Part 9

1075 Words
Argh...... Teriakan Ayu terdengar hingga ke dapur. Lila dan yang lain hanya melirik ke arah pintu kamar Rio lalu melanjutkan sarapan mereka. Entah dimana Rio berada karena tak terdengar suaranya sama sekali. " Mas, ini kalungnya kok ngga ada. Beneran ini ngga ada. Maling ini pasti yang ambil. Kamarku pasti dimasukin maling!." Teriakan Ayu terdengar dari kamar yang tertutup itu. Brak...... Dengan kasar Ayu membuka pintu kamarnya. Ayu bergegas menghampiri Lila sambil menunjuk wajah Lila. Kentara terlihat dia menahan emosi. " Kamu kan pencurinya. Kamu iri karena aku dibelikan satu stel perhiasan berlian sama mas Rio untuk mas kawin. Sementara kamu dulu hanya uang satu juta rupiah.Kembalikan perhiasan ku. Itu mahar dari mas Rio." Teriak Ayu sambil terengah - engah. Rio justru terlihat panik dan berusaha menarik Ayu kembali ke kamar. Lila mengernyit mendengar ucapan Ayu. Istri kedua Rio itu mengeluarkan gawainya lalu menunjukkan gambar perhiasannya. Rio berkali - kali berusaha menahan tangan Ayu agar tidak menunjukkan gambar berlian itu. " Lihat!. Ini perhiasannya. Kamu bahkan tidak memilikinya. Ini perhiasan mahal tahu ngga?." Rara melongok memandang gambar di gawai Ayu lalu beralih memandang kakak iparnya. Seringai terlihat dari bibirnya. " Mbak, ini bukannya kalung berlian mbak ya?. Warisan dari kakeknya mbak Lila. Inikan limited edition, sudah ngga ada yang produksi model begini. Jadi ini yang maling siapa?. Kok sepertinya maling teriak maling ya?. " Lila tersenyum sumir lalu mengangguk. Rio terlihat salah tingkah saat melihat Lila memperlihatkan surat dan foto perhiasan miliknya. Sementara Ayu mulai pias wajahnya. Mata Rio membelalak saat melihat satu surat laporan kehilangan yang ada di tangan Lila. Tangannya bergerak cepat hendak merampas berkas itu namun cekalan tangan Kamto membuatnya terhenti. " Jadi benar kamu yang mencuri perhiasan Lila hanya demi menyenangkan gundikmu ini?. Mau kamu robek juga percuma. Surat itu sudah masuk ke kepolisian. Pilihannya hanya dua. Kembalikan perhiasan itu utuh atau kalian silahkan tidur di penjara." Tukas Kamto tegas. Ayu dan Rio seolah kehilangan suara mereka mendengar gertakan Rio. " Tapi perhiasannya hilang, pak. Kemarin masih ada di kamar. Ayu ngga bohong, pak." jawab Ayu lirih. Nyalinya ciut saat menyadari perhiasan yang dia banggakan ternyata milik Lila. " Dan kamu menuduh kami mencuri perhiasan itu?. Cari sekarang juga atau kalian akan tidur di penjara." Rio berlari menuju kamarnya, membongkar semua hingga ke bawah kasur. Namun perhiasan itu tetap tidak ditemukan. " Lila kasih waktu dua minggu. Bayar perhiasan yang sudah kamu ambil. Dua ratus juta saja. Repot kalau mengikuti harga sekarang. Bisa mendadak miskin kamu karena harga perhiasan itu lebih dari lima ratus juta." Teriak Kamto dari balik pintu. Rio dan Ayu meluruh lemas. " Lain kali diskusikan dulu jika ingin melakukan sesuatu. Darimana kita mendapatkan uang sebanyak itu?." Desis Rio jengkel. " Mana aku tahu kalau kamu mencuri perhiasan itu. Yang aku tahu kamu membelikannya untukku." Sangkal Ayu. " Sudah - sudah. Sekarang kita mikir, mau cari uang dimana buat mengganti perhiasan itu." Sebuah ide terbersit di benak Rio. Rio bergegas berganti pakaian. Ayu yang melihat Rio tengah bersiap memilih melakukan hal yang sama tanpa bertanya apapun. ** Rio memandang cabang kedua warung bakso miliknya. Sejak dia menjalin hubungan dengan Ayu, dia tidak pernah mengunjungi cabang yang lain. Dan disinilah dia, terpukau melihat perubahan cabang kedua