1.LOVE YOU PAK KOS
Di tengah riuhnya tawa Bayu dan omelan Pak Kos yang tidak terima dibilang mirip kuaci, suasana kontras justru terjadi di pojok lorong kost, tepat di depan kamar Adi. Adi duduk termenung di atas ubin semen yang dingin, menatap layar ponselnya dengan pandangan kosong. Matanya panas, dan dadanya terasa sesak oleh sebuah pesan singkat yang baru saja masuk dari kekasihnya, Sinta.
"Kita putus aja ya, Di. Aku capek. Tiap kali diajak nonton bioskop ada aja alasannya. Minggu lalu sibuk tugas, minggu ini mager. Kamu sebenernya masih sayang sama aku atau emang udah nggak niat pacaran?"
Jemari Adi bergetar di atas layar, mengetik balasan yang akhirnya ia hapus kembali. Ia ingin sekali berteriak dan jujur bahwa alasannya menolak bukan karena ia bosan, malas, atau tidak lagi sayang. Alasan sebenarnya jauh lebih menyakitkan dari itu.Adi tidak punya uang!
Untuk ukuran mahasiswa rantau dengan kiriman bulanan yang sering kali mengalami keterlambatan dari kampung halaman, uang lima puluh ribu rupiah untuk sepasang tiket bioskop dan parkir adalah sebuah kemewahan yang mustahil disentuh. Bagi Adi, uang sebesar itu setara dengan jatah makan selama beberapa hari ke depan di kostan. Jangankan untuk gaya hidup menonton film di mall, untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari saja Adi harus benar-benar menerapkan sistem ekstra hemat yang menyiksa lambung. Ia dan Bayu bahkan sudah terbiasa membagi satu bungkus mi instan menjadi dua porsi demi bisa bertahan hidup sampai akhir bulan.
"Sin... maaf," gumam Adi lirih, akhirnya memilih pasrah dan tidak mengirimkan pembelaan apa pun. Ia tahu, menjelaskan kondisinya yang pailit hanya akan membuatnya terlihat semakin menyedihkan di mata gadis itu. Patah hati pagi ini terasa begitu nyata, berbaur dengan rasa bersalah karena ketidakmampuannya secara finansial.
Itulah sebagian scene sebelum mereka terlelap tidur, melupakan sejenak kepenatan dan konflik lainnya, sampai dimana waktu kembali menyadarkan mereka...
"BAYU! ADI! Bangun! Itu nyawa kalian masih ketinggalan di bantal atau sudah hanyut di selokan depan? Bangun, hei! Ini sudah jam tujuh lewat, matahari sudah naik setinggi jemuran celana kolor kalian!"
Suara cempreng nan menggelegar itu bukan berasal dari pengeras suara masjid, melainkan dari mulut Pak Koswara atau yang lebih akrab dipanggil Pak Kos. Pria paruh baya dengan gaya nyentrik mengenakan sarung yang diselempangkan di bahu layaknya sayap pahlawan kesiangan itu sedang sibuk menggedor pintu kamar cowok dengan gagang sapu ijuk.
"Aduh, Pak Kos... lima menit lagi. Tadi malam habis ngerjain tugas kalkulus sampai subuh," gumam Adi dari dalam kamar, suaranya parau khas orang yang baru sadar dari koma, padahal semalam dia cuma nangis dipojokan, ya nangisin Sinta.
"Halah! Kalkulus apa kal-kalah main game?" balas Pak Kos sambil terus menggedor. "Cepat keluar! Kalau dalam tiga menit pintu ini tidak terbuka, Bapak siram pakai air bekas cucian piringnya si Rina tadi malam! Biar kalian tahu rasanya bau amis ikan sarden yang nempel di badan!"
Pintu kamar terbuka perlahan. Bayu muncul dengan rambut yang lebih mirip sarang burung tertiup badai. Matanya masih terpejam sebelah. "Pak, kejam amat sih. Masa air sarden? Itu namanya pelanggaran HAM, Pak."
"HAM HEM HAM HEM! Perut Bapak yang lebih butuh HAM sekarang, bayar uang bulanan sudah telat tiga hari kamu, Yu!" Pak Kos berkacak pinggang, tapi matanya berbinar jenaka. "Sana, cuci muka. Itu si Rina, Maya, sama Sari sudah di ruang tengah lagi bagi-bagi 'harta karun'."
Mendengar kata 'harta karun', Bayu dan Adi langsung melek total. Harta karun di Kost Pak Kos cuma berarti satu hal Pak Kos baru saja pulang dari pasar atau dapet kiriman makanan dari keluarga di kampung.
Di ruang tengah yang sekaligus berfungsi sebagai ruang tamu, ruang makan, dan tempat deep talk saat dompet kering, tiga perempuan "Geng Somplak" sudah berkumpul.
Rina, mahasiswa kedokteran yang selalu kelihatan kurang tidur, sedang sibuk memilah-milah kantong plastik hitam. Maya, sang mahasiswi desain grafis yang tangannya selalu penuh noda cat, sedang memegang kerupuk kaleng dengan tatapan penuh pemujaan. Sedangkan Sari, si bungsu yang baru semester dua, sibuk menata gelas plastik.
"Wah, Bapak bawa gorengan ya?" tanya Rina sambil mengendus aroma bakwan yang menggoda iman.
"Iya, itu tadi Bapak lihat tukang gorengan di depan pasar lagi dikerumuni ibu-ibu. Bapak terobos saja, demi anak-anak Bapak yang mukanya sudah mirip pengungsi kurang gizi ini," sahut Pak Kos sambil duduk di kursi plastik favoritnya yang sudah agak miring.
"Pak Kos emang malaikat tanpa sayap, tapi pakai sarung," puji Maya tulus sambil mengunyah bakwan yang sudah dingin.
"Malaikat-malaikat... kalau sudah makan jangan lupa itu piring dicuci! Kemarin siapa yang ninggalin piring di wastafel sampai berlumut? Siapa? Ngaku!" Pak Kos mulai lagi mengomel.
"Bukan saya, Pak! Itu Bayu semalam makan mi instan dua bungkus tapi piringnya cuma direndam," tuduh Adi yang baru saja bergabung.
"Enak aja! Gue rendam biar keraknya hilang, Di! Itu namanya strategi pencucian efektif," bela Bayu tak mau kalah.
Pak Kos geleng-geleng kepala. "Strategi... strategi... kalian ini mahasiswa, otaknya dipakai buat belajar, bukan buat nyari cara malas nyuci piring. Itu air PDAM Bapak bayarnya mahal, kalian rendam-rendam itu piring, airnya jalan terus, tagihannya ikut naik! Kalian mau Bapak jual ginjal buat bayar air?"
"Ya jangan ginjal Bapak, mending ginjalnya Bayu aja, kan masih muda," celetuk Sari polos, yang langsung disambut lemparan rempeyek dari Bayu.
Kehidupan di Kost Pak Kos memang unik. Pak Koswara bukan sekadar pemilik kost dia adalah manajer, pelatih mental, sekaligus musuh bebuyutan di tanggal tua. Kost-an dua lantai berwarna hijau pudar itu menjadi saksi bisu betapa kreatifnya anak muda kalau sudah terdesak urusan perut.
"Pak," puji Rina tiba-tiba dengan nada suara yang sengaja dilembutkan. "Bapak hari ini kelihatan gagah banget deh. Sarungnya baru ya?"
Pak Kos langsung menyipitkan mata. Dia sudah hafal luar kepala gelagat ini. "Gak usah puji-puji. Mau minta apa? Nunggak uang kost lagi? Atau mau pinjam motor Bapak buat ke kampus?"
"Hehe... itu, Pak. Motor saya bannya bocor, belum sempat ditambal karena... ya Bapak tahu sendiri, saldo ATM saya cuma cukup buat beli cilok," aku Rina sambil nyengir.
"Ya Gusti... punya anak kost lima, gak ada yang bener satu pun," keluh Pak Kos, tapi dia tetap merogoh saku celananya dan melemparkan kunci motor Supra kesayangannya ke atas meja. "Pakai! Tapi isi bensinnya! Jangan dikasih napas doang itu tangki motor Bapak. Kemarin si Adi pakai, pas Bapak pakai ke pasar, motornya mati di tengah jalan. Ternyata bensinnya tinggal setetes, lebih kering dari tenggorokan orang puasa!"
"Maaf, Pak! Kemarin buru-buru ada kuis!" teriak Adi dari kejauhan sambil sibuk memakai sepatu yang solnya sudah mulai menganga.
"Sepatu kamu itu juga! Lem pakai nasi kalau nggak punya uang beli lem! Malu-maluin Kost Pak Kos saja kalau kamu jalan bunyi 'plok plok plok' kayak bebek lewat," omel Pak Kos lagi.
Meskipun mulut Pak Kos tidak pernah berhenti berceloteh, semua anak kost tahu bahwa itu adalah bentuk kasih sayangnya. Saat Maya sakit tipus bulan lalu, Pak Kos-lah yang paling sibuk membuatkan bubur hambar yang katanya "resep leluhur" meskipun rasanya lebih mirip pasta gigi.
"Eh, nanti sore kita masak bareng yuk?" usul Maya. "Gue punya sisa telur dua butir."
"Gue ada mi instan rasa soto tiga bungkus," tambah Sari.
"Gue punya kecap sama bawang putih," timpal Adi.
"Oke, fiks! Kita bikin 'Orak-Arik Kelaparan' ala Geng Somplak," seru Bayu semangat.
Pak Kos yang sedari tadi mendengarkan hanya bisa mengurut d**a. "Kalian ini benar-benar ya. Masak kok cuma telur dua buat berlima. Itu namanya bukan makan, cuma nyicip! Sini, nanti sore Bapak belikan kangkung dua ikat sama tempe papan. Tapi syaratnya satu..."
"Apa, Pak?" tanya mereka serempak.
"Si Bayu sama Adi harus potong rumput di halaman depan! Sudah tinggi-tinggi itu rumput, kalau ada ular naga bersarang di situ Bapak nggak tanggung jawab!"
"Siap, Bos!" Bayu dan Adi memberi hormat secara serentak.
Pagi itu, di bawah atap kost yang catnya mulai mengelupas, tawa pecah di antara omelan Pak Kos. Bagi Rina, Maya, Sari, Bayu, dan Adi, Kost Pak Kos bukan sekadar tempat bernaung. Tempat ini adalah medan perang untuk bertahan hidup dengan budget minimalis, tempat mereka belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari saldo ATM yang penuh, tapi dari sebungkus gorengan yang dibagi berlima dan omelan seorang bapak kost yang tak pernah lelah mengingatkan mereka untuk bangun pagi.
"Sudah! Sana berangkat kuliah! Jangan sampai dosen kalian nungguin, nanti dikira kalian sudah diangkat jadi asisten malaikat maut karena nggak muncul-muncul!"
Suara Pak Kos menutup ritual pagi itu, mengiringi langkah kelima anak kost tersebut menyongsong kerasnya dunia perkuliahan, dengan perut yang setidaknya sudah terisi bakwan dan hati yang penuh dengan cerita konyol lainnya.
Tepat saat Pak Kos membuka pintu pagar untuk anak-anak kostnya, sebuah mobil taksi berhenti di depan kost. Pintu taksi terbuka, dan turunlah seorang gadis membawa koper besar. Gadis itu adalah Sinta, mantan pacar Adi yang baru saja memutuskan hubungannya dengan Adi semalam!
pak Kos dan anak-anak geng somplak terkejut, semua mengarahkan pandangan ke Adi yang sudah mematung sejak awal.
Ternyata alasan Sinta memutuskan Adi bukan sekadar karena bioskop, melainkan karena ia sengaja pindah ke kost yang sama mungkin dipindahkan orang tuanya atau ada alasan rahasia lain.Entahlah...