Pagi itu, atmosfer di kantor pusat kawasan Sudirman sudah berdenyut kencang.
Namun, denyut itu seolah melambat secara teratur saat Andam melangkah masuk ke dalam kantor megah. Dengan rok pensil hitam yang memeluk siluet tubuhnya dengan sempurna dan blus sutra berwarna emerald yang menonjolkan kulit putih porselennya, Andam adalah definisi nyata dari otoritas yang dibalut keanggunan.
"Selamat pagi, Bu Andam," sapa staf lobi hampir serempak.
Andam hanya mengangguk kecil. Ia memberikan senyum tipis yang sangat diperhitungkan. Sebuah ekspresi yang cukup hangat untuk menjaga loyalitas, namun tetap memberikan jarak yang tegas agar tak ada yang berani melintasi batas profesionalitasnya.
Langkahnya yang mantap menciptakan bunyi klik ritmis di atas lantai marmer, seolah setiap langkahnya adalah sebuah keputusan penting yang tak bisa diganggu gugat.
Bagi stafnya, Andam adalah manajer bertangan dingin yang tidak mentoleransi kecerobohan. Namun, di balik rasa segan itu, ada kekaguman yang terpendam.
Beberapa karyawan pria tak bisa menahan diri untuk tidak mencuri pandang pada tubuhnya yang curvy dan padat. Sebuah keindahan alami yang tetap bersinar meski di bawah tekanan jadwal yang padat.
"Sungguh sangat beruntung yang jadi suami Bu Andam," bisik seorang karyawan di pantri dengan pandangan menerawang.
Mereka tidak tahu, bahwa di balik meja mahoni ruang kerjanya yang luas, Andam sedang bergelut dengan kekosongan emosional yang hanya bisa ia tambal melalui kepuasan yang ia beli di luar sana.
Ketukan di pintu membuyarkan lamunan Andam. Ia menyuruh masuk tanpa mengalihkan pandangan dari laptopnya.
Ternyata yang berdiri di sana adalah Hendar.
Andam sempat terhenyak sesaat, bayangan perjumpaan di lift hotel kemarin sore melintas cepat, namun dengan sisa ketenangan yang luar biasa, ia segera menguasai keadaan.
“Silahkan masuk, Pak Hendar….”
“Terimakasih, Bu.”
Hendar lalu melaporkan progres pekerjaannya dengan lugas. Diskusi berjalan lancar, tajam, dan profesional seperti biasanya.
Namun, saat Hendar bersiap untuk berpamitan, Andam tidak bisa menahan rasa penasarannya yang sedari tadi mengusik.
"Pak Hendar," panggil Andam pelan, seolah hanya sebuah basa-basi ringan. "Tadi malam kamu jadi menginap di hotel itu?"
Hendar mengangguk sopan. "Jadi, Bu. Suasananya cukup tenang untuk menyelesaikan sisa laporan."
Tiba-tiba, Hendar terhenti di ambang pintu.
Ada keraguan yang menggantung di wajahnya sebelum ia kembali bersuara. "Oh ya, Bu... tadi malam saya tidak sengaja bertemu lagi dengan pria yang kemarin satu lift dengan Ibu."
Andam mengerutkan kening, memasang wajah bingung yang sangat meyakinkan. "Pria mana? Aku tidak ingat pria yang kamu maksud."
"Pria yang kemarin berdiri di sebelah Ibu. Saya pikir dia adalah rekan atau kerabat Ibu," lanjut Hendar dengan nada menyelidik yang halus.
"Aku benar-benar tidak mengenalnya," jawab Andam dingin, seolah pembicaraan itu mulai membuang waktunya. "Kebetulan saja kami masuk di lift yang sama. Memangnya kenapa?"
Hendar berdeham pelan. "Hanya kebetulan saja, Bu. Tadi malam saya melihatnya lagi di sana... dia bersama seorang wanita."
Kalimat terakhir Hendar terasa seperti siraman air raksa yang membakar d**a Andam. Wanita lain?
"Oh, kirain ada apaan," sahut Andam pendek, matanya kembali menatap layar laptop meski huruf-huruf di sana kini tampak kabur. Ia pura-pura tak peduli, meski dadanya bergemuruh.
" Saya permisi, Bu," ucap Hendar sambil menutup pintu.
Begitu pintu tertutup rapat, Andam menyandarkan punggungnya ke kursi kulit.
Penanya terlepas dari genggaman. Di balik ketenangan wajahnya yang tanpa celah, hatinya bergolak hebat.
Rasa cemburu membakar dadanya. Sebuah perasaan yang tak masuk akal bagi seorang wanita yang menganggap hubungan ini hanyalah sebuah transaksi stamina.
Ia benci kenyataan bahwa Bimo, "alat pemuas" yang ia bayar mahal, ternyata berbagi energi dan waktu dengan wanita lain di kamar yang ia bayarkan sewanya.
Bagi Andam, ini bukan hanya tentang gairah, tapi tentang eksklusivitas kekuasaan yang kini merasa terancam.
Dengan jemari yang sedikit gemetar karena amarah yang tertahan, ia meraih ponselnya.
Satu nada sambung, dua, hingga kemudian suara bariton Bimo yang terdengar baru bangun tidur menyapa di ujung telepon.
"Halo, Ibu Sayang... pagi sekali sudah menelepon. Ada apa?" Suara Bimo terdengar begitu tenang, tanpa beban.
"Bimo, jujur padaku," suara Andam menajam, penuh tekanan. "Apa yang kamu lakukan semalam setelah aku pergi? Siapa wanita yang kamu ajak ke kamar hotel?"
