Bab 4. Bertemu Hana

1203 Words
Setelah acara lamaran itu, Aruna tak pernah bertemu dengan Raka. Aruna menjalani hari seperti biasa. Pagi hari sampai sore ia berkuliah, malamnya ia bekerja di sebuah café yang tak jauh dari kampus tempat Alana berkuliah. “Apa yang harus aku lakukan?” batin Aruna melihat surat peringatan yang diberikan Dekan, mengenai biaya kuliah Pihak kampus memberi waktu dua bulan untuk Alana melunasi semua biaya kuliahnya. Aruna berada di semester akhir, ia sudah menyelesaikan skiripsi dan yang lainnya. Hanya tinggal menyelesaikan beberapa mata kuliah saja. “Kalau aku belum melunasi ini, aku tak bisa wisuda,” batin Aruna lagi, sambil memandangi surat peringatan tersebut. Aruna tak tau kenapa cobaan datang bertubi-tubi padanya. Masalah lamaran, ditambah lagi uang kuliah yang harus ia lunasi secepat mungkin. Darimana ia mendapatkan uang dalam waktu yang singkat. “Apa aku pakai saja uang dari Mama, ya?” pikir Aruna. Aruna masih memiliki Ibu kandung—Kirana yang tinggal di luar negeri. Dulu saat umurnya delapan tahun, Kirana berselingkuh dan meninggalkan Aruna bersama Danil—ayah Aruna. Kirana sudah berkali-kali berselingkuh. Namun, Danil selalu memaafkan Kirana, suatu waktu Kirana kabur bersama selingkuhannya. Darisitulah kebencian Danil bermula, Danil sangat membenci Aruna karena Aruna mengingatkan dengan mantan istrinya. “Tidak-tidak, aku tak akan menggunakan uang itu!” batin Aruna lagi, Aruna juga membenci Kirana. Gara-gara Kirana hidupnya hancur, ia tak bisa tumbuh seperti anak pada umumnya. Tak ingin memikirkan hal itu lagi. Aruna langsung saja berjalan ke depan, sekedar untuk mencari makan. Ia belum makan sejak pagi, apalagi ia memiliki penyakit asam lambung. “Aruna,” panggil seseorang. Aruna melihat ke belakang. Ia terkejut melihat seseorang yang sedang berjalan ke arahnya. “Kak Raka? Dia tau aku berkuliah di sini?” Aruna kaget melihat Raka tau ia berkuliah di sini. “Ayo ikut,” ajak Raka, pria itu berbalik dan berjalan tanpa menunggu Aruna. “Mau ke mana?” Aruna bingung kemana Raka akan membawanya pergi, Raka tak menjelaskan apapun. Seakan Aruna adalah robot yang akan mematuhi perintah dari tuannya. “Ikut saja!” ucap Raka dengan nada dingin dan datar. Dengan langkah lunglai, Aruna terpaksa mengikuti Raka. Ia juga tak mau Raka membuat keributan di kampus. Pria itu terus saja berjalan, beberapa dosen maupun mahasiswa menyapa Raka dengan hangat, begitupun Raka merespon sapaan itu dengan hangat pula. “Mereka semua mengenal, Kak Raka?” batin Aruna, semakin tak mengerti situasi apa yang sedang ia hadapi sekarang. Masalahnya sudah cukup banyak, dengan hadirnya Raka menambah beban di pundak Aruna. Aruna hanya ingin berkuliah dengan tenang, wisuda lalu bekerja di perusahaan impiannya. Hanya itu yang diinginkan Aruna. Datangnya Raka merusak semua rencana yang Aruna susun dengan rapi. *** Terlihat mereka berdua berada di dalam mobil, Raka tengah fokus menyetir. Aruna baru menyadari Raka terlihat tampan dilihat dari samping. Dengan rahang yang tegas, kulit sawo matang yang menambah pesona seorang Raka. Raka juga terlihat berotot, Aruna yakin pria itu sering berolahraga. “Kita mau ke mana?” lagi dan lagi Aruna bertanya. Ia akan terus bertanya sampai Raka menjawab pertanyaannya. “Jangan banyak tanya,” ujar Raka sembari membelokkan mobil ke arah sebuah toko butik pengantin. “Kamu tau, gara-gara kamu aku harus menunda beberapa rapat siang ini!” kata Raka masih mengunakan nada dingin dan datar. Wajah Raka tampak kesal saat mengatakan hal itu. “Apa yang telah aku lakukan?” tanya Aruna, tak mengerti kenapa Raka marah tanpa sebab ke dirinya, ia saja tak tau menau Raka akan datang hari ini. “Itu,” tunjuk Raka ke arah Linda yang sedang menunggu kedatangan mereka di pintu depan. Aruna melihat ke arah yang ditunjuk Raka, benar saja ada Linda di depan sana. Tak hanya Linda saja ada seseorang yang membuat Aruna kaget, seseorang yang tak ingin Aruna temui lagi sama halnya dengan Raka. “Kak Hana? Dia bersama Tante Linda?” Aruna kaget bukan main saat melihat Linda bersama Hana berdiri di depan sana. Linda terlihat mengobrol asik bersama Hana. Ada satu orang lagi yang membuat Aruna kaget. “Anak kecil? Apa dia anak Kak Raka dan Kak Hana?” Aruna berpikir dengan keras anak siapa itu, ia menerka-nerka bawah itu adalah anak Raka dan Hana. “Tidak mungkin anak Kak Raka,” batin Aruna mencoba untuk berpikir positif. “Ayo cepat turun! Banyak pekerjaan yang menungguku!” bentak Raka melihat Aruna tak bergerak sedikitpun. Entah apa yang dipikirkan perempuan itu. Aruna masih diam saat Raka mengatakan hal itu. “Aruna!” panggil Raka. Lagi dan lagi Aruna tak menyahut panggilannya. “Hei, ayo turun,” kata Raka menyentuh pelan pundak Aruna agar wanita itu tersadar. “Hah? Maaf-maaf,” kata Aruna bergegas turun, tak ingin membuat Raka tambah marah padanya. *** Aruna disambut hangat oleh Linda, ia melihat ke arah Hana. Perempuan itu tampak tak suka ia ada di antara mereka. Belum lagi anak kecil yang berusia lima tahun menatap sinis ke arahnya. Aruna heran dan tak mengerti kenapa mereka tampak tak suka dengannya “Papa!” teriak anak kecil itu mengelegar terdengar seisi ruangan. “Papa?” Aruna masih bingung apa yang terjadi sekarang, ia tak tau kalau Raka sudah menikah. Lalu kenapa Raka ingin menikahinya juga? “Princes di sini juga.” Raka terlihat sangat menyanyangi anak kecil itu. Ia pun langsung megendong anak itu, Aruna sempat melihat anak itu menatap mengejek ke arahnya. “Owh, Aruna, tante lupa ngenalin. Ini Lionara cucu tante anak Hana,” kata Linda memperkenalkan mereka berdua. “Cucu?” Aruna terdiam beberapa saat, berusaha menceran perkataan Linda. “Ah ... iya Tante,” kata Aruna mencoba menampilkan senyum manis, padahal dalam hatinya ia sangat marah dan kecewa. Lagi dan lagi Raka membuatnya kecewa. Untuk apa Raka menikahinya jika sudah menikah dengan Hana. Raka benar-benar keterlalun jika sampai menjadikan Aruna istri kedua, Aruna tak ingin merusak kebahagiaan orang lain apalagi kebahagiaan Raka. Aruna rela melepas Raka jika Raka sudah bersama Hana. “Kalian ngobrol dulu ya,” kata Linda ia ingin mengecek baju pengatin yang akan dipakai Aruna dan Raka di hari pernikahan mereka. Kini tinggallah Aruna dan Hana di sopa. Mereka berdua tampak cangung untuk memulai obrolan. Sampailah Hana yang memulai terlebih dahulu. “Aruna, apa kabar?” tanya Hana dengan nada ramah seperti biasa. Sedari dulu Hana memang ramah dan banyak digilai oleh mahasiswa di kampus mereka dulu, tak ayal Raka juga menaruh hati terhadap Hana. “Aku baik, Kak, Kakak apa kabar?” tanya Aruna, ia balik bertanya hanya untuk berbasa-basi. Sebenarnya Aruna juga tak ingin bertemu Hana di sini, memang Hana tak melakukan apa-apa terhadapnya. Tapi kehadiran Hana dulu, kadang membuat hubungan Aruna dan Raka kacau. Mereka sering bertengkar gara-gara Hana. “Aku baik,” jawab Hana masih menyungingkan senyum manisnya. “Selamat ya, sebentar lagi kamu akan menikah dengan Raka,” tambah Hana ia menatap insten ke arah Aruna, tak tau apa arti tatapan Hana. “Iya,” balas Aruna dengan nada canggung. Aruna tau Hana tak sungguh-sunguh mengatakan hal itu, entah kenapa ia merasa Hana tak ingin dirinya menikah dengan Raka. “Raka seharusnya menikah denganku!” batin Hana dengan tangan yang mengepal. “Padahal aku sudah mati-matian membujuk Raka agar tak menerima perjodohan dengan Maura, tapi kenapa malah Aruna yang bersama Raka!” batin Hana, menatap Aruna dengan tatapan datar. “Aku harus melakukan sesuatu,” batin Hana.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD