Part 8

1067 Words
" Nomor rekeningnya memang benar milikmu. Mau berkilah apa lagi?." Kata Rio dengan sewot sambil membanting berkas ditangannya. Dia seolah terkena karma sejak menduakan Lila. Matanya nanar menatap punggung lelaki berbadan tegap yang tengah membuka pintu mobilnya. " I...itu aku ngga tahu mas. Direkeningku ngga ada uang sebanyak itu. Tidak pernah ada uang masuk sebanyak itu. Percaya sama aku mas. Buat apa juga aku jual mobil itu?. Tidak ada alasan yang penting." Kata Ayu membela diri. " Bagaimana mungkin ini tidak masuk ke rekeningmu. Jelas - jelas ini masuk ke rekeningmu, disini tertulis transaksi berhasil. Argh...bikin malu saja. Pakai transaksi di warung segala. Orang - orang akan berpikir suamimu ini jatuh miskin sampai menjual mobil. Masuk sana ke belakang. Buatkan aku minum. Pusing kepalaku kalau seperti ini" Ayu bergegas ke belakang membuatkan pesanan Rio. Secangkir kopi s**u kesukaan sang suami. " Sudahlah, Rio. Ini resiko mempunyai dua istri. Satu sama lain akan saling iri. Mungkin istrimu ingin mempunyai barang seperti milik Lila namun uangnya belum cukup. Mobil pribadi misalnya. Ini tugasmu agar adil. Tidak hanya masalah nafkah lahir tapi nafkah batin juga harus seimbang dan adil." Kata Arfan menasehati tapi hanya ditanggapi dengusan oleh Rio. " Lila memang punya mobil, tapi ngga pernah dia pakai. Lila taunya hanya duduk manis dan aku yang menyetir. Malah mobil yang dia punya aku yang sering pakai. Karena mobilku dipakai Ayu kemana - mana." Jawab Rio. Arfan menunjuk ke parkiran ketempat mobil yang sekarang mulai melaju menjauh. " Mobil itu milik Lila?." Rio menggeleng sambil menatap nanar mobil yang mulai menghilang jauh itu. " Itu mobilku. Hari ini aku tidak membawa mobil Lila. Bannya kempes tadi pagi. Biasanya aku dan Ayu membawa mobil sendiri - sendiri." Jawab Rio sambil menjambak rambutnya. " Aku pulang dulu masih banyak agenda dan kerjaan yang harus aku kerjakan. Kuncinya lebih baik kamu minta ijin pada Lila apapun itu. Karena ridhonya berguna untukmu." Arfan beranjak berdiri lalu mengeluarkan sejumlah uang untuk membayar minuman yang tadi dia pesan. " Aku pulang dulu atau kamu mau ikut denganku?. Daripada kalian naik ojek. Toh sebentar lagi warung tutup." Ayu yang kebetulan sudah kembali duduk di samping Rio menyenggol lengan sang suami. " Akh, iya. Kami ikut kalau tidak merepotkanmu." ** Byur..... Byur..... Arghhhhhh " Mas, bauu!." Teriak Ayu saat guyuran air selokan mampir ke wajahnya. Tepat di saat dia hendak membuka pintu gerbang rumah. " Br**ngs*k siapa yang melempar air comberan. Bau banget." Maki Rio sambil memandang sekitar. Teriakan Ayu dan Rio menggema di halaman. Beberapa tetangga yang berada di luar bukannya membantu justru tertawa terbahak. " Pelakor sama pemuja selengki ketimpa s**l. Mandi air comberan." Arfan yang kebetulan belum terlalu jauh melihat keadaan Rio dan Ayu sambil menggelengkan kepala. Beberapa tetangga terlihat mengabadikan momen itu dalam gawai mereka. " Kasihan" Ujar Arfan sambil menekan pedal gas. Dari balik tirai, Lila tersenyum sumir. Rio terlihat memaki beberapa orang berseragam oranye dan para tetangga yang sedang kerja bakti membersihkan got. Rio berkali - kali memutar handle pintu namun gagal. Pintu itu bahkan tak bergeming sama sekali. Ayu dan Rio memilih mundur dan berteriak memanggil Lila. Byuuur..... Byuuurrr.... Huaaaah huaaaah Suara tertawa ibu - ibu komplek semakin nyaring terdengar, saat untuk kedua kalinya Rio dan Ayu terguyur air. Rio dan Ayu