11. GANENDRA DAN OBSESINYA

1287 Words
Happy Reading ^_^ *** Ganendra sedang sibuk-sibuknya saat sang sekretaris masuk ke ruang kerjanya dan menyodorkan sebuah map bertuliskan nama yang familiar. Lentera Hadiyata. Tanpa pikir dua kali dia langsung mengabaikan berkas bernilai milyaran yang sedang ditinjaunya untuk fokus pada dokumen milik Lentera. Dia mengamatinya dengan serius. "Tidak ada yang lain?" Rasa tidak puasnya dia sampaikan dengan meletakkan dokumen milik Lentera ke atas meja begitu saja. Ganendra memutar kursinya hingga pemandangan sore dari lantai teratas kantornya terpajang di depan matanya. Pikirannya berkelana jauh. Tapi satu yang pasti—semua itu tentang Lentera. "Tidak ada yang lain, Tuan. Sejauh ini hanya inilah berita Nona Lentera yang terbaru. Tidak ada yang tahu sebanyak apa yang mereka sembunyikan." "Kalau begitu jangan hanya berfokus pada Lentera. Selidiki juga orang terdekatnya. Pasti ada alasan yang masuk akal sampai Lentera berpura-pura hilang ingatan di depan keluarganya. Terutama suami yang sangat dicintainya." "Kalau tentang Argani Rahadyan, anda sendiri tahu bahwa dia berselingkuh dengan Virsha. Dan kalau tebakan kita benar, sepertinya kecelakaan Nona Lentera disebabkan karena dia menangkap basah perselingkuhan sang suami dan perempuan itu. Hal ini cukup masuk akal mengingat Nona Lentera kecelakaan saat mengemudi dan tidak ada berita apa pun tentang hal tersebut." "Jadi ini murni balas dendam karena diselingkuhi? Tapi kenapa aku merasa ada alasan yang lebih kuat dari ini?" gumam Ganendra yang seperti untuk dirinya sendiri. "Hanya Nona Lentera yang tahu alasannya." "Kalau begitu aku harus semakin gencar mendekati Lentera untuk tahu alasannya. Aku harus tahu. Harus." tekad Ganendra dengan sungguh-sungguh. "Sebenarnya apa yang anda rencanakan? Anda ingin mendapatkan Nona Lentera lagi?" selidik sang sekretaris dengan hati-hati. "Kata 'lagi' terdengar tidak cocok untuk digunakan karena pada dasarnya aku tidak pernah mendapatkan Lentera. Dia menolak aku secara mentah-mentah bahkan sebelum kami memiliki hubungan serius." "Jadi ini hanya obsesi anda?" Ganendra bangun dari duduknya. Dia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku. Tatapannya tetap tertuju pada gedung-gedung tinggi yang berseberangan dengan kantornya. "Terobsesi? Entahlah. Tapi yang jelas aku ingin tahu hal apa saja yang menimpa perempuan yang sudah menolak aku. Aku penasaran sekali." Ganendra berbalik. Dia menarik laci di sisi kanan mejanya lalu meletakkan dokumen pribadi Lentera di situ. Dan ya, dokumen pribadi Lentera bersatu dengan kumpulan foto Lentera yang tak terhitung jumlahnya. "Selidiki Arga seperti perintahku. Dan Virsha juga. Jangan sampai kamu melewatkan sesuatu." "Baik, Tuan." "Apa ada yang mau kau lapor lagi?" "Oh iya, Nyonya Destine menitip pesan untuk anda. Katanya beliau sudah berada di rumah utama dan ingin anda datang untuk makan malam bersama." Ah, istrinya. "Kalau begitu aku harus pulang sekarang. Apa ada hal lain lagi?" "Tidak ada, Tuan." *** "Kamu sudah datang? Duduklah. Makanan akan disajikan sebentar lagi." Ganendra mengangguk sekilas. Ia melepas jas, lalu melonggarkan simpul dasi yang dipakainya. Kemudian ia duduk di kursi yang berseberangan dengan sang istri, Destine Wiyono. "Akhirnya kamu datang, Ganendra. Mama dan Papa pikir kamu baru akan datang kalau terjadi sesuatu pada kami." Itu sindiran. Dan hal ini tergolong wajar karena Ganendra memang jarang sekali pulang ke rumah kedua orangtuanya. Ya, inilah rumah utama yang dimaksud sang sekretaris. Meski sudah menikah dengan Destine, tapi dia dan sang istri memang tidak punya rumah permanen. Keduanya memilih tinggal di apartemen karena dianggap lebih praktis dari segi lokasi dan juga fungsi. "Mama dan Papa berlebihan. Tanpa ada sesuatu yang terjadi aku tetap akan berkunjung. Tapi memang tidak bisa sering karena aku sibuk bekerja." jawab Ganendra kalem. Raut wajahnya tampak datar seperti biasanya. "Tapi untuk yang satu ini aku memang punya sesuatu untuk dibicarakan. Dan ini penting." "Ganendra, please. Bahkan makan malam pun belum disajikan." Destine menyela karena merasa tidak nyaman dengan sikap Ganendra yang begitu to the point. Sebenarnya dia tidak masalah, tapi mertuanya akan terkejut dengan apa yang akan mereka sampaikan dengan dalih makan malam bersama ini. "Lebih cepat lebih baik, Destine. Ingat, aku sudah menahannya lumayan lama." "Setidaknya tolong tahan sebentar lagi." "Kalian berdua—stop!" Ibu Mertua Destine -Deliana Tanaka- memotong perdebatan anak dan menantunya dengan sebal. Bukan ini yang dia harapkan dengan ajakan sang menantu untuk makan bersama. Dia membayangkan sebuah acara yang hangat dan mungkin juga sedikit berita bahagia. Misalnya, berita tentang cucu. Tapi jangankan hadirnya seorang cucu, anak dan menantunya pun tidak begitu harmonis. Deliana Tanaka menghela napas lemah, begitu juga dengan sang suami. "Duduk semua. Dan jelaskan apa yang sebenarnya sudah kalian tahan lumayan lama." Suara tenang Edwand Tanaka mengambil alih topik pembicaraan. Dan persis seperti perintahnya, semua orang pun duduk di kursinya masing-masing. "Ganendra?" "Aku dan Destine akan bercerai. As soon as possible." "Ganendra, jangan bercanda!" Deliana memotong dengan cepat. Dan tentunya dengan rasa tidak terima karena Destine adalah menantu kesayangannya. Pintar memasak, begitu berwibawa, dan sangat menghormati suaminya terlepas bagaimana pun sikap Ganendra—bagaimana bisa istri semacam ini diceraikan? Destine tidak bersalah. Ganendra-lah yang salah. "Aku tidak bercanda, Ma. Ini adalah keputusan kami berdua. Tolong hargai keputusan ini." "Jangan bohong, ini pasti keputusan kamu. Destine adalah istri yang baik, bagaimana bisa kamu menceraikannya begini, hah?" tuding Destine dengan intonasi yang naik satu oktaf. Daripada anaknya, ia lebih percaya pada menantunya. "Destine memang istri yang baik, tapi bagaimana kalau keputusan ini diawali dengan permintaan Destine sendiri? Dia yang pertama kali mencetuskan hal ini." "Tidak mungkin—Destine, sayang..." Di seberang Ganendra sosok Destine tampak memeras kedua tangannya yang berada di bawah meja. Dia gugup. Tapi ini adalah salah satu fase yang harus dilewatinya agar ia tidak kehilangan dirinya sendiri. Setelah memantapkan diri, barulah Destine memberanikan untuk menatap mata sang mama mertua yang begitu sayang padanya tersebut. "Ma, maaf..." lirihnya. "Keputusan ini memang berasal dari aku. Aku memang yang pertama kali meminta cerai pada Ganendra. Jadi, please, Mama dan Papa hargai keputusan ini." Bahkan dalam kondisi seperti ini suara Destine tetap terdengar sopan dan lembut. Ibu Ganendra semakin gencar melemparkan tatapan tajamnya. "Katakanlah kamu yang meminta cerai, tapi semua ini pasti karena Ganendra. Dia pasti menyakiti kamu. Iya kan, sayang?" Destine menatap Ganendra dengan perasaan tidak nyaman. Di saat emosinya begitu membuncah, sosok Ganendra tetap sedatar biasanya. Dalam hati Destine bertanya-tanya apakah sebenarnya dia memang menikahi seorang pria tanpa perasaan? Entahlah. Dan inilah salah satu alasan yang membuat Destine mantap untuk berpisah. Dia tidak bisa bersama dengan pria yang tidak punya perasaan apa pun padanya. Dia hanya akan terluka kalau terus memperjuangkan pria tersebut. "Tidak peduli siapa yang menyakiti siapa, tapi yang jelas rumah tangga kami memang tidak bisa diselamatkan. Berpisah akan jauh lebih baik daripada bersama. Kami... hanya akan saling menyakiti." "Destine... bertahanlah, please? Demi Mama?" Deliana Tanaka memohon. "Aku tahu Mama menyayangi aku. Mama peduli pada aku. Tapi kalau Mama meminta aku bertahan—aku benar-benar tidak bisa. Ini sama dengan menyiksa aku dalam pernikahan yang tak bertujuan ini." Deliana terisak. Sementara itu sosok Destine tampak merana karena sudah menyakiti Mama mertuanya. Rasa-rasanya seperti sudah menyakiti Mama kandungnya yang sudah tiada. Tapi mau bagaimana lagi? Ia juga ingin terbebas dari belenggu pernikahan yang tidak bahagia ini. "Ganendra!" seru Deliana dengan sebal. "Lihat! Lihat! Kamu menyakiti seorang perempuan yang baik. Kamu benar-benar jahat!" "Aku minta maaf." Destine tahu sang suami tidak pernah serius pada permintaan maafnya. Bahkan permintaan maafnya saat ini pun tetap tidak berasal dari hatinya. Dia... benar-benar mengerikan. Dan hal ini semakin memperkuat Destine untuk bercerai. Dia tidak tahan lagi. "Tapi aku janji untuk memberikan kompensasi yang layak. Aku tidak akan membuat dua tahun yang Destine habiskan untuk menjadi istri aku menjadi sia-sia." Dan ini lebih menyedihkan lagi, batin Destine merana. Seolah-olah dia perlu harta saja. "Sudahlah. Kita sudahi saja obrolan ini. Mari kita makan." seru Destine dengan suara serak menahan tangis. Dia berusaha seceria mungkin mesti hatinya compang-camping. Padahal—demi Tuhan, siapa juga yang masih nafsu makan di momen ini? Tidak ada. Semua orang berkelut dengan pemikirannya masing-masing. TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD