Hawa di basement mal itu terasa sejuk, tetapi ada api yang sudah menyulut ketenangan Andam bahkan sebelum ia mematikan mesin BMW putihnya.
Di usianya yang ke-35, ia adalah definisi dari mawar yang sedang merekah sempurna. Anggun, berwibawa, dan menyimpan duri yang hanya ia tunjukkan pada orang-orang terpilih.
Kemeja sutra yang membalut tubuhnya seolah menjadi saksi bisu atas detak jantungnya yang sedikit lebih cepat dari biasanya.
Ia melangkah menuju pusat kebugaran elit di lantai tiga.
Di sana, Bimo sudah menunggu. Pemuda yang usianya sepuluh tahun lebih muda itu berdiri dengan gestur yang penuh percaya diri, memiliki binar mata yang selalu tampak seperti sedang merencanakan sebuah rahasia.
"Siap untuk sesi latihan hari ini, Bu Andam?" Suara bariton Bimo yang rendah bergema, mengisi ruang di antara mereka dengan nada yang tidak sekadar bertanya tentang jadwal latihan.
Latihan dimulai.
Namun bagi mereka, setiap gerakan adalah dialog tanpa kata. Saat Bimo membantu Andam melakukan squat, jemarinya singgah di pinggang Andam. Sebuah sentuhan yang terasa lebih lama dari sekadar instruksi teknis.
Ketika Andam berada di bawah beban bench press, kehadiran Bimo yang begitu dekat membuat Andam bisa menghirup aroma maskulin yang menguar kuat, sebuah campuran antara aroma keringat dan parfum kayu yang menyesakkan d**a.
"Tahan napas, Bu... rasakan kekuatannya," bisik Bimo. Ujung jarinya seolah tidak sengaja menyentuh kulit leher Andam yang lembap, memicu desiran halus yang menjalar ke seluruh saraf.
Andam memejamkan mata sesaat, menikmati permainan yang sedang dipasang oleh pemuda itu.
Ia tahu, Bimo sedang melempar kail, dan ia adalah ikan yang dengan sengaja ingin mematuknya.
Saat ia bangkit untuk menyeka keringat, kemeja sutranya yang kini sedikit lembap mempertegas siluet tubuhnya yang matang dan terjaga sempurna.
Kulitnya yang putih mulus tampak bercahaya di bawah lampu fluorescent gym, dilapisi bulir-bulir keringat tipis yang membuatnya terlihat seperti pahatan marmer yang hidup.
Setiap gerakannya memancarkan keanggunan yang provokatif; bagaimana ia menyibakkan rambut pendeknya atau sekadar membasahi bibir, cukup untuk membuat beberapa pria di area free weights kehilangan fokus pada beban mereka.
Bimo berdiri di sampingnya, menegakkan punggung dengan dagu sedikit terangkat. Ia menangkap lirikan-lirikan penuh damba dari pria-pria lain di ruangan itu. Tatapan yang memuja keindahan kaki jenjang Andam dan lekuk tubuhnya yang sangat feminin.
Ada rasa bangga yang primitif bergejolak di d**a Bimo; ia merasa menjadi pemenang di arena ini karena hanya dialah yang memiliki akses untuk menyentuh kulit yang begitu halus itu, yang bagi orang lain hanyalah pemandangan indah yang tak terjangkau.
Andam menyadari tatapan kekaguman yang tersembunyi di sekelilingnya, tetapi baginya, itu hanyalah ornamen. Mata cokelatnya yang ekspresif menatap Bimo lekat-lekat. Sebuah tatapan dalam yang mengunci kesadaran pemuda itu dan mengonfirmasi bahwa meski semua orang menginginkannya, kendali penuh atas permainan ini tetap ada dalam genggaman jemarinya yang lentik.
Bimo mendekat, seolah hendak merapikan peralatan di dekat Andam.
Dengan jarak yang hanya tersisa hitungan senti, ia berbisik parau, "Aku sudah tak bisa menahannya lagi..."
Andam tidak terkejut. Senyum tipis yang penuh kuasa tersungging di bibirnya.
Sebuah kedipan mata menjadi kunci pembuka pintu yang selama ini mereka jaga di depan publik. Tanpa sepatah kata, Bimo melangkah menuju ruang ganti, disusul Andam setelah memastikan tak ada mata yang curiga.
**
Langkah mereka menuju lift hotel terasa ringan, seolah beban dunia tertinggal di ruang gym tadi.
Namun, tepat saat pintu lift hampir tertutup rapat, sebuah sensor mendeteksi pergerakan. Pintu perak itu kembali terbuka dengan dentingan yang mendadak terasa seperti lonceng peringatan di telinga Andam.
Andam terhenyak. Jantungnya seolah berhenti berdetak selama sepersekian detik saat melihat sosok yang berdiri di hadapannya.
"Selamat sore, Bu Andam," sebuah suara yang sangat ia kenal menyapa.
Hendar, seorang pria muda yang merupakan staf di kantornya, berdiri di sana dengan tas kerja di tangan. Ia tampak terkejut namun segera mengangguk hormat.
Andam segera menegakkan punggung, memasang topeng profesionalnya yang paling kaku dalam sekejap.