Keheningan sempat merayap di seberang sana, namun hanya sedetik sebelum Bimo tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar sangat tulus dan heran.
"Wanita? Wanita mana, Bu? Setelah ibu pergi, tubuhku rasanya remuk. Aku hanya sanggup mandi, lalu tertidur sejak jam tujuh malam. Aku bahkan tidak keluar kamar sama sekali untuk mencari makan. Bagaimana mungkin ada wanita lain?"
"Tapi ada temanku melihatmu di lobi hotel semalam dengan seorang wanita," sergah Andam, meski suaranya mulai goyah.
"Bu Andam, dengarkan aku," suara Bimo melunak, berubah menjadi nada penuh pengabdian yang menghanyutkan. "Mungkin temanmu itu salah lihat, atau mungkin dia sengaja ingin mengacaukan pikiranmu. Ibu tahu sendiri bagaimana duniaku sekarang; hanya ada ibu. Jangankan wanita lain, jika dunia ini kiamat sekalipun, hatiku sudah terkunci. Cintaku hanya milik Bu Andam. Ibu adalah segalanya bagiku."
Andam terdiam. Kalimat-kalimat manis itu mengalir seperti nektar yang mendinginkan api cemburu di dadanya.
Ia menarik napas panjang, membiarkan logika yang tajam itu perlahan melumpuh oleh rayuan Bimo yang profesional.
Ia menatap pantulan dirinya di dinding kaca ruang kerja; wanita sekuat dia pun rupanya sangat haus akan validasi.
"Benar... kamu tidak keluar kamar?" tanya Andam, suaranya kini melunak, hampir terdengar seperti bisikan manja.
"Sama sekali tidak, Ibu Sayang. Aku hanya keluar bersama ibu… di dalam mimpiku sepanjang malam," jawab Bimo.
Andam menutup telepon dengan perasaan yang jauh lebih tenang, namun kini benih baru mulai tumbuh di pikirannya: kecurigaan terhadap Hendar.
Mengapa stafnya itu berbohong? Apakah Hendar sedang mencoba bermain api dengannya? Ataukah Hendar memiliki motif tersembunyi untuk menjatuhkan kredibilitasnya?
Andam tersenyum tipis, sebuah senyuman yang berbahaya.
Jika benar Hendar mencoba memanipulasinya, maka pemuda itu belum tahu dengan siapa ia sedang berhadapan.
Di ruangan yang sunyi itu, loyalitas Hendar kini berada di bawah mikroskop pengawasan Andam yang tanpa ampun.
Andam meletakkan ponsel pribadinya ke dalam laci meja kerja dengan gerakan yang jauh lebih tenang. Ia baru saja akan kembali membedah laporan kuartal ketika telepon internal di mejanya berdering nyaring, memecah kesunyian ruangan yang baru saja mendingin dari api cemburu.
Andam melirik layar identifikasi penelpon. Roy , Direktur Utama.
Jantungnya berdegup dengan ritme yang berbeda kali ini. Bukan karena gairah, melainkan karena kewaspadaan tingkat tinggi.
Roy adalah nakhoda di balik PT Global Taruna Perkasa, sebuah raksasa di bidang logistik dan investasi yang menjadi tempat Andam bernaung. Pria itu adalah perwujudan kekuasaan mutlak di gedung ini.
"Selamat pagi, Pak Roy," sapa Andam dengan nada suara yang kembali ke setelan profesional: rendah dan berwibawa.
"Pagi, Bu Andam. Bisa ke ruangan saya sekarang? Ada beberapa detail investasi di pelabuhan baru yang perlu kita diskusikan secara pribadi," suara Roy terdengar berat dan dalam, memiliki resonansi yang selalu menuntut kepatuhan.
"Baik, Pak. Saya segera ke sana."
Andam menutup telepon, lalu berdiri dan merapikan blus sutra emerald-nya di depan cermin.
Ia tahu betul, setiap kali melangkah masuk ke ruangan luas di lantai paling atas itu, diskusi bisnis hanyalah lapisan luar dari sebuah interaksi yang jauh lebih kompleks.
Saat ia berjalan menuju lift eksekutif, Andam membayangkan apa yang akan menyambutnya di sana.
Roy adalah pria yang sangat terkendali, namun Andam bukanlah wanita yang mudah dikelabui oleh topeng formalitas. Ia ingat benar bagaimana setiap kali mereka duduk berhadapan, mata Roy selalu memancarkan binar yang berbeda, sebuah tatapan hasrat yang tertahan di balik kacamata berbingkai emasnya.
Roy tak pernah melampaui batas, tak pernah melontarkan kata-kata yang tidak pantas, namun tatapannya seolah menelanjangi setiap inci otoritas yang Andam bangun dengan susah payah.
Pria itu menatapnya seolah Andam adalah aset paling berharga yang belum berhasil ia akuisisi sepenuhnya.
Andam menarik napas dalam saat pintu lift berdenting di lantai tertinggi. Ia tahu, di ruangan itu nanti, ia harus memainkan peran yang berbeda lagi.
Jika dengan Bimo ia adalah penguasa yang membeli gairah, dan dengan Anto ia adalah istri yang menyimpan rahasia, maka di depan Roy, ia adalah mangsa yang sangat cerdas yang tahu bagaimana cara membuat sang pemburu tetap penasaran tanpa pernah benar-benar bisa memilikinya.
Dengan kepala tegak dan senyum yang misterius, Andam melangkah keluar lift, siap memasuki ruang singgasana sang raja logistik.