Mata Rio nyalang melihat sekeliling mobil Lila tidak ada di tempatnya. Hah mengesalkan. Ridwan yang baru saja pulang melihat kakaknya berada di garasi sambil menjambak rambutnya.
"Ngapain Mas kayak orang stress. Masih sehatkan?" Rio hanya memandang Ridwan dengan acuh. Gengsinya terlalu tinggi untuk bertanya pada Ridwan. Sementara Ridwan terlihat cengengesan seolah mengejek Rio. Ayu yang baru saja dari dalam memandang bingung ke dalam garasi. Matanya memindai sekitar dan melihat garasi kosong.
" Lho Mas, mana mobilnya?. Bukannya tadi pagi masih ada?." tanya Ayu bingung. Ridwan memandang kedua orang itu lalu bertanya. Sebenarnya dia tahu jika sang kakak mencari mobil Lila.
"Mobil siapa yang Kak Rio cari?. Kalau mobilnya mbak Lila tadi udah aku jual." Rio mendelik ke arah Ridwan yang dengan santai mengatakan hal itu.
" Apa maksudmu dengan menjual mobil Lila. Kamu kan tahu aku setiap hari menggunakannya. Kenapa malah kamu jual?. Bukan hak kamu menjual mobil itu. Aku yang berhak!." Teriak Rio penuh amarah. Gagal sudah dia mendapatkan tambahan uang. Ridwan terlihat tenang, tak terpengaruh dengan ucapan dan teriakan Rio. Dia hanya mengedikkan bahu.
" Mana aku tahu mas, aku hanya disuruh sama bapak." Sahutnya santai sambil berlalu masuk ke dalam rumah. Rio menyusul masuk ke dalam rumah untuk kembali mengklarifikasi kebenaran berita itu.
Kamto terlihat bersantai di ruang keluarga. Matanya melirik sebentar saat melihat Rio dan Ridwan beriringan masuk ke dalam rumah. Dengan tangan gemetar Rio menghampiri ayahnya. Kedua tangannya bergantian saling bertaut.
" Pak, mobilnya Lila di mana?." Kamto hanya melirik acuh ke arah Rio dan Ayu. Menyadari sang bapak tak menyukai kehadiran Ayu, Rio menyuruh sang istri untuk masuk.
" Dek, kamu masuk dulu." Pinta Rio. Ayu mengangguk lalu berlalu masuk ke kamar.
" Pak, kok ga dijawab?. Mobilnya Lila di mana?. Rio mau pakai ini, mobil Rio udah ngga ada. Mobilnya beneran dijual?." Rio memberondong Kamto dengan pertanyaan saat Ayu sudah mengunci kamar.
" Bapak jual." Ujar Kamto enteng. Matanya masih lekat memandang untaian kata di tampilan layar datar di depannya.
" Uangnya mana, pak?. Rio mau pakai!. Itu hak Rio." Rio mengangsurkan tangannya ke depan Kamto.
Kamto melirik tangan Rio sekilas lalu kembali memandang ke layar televisi.
" Pak.... !" Panggil Rio tak sabar.
" Mobil siapa itu?. Yang beli siapa?. Kenapa kamu mau minta?." Tanya Kamto ketus.
" Punya Lila, pak. Makanya aku mau minta."
" Ngga ada. Sudah tak masukin ke deposito Lila. Toh dia ngga pakai mobilnya. Daripada dipakai atau dijual sama benalu. Mending dijual lebih dulu. Hidup itu harus sesuai realita. Jangan berani mengacaukan yang bukan milikmu!." Sahutnya enteng yang membuat Rio meradang. Rencananya terendus sang ayah dengan apik. Tanpa kata Rio beranjak bangun dan pergi ke kamar. Kamto tersenyum sumir sambil mengunyah kacang goreng miliknya.
" Gimana, mas?." Tanya Ayu saat Rio menghempaskan badan ke pembaringan.
" Gagal. Udah dijual bapak. Dimasukin ke rekening Lila." Ucapnya geram.
" Istrimu itu serakah banget." Gerutu Ayu. Rio sebenarnya paham. Lila tak iklas hasil kerjanya dinikmati Ayu, itu sebabnya dia mengalihkan semuanya secara perlahan. Tapi bagaimana dan kapan dia melakukannya. Lila tak pernah keluar dan gawainya masih dia simpan dalam brankas rahasia bersama berkas lainnya.
Berkas di brankas rahasia. Mengingat hal itu Rio mendadak sumringah. Bagaimana bisa dia melupakan bahwa semua berkas dan surat tanah semua warung dia sembunyikan. Minimal dia bisa menggadaikan salah satu saja untuk membayar perhiasan Lila yang hilang.
