setelah kanaya tau kelakuan jahat pamannya, kanaya berusaha menghubungi pengacara yang berkerja untuk papanya selama ini, namun ternyata pengacara itu sudah pindah ke luar kota dan kanaya sama sekali tidak tau alamat tinggalnya di sana. kanaya berusaha mencari berkas-berkas penting aset keluarganya, dan seperti nya pamannya itu memang sudah merencanakan niat jahatnya ini jauh-jauh hari, buktinya semua berkas-berkas penting itu sudah hilang beserta dengan loker besi yang menjadi tempat penyimpanannya
sebenarnya kanaya telah melaporkan hal itu ke polisi, tapi minimnya bukti yang dia punya membuat dirinya pasrah, bukan hanya itu polisi yang sempat menanganinya meminta uang banyak agar kasusnya segera di proses. kanaya yang tidak memiliki uang saat ini akhirnya menyerah, mau minta tolong sama keluarga nadila dan sarah ?, kanaya sangat tau diri, selama ini keluarga sarah dan nadila sudah terlalu banyak membantunya, bahkan keluarga nadila mengizinkan kanaya untuk tinggal bersama mereka, kanaya tidak mungkin menambah beban lagi untuk mereka.
hidup kanaya yang dulu damai-damai saja bagaikan di balik tiga ratus enam puluh derajat, semuanya mulai hilang satu persatu, dimulai dari orang tuanya, orang yang di cintainya dan sekarang hartanya.
"apakah tuhan sedang menghukumku ?, apa aku pernah melakukan kesalahan besar ?" batin kanaya meratapi nasibnya, " apa yang sekarang harus aku lakukan ?, aku tidak mungkin menumpang hidup selamanya di rumah nadila, mereka memang sangat baik, tapi aku juga tidak mungkin terus-terusan memanfaatkan kebaikan mereka " keluh kanaya
belum lagi kanaya juga harus memikirkan biaya kuliahnya yang tidak sedikit itu, kampusnya yang merupakan kampus elit di negeri dengan biaya selangit itu mulai menambah tingkat frustasi fikiran kanaya. dulu orang tuanya sangat mampu untuk membiayai kanaya, karna orang tua kanaya memang keluarga kaya raya, dan biaya semahal itu cuma masalah kecil, namun sekarang kanaya mulai takut dirinya akan segera mengahadapi kendala finansial dengan kampusnya.
" nay..lagi lamunin apa si " tepuk nadila menyadarkan kanaya
kanaya sedikit tersentak dari duduknya, mata kuliah yang dari tadi dikutinya ternyata sudah selesai,dan dosennya juga sudah keluar.
" hhmm..nggak kok, aku nggak melamun" bantah kanaya sambil merapikan buku-bukunya, matanya sengaja tidak menatap nadila yang masih menatapnya menyelidik. sarah kebetulan hari ini lagi tidak hadir karna lagi kurang sehat. kalau nggak maka kanaya bakal lebih susah lagi harus menghadapi pertanyaan sarah yang lebih kayak detektif yang lagi introgasi orang.
" kamu sembunyiin sesatu dari aku ?" tanya nadila makin penasaran
" nggak kok nad, aku hanya capek.." jawab kanaya bohong
kanaya tidak ingin menambah beban nadila, sahabatnya itu sudah terlalu baik padanya selama ini.
" nay..kita ini udah kayak sodara, masak kamu nggak mau terbuka si sama aku ?" nadila mulai cemberut, karna ia yakin kanaya pasti sedang memikirkan nasibnya sekarang.
" naad..aku nggak apa-apa " jawab kanaya tersenyum
nadila akhirnya mengalah dan tidak berusaha lagi menggali jawaban dari kanaya.
^_^
kanaya dan nadila sedang berjalan di lorong kampus, mereka berencana ke kampus untuk mencari beberapa buku untuk dijadikan bahan rujukan makalah untuk besok, baru saja selangkah masuk ke perpustakaan, langkah kanaya tiba-tiba berhenti, matanya membulat sempurna tidak berkedip, tepat di depannya cuma berjarak beberapa langkah justin sedang menuju ke arah pintu tempatnya berada.
nadila yang juga menyadari keberadaan justin juga ikutan terkejut, nadila menoleh ke arah sahabatnya itu, namun kanaya cuma mematung tak bergerak.
sedangkan justin tidak kalah terkejutnya, justin yang saat itu sedang bersama andre bermaksud untuk keluar, namun tidak di sangka orang yang selama ini ia rindukan itu tepat berada di depannya.