"Sore, Mas Hendar. Sedang ada keperluan di sini?" jawab Andam. Suaranya sedikit bergetar, meski ia berusaha keras menutupinya dengan nada otoriter.
Ia sengaja menggeser posisinya, menciptakan jarak fisik yang tegas dengan Bimo. Matanya menatap lurus ke arah pintu lift, memperlakukan Bimo seolah-olah pemuda itu hanyalah udara kosong atau orang asing yang kebetulan berada di lift yang sama.
Bimo, yang menangkap kode itu, langsung menunduk dan berpura-pura sibuk dengan layar ponselnya, menyembunyikan senyum nakal yang hampir muncul.
"Baru saja selesai bertemu klien di kafe bawah, Bu. Saya khawatir besok kesiangan bangun, jadi malam ini mau menginap di sini…" lanjut Hendar ramah, mencoba mencairkan suasana yang tiba-tiba terasa dingin di dalam kotak logam sempit itu.
Andam mengangguk, memaksakan sebuah percakapan ringan tentang laporan kantor yang sebenarnya sama sekali tidak ingin ia bahas saat ini.
Setiap detik terasa seperti jam. Ia bisa merasakan tatapan Hendar sesekali melirik ke arah Bimo yang berdiri di pojok, namun Andam terus mendominasi pembicaraan agar perhatian Hendar tetap tertuju padanya.
Indikator lantai bergerak lambat. Di lantai 7, lift akhirnya berdenting.
"Saya duluan, Bu, " pamit Hendar dengan sopan sebelum melangkah keluar.
Begitu pintu lift tertutup kembali dan mereka hanya berdua, Andam menyandarkan tubuhnya ke dinding lift. Ia mengembuskan napas panjang yang sedari tadi tertahan, jemarinya yang lentik memegang d**a yang masih berdegup kencang karena adrenalin.
"Nyaris saja," bisik Andam lirih, sementara matanya kini kembali menatap Bimo. Kali ini dengan sorot mata yang lebih gelap, campuran antara rasa lega dan gairah yang kembali tersulut oleh bahaya yang baru saja mereka lalui.
Lift hotel yang menyatu dengan mal itu melesat cepat. Begitu pintu kamar Presidential Suite tertutup dengan dentingan halus, topeng keanggunan Andam luruh. Di balik pintu yang terkunci, atmosfer berubah menjadi medan magnet yang menarik keduanya dalam satu pusaran.
Di bawah temaram lampu kamar, segala formalitas dibiarkan jatuh berantakan di atas karpet bulu yang tebal.
Mereka tenggelam dalam lautan gairah di atas ranjang king-size dengan sprei satin yang dingin.
Bimo, dengan energi masa mudanya yang meluap, menjelajahi setiap jengkal keberadaan Andam, sementara Andam menemukan sebuah pelepasan yang tak pernah ia temukan di rumahnya yang kaku.
Puncaknya adalah sebuah badai gerakan dan napas yang memburu.
Suara-suara lirih dan gesekan kulit yang hangat memenuhi ruangan, hingga akhirnya mereka ditarik ke dalam klimaks yang menghantam berkali-kali. Sebuah ledakan emosi yang membuat dunia seakan berhenti berputar selama beberapa detik.
Mereka terkapar bersimbah peluh, terbalut dalam aroma gairah yang memenuhi hawa kamar yang kini mulai mendingin.
Keheningan setelah badai itu dipecahkan oleh suara ritsleting tas bermerek milik Andam.
Ia duduk di tepi ranjang, merapikan helai rambutnya yang kacau.
Tanpa banyak bicara, ia mengeluarkan segepok uang tunai dan meletakkannya di atas nakas.
Bimo langsung terduduk tegak. Matanya berbinar, sebuah kejujuran yang pahit tentang apa yang sebenarnya ia cari.
"Terima kasih, Bu," ucapnya, meski ada sedikit keraguan yang dipaksakan. "Sebenarnya... ada beberapa kebutuhan mendesak bulan ini. Cicilan motor dan... hal-hal lain."
Andam menatap Bimo dengan sorot mata datar.
Ia sadar bahwa pemuda ini hanya menjual pesona dan staminanya. Namun bagi Andam, itu adalah komoditas yang saat ini ia butuhkan.
Tanpa argumen, ia mengambil lagi beberapa ikat uang dari tasnya dan melemparkannya ke arah Bimo.
"Cukup?" tanya Andam dingin, seolah sedang menutup sebuah transaksi bisnis.
"Sangat cukup, Ibu sayang… terimakasih… terimakasih…." jawab Bimo dengan senyum lebar yang kembali terbit.
Mereka kemudian membasuh sisa-sisa badai tadi di bawah kucuran air hangat shower, membersihkan jejak-jejak rahasia sebelum kembali ke dunia nyata.
Setelah kembali mengenakan topeng wanita karier yang elegan, Andam bersiap pergi.
Sebelum melangkah keluar, ia menarik kerah kemeja Bimo, memberinya ciuman perpisahan yang dalam namun penuh peringatan.
"Sampai bertemu lusa," bisik Andam sebelum melangkah keluar dengan kepala tegak, meninggalkan ruangan itu seolah tak pernah terjadi apa-apa.