Sena meletakan putranya yang sudah tertidur secara hati-hati di atas tempat tidur. Ia berjalan keluar ingin mengambil sapu dan menyapu. Tapi ketika mendengar suara pintu apartemennya, Sena membukanya. Ia melihat Brahms berdiri di depan pintunya.
“Gue boleh masuk kan?” Tanya Brahms.
“Oh.. Iya.” Jawab Sena. Ia terlalu terkejut sampai spechless tadi. Ia membiarkan Brahms duduk. Sena pergi ke dapur dan membuat minum.
Tak lama Sena kembali, lalu meletakan gelas yang berisi minuman.
“Nggak di racun kan?” Tanya Brahms.
“Apa?”
Melihat wajah terkejut Sena Brahms tertawa kecil sembari menutupi mulutnya. Sena tak tertawa. Ia melihat Brahms dongkol. Brahms menghentikan tawanya lalu mengambil gelas itu dan meminumnya. “Jangan serius-seriusan Sen.. Ntar cepet tua loh.” Katanya lagi dengan tersenyum.
Sena mendecak. Ingin sekali ia pergi dari sini.
“Nih,” Kata Brahms dengan memberikan plastik belanjaan. Sena menerimanya lalu memeriksa isinya. Mainan anak-anak?
“Buat Elios sama Elias.” Katanya.
“Apaan nih, sogokan?” Tanya Sena to the point.
“Dimana-mana kalau orang dikasih barang itu bilangnya makasih bukan langsung dituduh gitu.”
“Oke ... Makasih. Terus ini apa?”
“Sogokan.” Jawab Brahms jujur. “Sorry udah buat Aldric ninggalin anaknya kemaren.” Ucapnya.
“Kalau mau minta maaf, minta maaf aja. Jangan bawa-bawa barang ke ginian. Gue nggak suka.”
Brahms menatap Sena. “Tapi kata Gea, lo bakalan seneng kalau di sogok barang ginian.”
“Hah, Gea??”
Brahms menganguk. Ia lalu menceritakan jika ia meminta saran bagaimana caranya minta maaf ke Sena karna telah membuat perempuan itu marah karna mengajak Aldric pergi bermain. Gea pun menyarankan jika Brahms harus meminta maaf secara langsung dan mentraktir Sena Bakso. “Tapi kan gue nggak mungkin ngajakin lo makan Bakso Sen, ntar si Aldric cemburu. Dia kan cemburuan.” Katanya.
Sena tertawa kecil mendengarnya. Brahms melihatnya takjub. Ia pikir Sena akan sensi padanya tadi, lalu memarahinya. “Terus ini ide siapa?” Tanya Sena dengan menunjuk belanjaannya.
“Gea. Yah ... Ide gue juga sih. Gue nggak mau kesini dengan tangan kosong. Terus dia nyaranin itu. Itu gue juga milihnya sama Gea.” Adunya lagi.
“Elah .... Bilang aja lo mau modus kan, pake acara beliin Si kembar hadiah segala.” celetus Sena.
Brahms terkejut. Yah... Sebenarnya itu memang benar. Apa caranya terlalu kelihatan?
“Yaudah ... Gue terima. Makasih ya.” Kata Sena lagi. Brahms menganguk. “Gue gapapa kalo Aldric mau keluar main, cuma lain kali lihat dulu kondisinya.”
Brahms menganguk kembali.
“Nanti usahain jam 6 pulang ya ...” Pinta Sena lagi.
“Iya ...”
“Sena.... Eh, Brahmss ... Dari tadi?”
“Barusan.”
“Itu apa sayang?” Tanya Aldric yang melihat Sena membawa plastik hitam besar.
“Ini??... Sogokan dari temenmu tuh.”
“Sogokan?” Sena menganguk.
“Ooo... Ayok Brahms.” Ajak Aldric yang kemudian berjalan duluan.
Brahms bangkit lalu Sena mengikuti mereka berjalan, sampai di depan pintu Aldric menarik Sena lalu mencium keningnya. “Aku pergi.” Katanya.
“Hati-hati.”
Seperginya Aldric Sena melanjutkan kegiatan beres-beresnya. Ia mengambil Laptopnya lalu mulai menyicil Skripsinya selagi kedua putranya tidur.
****
Brahms melihat jam tangannya lalu mengehentikan acaranya bermain Basket. Jelas teman-temannya bertanya, mendengar jawaban Brahms mereka terkejut.
“Serius?”
“Iya ... Gue udah janji Sena bakal nyelesein ini jam 6.”
Aldric melihat jam tangannya. Setengah jam lagi jam 6. “Iya ... Gue balik dulu.” Balas Aldric yang kini mengambil tasnya. Ia mengusap keringatnya menggunakan handuk kecil yang ia bawa.
Brahms mengikutinya. Disusul Reza dan Lois akhirnya. Aldric berniat nebeng Reza tapi Brahms dengan suka rela mengantarkannya. Akhirnya Aldric pun setuju.
Aldric mengeluarkan handphonenya lalu bermain game sebentar. Karena jika nanti sampai di Apartemannya ia tak akan bisa bermain handphone. Istrinya itu akan menanyainya perihal skripsi atau kalau kedua putranya itu menangis. Aldric akan membantu menenangkannya. Alhasil ia tak punya kesempatan bermain handphone.
“Al... Gue suka sama Gea.” kata Brahms sembari menyetiri mobilnya mengantarkan Aldric pulang.
“Oh ... Gea siapa??” Tanya Aldric sembari bermain game. Ia fokus terhadap gamenya. Tapi, masih mendengarkan perkataan Brahms. “Ayudia Gea? Gea Pramudya? Alangia Flora?? Gea natalia? Gea yang mana?” Sambung Aldric yang masih fokus ke gamenya.
“Itu siapa semua Al?” Tanya Brahms bingung.
“Ya Gealah... Katanya lo suka Gea. Mangkanya gue sebutin satu-satu orang yang namanya Gea yang gua kenal!” Jawabnya.
“Bukan Gea itu! Gue suka sama Viona Geraldine.”
“Siapa tuh?? Anak mana?” Tanya Aldric yang masih fokus pada gamenya.
“Ya itu Gea ... Gea temennya Sena istri lo!! Karyawan lo di Cafe.”
“Ya?” Tanya Aldric yang kini menatap Brahms tak percaya. Sepertinya tadi pendengarannya sedikit terganggu. Ia menghentikan bermain gamenya sebentar dan memperhatikan sahabatnya.
“Gue suka Gea yang itu. Lo nggak tau namanya Gea?? Namanya Gea kan Viona Geraldine.” Kata Brahms serius.
“Viona Geraldine?? Gea nya darimana?”
“Gera.. R nya di ilangin. Jadinya Gea.”
“Wait ... Wai t... Gue masih bingung. Lo suka sama Gea temennya istri gue itu?” Tanya Aldric memastikan. Aldric tam
“Iya.”
“Hah?” Syok Aldric.
Ia tiba-tiba teringat dengan percakapannya tadi bersama Reza dan yang lainnya. Mereka bilang jika Brahms suka Gea. Aldric masih tak mempercayainya. Gimana mungkin Brahms crazy rich anak Sultan itu bisa suka sama Gea. Masa cuma gara-gara di marahin Gea seperti itu sahabatnya itu jadi suka teman istrinya?? Nggak mungkin kan.
“Al kok lo bengong sih.”
“Gue kaget!” Jawab Aldric.
“Menurut lo gimana?” Tanya Brahms.
“Gimana ya ...” Ucap Aldric ragu-ragu.
Pasalnya Brahms ini anak Sultan. Jika Aldric saja sudah di pandang teman-temannya anaknya orang kaya, Brahms ini beda lagi levelnya. Kekayaannya tidak sebanding dengan anaknya Sultan itu. Sedangkan Gea anaknya orang biasa saja. Mungkin juga Gea anaknya orang berekonomi menengah ke bawah. Bukannya Aldric mengejek Gea atau bagaimana. Bukan! Tapi, Aldric mengingat kejadian semester 3 dulu. Waktu itu liburan, Brahms mengajak mereka liburan ke China dan menginap di penginapannya. Aldric dan temannya tak menolak. Terlebih mereka di gratisin dan hanya perlu membawa uang jajannya dan membuat Visa.
Waktu itu teman-temannya memakai setelan dari brand ternama dari ujung kaki sampe ujung rambut. Aldric demikian tapi kaos yang di gunakan beli mall seharga 250rb.an bukan seharga jutaan seperti biasanya atau teman-temannya itu. Ketika di penginapan itu, Aldric bersama teman-temannya bertemu mamanya Brahms. Seperti dugaannya jika keluarga Brahms bukan abal-abal. Gaun merah di atas lutut, bibirnya bewarna terang, dan jangan lupakan Syal hitam berbulu yang bertengger cantik di bahunya. Mamanya seperti dari dunia lain terlihat awet muda dan Sangat berkelas, berwibawa, Anggun, Cantik, Pintar, pokoknya semua pujian yang baik-baik patut ia letakan di mamanya Brahms itu. Ah ... Dan juga terlihat sangat dingin.
“Mama?” Panggil Brahms terkejut. Maklum terakhir bertemu mamanya adalah tahun lalu.
“Sepertinya kamu sedang liburan, kamu nggak kuliah?” Tanya mamanya dingin sekaligus Anggun disaat bersamanya.
“Sekarang waktunya libur. Mama disini sampe kapan?” Tanya Brahms.
“Besok pagi.” Jawabnya yang memperhatikan satu-satu teman putranya. Tatapannya seolah olah sedang menilai mereka satu-satu. Sampai di Aldric Mamanya Brahms menatapnya sangat dingin dan menusuk. Seolah dari tatapannya ada sarkas. Kamu nggak cocok berteman dari anak saya. “Kamu nggak kenalin teman-teman kamu ke Mama?? Dia siapa?” Tanya wanita cantik itu.
“Saya Aldric tante.” Kata Aldric memperkenalkan dirinya karna tadi mamanya Brahms menatapnya tak enak.
“Dari keluarga mana?” Tanya Wanita itu.
“Mama ...” Panggil Brahms kesal. “Jangan bikin aku malu!”
Wanita yang di panggil mama itu menatap tajam putranya. Pandangannya sangat dingin.”Buat malu?? Mama cuma mau tau kamu berteman sama siapa?” Desisnya.
Brahms mengehela napas kasar. “Dia anaknya Aditnya Alvaro. Pemilik AA grup. Mama tau kan?” Tanyanya kesal.
“Tau. Mama kenal sama istrinya Aditnya.”
Mendengar hal itu Aldric terkejut. Mamanya tak pernah cerita jika pernah punya teman seperti Mak Lampir itu.
“Tante kenal mama saya?”
“Kita pernah ketemu di Milan.” Jawabnya angkuh. “Kalau begitu, kalian nikamtin liburannya.” Katanya lagi yang langsung beranjak di ikuti oleh Seketarisnya.
Aldric syok melihat kepergiannya. Brahms langsung meminta maaf atas ulah mamanya ke Aldric. Aldric menganguk mengerti. Tidak apa-apa. Yah.. Meksipun bilang begitu Aldric sangat membantin. Tak hanya Aldric teman-temannya yang lain juga. Ia pikir maslaahnya sudah selesai. Sampai esok paginya ia mendapat telfon dari mamanya. Mamanya bertanya bagaimana bisa Aldric bertemu Eleanor, mamanya Brahms itu.
Mendengar hal itu Aldric takjub. Apa mamanya Brahms sebegitu tak mempercayainya sehingag langsung menelfon mamanya. Wah .. Aldric sampai tidak bisa mempercayainya.
“Al.” Panggil Brahms dengan menepuk bahu Aldric kuat.
“Setau gue, Gea bukan orang yang suka main-main Brahms. Kalau lo cuma mau main-main mending jangan.”
“Gue serius Al suka dia.”
“Mending lo cari cewek lain aja Brahms. Gue nggak yakin nyokap lo bakal diem aja kalo tau.” Kata Aldric. Jelas ia berdoa semoga itu terakhir kalinya ia bertemu mamanya Brahms.
Tak hanya mamanya Brahms.. Katanya Papanya lebih parah lagi. Aldric tak dapat membayangknnya. Dan lagi ia yakin Gea tak akan sanggup menghadapi keluarga Brahms.
“Berumbung perasaan lo belum dalam, Gea juga belum suka sama lo ... Mending berhenti. Masih banyak kok cewek diluar sana yang lebih.”
Brahms kecewa. Ia terlihat sangat sedih. Ia fikir Aldric akan mengerti dirinya.
“Gue tau lo suka sama dia. Misalnya lo deketin dia. Terus Gea suka sama lo. Kalian saling suka, saling serius... Keluarga lo?? Lo yakin mereka bakal setuju sama Gea?? Gea bukan orang berada kayak lo Brahms. Dan ini bukan kisah Cinderella. Gue bukannya nggak ngertiin lo. Tapi hubungan kalian hampir mustahil kayak Juliet dan Romeo. Nggak itu juga, gue nggak yakin Gea bisa ngadepin nyokap lo. Gue aja angkat tangan. Gea apalagi. Setidaknya lo pikirin nasib Gea nanti.” Ucap Aldric memberikan pengertian.
Brahms tau itu. Orang tuanya tak akan membiarkannya jika mereka tau Brahms punya hubungan dengan orang seperti Gea. Jangankan hubungan, Teman saja, ia hanya boleh berteman dengan orang-orang sekelasnya.
“Beda lagi kalo nyokap ato bokap lo kek ortu gue, Melvin, ato Reza yang nggak mandang calon menantunya.” Tambahnya.