Didorongnya lemari rias di sudut kamar. Terlihat sebuah kotak berwarna silver. Ayu mendekati Rio sambil mulutnya menganga saat kotak itu dibuka oleh Rio.
" Ya ampun, mas. Ini apa?. Perhiasan siapa sebanyak ini?." Tanyanya tak percaya.
" Aku lupa. Semua surat tanah dan berkas penting aku sembunyikan disini. Termasuk perhiasan milik Lila." Ujarnya bangga sambil menunjuk tumpukan amplop coklat disana. Ayu meraih kotak kayu. Matanya membeliak melihat isinya, satu persatu dia pegang dan dia lihat dengan seksama.
" Mas, ini masih banyak perhiasannya. Kenapa ga bilang kalau ada sebanyak ini. Kita ga perlu bingung cari uang dimana." Katanya girang sambil membayangkan memakai salah satu perhiasan itu.
" Iya itu punya Lila semua. Jangan sampai dia tahu. Atau urusannya makin runyam. Aku sampai lupa sudah mengamankan semua aset bersama kami." Rio mengernyit saat menyadari surat nikahnya dengan Lila tidak ada. Dia ingat jika surat nikah juga dia masukkan ke dalam brankas. Brankas ini hanya dia yang mengetahui sandinya. Apa dia lupa sudah meletakkannya di tempat lain?. Berulang kali dia berusaha mengingatnya namun gagal. Ingatannya hanya sampai di saat surat nikah itu dia letakkan di dalam brankas.
Rio mengambil satu amplop berisi sertifikat tanah semua warung. Menyisihkan sertifikat cabang utama lalu menyimpannya dalam tas.
" Ayo, kita harus cepat pergi." Ayu mengangguk sambil membawa dua buah perhiasan berwarna emas.
Lila sedang duduk bersama Ridwan dan Lala. Lila terlihat menyeringai sambil menatap tas yang disandang Rio. Tergagap Rio menyadari bahwa istrinya itu seakan tahu akan gelagatnya. Gegas dia menarik tangan Ayu dan mengajaknya naik ke atas motor. Tujuan pertamanya adalah sebuah toko emas langganan Lila.
" Apa?." Rio menatap dua perhiasan di hadapannya.
" Benar pak. Ini emas simulasi. Bukan emas asli." Jawaban sang pemilik toko membuat seluruh tulangnya seraya ditarik.
Rio mengacak rambutnya. Bagaimana bisa, Lila selalu membeli perhiasan bersama dirinya. Dia tahu semuanya asli. Lila bahkan tak pernah membeli perhiasan imitasi satu kali pun.
" Saya membelinya dari sini." Jawab Rio lagi.
" Apa bisa diperlihatkan suratnya." Pinta sang pemilik toko.
" Suratnya tidak ada tadi." Rio teringat sesuatu. Gawai Lila masih di brankasnya, tapi surat nikah dan surat bukti pembelian emas semuanya menghilang.
" Maaf, pak. Kami tidak bisa membelinya." Rio melangkah gontai. Memandang gawai di tangan lalu menghubungi seseorang.
" Lex, bisa ketemu hari ini?. Aku mau menggadaikan surat tanah. Oke kita ketemu di warung."
Alex membalik sertifikat tanah itu beberapa kali sambil menghubungi seseorang. Dia menggaruk jidatnya beberapa kali sambil memandang bergantian ke arah luar dan ke berkas itu.
" Ada apa?."
" Tunggu temanku dulu. Dia lebih ahli soal ini."
" Soal apa?" Cecar Rio tak sabar.
" Aku curiga sertifikat ini asli tapi palsu. Semua yang tertulis di sini sesuai. Tapi ini bukan sertifikat yang resmi. Cap disini berbeda." Rio terhenyak. Jika itu benar, artinya ada yang sudah membuka brankas itu.
" Gimana Jar?. " Tanya Alex saat temannya yang seorang notaris datang.
" Kamu benar. Ini palsu." Alex memandang Rio lalu mengangsurkan kembali berkas - berkas di hadapannya.
" Maaf, Rio. Kali ini aku tidak bisa membantu." Kata Alex sambil menggeser kursi lalu berpamitan pada Rio dan Ayu.
" Bagaimana ini, mas. Kita cari uang darimana?. Aku ngga mau masuk penjara." Rio bertambah pusing mendengar ocehan Ayu.
" Siapa yang berani membuka brankasku. Argh, b******k semuanya. Mana tabunganku menipis." Teriaknya dengan marah.