miliknya. Menunya sudah berubah, bahkan terlihat lebih modern walaupun menu utamanya masih aneka bakso. Playground untuk anak terlihat di sudut warung. Pegawai disini belum berubah, Rio masih mengenali semuanya. Rio takjub melihat perubahan konsep warung baksonya. Ini benar - benar tempat makan yang cozy. " Yo, gimana penjualan beberapa bulan ini?." Aryo yang sedang berkutat di mejanya mendongak. Sedikit kaget saat melihat Rio di depannya. " Eh, pak Rio. Sudah lama tidak kelihatan." Sahutnya sambil melirik sinis ke arah Ayu. Sementara Ayu memilih membuang pandangannya keluar warung. " Iya, aku ada banyak kerjaan." Kata Rio sambil duduk di depan Aryo walau tak dipersilahkan. Ayu melingkarkan tangan di pundak Rio lalu duduk di pangkuan Rio tanpa peduli tatapan nyalang para pegawai dan pelanggan. Aryo mendengkus kesal melihat pemandangan di depannya ini. "Sibuk banget ya pak? Pasti banyak Kerjaan." Jawab Aryo basa - basi. Lalu dia menggumam. "Kerjaan sama daun muda." Gerutu Aryo lirih. " Apa Yo?." Tanya Rio karena dia hanya mendengar lirih suara Aryo. " Tidak ada pak. Ada perlu apa kemari?." " Langsung aja, aku mau minta persenan dari hasil penjualan seperti biasanya. Sudah sepuluh bulan tidak ada transaksi masuk ke rekeningku. Padahal warung ini semakin berkembang." " OOO." Aryo hanya ber oo ria saat mendengar ucapan Rio. Tangannya menggeser laci yang ada di bawah meja. Aryo menunduk mengambil sesuatu dari dalam laci kerjanya. Sebuah berkas yang sudah dilaminating. " Maaf, pak. Untuk masalah itu semua di handle Pak Rayyan , asisten bu Lila secara langsung. Sepengetahuan saya, bapak sudah setuju melepas semua cabang jika bapak ketahuan menikah lagi. Berarti itu termasuk pemberhentian sepihak pembayaran bagi hasil." Ujar Aryo sambil menyodorkan berkas itu. Rio membeliak, ini adalah fotocopian surat perjanjian pasca nikahnya. Satu berkas lagi adalah kesepakatan bahwa seluruh cabang tidak akan masuk dalam harta gono gini jika mereka bercerai. Ayu membaca salinan itu dengan geram lalu mencubit pinggang Rio. " b**o banget sih, mas jadi orang. Ngapain juga bikin perjanjian kaya gini." " Karena dari nol Lila menemaniku. Dan aku tak pernah terbersit waktu itu akan menikah lagi." Ujarnya lemas. Aryo mengulum senyum melihat kepanikan kedua orang itu. " Ya udah, Yo. Tapi persenan sepuluh bulan terakhir aku minta. Ini terakhir kalinya. Aku tidak akan kemari lagi." Paksa Rio. Hanya ini yang terbersit agar dia mendapatkan uang dengan jalan cepat untuk mengganti perhiasan Lila. " Maaf, pak. Tidak bisa. Kalau bapak memaksa, saya tak akan sungkan. Mereka ditugaskan ibu untuk menghalangi bapak dan perempuan ini mengacau di warung." Kata Aryo sambil menunjuk beberapa orang berbadan tegap di belakang Rio. Rio melirik kebelakang. Ayu sudah terlihat gemetar saat tiga orang dari mereka berjalan ke arah Aryo. " Ya sudah, ayo Yu kita ke cabang lain." " Saya sarankan. Bapak kembali saja ke rumah atau ke warung bapak. Buang - buang bensin kalau bapak mau ke cabang lain. Hasilnya akan sama." Rio menghentakkan kaki lalu bergegas ke parkiran mengambil motor miliknya. " Mas, kita pulang saja. Kita jual mobil mbak Lila dulu. Semalam aku lihat ban nya sudah tidak kempes." Saran Ayu. Rio memandang Ayu sambil tersenyum sumringah. " Istri siapa ini pintar banget. Ayo pulang, kita ambil mobil Lila. Harusnya masih bisa laku tinggi." Ayu berbangga hati mendengar pujian Rio. Bergegas dia melompat naik ke atas jok motor baet milik suaminya itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD