BMW putih itu meluncur pelan memasuki gerbang besi tempa di sebuah kawasan elit di Bintaro. Suasana rumah yang tenang, dengan taman yang tertata simetris, biasanya memberikan ketenangan bagi siapa pun yang memandangnya.
Namun bagi Andam, setiap kali mesin mobilnya mati di garasi ini, ia merasa seperti sedang melangkah masuk ke dalam sebuah kotak kedap suara yang perlahan-lahan menghisap napasnya.
Ia turun dengan keanggunan yang masih tersisa, meski di balik kemeja sutranya, ia masih bisa merasakan sisa-sisa panas dari pertemuan di lantai 21 tadi.
"Selamat sore, Bu?" sapa Mbak Esih, asisten rumah tangga yang sudah bertahun-tahun mengabdi, saat Andam melintasi pintu utama.
Andam hanya mengangguk singkat sambil meletakkan tas bermereknya di meja konsol. "Bapak di mana, Mbak?"
"Bapak ada di kamar Bu Ana, Bu. Sedang menemani beliau makan sore," jawab Mbak Esih dengan suara pelan, seolah takut mengganggu keheningan yang menyelimuti rumah besar itu.
Langkah kaki Andam yang terbungkus sepatu hak tinggi bergema di atas lantai marmer saat ia menuju kamar ibunya.
Begitu pintu kayu jati itu terbuka sedikit, pemandangan di dalamnya membuat langkah Andam tertahan.
Cahaya lampu kamar itu temaram, diatur sedemikian rupa agar memberikan ketenangan bagi penghuninya.
Di atas ranjang, Ana, ibu kandung Andam, terbaring lemah.
Wanita yang dulu menjadi pilar kekuatan bagi Andam itu kini tampak begitu rapuh di usia enam puluh lima tahun. Penyakit yang telah mendekam di tubuhnya selama bertahun-tahun telah mencuri binar matanya, menyisakan hanya hela napas yang tipis dan kulit yang sepucat kertas.
Di sisi ranjang, tampak Anto, suami Andam, sedang duduk dengan sabar. Ia memegang mangkuk kecil berisi bubur halus. Dengan gerakan yang sangat lembut, hampir seperti sedang merawat sebuah pualam yang retak, Anto menyuapkan sesendok kecil makanan ke mulut Ana.
"Sedikit lagi ya, Bu... biar badannya ada tenaga," bisik Anto dengan nada suara yang begitu tulus. Tidak ada gurat kekesalan atau kelelahan di wajahnya, meski tugas ini telah ia jalani selama bertahun-tahun sebagai menantu yang berbakti.
Andam berdiri di ambang pintu, menyaksikan pemandangan itu dengan perasaan yang berkecamuk.
Di satu sisi, ada rasa hormat dan terima kasih yang mendalam kepada Anto atas kesetiaan dan kebaikannya yang nyaris tanpa cela. Namun di sisi lain, kebaikan Anto yang "terlalu sempurna" itu justru menjadi tembok yang membeku di antara mereka sebagai suami istri.
Melihat pengabdian Anto pada ibunya, Andam merasa seolah-olah ia sedang menatap sebuah potret keluarga yang ideal, namun ia sendiri merasa seperti orang asing yang baru saja kembali dari dunia yang gelap dan penuh rahasia.
Andam berdeham pelan, mencoba menyingkirkan sisa-sisa kegugupan yang masih membekas.
Anto menoleh, senyum tipis yang tenang menghiasi wajahnya yang tampak lelah namun tulus.
"Sudah pulang, sayang?" tanya Anto lembut, tangannya masih telaten menyeka sudut bibir ibu mertuanya dengan tisu.
Andam mendekat, berdiri di sisi lain ranjang. "Baru saja. Bagaimana keadaan Ibu hari ini, Mas?"
"Tadi sempat sesak sebentar, tapi setelah minum obat sudah lebih tenang. Ini baru mau habis buburnya," jawab Anto. Ia meletakkan mangkuk yang sudah kosong ke atas nakas, lalu dengan penuh kasih mengelus dahi Ana yang terpejam. "Ibu baru saja tertidur."
Andam menatap wajah ibunya, lalu beralih pada suaminya. "Mas tidak perlu setiap hari melakukan ini. Kan ada perawat dan Mbak Esih."
Anto bangkit berdiri, merapikan selimut Ana sebelum mendekati Andam. Ia meletakkan kedua tangannya di bahu Andam, sebuah sentuhan yang terasa hangat namun bagi Andam terasa begitu 'datar' dibandingkan sentuhan kasar Bimo.
"Ibumu kan ibuku juga, Yang. Aku ingin dia merasakan kehadiran keluarga, bukan sekadar tangan perawat," ucap Anto rendah. Tatapannya kemudian jatuh pada wajah istrinya, menyelidik dengan lembut.
"Kamu kelihatan lelah sekali. Apa urusan di kantor sangat menyita energi hari ini?" tanya Anto.
Andam memalingkan wajah sedikit, berpura-pura merapikan letak bantal ibunya agar tidak perlu menatap mata suaminya yang terlalu jujur. "Iya, Mas... ada beberapa kendala teknis tadi. Cukup melelahkan."
"Istirahatlah," bisik Anto, jemarinya menyentuh helai rambut Andam. "Aku akan di sini sebentar lagi memastikan Ibu benar-benar lelap, baru aku menyusulmu ke kamar. Mau aku buatkan teh hangat nanti?"
"Tidak perlu, Mas. Aku hanya ingin mandi dan tidur," jawab Andam cepat, mungkin sedikit terlalu cepat.
Ia merasa sesak berada di ruangan itu. Kebaikan Anto terasa seperti cermin yang memantulkan segala noda yang baru saja ia buat.
Sambil melangkah keluar, Andam bisa merasakan tatapan teduh Anto mengiringi punggungnya.
Andam melangkah masuk ke kamar pribadinya, sebuah ruangan luas yang didominasi warna krem dan emas, namun terasa sedingin galeri seni yang tak berpenghuni. Ia segera mengunci pintu, sebuah tindakan refleks untuk menciptakan sekat antara dirinya dan dunia "istri berbakti" yang baru saja ia perankan di kamar ibunya.
Ia menyandarkan punggung di balik pintu, membiarkan keheningan menyergap. Di dalam keremangan yang hanya diterangi lampu sudut, Andam berjalan menuju cermin besar yang berdiri angkuh di sudut ruangan.
Ia menanggalkan kemeja sutranya dengan perlahan.
Di bawah pantulan cahaya yang minim, kulitnya yang putih mulus kembali terpampang. Ia memperhatikan jejak-jejak samar yang ditinggalkan Bimo. Sebuah kemerahan halus di ceruk leher yang kini ia sentuh dengan ujung jarinya sendiri.
Sentuhan itu memicu kilasan ingatan tentang bagaimana tangan kasar pemuda itu menjelajahi setiap inci tubuhnya, sangat kontras dengan sentuhan lembut dan penuh hati-hati dari Anto di kamar tadi.
Andam menghela napas panjang, menatap bayangannya sendiri di cermin. Di mata dunia, ia memiliki segalanya: karier cemerlang, rumah mewah, dan suami yang sangat setia.
Namun, di balik kemilau itu, ada kehampaan yang menganga. Pengabdian Anto yang tanpa cela justru terasa seperti penjara baginya. Anto memujanya seperti sebuah relik yang rapuh, sementara ia mendambakan tangan yang mampu mengguncang jiwanya, api yang mampu membakar rasa bosannya.
Ia kemudian berjalan menuju kamar mandi, menyalakan pancuran air dingin. Saat air mulai membasahi tubuhnya, Andam memejamkan mata. Ia membayangkan air itu bukan sekadar membersihkan keringat dan sisa wangi maskulin Bimo, melainkan juga membasuh rasa bersalah yang sesekali muncul saat ia menatap wajah tulus suaminya.
Namun, saat butiran air mengalir di lekuk tubuhnya yang matang, yang ia rasakan justru bukan penyesalan.
Di bawah kucuran air itu, ia kembali merasakan desiran gairah yang liar. Ia menyadari bahwa ia tidak hanya mencintai sensasi fisik yang diberikan Bimo, tetapi juga rasa kuasa yang ia miliki saat membeli stamina pemuda itu dengan lembaran uang.
Setelah mandi, ia mengenakan jubah tidur satin yang tipis dan duduk di tepi ranjang king-size miliknya.
Tepat saat itu, terdengar ketukan pelan di pintu. Suara Anto terdengar dari balik kayu jati yang tebal.
"Yang? Kamu sudah tidur? Aku bawakan segelas air lemon hangat untukmu."
Andam tersentak kecil, segera mematikan layar ponselnya. Ia menarik napas dalam, mengubah raut wajahnya kembali menjadi topeng ketenangan yang elegan.
"Masuk saja, Mas. Pintunya tidak dikunci koq," dustanya dengan suara yang datar, sambil dengan tenang membuka kunci pintu menggunakan remot otomatis di samping tempat tidurnya.
Anto melangkah mendekat, bayangannya memanjang di bawah temaram lampu tidur. Ia meletakan gelas air lemon di meja. Lalu melangkah ke arah ranjang.
Ada getaran halus di jemarinya saat ia menyentuh bahu Andam, sebuah sentuhan yang sarat akan kerinduan namun terasa begitu rapuh.
"Aku kangen, sayang," bisiknya pelan, napasnya terasa hangat di tengkuk Andam.
Andam hanya mampu mendesah dalam sunyi.
Meski raganya masih menyisakan kelelahan dari 'badai' yang ia lalui bersama Bimo siang tadi, ia tak pernah membiarkan egonya menolak pengabdian suaminya.
Namun, ia sudah bisa menebak akhir dari babak ini, sebuah repetisi kekecewaan yang telah menjadi naskah usang dalam pernikahan mereka.
Anto tampak begitu menggebu-gebu, seolah ingin mengejar ketertinggalan waktu. Ia menghujani Andam dengan ciuman yang tergesa, sebuah usaha keras untuk menunjukkan kejantanannya.
Namun, alam bawah sadar dan tubuh yang tak lagi muda seolah tak mau berkompromi. Baru saja irama itu dimulai, dalam hitungan detik yang bahkan belum sempat menciptakan kehangatan, Anto mengerang pelan. Tubuhnya seketika lemas, kehilangan sisa-sisa tenaga sebelum pertempuran benar-benar dimulai. Ia mengalami ejakulasi dini, lagi dan lagi.
"Maaf, Sayang... aku benar-benar lelah hari ini," gumam Anto dengan nada penuh rasa bersalah yang ia sembunyikan di balik punggung Andam.
Tak butuh waktu lama hingga dengkuran halus mulai terdengar, menandakan ia telah menyerah pada kantuk.
Andam tetap terjaga, menatap langit-langit kamar mewah yang kini terasa seperti atap penjara yang megah.
Di dalam kegelapan yang pekat, ia merasa hampa. Kepuasan dari Bimo hanyalah letupan adrenalin yang bersifat ragawi, sementara di sini, ia memiliki segalanya: status, kemewahan, dan suami yang setia, namun kehilangan satu hal krusial: sosok pria yang mampu menjadikannya wanita seutuhnya.
Ia menyadari bahwa perjalanannya untuk memadamkan dahaga ini baru saja dimulai.
Andam memiringkan tubuhnya, membelakangi dengkur ritmis Anto. Dalam lamunannya, ia kembali ke kamar lantai 21. Ia membayangkan helai rambut Bimo yang basah oleh peluh dan bagaimana binar mata pemuda itu memancarkan rasa lapar yang liar setiap kali menelusuri lekuk tubuhnya yang matang.
Senyum tipis terukir di bibir Andam saat ia mengenang genggaman tangan Bimo yang kuat dan menuntut. Kontras yang menyakitkan dengan sentuhan Anto yang selalu berakhir terlalu cepat.
Bagi Andam, Bimo memang hanya seorang 'pemburu' yang memanfaatkan modal fisik, namun ia adalah instrumen yang tepat untuk menjaga kewarasan Andam.
Andam mengelus perlahan lengannya sendiri, seolah masih bisa merasakan sisa panas dari dekapan brondongnya itu. Bayangan tentang sesi lusa nanti membuatnya tak sabar.
Di tengah gemuruh gairah yang tak tersalurkan dan rasa sepi yang menyesakkan, ia akhirnya memejamkan mata. Ia tertidur dengan rahasia yang tersimpan rapat, sementara suaminya tetap terlelap dalam ketidaktahuan bahwa istana yang mereka bangun telah retak pada fondasi yang paling pribadi.