Semuanya sudah duduk di tempatnya masing-masing. Semua orang sedang menanti acara utama, yaitu bertukar cincin. Maura tak henti-hentinya tersenyum nenatap Raka yang ada di sebrang sana. Ia tak sabar menjadi istri dari seorang Raka Ardhana, sudah tampan kaya lagi. Wanita mana yang menolak Raka.
“Aku baru tau, Maura kakak tiri Aruna,” batin Raka, ia baru memahami silsilah keluarga Aruna.
“Aruna kau lihat, bahkan takdir berpihak padaku hari ini,” batin Raka menatap dalam ke arah Aruna. Entah apa yang direncanakan Raka.
Aruna selalu saja menunduk, ia tau Raka sedang menatap ke arahnya.
Entah kenapa Raka menjadi tenang telah menemukan keberadaan Aruna, seminggu terakhir ini ia berkali-kali pergi ke kos Aruna. Namun, tak menemukan Aruna di sana. Tak ada yang tau keberadaan Aruna.
“Takdir macam apa ini Tuhan … kenapa harus Kak Raka yang menjadi suami Maura,” batin Aruna miris akan hidupnya. Padahal ia ingin menghindari Raka, tapi kenapa pria itu masuk ke dalam keluarganya.
Di lain sisi, Maura melihat dengan jelas Raka menatap Aruna dengan tatapan yang tak bisa ia artikan. Sedari tadi Raka hanya menatap ke arah Aruna. Tak sedikitpun Raka menatap ke arahnya.
“Aruna! Apa Raka menyukai Aruna?” Maura bertanya di dalam hatinya.
Maura tak suka saat perhatian Raka teralihkan dengan adanya Aruna di acara lamarannya.
***
“Acara selanjutnya, tukar cincin.”
Aruna menitihkan air mata saat mendengar itu. Sedikit banyaknya ia juga menginginkan Raka, ia juga sakit hati melihat Raka bersama wanita lain. Apalagi itu kakak tirinya sendiri.
“Kenapa aku harus hadir di sini, apa Kak Raka sengaja ingin membuatku sakit hati?” Aruna bertanya-tanya di dalam hatinya. Kalau pemikiran itu benar adanya, Raka benar-benar keterlaluan.
“Ayo Maura, maju ke depan.” Nadia meminta anaknya untuk mendekat ke arah Raka yang terlebih dahulu ada di depan.
“Iya, Ma.” Maura dengan senang hati mendekat ke arah Raka. Lagi dan lagi Maura melihat Raka masih memperhatikan Aruna.
“Maaf sebelumnya,” ujar Raka mengetrupsi semua orang. Yang tadinya bersorak, sekarang langsung diam mendengarkan perkataan Raka.
“Om, Tante,” kata Raka menghadap ke arah kedua orangtua Aruna.
“Iya Nak Raka?” Danil—ayah Aruna bertanya.
“Sebelumnya, saya minta maaf. Saya ingin membatalkan lamaran ini ….” Raka menghentikan ucapannya. Ia melihat reaksi semua orang, termasuk orangtuanya.
Mereka semua kaget dengan perkataan Raka yang tiba-tiba membatalkan lamaran, padahal mereka sudah sepakat untuk menjodohkan anak mereka.
“Raka, apa-apaan kamu!” bentak Linda, jelas-jelas Raka sudah mempermalukan keluarga mereka.
“Pak Danil, Bu Nadia. Maafkan Raka, lamaran ini tetap kita lanjutkan,” kata Linda lagi, ia menatap tajam ke arah Raka yang tiba-tiba membatalkan lamaran.
“Bun, aku tak mencintai Maura. Pernikahan kami tak bahagia jika kami tak saling mencintai,” timpal Raka, ia ingin membuat ibunya sadar agar berhenti menjodohkan dirinya.
“Raka! Jangan membuat ayah malu!” bentak Danu—ayah Raka.
“Ayah, tolong mengerti, aku mencintai orang lain!” Raka frustasi berusaha menjelaskan ke ayahnya, apa yang ia rasakan.
“Rak—“ Raka langsung saja memotong pembicaaan Bundanya.
“Bun, bunda bilang Raka akan menikahi anak dari Om Danil?” Raka bertanya, sekaligus memastikan sesuatu.
“Ya, tentu saja,” jawab Linda dengan lantang.
“Makanya kamu harus menikah dengan Maura, Raka!” Lama-lama Linda kesal dengan keras kepala Raka.
“Kenapa tidak dengan adik Maura saja, yang jelas-jelas anak kandung Om Danil?” tanya Raka ke semua orang.
Kedua orangtua Raka kaget saat Raka mengatakan hal itu. Mereka tak berpikir sampai sana, perkataan Raka ada betulnya.
“Maksudnya?” tanya Danil—ayah Aruna.
“Raka ingin menikahi Aruna, Om,” ucap Raka penuh keseriusan. Raka tak pernah seserius ini. Ia tak bisa mencari cara lagi untuk mendapatkan Aruna. Mungkin dengan cara ini ia bisa bersama Aruna.
“Apa-apaan ini, apa Kak Raka mempermainkanku?” Aruna tak habis pikir, ide gila yang diajukan Raka. Ini sama saja menusuknya dari belakang.
Tak hanya Aruna saja yang terkejut melainkan Semua orang di sana terkejut mendengar keputusan Raka, apalagi Maura ia tak habis pikir Raka ingin bersama p*****r seperti Aruna.
“Itu ide bagus Raka, benar apa katamu tadi. Keluarga kami memang memiliki janji akan menikahi keturunan kami, ya Arunalah anak kandung dari Danil,” tambah Bude Nilna—kakak kandung ayah Aruna.
“Tapi kan Bude, Aruna it—“ Bude Nilna langsung saja membekap mulut Maura agar tak berbicara lebih banyak lagi.
“Bagaimana Danil? Danu?” tanya Bude Nilna meminta pendapat mereka berdua.
“Ide bagus, asalkan dengan keluarga kalian kami tak apa,” kata Danu mengiyakan ucapan itu. Begitupun Linda, ia juga setuju degan saran dari Raka.
Sedangkan Danil, ia menatap Aruna dengan tatapan sendu. Entahlah ia juga tak bisa berbuat apa-apa, selain melepaskan Aruna bersama Raka. Mereka tak punya pilihan lain.
“Baiklah,” kata Danil, mundur satu langkah membiarkan Aruna mendekati Raka.
Bude Nilna menuntun Aruna untuk duduk di depan bersama Raka, ia sangat bahagia keponakan yang sangat ia sayangi berakhir bersama orang yang tepat. Setidaknya ia bisa tenang saat tau Aruna menikah dengan Raka.
“Apa tak ada yang menanyakan pendapatku?” tiba-tiba Aruna membuka suara, ia hampir saja menangis saat mengatakan hal itu.
Raka was-was saat Aruna berbicara, ia tak mau Aruna mengagalkan lamaran ini.
“Aruna sialan! Padahal aku ingin bertanggung jawab,” batin Raka, menatap tajam ke arah Aruna yang ada di sampingnya.
“Sayang, kamu kok gitu, nggak mau nikah samaku?” tanya Raka dengan nada manja, bahkan Raka menampilkan ekspresi sedih sesedihnya di hadapan banyak orang agar bersimpati dengan dirinya.
“Kak Raka! Lelucon apa ini!” bentak Aruna, tak mengerti jalan pikiran Raka.
“Diam Aruna! Atau aku akan mengatakan ke semua orang masalalu kita!” bisik Raka, tepat di telinga Aruna.
Raka mengancam Aruna agar wanita itu diam, dan tak merusak hari bahagia mereka.
“Kak!” Aruna mengepalkan tangan saat Raka mengatakan hal itu.
“Ikuti saja, aktingku!” bisik Raka lagi, mencekram erat tangan Aruna yang ada di genggamannya.
“Hehehe maaf semuanya, saya dan Aruna lagi marahan maklum anak muda,” ujar Raka memecah keheningan. Yang semula sempat tegang dengan ucapan Aruna.
Setelah mengatakan hal itu, Raka langsung meminta pembawa acara memulai acara. Acara diadakan dengan khidmat dengan rencana sebelumnya. Namun, wanitanya saja yang berbeda.
Di lain sisi Maura sangat marah melihat hal itu, ia tak habis pikir Raka lebih memiih Aruna perempuan rusak daripada dirinya yang masih perawan.
“Aruna, lihat saja nanti! Aku akan merebut Raka dari kamu!” batin Maura, lalu berjalan dengan cepat menuju kamarnya. Ia sangat marah dengan apa yang terjadi padanya hari ini.
“Entah apa yang akan terjadi padaku ke depannya, semoga saja Kak Raka tak memiliki niat jahat terhadapku,” batin Aruna sembari memasang cincin di jari manis Raka.