuman lebih dari mendekam di buih.”
David, Imelda, dan Susan terkaget. Imelda sampai berlutut dihadapan Kate.
“Mama!” ditegur sang mertua sambil memegang kedua tangan oma awet muda itu, “Susan sudah mengakui perbuatannya, lantas David telah memukul kedua telapak tangannya, jadi tolong Mama ampunin Susan.” Merengek minta pengampunan dari sang nyonya besar.
Kate tersenyum sinis, “Kalian pikir menculik manusia itu maling mencuri ayam tetangga?” dipandang David dan Imelda, “Tristan!” lantas memanggil asistennya, “Tunjukan hasil visum luka Wyne ke David!” diminta sang asisten memberikan hasil visum luka yang diberikan Sahid ke dia, selepas pesta pernikahan.
“Baik, Nyonya.” Tristan menganggukan kepala, lantas mengeluarkan satu amplop berlogo Scoot Clinic dari dalam jasnya, baru diberikan ke tangan David, “Silahkan Tuan.”
David menghela napas, segera mengecek hasil visum itu. Tidak lama kedua matanya terbelalak, lantas menoleh ke Susan.
“Susan!” dijeritin si anak, “Kamu gila kah?” tanyanya dengan nada suara tinggi, “Kamu suruh orang merusak keperawanan kakakmu dengan pisau belati tajam!” dia membaca hasil visum mengatakan luka di miss V Wyne karena pisau belati, “Kamu mau membunuh kakakmu kah?”
Imelda menghela napas, merutuk karena Wyne membuat visum atas luka itu, maka ketahuan lah kekejian Susan. Padahal sebelum kejadian itu, dia wanti-wanti ke sang anak, agar langsung saja menyuruh orang menggilir Wyne. Setelah itu dicekokan racun mematikan, baru jasat dimasukan ke dalam mobil, dan didorong ke laut, sehingga berkesan Wyne bunuh diri.
Namun, Susan punya pemikiran sendiri. Gadis itu ingin merusak semua tubuh si kakak dengan pisau dan pemerkosaan. Bahkan menyuruh orang untuk mencincang badan sang kakak, selepas diperkosa, lalu jasat dibuang ke kandang buaya. Maka semua kejahatan dia terhapuskan.
Dia membenci Wyne bukan sekedar karena sakit hati menjadi anak haram dan David tidak menjadi ahli waris keluarga Scoot, tapi iri sama sang kakak. Meski dia menjadi CEO di Scoot Group Jakarta, tapi hanya di atas kertas saja, karena David yang mengerjakan semua tugas dia.
Sedangkan Wyne, diberi Scoot Clinic sama Carter, berarti pemilik sah. Lantas si kakak adalah dokter ahli yang pasiennya bejibun. Prestasi yang bagus kan semua itu?
“Sudah, David!” Kate cepat bersuara saat David hendak menyembur marah lagi ke Susan, “Adam!” lantas memanggil Jenderal Adam. “Lakukan sekarang di depan David dan Imelda, agar mereka tahu seperti apa kejinya Susan ke Wyne.”
David terkesiap, “Apa maksud Mama?”
“Susan menyuruh orang merusak miss V Wyn, maka Mama harus merusak miss V Susan.” Kate memandang dingin si anak, “Meski Mama tahu miss V itu sudah banyak diobrak-abrik pria, termasuk Herman.” Imbuhnya menyindir cucu kedua yang petualang ranjang panas gratis.
Dhuar, David dan Imelda terkaget. Kate mau merusak bagian intim Susan dengan pisau belati?
***
Wyne menghela napas, memainkan pulpen ditangan. Pagi ini dia sudah ke Scoot Clinic, dan Sahid memberi laporan terbaru bahwa Kate memberi hukuman pahit ke Susan, sebelum menjebloskan si adik ke penjara.
Sudut bibir Wyne menyungging senyum puas. Dia tahu Kate akan melakukan pembalasan setelah membaca hasil visum yang dibikin dokter Ruben. Itu yang dia inginkan, agar rasa sakitnya dan Ratna yang pernah ditindas Susan dan Imelda di masa lalu terbayar perlahan.
Kini bagian intim Susan dikorek belati, digilir pula sama beberapa pria, lantas si adik dijebloskan ke penjara. David dan Imelda yang merengek tidak digubris Kate.
“Nona.” Sahid menegur Wyne, “Apa yang Nona akan lakukan?”
Sang putri kembali menghela napas, “Kamu hubungi James-“ dialihkan pandangan ke Sahid, “Beritahu dia, jangan biarkan Wirya membebaskan Susan, karena pasti Papa meminta Wirya melakukan itu.” Ujarnya menurunkan instruksi, “Lantas, Kamu hubungi Nelson, minta dia membuat surat pemecatan Susan dan Papa dari kursi CEO Scoot Group Jakarta.”
“Baik, Nona.” Sahid menganggukan kepala, “Nona, maaf, mengapa Anda tetap menikah sama Tuan Herman?” lantas mengalihkan pembicaraan, “Mengapa Anda tidak menikah sama pria yang menolong Anda?”
Cucu Kate terdiam, menikah sama Ricardo? Dia tidak bisa menikah sama sang CEO, sebab mengetahui pria itu segera menikah sama Isala Smith. Hal lain, dia tidak tersentuh cinta, maka harus melupakan tidur sama pria itu.
Wyne belum menjawab, meletakan pulpen yang sedari tadi dimainkan ke meja kerja, lantas mengambil sebatang cigarette dari dalam kotak yang ada di meja, dinyalakan dengan pematik api, baru dinikmati sejenak.
“Sahid-“ baru menegur Sahid, “Kamu tahu kan, Opa menugaskan Saya untuk menemukan Om Aldi dan Lisa, jadi Saya harus menikah sama Herman, bukan dengan Ricardo.”
“Ricardo?” Sahid terkejut mendengar nama Ricardo disebut, “Nona, Tuan yang menolong Anda apakah Tuan Ricardo Elmer?” langsung feeling nama tersebut adalah nama sang pangeran sebagai putra sulung Aldiano.
Wyne menganggukan kepala, “Meski dulu, Opa, Opa Gordon dan Om Aldi sepakat menjodohkan saya sama Ricardo, tapi karena ada peristiwa crush pesawat itu dan kecelakaan yang menimpa Om Aldi, Opa terpaksa setuju membatalkan perjanjian, membiarkan Oma dan Opa Gordon menikahkan saya sama Herman.”
Sahid menyimak semua penuturan tuannya ini, lantas teringat saat Wyne meminta pendapat Carter mengenai perjodohan antara Wyne dan Herman. Carter menyetujuinya, sebab hanya dengan cara ini bisa menemukan Aldiano dan Lisa yang diduga masih hidup dan disembunyikan Herman di satu tempat.
“Nona-“ Sahid menegur Wyne, “Meski begitu, Anda kan sudah diberitahu, Tuan Herman itu psikopat. Lantas juga ibunda beliau pun psikopat. Nona bisa kehilangan nyawa sebelum menemukan Tuan Aldi dan Nona Lisa.”
Wyne tersenyum tipis, “Sahid, hidup dan mati saya ditangan Tuhan.”