" sa..sayang " panggil justin, suara beratnya begitu menyiratkan kerinduan yang mendalam, bahkan bulir-bulir panas sudah menetes dari matanya
kanaya tidak menjawab, matanya sudah basah, tubuhnya juga ikut bergetar. hatinha tiba-tiba di dera sakit yang luar biasa ,sakit dengan pengkhianatan yang justin lakukan dan bersamaan juga rindu yang begitu dalam pada laki-laki di depannya ini. kanaya memundurkan langkahnya melihat justin mulai mendekatinya.
" ja...ja..ngan..men..men..de..kaaat " ujar kanaya tercekat
"nay.." panggil nadila cemas, ia merangkul lengan kanaya erat, berusaha membuat kanaya kuat
namun tidak sengaja nadila melihat ke arah andre yang memberinya kode untuk menjauh dari kanaya, akhirnya dengan berat hati nadila segera melepaskan lengan kanaya, dan sedikit menjauh dari kanaya ketika melihat justin yang semakin mendekati kanaya.
" aku mohon nay, kita harus bicara " pinta justin memohon
" ti..tidak, hubungan kita su..sudah selesai, jadi tidak ada yang perlu di bicarakan lagi " tolak kanaya membuang wajahnya, dirinya tidak sanggup menatap mata hitam nan lembut yang sedang menangis itu, hatinya bisa luluh dan bisa saja ia menghambur ke pelukan justin lagi saat ini.
justin meraih kedua pipi kanaya, matanya menatap wajah kanaya penuh rindu, wajah yang sudah bebarapa minggu ini tidak ia lihat, tidak ia sentuh.
kanaya menatap mata justin yang cuma berjarak beberapa centi dari wajahnya itu, ingin rasanya ia menghapus air mata itu dan memeluknya erat. untuk sesaat kanaya terbuai dengan tatapan penuh cinta dari justin, namun hanya sesaat, kanaya langsung sadar dan melepaskan tangan justin dari wajahnya dan kali ini mundur lagi dari justin.
" aku mohon nay, demi cinta kita.." pinta justin bersimpuh dengan tatapan menunduk
kanaya terkejut, semua mata tiba-tiba tertuju pada mereka, bahkan ada yang merekam dengan menggunakan handphone mereka masing-masing. ya..ini kejadian langka, mereka melihat sang idola kampus sedang memohon pada seorang wanita.
kanaya melirik kearah nadila dan andre bersamaan, andre langsung mengatup kedua tangannya di depan d**a seperti memohon dan nadila juga mengangguk setuju, seoah memintanya untuk memberi kesempatan kedua pada justin.
kanaya menarik nafas pelan, dia kembali menatap justin yang masih bersimpuh.
" baiklah...kita akan bicara " ujar kanaya berat
justin langsung mendongakkan kepala menatap kanaya, matanya berbinar-binar penuh kebahagiaan. dia langsung bangkit kali ini dengan senyum yang mengembang sempurna di wajahnya.
^_^
kanaya melirik justin yang fokus menyetir dari tadi, bahkan justin cuma diam sejak meminta kanaya ikut dengannya.
" bukankah tadi kau bilang kita akan bicara ?" tanya kanaya memecah keheningan, dirinya mulai tidak nyaman dengan suasana seperti ini.
" iya..tapi nanti " jawab justin tanpa menoleh, matanya yang tajam masih fokus menyetir.
" trus..kita mau kemana sekarang ?" tanya kanaya menatap justin heran
justin cuma tersenyum tanpa menoleh ke arah kanaya.
kanaya akhirnya memilih diam, percuma juga bertanya dari tadi, toh..justin juga tidak akan memberitahunya.
sudah lebih satu jam mobil sport justin melaju kencang, bahkan sekarang jalanan yang mereka lewati juga mulai sepi, di kiri kanannya cuma di tumbuhi pohon-pohon besar. kanaya mulai gelisah, matanya mulai celingak-celinguk menatap ke luar jendela. tempat ini benar-benar asing untuknya.
" justin...sebenarnya kita mau kemana ?" tanya kanaya mulai khawatir, jangan-jangan justin mau membuangnya karna telah meninggalkannya waktu itu.
justin cuma mengerling..masih tidak menjawab
kanaya semakin ketakutan, pikirannya semakin tidak menentu. berbagai pikiran buruk mulai menghantuinya. pria kalau lagi sakit hati kan suka ngeri prilakunya.
" justin..kamu jangan buat aku takut gini dong" teriak kanaya makin panik
justin tiba-tiba langsung menginjak pedal rem mobilnya, yang membuat kanaya hampir terlempar ke jendela depan mobil, beruntung tadi justin menggunakan sabuk pengaman pada dirinya.
kanaya langsung menatap justin kesal
" kamu mau aku mati ya ??" teriak kanaya kesal
justin cuma tersenyum, tangannya menyentuh lembut kepala kanaya dan membelai rambutnya lembut
" aku akan bawa kamu ke suatu tempat, nanti sampai di sana kamu akan tau sendiri ada apa, jadi tolong..nikmati saja perjalanan kita " ucap justin lembut
kanaya langsung menjauhkan kepalanya dari justin, jujur hatinya berdesir dengan sentuhan lembut justin.
akhirnya kali ini kanaya benar-benar diam, bahkan dirinya mencoba mencoba memejamkan kedua matanya.
^_^
kanaya terbangun dari tidurnya, dia melihat justin sudah tidak ada di mobilnya, bahkan kanaya sekarang sendirian di mobil tersebut. kanaya melihat ke depannya, ada sebuah rumah sederhana dan ada juga beberapa mobil di samping mobil justin, tapi kanaya tidak melihat seorangpun di depan rumah. akhirnya kanaya memutuskan juga turun dan masuk ke dalam rumah tersebut, karna ia yakin justin juga pasti ada di dalam sana.
baru saja kanaya akan membuka pintu, sebuah teriakan penuh kesakitan terdengar dari dalam.
" ampun tuan...ampuuunnn.." mohon suara tersebut
kanaya semakin penasaran apa yang sebenarnya terjadi. namun tiba-tiba seseorang membuka pintu. tampak laki-laki tinggi besar dengan wajah dingin sedang menatapnya, refleks kanaya mundur merasa takut.
" silahkan masuk nona.."
" jus...justin ??" tanya kanaya ragu
" tuan muda ada di dalam " jawabnya datar tanpa ekspresi, tangannya mempersilahkan kanaya masuk
kanaya masuk dengan ragu-ragu, hatinya sedikit khawatir ketika mendengarkan teriakan orang tadi.
dan ketika sudah sampai di ruangan tamu, kanaya di buat terkejut dengan pemandangan yang sedang tersaji di depan matanya. kanaya melihat enam orang yang sedang bersimpuh dengan kedua tangan dan kakinya terikat ke belakang. bahkan wajah mereka sudah babak belur karna bekas pukulan, dan yang membuat kanaya tidak tega ada dua orang paruh baya laki-laki dan perempuan, mungkin sesusia kedua orang tuanya di antara.
kanaya langsung menatap justin yang dengan santai sedang duduk di sofa dengan kedua tangan terlipat di dadanya.
" justin...apa yang kamu lakukan " tanya kanaya takut, hatinya tiba-tiba bergidik ngeri, justin terlihat sangat berbeda saat ini.
" sini sayang...kamu harus tau siapa mereka " panggil justin dengan senyuman dingin
namun kanaya malah mundur, dia seperti tidak mengenal justin.
melihat ketakutan kanaya, justin langsung bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati kanaya, ia mengenggam tangan kanaya dan menuntunnya untuk duduk di sofa yang ia duduki tadi.
" kenapa kamu tega menyakiti mereka ?" tanya kanaya dengan air mata yang mulai memenuhi kelopak matanya.
" mereka pantas mendapatkan ini " jawab justin dingin
kanaya benar-benar tidak mengerti maksud justin, dirinya masih menatap justin menunggunya untuk berbicara.
" mereka adalah orang-orang yang menyebabkan hubungan kita hancur " jawab justin tampa menoleh, matanya sedang menatap tajam orang-orang itu.
" mereka tidak ada hubungannya dengan kita " bantah kanaya cepat
justin balik menatap kanaya, kali ini dengan tatapan yang intens yang membuat kanaya berusaha memalingkan wajahnya ke arah lain.
" kau tidak tau apa- apa sayang, mereka adalah orang-orang yang di bayar ayana untuk menghancurkan hubungan kita " jawab justin
seketika raut wajah kanaya berubah
" apa maksudmu ?"
justin pun menceritakan pacaran rekayasa yang dibuat ayana, dan orangtua palsu yang dibayar ayana, dan yang terakhir ketika ayana dengan sengaja membayar seorang pelayan bar untuk memasukkan obat perangsang ke dalam minuman justin, dan yang membuat justin tidur dengan ayana malam itu.
kanaya tertegun mendengar cerita justin, air matanya berderai..hatinya sakit. ayana..putri dari pamannya yang sekaligus sepupunya itu mau melakukan hal yang tidak bermoral seperti ini hanya untuk menghancurkannya.
" aku tidak bermaksud mengkhianatimu sayang, tolong maafkan aku " bisik justin sedih
kanaya menatap justin, hatinya sangat hancur ketika berpikir kalau justin telah tega mengkhianatinya. tapi ternyata justin hanya korban di sini, ayana yang sengaja memanfaatkan kebaikan justin.
" ayana..." lirih kanaya, kepalanya menunduk, tangannya meremas ujung bajunya, tubuhnya bergetar menahan tangis
justin langsung memeluk kanaya erat, kanaya tidak menolak sama sekali, hatinya yang tadi membenci tiba-tiba mulai melunak. pelukan hangat justin seolah meleburkan semua rasa benci itu.
" aku mohon maafkan aku.. " bisik justin lagi
kanaya tidak menjawab, ia cuma menangis sesunggukan di pelukan justin. ia sangat merindukan pelukan ini. pelukan yang seharusnya ada ketika ia di landa masalah seperti sekarang.
" aku janji...aku tidak akan pernah menyakiti kamu lagi sayang " ujar justin
beberapa saat kemudian kanaya melepaskan pelukan justin, dia menatap justin dengan mata sembabnya.
" dimana ayana ??" tanya kanaya
" aku juga sedang mencari dia, tapi tiba-tiba dia menghilang begitu saja, bahkan aku sudah menyebarkan orang untuk mencarinya ke seluruh kota, namun sampai sekarang belum ada kabar tentangnya " jawab justin panjang.
kanaya menatap justin tidak suka
" kenapa kau mencarinya " tanyanya kesal
justin tersenyum, dia yakin kanaya sedang cemburu sekarang, ingin rasanya dia mengerjainya sekarang kalau saja hubungan mereka baik-baik saja.
" aku cuma ingin membuat perhitungan dengannya " jawab justin
kanaya masih menatap justin dengan tatapan kesal, namun justin membalas dengan tatapan nakalnya
" kamu cemburu ??" tanyanya dengan senyuman menggoda
" iiihhh apaan siiihh " celetuk kanaya kesal
justin kembali menarik kanaya ke dalam pelukannya
" l miss you sayang " bisik justin lembut
kanaya cuma diam, air mata yang tadi sudah mulai mengering mulai menetes lagi sekarang. ingin rasanya dia membalas ucapan justin, namun lidahnya seperti tabu mengucapkannya. tapi ia juga tidak menolak pelukan justin, malah dirinya menikmati sentuhan lembut di pundaknya itu.
akhirnya setelah beberapa saat di sana justin memutuskan untuk pulang, dan atas permintaan kanaya justin melepaskan orang-orang itu dengan syarat mereka harus meminta maaf pada kanaya dan tidak lagi mengulangi perbuatan yang bisa merugikan orang lain.