mendongak ke lantai atas. Terlihat Kamto dan Ridwan membawa dua ember besar terbahak sambil menunjuk ke arahnya. " Jangan sampai kalian masuk rumah dalam kondisi seperti itu. Bau busuk. Sebusuk kelakuan kalian." Teriak Kamto sambil berkacak pinggang. " Masih untung aku guyur air bersih. Buruan bersihkan badan kalian. Awas kalau sampai lantai rumahku kotor. Lila sudah membersihkannya tadi." Teriak Kamto kemudian. " Eh, bapak guyur pakai air bersih?." Rara berbisik pada sang ayah. " Iya, kenapa?." Rara dan Ridwan menyeringai. " Punya kami tadi air merica campur jus cabe rawit. Sisa nyuci blender sambel tadi pagi. Sedikit kok pak." Terbahak ketiganya tertawa terutama saat dari bawah Ayu berteriak kepedesan. ** Rio masih menyeka wajahnya dengan handuk. Langkah mantap ke arah ruang tamu tempat Lila sedang bersantai. Dia menatap Lila yang sedari tadi sibuk membaca majalah. Perlahan dia mendekati istrinya itu lalu menyenderkan kepala di bahu Lila. Lila hanya diam. Rio meraih majalah yang dipegang Lila dan meletakkannya di meja. Tanpa komando Lila beranjak pergi membuat Rio yang bersender di bahunya terjatuh dan kepalanya membentur ujung kursi kayu. " Ya ampun, dek. Sakit lho ini. Beneran." Lila menoleh dan memandang tajam Rio seakan mengatakan 'Sakit mana dengan pengkhianatanmu.?' Rio hanya dapat menelan ludah melihat tatapan bengis sang istri. Lila yang melihat Ayu berjalan ke arahnya seketika berhenti, membiarkan Rio meraih tangannya. Rio yang melihat Lila diam menjadi jumawa. Dibawanya Lila duduk di meja makan. " Nanti malam mas tidur di kamarmu ya, dek. Biar adil. Sudah dua bulan lho, mas ngga ditemeni bidadari surgaku." Ucapnya sambil mengecup kening Lila. Lila mencembikkan bibir sambil melengos memiringkan wajahnya. Andai tidak ada Ayu, tak sudi dia disentuh buaya buntung macam Rio. Ayu yang melihat pemandangan itu menghentakkan kaki. Dia meraih bantal di atas sofa lalu melemparnya ke arah Lila. Lila dengan sigap menghindar sehingga bantal itu justru mendarat di wajah Rio. " Apa - apaan sih kamu?." Bentak Rio pada Ayu sambil mengusap wajahnya. " Eh, mas. Ngapain pakai mesra - mesraan di sini?. Mikir donk perasaan aku. Sakit hatiku tahu. Masuk kamar kek, kemana kek." Teriak Ayu sambil berurai air mata. ' Dasar buaya betina. Pake sok - sokan nangis.' Batin Lila. " Lha elu harusnya lebih mikir. Kedatanganmu aja bikin mbak Lila lebih sakit hati. Belum lagi sikap sok manjamu itu. Sok - sokan playing victim." Teriak Rara dari dalam kamar. Rupanya gadis itu mengintip sejak tadi. Dia tahu kakak iparnya tidak akan menjawab sepatah kata pun. Mendengar ucapan iparnya, Ayu justru bertambah marah. Terlebih Rio tidak membelanya. Dia merasa harus dinomor satukan karena dia tidak mandul. Dia yang akan membuat Rio menjadi lelaki sempurna. Ayu berjalan cepat tangannya berusaha meraih rambut Lila. Gerakannya terhenti saat dengan satu tangan Lila menahannya. Tangan Lila menggenggam pergelangan tangannya dengan kuat. Matanya menyorot tajam penuh ejekan ke arah Ayu. " Lepasin, ayo duel kalau berani." Teriak Ayu sambil berusaha menendang Lila. Tubuh Lila melengkung kebelakang saat kaki Ayu berusaha mendarat di perutnya. Satu gerakan cepat membuat tangan Ayu terpelintir kebelakang. " Yu, berhenti. Percuma kamu lawan Lila." Teriak Rio. Wajahnya memucat, dia memang tidak tahu jika istrinya bisa bela diri. Namun dia tahu didikan kedua orang tua dan kakaknya membuat Lila menjadi pribadi yang kuat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD