Bab 4 Menggagalkan Rencana Si Adik

1883 Words
Semua mata secara bersamaan menoleh ke sana, dan tampak Wyne berjalan dipapah Sahid dan Kun, lantas dibelakang si nona ada empat ajudan. Gadis itu menggenakan gaun pengantin berwarna baby blue, warna kesukaan dia. Susan dan Imelda terperangah, mengapa Wyne bisa selamat? “Wyne-!” Kate menegur setelah memeluk cucunya itu, lantas diamati sang cucu. “Apa yang terjadi sama Kamu? Kata Sahid, Kamu diculik.” segera memberondong Wyne dengan pertanyaan akibat terlampau cemas. Wyne meraih tangan Kate, “Oma, baiknya, kita ke sana.” Lantas dengan tangan lain menunjuk meja Ijab Kabul, “Karena pengantin Wyne menunggu Wyne.” Ujarnya santai dengan wajah tersenyum sebab melihat wajah Susan kaget melihat dia. “Oke, oke-“ Kate paham, merasa sedikit lega karena Wyne datang, maka Susan tidak bisa menikah sama Herman. Lantas bersama Sahid memapah Wyne hingga ke depan meja penghulu. Sedangkan Kun mendekati Imelda, dan para ajudan mengawal Wyne. Wyne pelan melepas pegangan tangan Sahid, mendekati David yang berdiri dengan menghela napas. Dia tidak perdulikan hal itu, dilalui sang ayah dengan mendekati Gordon. Diraih tangan sang kakek, ditempelkan sejenak ke keningnya, lantas menatap opa bijaksana ini. “Opa-“ ditegur si kakek, “Maaf, Wyne datang terlambat.” Ujarnya minta maaf. Gordon membalas tatapan ini dengan lega. “Syukurlah Kamu datang,” ujarnya sebab tidak ingin Herman menikahi Susan, “Apa yang terjadi sama Kamu, cucuku?” lantas bertanya, “Tadi Opa dengar, Kamu diculik. Siapa yang menculikmu? Apa sudah ditangani hukum?” Susan mendengar semua ini tercekat, tampak wajah dia gelisah. Bagaimana bisa Wyne selamat? Siapa yang menyelamatkan sang kakak? Kate menjadi penasaran, dipegang lengan Wyne. “Wyn!” ditegur cucunya ini, “Sebenarnya apa yang terjadi?” Wyne tidak menjawab, memutar badan ke arah Susan, lantas tersenyum. “Apa kabar adikku?” disapa si adik yang tampak gelisah, “Mengapa Kamu di sini?” perlahan mendekati sang adik, “Bukan kah Herman calon pengantinku?” lantas bertanya dengan raut wajah tenang. Susan terkesiap, wajahnya menjadi kebingungan, tapi.. “Wyn-“ suaranya mulai terdengar, “Kamu kemarin menghilang tanpa bisa dihubungi, sedangkan pernikahan tidak bisa dibatalkan karena undangan sudah disebar, jadi Oma terpaksa memintaku menggantikanmu.” Dipasang wajah cemas agar sang kakak percaya. Mendengar jawaban Susan, mulut Wyne sedikit berseru huruf O, lantas menarik Susan berdiri, dihadapkan ke semua undangan. Herman melihat ini tergesa berdiri, hendak meraih Susan, tapi tangan Gordon terentang menghadangnya. Terpaksa pria ini diam ditempat mengamati Wyne. Saat ini sang gadis tidak memakai kacamata, tampak sangat cantik. Imelda melihat ini menjadi feeling Wyne akan mengatakan peristiwa tersebut, berdiri dari kursinya dan hendak mendekati putri tiri itu, tapi Kun cepat menghadang. “Kamu?” Imelda menatap Kun, “Minggir!” diminta si ajudan minggir. “Nyonya Melda-“ Kun tidak menanggapi, “Baiknya Anda tetap duduk manis.” Imelda menghela napas, tidak bisa memaksa ajudan ini yang tiada takut melawan dia demi melindungi Wyne. Apalagi tampak raut wajah Kun seperti ingin menguliti dia. Sudah tentu, sebab, Kun sangat marah Wyne bisa diculik. Sang ajudan feeling pasti perbuatan dia dan Susan. Plak, plak! Menit berikut dua tamparan keras mendarat di wajah Susan, hadiah dari Wyne. “Wyn?” Susan memegangi kedua pipinya, menatap kaget sang kakak, “Kenapa menamparku?” “Hadiah untuk kejahatanmu.” “Kejahatan apa, Wyn?” David bersuara sebab tidak tahu sama sekali rencana jahat Imelda tersebut, “Kamu kemarin kemana?” dia bertanya kemana si sulung, “Mengapa mendadak datang dan menampar adikmu?” Wyne tidak menanggapi pertanyaan sang ayah yang bernada kesal, mengalihkan pandangan ke Gordon, Kate dan para tamu. “Dia ini-“ satu tangan menunjuk Susan, “Demi bisa menikah sama kekasihnya” ujarnya mengalihkan telunjuknya ke Herman dengan tangan lain, “Berusaha menyingkirkanku.” “Wyn!” Susan terperanjat mendengar ini, “Kamu bicara apa? Mana mungkin Aku melakukan itu, karena Kamu kakakku.” Ditukas semua tuduhan Wyne itu. “Begitu kah?” Wyne mengalihkan pandangan, lantas satu tangannya meraih pucuk dagu sang adik, “Apa Kamu rela Herman kekasihmu menikahiku?” menatap tajam sang adik, “Apa perlu kubeberkan semua saat ini agar kejahatanmu itu terbuka?” Jreng, Susan terkesiap, bagaimana bisa si kakak mengetahui itu. Kedua maniknya bergerak-gerak, tanda dia kebingungan, tapi dia tidak akan mengakui sudah melakukan semua kejahatan atas Wyne. “Aku tidak mengerti Kamu bicara apa,” Susan berusaha mengelak, “Aku bukan kekasih Herman.” Ujarnya berbohong bukan kekasih Herman. “Kamu jangan sembarangan bicara.” “Susan-!” Kate cepat bicara, “Tadi Kamu bilang ke Oma adalah kekasih Herman, merengek minta Oma menjadikanmu pengantin Herman.” Dia ingatkan Susan yang sudah mengaku berpacaran sama Herman, meminta dia nikahkan sama pria itu. Makjleb! Susan tertohok, lantas merutuki diri, mengapa mengaku kekasih Herman ke Kate? Sekarang apa musti membenarkan padahal dia mengatakan ke Wyne, bukan kekasih pria itu. “Wyn!” David cepat menarik Wyne menjauh dari Susan, “Susan benar kekasih Herman, karena dia sudah mengakui itu ke Papa, Bunda, dan Oma.” Ujarnya membenarkan perkataan Kate, “Jadi, Kamu mundur ya.” Diminta si anak tidak menikah sama Herman. “Ooo, tidak bisa, Papa.” Wyne sedikit mengacungkan jari telunjuk dan digoyang sekali, “Dalam undangan tertulis jelas Wyne dan Herman, bukan Susan dan Herman.” Ujarnya mengingatkan apa yang tertera dalam undangan pernikahan, “Wyne sudah datang, maka Wyne dan Herman menikah.” “Tunggu!-“ Herman segera ke hadapan Wyne, “Kamu sudah tahu Aku dan Susan berpacaran, kenapa menginginkan kita tetap menikah.” Ditatap sang nona dengan kesal. “Karena-“ Wyne membalas tatapan itu dengan santai, “Kamu sudah setuju menikah sama Aku, jadi menikahlah sama Aku.” ujarnya mengingatkan Herman setuju menikah sama dia. Herman hendak bicara tapi tangan Susan cepat menyentuh lengannya, membuat dia melihat ke sang kekasih. Adik Wyne ini malah memandang Wyne. “Wyn-“ Susan bicara dengan suara lembut dan senyum di wajah, “Baiklah, karena Kamu sudah datang, maka silahkan Kamu menikah sama Herman.” Ujarnya mengalah, padahal hatinya sakit bukan main berbohong bukan kekasih Herman. “Ckckck-“ Wyne mendecak, “Aktingmu sangat bagus, adikku.” Dia menilai Susan bersandiwara, “Apa Kamu ingin dipandang adik yang pengertian, sehingga kejahatanmu kemarin terhapuskan?” Kate menjadi kebingungan, disentuh lengan Wyne. “Wyn!” ditatap sang cucu yang melihat dia, “Katakan ke Oma, sebenarnya ada apa? Susan benar atau tidak kekasih Herman? Lantas Kamu kemarin kemana?” “Oma-“ Wyne menghela napas, “Susan benar kekasih Herman, dan kemarin dia mengutus orang menculik Wyn.” Ujarnya menjawab pertanyaan Kate. “Susan menculikmu?” Gordon terheran, “Benarkah semua itu?” kedua matanya terlihat kaget. “Tidak benar, Opa!” Susan cepat menukas, “Wyn kakak Susan, mana mungkin Susan menculiknya.” “Begitu kah?” Wyne menjadi sinis ke adiknya, “Kamu terus mengelak, berarti benar dalang penculikan itu kamu.” Dia tersenyum sebab sang adik sedari tadi mengelak, membuat dia semakin yakin si adik pelaku penculikan. Kate cepat mencengkram kedua lengan Susan, diguncang badan cucu kedua ini. “Susan! Katakan semua ke Oma, benarkah itu?” Susan menelan saliva, harus bagaimana sekarang? Jika dia mengatakan, pasti akan malu sekali dan diseret ke jalur hukum. Tapi jika tidak mengaku, Wyne sudah mengemukan dia dalang pelaku penculikan. Mengapa semua jadi berantakan begini? Dilepas kedua tangan nenek ini dari lengannya, dipandang Wyne yang tersenyum puas melihat dia tersudut. “Jika-“ dia bicara ke sang kakak, “Aku dalangnya, maka Kamu mundur dari pernikahan ini. Herman milikku.” Kate mendengar ini terperangah, cepat kembali memegang kedua lengan Susan. “Jadi benar Kamu dalangnya?” “Oma-“ Susan menatap si nenek, “Apa salah kalau Susan menyingkirkan Wyn si pelakor?” lantas memberi pertanyaan ke oma, “Dia merebut Herman dari Susan!” “Mana kutahu-“ Wyne menyela cepat, “Kamu pacaran sama Herman selama ini?” dibela diri sendiri, “Jadi Kamu tidak bisa menyebutku pelakor.” “Kamu memang pelakor!” Susan menoyor d*** Wyne dengan jari telunjuknya, “Buktinya, Kamu tidak mau mundur dari Herman.” “Siapa suruh-“ Wyne membalas menoyor d*** si adik dengan jari telunjuk tangan kiri, “Kamu merahasiakan hubunganmu saat Oma ketuk palu menjodohkanku sama Herman?” “Apa bisa kukatakan saat Oma sudah bersabda?” Susan menunjuk-nunjuk d*** Wyne dengan raut wajah kesal. “Lantas sekarang, Kamu gagal menyingkirkanku, apa tetap ingin menikah sama Herman?” Wyne mengibas jari telunjuk si adik yang masih menunjuk-nunjuk d*** dia, “Kamu sudah mengakui kejahatanmu yang menculikku kan?” Makjleb, Susan terhenyak, lantas tampak geram. Karena terus di desak, dia membongkar kejahatannya sendiri. Segera saja dia meraih tangan Herman, ditatap memelas. “Herman, Aku melakukan ini agar kita menikah.” “Kita menikah?” Herman menghentak tangan kekasihnya, memasang wajah kesal, “Benar kata Wyn, jika di awal Kamu mengatakan hubungan kita sama Oma Kamu, pasti Oma Kamu memutuskan kita menikah.” Ujarnya setuju dengan perkataan Wyne. “Apa Kamu mengatakan hubungan Kita sama Opa Kamu?” Susan memberi pertanyaan, “Tidak Herman, tidak kan?” dilanjutkan perkataannya sebelum sang kekasih memberi jawaban, “Kamu setuju menikah sama kakakku!” “Sudah-!” terdengar seruan lantang Wyne menengahi, lantas menghadap Gordon dan Kate, “Opa, Oma-“ ditegur kakek dan nenek itu, “Tolong kalian menikahkan Herman dan Wyn, sesuai rencana semula.” “Tunggu dulu!” Susan cepat menyergah, “Herman!” lantas segera pula berseru ke Herman yang tampak menghela napas, “Kamu tetap menikah sama Wyn?” Sang kekasih kembali menghela napas, “Iya, Susan, karena Opa dan Oma Kate dari awal menjodohkanku sama Wyn.” Susan terperangah, “Kalau Kamu tetap menikah sama Wyn, Aku akan bunuh diri di depanmu saat ini.” Lantas terdengar suara tepukan tangan sebelum Herman menanggapi. Plok, plok, plok! Kemudian Wyne bicara. “Wow!” serunya memandang Susan dengan wajah tersenyum geli, “Aktingmu luar biasa, adikku!” dipuji acting sang adik demi mencegah Herman menikah sama dia, “Tanganmu tergores gunting kuku saja sudah menjerit panic, sekarang mau bunuh diri depan kekasihmu?” dibeberkan siapa sang adik yang takut meninggal. “Jangan mengejekku-“ wajah Susan langsung masam, “Aku serius akan bunuh diri kalau Herman menikahimu!” kedua tangannya berkacak pinggang dan wajah mendongak sombong. “Oke-“ Wyne paham, lantas beranjak ke meja prasmanan, diambil satu gelas bertangkai, dipecahkan ke meja, baru kembali ke hadapan si adik, disodorkan pecahan gelas tersebut, “Silahkan adikku.” Ujarnya, “Sayat nadimu dengan pecahan gelas ini.” Susan menelan saliva melihat pecahan gelas itu. Terbayang lah jika nadi venanya putus karena disayat pecahan tersebut. “Wyne!” David terkaget sampai menjerit menyebut nama Wyne, “Kamu keterlaluan!” diacungkan jari telunjuk tangan kanan ke si anak, “Kamu menyuruh adikmu bunuh diri!” “Dia yang mau bunuh diri, Papa!” Wyne menukas dengan gesture tubuh santai, “Jadi kita semua lihat benarkah dia yang takut meninggal mau bunuh diri.” Dijelaskan mengapa memberi pecahan gelas ke sang adik, lantas membuat gagang pecahan gelas ditangan si adik, “Silahkan adikku!” dipersilahkan si adik untuk bunuh diri, “Buktikan kalau Kamu memang mau bunuh diri.” Wajah Susan tampak ketakutan, haruskah dia bunuh diri? Kedua mata dia melihat ke Herman. Terlihat si kekasih mengamatinya, bukan mencegah dia untuk tidak melakukan apa yang Wyne suruh. Lantas dia mengalihkan pandangan ke sekitar, semua mata memandangnya, menunggu aksi dia bunuh diri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD