Topeng dan Transaksi

1074 Words
Malam telah melarut, namun Bimo masih enggan melepaskan atmosfer kemewahan yang tertinggal di kamar Presidential Suite itu. Di bawah cahaya lampu temaram, ia duduk di tepi ranjang, menghitung lembaran uang dari Andam dengan senyum kemenangan yang tersungging di sudut bibirnya. Andam adalah "karya seni" baginya. Indah, berkelas, dan royal. Setelah memastikan lembaran itu aman di dalam dompet dan tasnya, Bimo melangkah ke kamar mandi. Di bawah kucuran air, ia meluruhkan aroma parfum floral mahal milik Andam yang masih menempel di kulitnya, menggantinya dengan aroma maskulin yang lebih netral. Ia harus menjadi kanvas kosong kembali sebelum melukis sandiwara baru malam ini. Sejam kemudian, Bimo sudah berada di sudut sebuah kafe temaram yang tak jauh dari hotel. Di sana, Nanik sudah menunggu dengan kecemasan yang terpancar dari gerak-gerik tangannya yang terus meremas tas jinjing kain. Penampilannya sangat kontras; ia mengenakan seragam batik guru yang tampak kaku, wajahnya yang lelah dihiasi garis-garis halus yang coba disamarkan dengan bedak tipis. Tubuhnya yang berisi seolah menyimpan beban berat dari rutinitas yang membosankan. "Sudah lama menunggu, Mbak Nanik?" tanya Bimo sambil duduk, memasang senyum paling menawan yang ia miliki. Sebuah senyum yang sudah ia asah untuk meluluhkan hati wanita. Wajah Nanik seketika bersemu merah. "Eh, Bimo... baru sepuluh menit," jawabnya gugup. Bimo memesan kopi hitam pekat. Ia tahu, menghadapi Nanik membutuhkan jenis ketahanan yang berbeda. Jika dengan Andam ia dipacu oleh gairah yang estetis, maka dengan Nanik adalah tentang memberikan "makanan" bagi jiwa yang kelaparan akan perhatian. Nanik adalah seorang wanita bersuami yang sehari-harinya berprofesi sebagai guru. Ia wanita yang merasa menjadi bayang-bayang di rumahnya sendiri. "Habiskan kopimu, Bim. Kamu kelihatan lelah," ujar Nanik dengan nada keibuan yang hangat, namun matanya tak bisa berbohong saat ia menatap otot lengan Bimo dengan penuh damba. Bimo menyesap kopinya, membiarkan kafein meresap ke aliran darahnya. Ia menyentuh punggung tangan Nanik yang terasa kasar. "Aku butuh tenaga ekstra hari ini, Mbak. Karena aku ingin membuat Mbak Nanik lupa sejenak pada dunia luar." Nanik tertunduk, hatinya yang kering seolah tersiram air sejuk. Ia rela menyisihkan uang belanjanya demi membeli "kepalsuan indah" ini. Bagi Bimo, ini adalah sesi pengisian bahan bakar sebelum kembali "bertempur" di ranjang yang sama. ** Bimo melangkah menyusuri lorong hotel mewah, diikuti Nanik yang mengekor di belakangnya dengan langkah kecil yang canggung. Namun, saat pintu lift terbuka di lobi, jantung Bimo mendadak berdegup kencang. Di antara orang-orang yang keluar dari lift, tampak sosok Hendar. Pria itu terpaku sejenak, menatap Bimo dengan tatapan yang sulit diartikan. Hendar pasti mengingat wajah Bimo yang tadi siang berada di lift yang sama dengan atasannya, Andam. Ketegangan menggantung di udara sesaat sebelum Hendar membuang muka dan pura-pura tak melihat, melangkah pergi begitu saja. Bimo mencoba tetap tenang, meski benaknya mulai berputar. Apakah pria itu akan bicara pada Andam? Ketika mereka sampai di kamar, Nanik terpaku di ambang pintu. Matanya membulat menatap lantai marmer dan lampu gantung kristal yang memantulkan kemewahan. "Bimo... ini... ini terlalu mewah. Pasti mahal sekali," bisiknya khawatir, membayangkan berapa banyak gaji gurunya yang sebanding dengan kamar ini. Bimo berbalik, meraih tangan Nanik dan menatap matanya dengan tatapan yang seolah penuh cinta yang tulus. "Sshhh... jangan pikirkan itu. Bagiku, tak ada yang terlalu mahal untuk wanita secantik Mbak. Aku ingin Mbak menjadi ratu malam ini." Gombalan itu mendarat tepat di hati Nanik. Namun, insting pendidiknya tetap terjaga. "Bim, tolong... jangan ada foto atau video. Karierku taruhannya. Aku punya nama baik yang harus dijaga." "Aku janji, Mbak. Rahasiamu aman bersamaku." Nanik tersenyum lega dan masuk ke kamar mandi. Bimo menghempaskan tubuhnya ke kasur yang spreinya masih menyisakan sisa-sisa pergumulannya dengan Andam. Ia menarik napas panjang, menyiapkan mental. Nanik adalah pekerjaan yang membutuhkan akting lebih kuat. Meski fisiknya tak seelok Andam, Nanik termasuk royal dengan tabungannya, dan itu cukup bagi Bimo. Tak lama kemudian, Nanik keluar hanya dengan balutan handuk putih. Tubuhnya yang bulat dan kulitnya yang tak lagi kencang terpampang nyata. Namun, Bimo langsung bangkit dan menyambutnya dengan pelukan hangat seolah Nanik adalah wanita tercantik yang pernah ia lihat. Saat handuk itu terlepas, Bimo memulai tugasnya. Ia menghujani pundak Nanik dengan ciuman lembut, memberikan validasi yang tak pernah ia dapatkan dari suaminya. Nanik mengerang, tangannya yang gemetar meraba otot Bimo dengan penuh kenikmatan. Di tengah pergumulan itu, saat keringat mulai membasahi tubuh mereka yang bertaut, pikiran Bimo sesekali melayang pada sosok Hendar di lift tadi. Kekhawatiran bahwa Hendar akan mengadu pada Andam terus membayang di sela-sela desahan Nanik. Namun, secara teknis ia tetap terjaga, memberikan performa maksimal hingga tubuh Nanik banjir keringat. Bagi Nanik, ini adalah cinta yang ia dambakan. Bagi Bimo, ini hanyalah profesionalisme yang berbayar di atas sprei satin yang menyimpan sejuta rahasia. Setelah badai gairah itu mereda, keheningan di kamar mewah itu segera digantikan oleh kegelisahan yang nyata. Nanik melirik jam dinding dengan tatapan cemas; waktu seolah berlari mengejarnya. Ia segera bangkit, tergesa-gesa membasuh diri di kamar mandi, lalu kembali mengenakan seragam batiknya yang kaku dengan gerakan tangan yang masih sedikit gemetar. Sambil merapikan jilbabnya di depan cermin, ia menatap bayangannya sendiri, seorang wanita yang baru saja mencuri secercah kebahagiaan dari balik rutinitasnya yang kelabu. Sebelum melangkah menuju pintu, Nanik mendekati Bimo yang masih bersandar santai di tumpukan bantal. Dengan ragu, ia meraih tangan Bimo dan menyelipkan sebuah amplop cokelat kecil ke telapak tangan pemuda itu. "Ini untuk kamu, Bimo," bisik Nanik dengan suara serak, ada rona haru sekaligus malu di wajahnya. "Aku tahu... uang ini bahkan tak akan cukup untuk membayar sewa kamar hotel semewah ini…." Bimo menatap amplop itu sejenak, lalu beralih menatap Nanik dengan tatapan yang dalam dan penuh kelembutan palsu yang terasah sempurna. Ia menggenggam jemari Nanik dengan hangat, memberikan tekanan lembut yang seolah menegaskan sebuah ikatan emosional. "Aku tak memikirkan uang, Mbak," jawab Bimo dengan nada bariton yang menenangkan, suaranya terdengar sangat meyakinkan di tengah kesunyian kamar itu. "Uang bukan alasan aku ada di sini. Aku hanya ingin Mbak berada di sisiku, karena jujur... aku mencintai Mbak apa adanya." Kalimat itu meluncur begitu mulus, menghujam tepat ke titik paling rapuh di hati Nanik. Air mata hampir menetes di sudut matanya saat ia tersenyum lebar, merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia. Dengan langkah yang lebih ringan namun tetap terburu-buru, ia berpamitan dan menghilang di balik pintu kamar Presidential Suite tersebut. Begitu pintu tertutup rapat dan suara langkah Nanik menjauh di lorong, senyum manis di wajah Bimo perlahan luruh. Ia membuka amplop itu, menghitung isinya dengan tatapan dingin yang kalkulatif, sementara bayangan wajah Hendar yang ia temui di lift tadi kembali melintas, meninggalkan sebuah kekhawatiran yang kini menghantui pikirannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD