Bab 5 Pengantin Baru Pisah Rumah

1774 Words
David hendak berseru lagi agar Susan tidak melakukan aksi bunuh diri. Dia pun tahu si anak bungsu takut meninggal seperti yang Wyne katakan tadi. Tapi tangan Kate memegang lengannya erat, menahan dia tidak mencegah Susan. Akhirnya dia hanya mengamati Susan sambil menghela napas. Susan menjadi kesal, dibanting gagang pecahan gelas ke lantai, lantas merentakan badan, merasa dipermalu sang kakak. “Kamu terlaluan, Wyn!” disembur si kakak yang tersenyum geli, “Aku pasti membalas ulahmu hari ini!” Wyne tersenyum sinis mendengar ini, “Silahkan kalau Kamu bisa melakukannya.” Dia tidak gentar diancam si adik, “Kun!” lantas berseru lantang memanggil Kun. Kun segera menarik Imelda berdiri, lantas diseret berjalan bersamanya mendekati Wyne. “Saya, Nona sulung.” Disahutin seruan sang nona, “Nona minta Saya membawa Nyonya Imelda dan Nona kedua ke Jenderal Adam untuk dikulitin?” lantas memberi pertanyaan ke Wyne. Wyne mendekatkan bibir ke telinga kanan sang ajudan, membisiki sesuatu yang harus dikerjakan ajudan tersebut. *** Kedua mata Wyne mengamati pavilion sederhana di depannya. Selepas Herman menikahinya, dibawa kemari. Apa mereka akan tinggal di sini? Bukan kah Herman ada rumah megah? Herman menghela napas, membawa mereka masuk ke dalam pavilion itu, lantas menatap Wyne dengan kebencian, meski saat ini sang istri sangat cantik dengan dandan pengantin. Sahid, Dolce-bibi pengasuh Wyne, dan Kun tetap diluar. Kate menyuruh mereka menemani Wyne di rumah Herman. Herman dan Ricardo punya rumah sendiri, tidak tinggal bersama Gordon. “Meski-“ dia bersuara, “Aku menikahimu!” ujarnya menunjuk d*** Wyne dengan jari telunjuknya, “Jangan mimpi bisa mendapat cintaku.” Mendengar ini Wyne menghela napas, dia tahu Herman terpaksa menikahinya demi Gordon dan image keluarga Elmer dihadapan semua tamu. “Jadi-“ Herman melanjutkan, “Mulai sekarang, Kamu tinggal di sini, dan jangan pernah datang ke Aku.” “Oke-“ Wyne menerima keputusan sang suami dengan wajah tersenyum, “Tapi gimana kalau Oma atau Opa yang mendadak datang dan bertanya, “Mana istrimu?”, hmm?” “Aku akan mengutus Ivan menjemputmu dan membawamu ke sisiku.” Sahut Herman tegas, “Setelah Opa dan Oma bertemu Kamu, kukembalikan Kamu kemari.” Wyne sedikit memiringkan bibir ke kanan, lantas, “Oke, deal.” ujarnya setuju keputusan Herman, “Sudah!” seru dia menepuk pundak kanan sang suami, “Kamu bisa meninggalkanku sekarang.” Diusir pria ini. “Aku mau istirahat.” Herman ternganga sebab Wyne tiada menangis memohon belas kasihan dia. Mengapa sang istri menerima keputusannya? Bukan kah sebagai perempuan yang baru menjadi istri tidak ingin tinggal berpisah dari suami? Wyne tidak mau menjatuhkan harga diri, sebab dia tahu betapa besar cinta Herman ke Susan, meski tadi sang suami kesal ke Susan. Dia tetap menikahi Herman untuk menghukum Susan dan Imelda. “Ah ya!” Herman menghela napas, “Mengenai nafkah untukmu,” teringat pesan Gordon harus menafkahi Wyne, “Tiap awal bulan kukirim ke rekeningmu senilai lima puluh juta Dollar. Jadi hemat-hemat ya, karena Kamu tidak bisa meminta lebih dari itu ke Aku.” Ujarnya menegaskan jumlah nafkah dan Wyne tidak bisa meminta lebih, “Kemudian, ketiga orangmu, Kamu gaji dari uang bulanan yang kukirim itu.” “Deal.” Wyne setuju, “Adalagi pesanmu, Tuan Herman Elmer?” dipandang sang suami dengan entengnya. “Jika Kamu ke klinikmu, jangan pernah mengatakan bahwa kita tidak satu atap.” “Tidak masalah.” Herman melihat Wyne tetap bersikap biasa, mendengus kesal, mengapa sang istri tidak berderai-derai air mata memohon belas kasihan dia? Dipukulkan kepalan tangannya ke bawah, lantas meninggalkan Wyne sendirian. ‘Herman-‘ Wyne bicara dalam hati sambil mengamati kepergiaan Herman, ‘Aku setuju menikah sama Kamu demi Opaku, jadi Kamu mengasingkanku di sini, tidak masalah. Aku lebih leluasa bergerak mencari Om Aldi dan Lisa.’ *** Rumah Ricardo yang megah berada di kawasan Cibubur, dan di taman belakang rumah itu, tepatnya dalam pendopo nyaman, tampak sang CEO duduk sendirian sambil meremat-remat liontin kalung. Di depannya ada ponsel yang menampilkan wajah cantik Wyne saat tidur. Dia sempat memotret Wyne dan mengambil kalung yang dipakai si gadis, semua ini karena dia feeling si nona meninggalkan dia, maka dengan kedua barang itu bisa mudah menemukan sang gadis yang sudah membuatnya jatuh cinta. ‘Aneh-‘ bisik hati dia, ‘Basement Scoot Clinic dijaga Satpam, mengapa mereka tidak tahu ada penculikan Ling Xi?’ dia merasa heran dengan keterangan Satpam, tidak ada peristiwa penculikan kemarin, ‘Lantas-‘ masih bicara dalam hatinya, ‘dokter itu juga mengatakan hal yang sama. Menurutku sangat aneh.’ Dia pun teringat semua jawaban dokter Ruben yang sama seperti penjelasan para Satpam. Saat Wyne diculik, sedang berlangsung pergantian tugas Satpam, maka benar, mereka tidak tahu. Meski pun tahu juga sebab melihat Ricardo berusaha menyelamatkan Wyne, tapi saying mereka terlambat karena sang nona sudah dibawa lari dan pangeran tampan mengikuti. Kemudian saat Wyne sampai di Scoot Clinic, gadis ini langsung minta dokter Ruben menyiarkan kabar bahwa dia sudah kembali, tidak perlu membahas mengenai peristiwa penculikan itu. Beruntung Satpam yang melihat ending penculikan tidak menyebarkan berita mengenai hal tersebut, jadi tidak masalah dilarang menyebarluaskan informasi terkait penculikan Wyne. “Tuan Muda.” Dari pintu pendopo terdengar suara Marko menegur Ricardo. Sang CEO hanya menoleh sekilas ke asisten, lantas menghela napas pendek. “Apa-“ dia bicara ke asisten tersebut sambil mengelus wajah cantik Wyne dengan jari telunjuknya, “Hasil dari Harley?” lantas bertanya ke si asisten. “Apa orang-orang yang menculik Ling Xi, meninggal semuanya saat Harley ke gudang itu?” Setelah gagal menemukan Wyne, Ricardo menyuruh Marko menghubungi Jenderal Harley agar segera ke gudang tempat Wyne disekap, untuk mencaritahu siapa sang nona sebenarnya. “Tuan-“ Marko mengamati si bos yang masih mengelus foto Wyne di layar ponsel, “Mereka semua tidak ada di gudang itu.” Mendengar ini, Ricardo spontan mengalihkan pandangan ke Marko, ditatapan asisten dengan heran. “Maksudmu?” “Tuan, gudang itu sudah kosong-“ Marko menghela napas, “Tidak ada manusia juga barang.” Kening Ricardo berkerut, bagaimana bisa? Tidak mungkin gudang itu dengan cepat kosong. Dia tidak tahu Wyne bukan hanya menghubungi Sahid, tapi juga Jenderal Adam, orang kepercayaan Carter, untuk membereskan gudang tersebut sebelum Ricardo melakukannya. Wyne tidak mau Ricardo terlibat dalam peristiwa kemarin. Ricardo menghela napas, alam pikiran dia teringat sama Wyne. Mungkin kah gadis itu menghubungi orang untuk membereskan gudang tersebut untuk ditangani hukum? Jika iya, siapa dia? Berarti memang Wyne bukan gadis biasa. “Tuan-“ Marko menegur Ricardo, “Maaf, sebenarnya kemarin apa yang terjadi, karena Anda nekat menolong nona Ling Xi?” dipandang si bos yang terlihat berpikir keras. Ricardo menghela napas lagi. Dia melakukan semua itu tergerak sendiri, padahal tidak mengenal sama sekali siapa Wyne. Lantas setelah menolong Wyne, dia tidak mau kehilangan sang nona, maka dicarinya. Bahkan minta Marko menghubungi Jenderal Harley, agar menemukan jejak nona tersebut. Namun, saying, Wyne menghapus jejak, karena tidak mau melibatkan Ricardo. Misi dari Carter kali ini lebih berbahaya dari misi sebelumnya. “Tuan-“ Marko kembali menegur Ricardo. “Kamu-“ Ricardo mulai bicara, “Sebar orang, temukan gadis itu.” Dia menurunkan perintah. “Tapi Tuan untuk apa? Anda harus ke Los Angeles untuk menikah sama Nona Isala Smith.” “Kerjakan saja yang saya perintah, Marko!” Ricardo menghardik asisten itu dengan suara lantang, lantas membuka genggaman tangan, diamati liontin kalung milik Wyne dengan cermat. Liontin tersebut berbentuk tubuh dragon melingkar dan bagian atas tegak menunjukan wajah sang naga. Lantas di bawah kepala naga ada lambang CTU Dewan Keamanan Dunia dan dua huruf inisial yaitu WS. Dibagian paling bawah ada lambang jabatan. ‘Siapa gadis itu?’ Ricardo mengenali lambang CTU dan jabatan, ‘Apa dia bekerja di Counter Terrorism Unit dan berpangkat Mayor Jenderal?’ *** Malam yang sunyi dirasakan oleh Herman, karena bayangannya bisa menikmati kemesraan sama Susan hancur sudah, akibat ulah sarkas yang semberono sang kekasih. Dia tahu Susan hendak menggagalkan perjodohannya sama Wyne, tapi tidak menyangka perempuan itu menyuruh orang menculik Wyne. Kini dia terpaksa menjadi suami Wyne, padahal dari awal bertemu, dia tidak menaruh hati ke nona, sebab menilai kampungan dan kuno, tidak sesuai selera dia. Dia menyukai wanita seksi yang berdandan berani seperti Susan. Apalagi Susan pandai memuaskan dia di ranjang panas. “Sial!” gerutuan dia pun terdengar, “Mengapa Aku harus menikah sama perempuan kampungan itu?” menyesali pernikahannya dan Wyne, “Kenapa Papa David tidak berusaha menggagalkannya?” dia teringat David yang diam melihat penghulu menikahkan dia sama Wyne. Sedangkan Wyne di pavilion, baru disuntikan obat sama dokter Ruben. Tampak gadis itu biasa saja diasingkan Herman di sini. Dokter Ruben mengamati sahabatnya ini, merasa pilu mengapa nasib nona ini buruk sekali. Setelah David menjadikan Imelda sebagai selir dan lahir Susan, Wyne selalu ditindas. Lantas saat Ratna meninggal, Wyne nyaris dibunuh Imelda dengan mencekokan racun, tapi beruntung datang Carter. Si Kakek langsung membawa Wyne pergi dari rumah David, tinggal di Los Angeles bersama pria itu dan Kate. Wyne meraih tangan dokter Ruben yang terpaut lebih tua satu tahun darinya. “Sudah, sudah-“ dia bersuara dengan riang, “Gue ngga pa pa kok, Ben.” Diyakinkan sahabatnya itu, “Lagipula pisau itu hanya merusak gel pelindung keperawanan gue kok.” Sebenarnya, setelah Imelda mendamprat Wyne, si nona mengutus Sahid untuk mengawasi ibu tiri dan Susan. Dari sana, dia feeling Susan merencanakan menyingkirkan dia, sehingga meminta dokter Ruben melapisi keperawanannya dengan gel pelindung. Jadi yang dilukai Nini adalah gel pelindung. “Iya, gue tahu.” Dokter Ruben menghela napas, diremas tangan Wyne, “Tapi keperawanan elo hilang karena dewa tampan itu.” Ujarnya. Sang putri sudah cerita mengenai kemesraan itu karena dia bertanya mengapa keperawanan nona sudah hilang saat mengobati bagian intim tersebut.. Mendengar ini, Wyne melepas tangan dari genggaman dokter Ruben. “Ben-“ ditatap sahabatnya ini, “Loe kan tahu, gue dicekokan obat perangsang sama orang itu.” “Iya, dan tabrakan sama serum di badan loe.” Dokter Ruben mengelus d***. “Bikin Loe mabuk, dan kejadian deh tidur sama si tampan.” Dulu, setelah Carter menghilangkan racun yang dicekokan Imelda ke Wyne, si kakek menyuntikan serum anti racun ke dalam darah sang putri. Meski kebal racun, tapi saat ada racun masuk, seperti obat perangsang, akan beradu, dan efeknya tuan putri jadi celeng. Karena mabuk, Wyne jadi membiarkan Ricardo menyentuhnya. “Sudahlah-“ sang dokter tidak membahas lebih jauh peristiwa itu, “Apa rencana loe sekarang? Herman mengasingkan loe.” Lantas bertanya apa rencana si nona, “Lantas, gimana sama si tampan yang meniduri elo? Cepat atau lambat, loe bisa mengandung anak dia, karena kalian bermain tanpa pengaman.” Wyne menghela napas, ini yang dipikirkan, karena setelah dia mengamati foto plakat milik Ricardo, dia jadi tahu kalau sang CEO adalah cucu sulung Gordon. Dia tidur dengan pangeran, apa jadinya jika ketahuan sama Herman?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD