terkuak

2346 Words
hari mulai menjelang malam ketika taksi yang membawa kanaya berhenti tepat di depan gerbang rumah nadila, hujan yang turun deras belum juga mereda. " non sudah sampai " suara sopir taksi menyadarkan kanaya yang dari tadi cuma menatap kosong ke luar jendela. kanaya langsung memberikan ongkosnya, dan hendak membuka pintu mobil namun ditahan oleh sopir itu " maaf non, di luar hujannya deras banget, saya ambil payung dulu ya..ada di bagasi belakang " tawar sopir itu baik hati " nggak usah pak..saya udah terbiasa main hujan kok, makasih pak "tolak kanaya sopan dan langsung turun. setelah kanaya turun taksi itupun melaju lagi. sekarang tinggallah kanaya sendiri, matanya menatap sedih rumah sahabatnya itu, membiarkan dirinya basah kuyup, dia mulai menangisi dirinya sendiri. menangisi nasib cintanya yang malang. " justin..kamu jahaaaat " teriak kanaya histeris yang bersamaan dengan petir yang ikut menggelegar yang seakan juga ikut merasakan perihnya luka yang di rasakan kanaya saat ini. " lihat..bahkan alam pun juga marah padamu justin !!!!" teriak kanaya terisak kanaya menangis sejadi-jadinya, ia berusaha mengurangi rasa sakit yang menghimpit hatinya saat ini. tiba-tiba sebuah mobil dengan lampu menyilaukan berhenti tepat di depannya, dan seseorang turun dengan payung berlari menghampirinya. " nay.." teriak nadila panik kanaya yang melihat nadila langsung menangis lagi. nadila baru sampai belum tau apa yang membuat kanaya menangis, tapi dirinya langsung memeluk tubuh basah kuyup itu. " kami kenapa nay...??" tanya nadila gundah, namun kanaya lagi-lagi tidak menjawab, dia masih menangis. " kita masuk mobil ya "ajak nadila menuntun kanaya menuju mobil. orang tua nadila yang juga ada di mobil melihat heran pada kanaya, mama nadila ingin bertanya namun nadila menberi isyarat untuk tidak menanyakan apapun. ^_^ nadila memperhatikan kanaya yang tertidur pulas karna kelelahan menangis, matanya sembab dan gurat lelah jelas terukir di keningnya, sesekali masih terdengar suara isakan bahkan kanaya juga meracau tidak jelas. " apa yang terjadi nay ??!" bisik nadila sambil mengusap rambut sahabatnya itu. tadi nadila sengaja tidak menanyakan apapun pada kanaya, dia tidak ingin menambah luka pada sahabatnya itu, dia ingin kanaya bisa tenang dulu dan istirahat seperti sekarang. walaupun hatinya sangat penasaran tapi dia berusaha menahannya. nadila mengambil tas kanaya yang basah kuyup, dan mengeluarkan isi di dalamnya, ada beberapa buku dan ternyata handphonenya juga ikut basah. nadila meletakkan buku yang basah itu di depan kipas angin agar bisa kering lebih cepat. nadila berjalan keluar menuju dapur untuk mengambil minum, namun mamanya mencegat tangan nadila yang hampir membuat nadila berteriak karena terkejut. " iihh..mama apaan sih, bikin nadila jantungan aja deh " sunggut nadila kesal " kanaya kenapa nad ?" tanya mama nadila setengah berbisik nadila mengeleng tidak tau " aku belum tau ma.." jawab nadila menarik nafas panjang " apapun itu..semoga segera berlalu " ucap mama nadila tulus. selama inj kanaya sering datang berkunjung kerumah nadila, jadi mama nadila sudah sangat dekat dengan kanaya, dan ketika melihat kanaya sedang menangis seperti tadi, rasa keibuannya juga ikut menangis, dirinya sudah menganggap kanaya seperti putrinya sendiri. ^_^ kanaya membuka matanya perlahan, kepalanya sangat pusing. dia berusaha menekan-nekan kepalanya untuk mengurangi sakit yang tiba-tiba datang itu, namun tiba-tiba sebuah tangan lembut ikut memijit kepalanya. kanaya membuka matanya lebih besar dan melihat dengan jelas pemilik tangan lembut itu. " mama.." lirih kanaya wanita cantik paruh baya itu tersenyum manis padanya. kanaya berusaha meraih tubuh itu..tubuh wanita yang selalu ia rindukan. " mama..aku rindu " tangis kanaya berusaha menggapai mamanya, tapi tangannya sama sekali tidak bisa menyentuh sosok itu. " mama juga rindu sayang, gadis kecil mama harus kuat.." ujar mamanya lembut kanaya mengeleng sedih " aku ingin ikut mama, tolong bawa aku pergi " pinta kanaya sendu " tidak sayang..tempat mu di sini, kamu akan bahagia di sini " jawab mamanya " tidak ma...tidak...ma..mamaaaa " kanaya berusaha meraih mamanya yang mulai menjauh darinya. " nay...nay...kanaya.." panggil nadila panik berusaha membangunkan kanaya ketika melihat sahabatnya itu histeris memanggil-manggil mamanya. kanaya tiba-tiba membuka matanya, matanya masih mencari-cari keberadaan mamanya. "mama..mamaku tadi disini, dimana mamaku " tanya kanaya terengah-engah nadila dan sarah (sarah langsung datang pagi-pagi ketika mendengar kondisi kanaya dari nadila) saling berpandangan " nay..tenang..tidak ada siapa-siapa di sini " sarah berusaha menenangkan kanaya kanaya mengeleng tidak percaya pada sahabatnya " mamaku tadi disini..bersamaku " ujar kanaya dengan air mata yang mulai mengalir nadila yang dari tadi cuma diam tidak bisa lagi menahan air matanya, dia langsung memeluk tubuh ringkih kanaya. " nay...." nadila tidak kuasa menahan tangisnya sarah juga ikut memeluk kanaya dan nadila erat " nay..kamu nggak sendiri, kamu masih ada kami nay, kami akan selalu ada di sampingmu " bisik sarah menguatkan. jadilah ketiga sahabat itu menangis sambil berpelukan, saling menguatkan saling berbagi luka. sahabat sejati itu seperti anggota tubuh, ketika kaki terluka maka mata juga ikut menangis, dan tangan juga ikut mengusap. itulah sahabat sejati yang selalu di rindukan..dia akan selalu ada tanpa diminta, dia ikut terluka melihat temannya menangis dan ikut tersenyum ketika temannya bahagia. ^_^ justin menatap sayu rintik hujan yang membasahi jendela kamarnya di rawat, selang impus masih terpasang di tangan kanannya, dia baru saja siuman. dokter dan beberapa perawat sedang sibuk memeriksanya, semalam mereka sempat panik karna detak jantung justin tiba-tiba melemah dan sempat hilang di radar monitornya. " semuanya normal dan baik-baik saja dok " ujar salah satu perawat ketika sudah siap memeriksa justin. dokter itu mengerutkan keningnya menatap justin " kalau semuanya baik-baik saja, lalu apa yang salah dengan dirinya ?" tanya dokter itu bingung mereka sudah melakukan pengecekan beberapa kali, namun hasilnya tetap sama..tidak ada yang salah dengan tubuhnya, bahkan tubuh itu sangat fit. " kalian semua boleh keluar " perintah dokter itu pada semua perawatnya. dan tanpa diminta dua kali mereka semua langsung keluar dan tidak lupa menutup pintu. dokter itu menarik kursi dan duduk di samping justin, dia menyilang kakinya dan melipat kedua tangannya di d**a. " justin..." panggilnya, namun justin tidak merespon, matanya masih menatap lurus keluar jendela. " apa kau sangat mencintainya ?" tanya dokter itu, dan sukses membuat justin menatap ke arahnya. dokter itu tersenyum puas, ternyata caranya berhasil. dia sudah tau penyebab justin pingsan dari teman yang mengantarnya kemarin siang. " kau terlalu menyedihkan dengan cintamu justin, seharusnya kamu bangkit dan berjuang kembali untuk mendapatkan kepercayaan kanaya" ujarnya " daf..da..fa...a..a" panggil justin, lidahnya kelu tidak bisa berbicara dengan baik dokter yang di panggil daffa itu cuma tersenyum. daffa adalah sahabat dekat justin ketika mereka dulu sama-sama di sekolah menengah. ketika daffa selesai dengan kuliah kedokterannya dia langsung ditarik berkerja di rumah sakit ini berkat kecerdasannya. sedangkan justin memilih melanjutkan lagi kuliahnya ke jenjang yang lebih tinggi. " justin kamu tidak sakit, kamu sehat...kamu harus yakin kalau kamu sehat " seru daffa menyemangati justin berusaha mengeleng, air mata mulai mengalir di pipinya. tubuhnya terasa kaku dia sama sekali tidak bisa menggerakkan anggota tubuhnya. " tidak justin..tubuhmu hanya shok, kamu sangat fit, percaya sama aku..kamu bisa pulih seperti sedia kala " daffa seperti mengerti dengan apa yang ingin diucapkan justin. " akan aku pastikan kamu bisa melihat kanaya lagi dan juga bisa di wisuda bulan depan" janji daffa ^_^ setelah beberapa hari menginap di rumah nadila, akhirnya kanaya memutuskan akan kembali ke rumah. dia tidak mungkin menginap selamanya di rumah nadila walaupun mereka dengan senang hati menerimanya. nadila dan sarah sangat marah ketika mereka tau, ayana adalah dalang di balik hancurnya hubungan kanaya dengan justin. " dasar gadis gatal ga tau malu !!!! " maki sarah emosi " dia itu benar-benar tidak bermoral nay, kenapa tidak kamu usir aja dia dari rumah !" nadila juga ikut emosi " aku juga ingin melakukan itu, tapi mereka satu-satunya keluargaku..aku tidak punya siapa-siapa lagi selain mereka " isak kanaya parau " keluarga tidak saling menyakiti nay, lagian....kenapa kamu berpikir kalau kamu sendiri ?, apa kami bukan keluargamu ??" tanya nadila sedih, kanaya terlalu baik untuk disakiti. kanaya langsung memeluk nadila haru, sarah juga ikut memeluk mereka. " kita akan hadapi ini sama-sama " bisik sarah, kanaya mengangguk, dirinya benar-benar beruntung mendapatkan sahabat sebaik mereka. ^_^ mobil nadila sudah sampai di rumah kanaya, suasana rumah terlihat lengang tidak berpenghuni. " makasi ya..udah nganterin aku sampai rumah " ucap kanaya tersenyum sambil membuka pintu keluar. baru saja kanaya melangkah, kedua sahabatnya sudah berdiri di sampingnya. " lho..kalian nggak pulang ?" tanya kanaya heran " aku ingin pastikan kalau bekicot gatel itu nggak ada di rumah " jawab sarah tampa menoleh " kalau pun ada aku akan membuatnya menangis karna sudah terlahir ke dunia ini " sambung nadila serius kanaya tertawa kecil mendengar omongan kedua temannya itu. mereka langsung melangkah ke dalam rumah, dan...mereka bertiga tercengang, rumahnya seperti baru di obrak abrik segerombolan rusa, semua perabot di ruang tamu rusak, seperti sengaja di hancurkan. bahkan foto keluarganya juga ikut hancur dan kacanya berserakan di lantai " nay.." panggil sarah tercekat " apa rumahmu baru di grondol maling nay ?" tanya nadila tidak percaya sedangkan kanaya hanya tertegun tidak percaya. " kenapa mereka suka sekali menghancurkan, kemarin hatiku yang hancur sekarang malah rumahku yang hancur " kanaya menghempaskan tubuhnya di sofa yang setengahnya sudah berlobang seperti bekas tusukan pisau. " nay..." panggil sarah ikut nimbrung di samping kanaya " hhmm" " kamu ngerasa ada yang aneh nggak sih ??!" tanya sarah curiga kanaya mengucutkan bibirnya seperti sedang memikirkan sesuatu, tapi kemudian dia mengeleng.. " nggak tuh, bisa aja karna rumah ini kosong, jadi ya di masukin maling " jawab kanaya sekenanya " nay..maling nggak ngehancurin barang..paling dia cuma ngangkut doang, lha ini...." bantah sarah yang di iyakan oleh nadila " ah aku pusing mikirin hal gituan..."  " eh iya..paman sama tante kamu mana, trus bekicot gatel tu juga ga keliatan..apa nggak aneh ?? " tanya sarah makin curiga, jiwa detektifnya mulai kumat belum selesai mereka berdebat, tiba-tiba terlihat beberapa mobil sedan hitam metalik berhenti tepat di depan rumah kanaya, lalu dari dalam turun beberapa pria dengan memakai jas rapi dan berkacamata hitam, mirip bodyguard di film-film korea gitu. kanaya, sarah dan nadila cuma bisa mengangga takjub seperti sedang menonton drama korea. salah satu bodyguard itu membuka pintu belakang mobil dan turuhlah seorang pria yang mungkin usianya sudah 70 tahun dengan menggunakan tongkat di tangan kanannya, wajahnya penuh karismatik, dan memancarkan aura kewibawaan yang luar biasa, matanya yang tajam memperhatikan rumah yang ada di depannya. pria tua itu melangkah menuju ke dalam rumah dengan di ikuti oleh sebagian pengawalnya, dan sebagian lagi berjaga di samping mobil. kanaya, sarah dan nadila saling berpandangan, tidak ada kata-kata yang keluar dari bibir mereka. pria tua itu kini sudah ada di depan mereka, salah satu pengawalnya langsung mengambil kursi untuk dijadikan tempat duduk tuannya. kini pria itu memperhatikan ketiga sahabat yang masih mematung itu. " selamat siang nona-nona " sapa pria itu tersenyum wibawa, walaupun usianya sudah lanjut tapi masih terlihat dengan jelas gurat-gurat ketampanan di wajahnya. ketiga sahabat itu masih besar, mereka masih mematung seperti sedang melihat hantu. taaamm taaammm !!!!!! suara meja dipukul dengan tongkat langsung menyadarkan mereka " ya..ya..tu..tuan" sahut kanaya gelagapan, nadila yang duduk di bahu sofa malah terjungkal kebelakang saking terkejutnya. pria tua itu tersenyum melihat reaksi ketiga gadis di depannya " tuan siapa..ada perlu apa ke sini " tanya kanaya hati-hati dirinya sama sekali belum pernah melihat dan bertemu dengan dengan pria tua ini, kalaupun dia temannya papa kanaya pasti mengenalnya, karna dari dulu kanaya sering di ajak untuk ikut ke acara-acara kantor sang papa. " saya Albert stedward cullen " jawab pria itu memperkenalkan diri kanaya dan kedua temannya saling berpandangan merasa asing dengan nama tersebut " ya..ma..maksud saya, tuan siapa dan kenapa bisa datang ke sini " kanaya mencoba bertanya lagi, dirinya masih bingung kenapa orang-orang ini bisa ada di rumahnya. " apa kamu putrinya bara okta karana ?" tanya albert " bukan..saya kepokannya, bara itu paman saya " jawab kanaya sopan pria itu mengangguk-ngangguk mengerti " dimana pamanmu sekarang ?"tanya albert lagi " saya tidak tau tuan, sudah sebulan lebih paman dan tante pergi..saya sudah mencoba menghubunginya tapi tidak bisa " jawab kanaya jujur pria itu kembali tersenyum tapi kali ini dengan senyuman yang tidak bisa di tebak, tangannya mengelus-ngelus dagu seperti sedang memikirkan sesuatu.. " lalu apa yang kamu lakukan di sini ?" albert kembali bertanya " maksud tuan ?" tanya kanaya tidak mengerti " bukankah ini rumah pamanmu ?" albert balik bertanya " bukan, ini rumah ku..ini rumah peninggalan orang tuaku " bantah kanaya yang di ikuti anggukan kedua temannya albert kembali menggangguk-ngangguk kali ini wajahnya mulai serius, matanya yang tajam menatap kanaya " rumah ini sudah berpindah nama atas nama bara okta karana..makanya saya datang ke sini untuk mencari keberadaannya, dia punya hutang yang belum dibayar dengan saya " ujar albert kanaya terperanjat tidak percaya " apa maksud tuan " tanya kanaya tidak percaya " sepertinya kamu belum mengenal pamanmu itu nak, apa kamu juga belum tau kalau dia sudah mengambil alih semua aset dharmawan ???" tanya albert prihatin dengan wajah polos gadis di depannya itu pertanyaan albert seperti dentuman petir di telinga kanaya, seketika tubuhnya lunglai tak bertenaga " paman sudah mengambil alih semua aset papa ?" batin kanaya lemas " sebaiknya kamu pergi dari rumah ini, bara itu bukan orang baik, dia punya banyak musuh di luar sana, mungkin mereka akan kembali lagi ke sini untuk mencari bara " pesan albert sambil berdiri dan pergi meninggalkan kanaya yang masih larut dalam pikirannya. iring-iringan mobil albert sudah pergi meninggalkan rumah kanaya, namun kanaya masih tertegun merenungi apa yang baru saja di katakan oleh albert, pikirannya buntu, dirinya merasa seperti sedang terjebak di ruang yang gelap dan dalam. " nay...nay.." panggil sarah panik berusaha menggoncangkan bahunya kanaya untuk membuat gadis itu sadar nadila langsung mengambil minuman mineral di tasnya dan mencipratkan ke wajah kanaya dengan pelan kanaya mengedipkan matanya sadar, dan melihat kedua temannya secara bergantian " liat...mereka sudah mengambil semuanya dariku, bukan hanya ayana tapi ternyata paman juga menghancurkanku " ucap kanaya pilu, air mata yang dari tadi ia tahan akhirnya luluh, kanaya seperti melihat kehancuran hidupnya baru saja dimulai. sarah dan nadila langsung memeluk kanaya, " tuhan tidak tidur nay, mereka pasti mendapat karma suatu saat nanti " bisik nadila marah " sabar nay...kamu ga sendiri, kita akan lalui ini sama-sama " hibur sarah malang nian nasibmu kanaya...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD