Bab 2 Pernikahan?

1337 Words
Raka sudah sampai di rumah orangtuanya. Ada Bunda dan neneknya. Seperti biasa pasti mereka akan membahas acara lamaran untuk Raka. Raka sebenarnya sudah muak dengan semua wanita yang dikenalkan padanya, tak ada satupun yang tulus mencintai Raka. Rata-rata hanya ingin hartanya saja. “Bunda nggak mau tau kamu harus hadir di acara lamaranmu!” Linda mewanti-wanti anaknya untuk hadir, sudah berpuluh wanita yang ditolak oleh Raka. Entah wanita mana yang Raka inginkan. “Baiklah.” Raka benar-benar pasrah kali ini, nanti saja ia memikirkan cara membatalkan perjodohan itu. *** Raka berjalan masuk ke dalam kamar, ia frustasi dengan perjodohan itu. Apalagi Aruna memenuhi isi pikirannya. Tak munafik Raka masih sangat mencintai Aruna, hanya saja terhalang ego Raka yang tinggi membuat ia tak bisa mengucapakan kata maaf ke Aruna. “Apa aku harus meminta maaf?” Raka bertanya-tanya di dalam hatinya. “Apa dia benar-benar menggugurkan kandungannya dulu?” Raka teringat lagi kejadian tujuh tahun yang lalu. Ia lebih memilih Hana daripada Aruna, padahal Aruna sedang hamil anaknya pada waktu itu. “Sudahlah, tak usah dipikirkan lagi, dia juga terlihat baik-baik saja,” gumam Raka, ia melihat Aruna masih sama seperti dulu. Tak ada yang berubah dari perempuan itu. Raka tak tau saja apa yang Aruna alami dulu, bagaimana tersiksanya Aruna diasingkan orang-orang disekitarnya saat tau Aruna hamil di luar nikah. Bahkan, ia sampai telat kuliah tiga tahun gara-gara kehamilannya itu. *** Kembali ke Aruna, Aruna tampak berjalan sempoyongan menuju kamarnya yang ada di ujung ruangan. Aruna memilih tinggal terpisah dari orangtuanya setelah kejadian tujuh tahun yang lalu. Ia diusir oleh ayahnya sendiri, yang memang sedari awal sangat membenci Aruna. Apalagi saat kehadiran ibu tiri dan kakak tirinya itu, kebencian ayahnya bertambah berkali-kali lipat terhadap Aruna. “Apa yang harus aku lakukan sekarang bagaimana kalau aku benar-benar hamil?” Aruna menjadi panik sendiri mengingat malam panas bersama Raka. Walaupun Raka ingin bertanggung jawab, tapi tetap saja ia tak mau hidup bersama pria itu lagi. Ia tak bisa lagi bersama Raka walaupun masih mencintai pria itu. “Tidak-tidak aku tak boleh hamil …,” lirih Aruna, tangisnya pun pecah saat mengingat bagaimana Raka sekali lagi menjamah tubuhnya. Raka melakukan itu tanpa memikirkan perasaannya. Apa tak ada sedikit cinta dari Raka untuk dirinya, paling tidak Raka iba melihat dirinya. “Akh! Kak Raka benar-benar melecehkanku ….” Aruna menarik rambutnya kesal dengan ulah Raka. Lagi dan lagi pria itu merengut semuanya. “Tuhan … mana bahagia yang kau janjikan itu …,” lirih Aruna memperhatikan langit-langit kamar. Ia sudah kehilangan semuanya dan itu ulah Raka. Akibat menangis terlalu lama ia pun tertidur pulas di lantai yang dingin, rasa dingin itu tak sebanding dengan rasa sakit akibat pelecehan yang dilakukan Raka. *** “Aruna tinggal di daerah sini?” tanya Raka, saat mereka telah memasuki komplek yang padat penduduk. “Iya, alamatnya di sini,” kata Bintang—sahabat sekaligus asisten Raka. “Aruna tinggal di tempat kumuh seperti ini?” Raka tak percaya saat melihat keadaan lingkungan yang ditingali Aruna. Ada banyak warga yang tinggal di sana, ada yang memasak di depan rumah, ada yang menjemur baju dan ada juga anak kecil yang sedang mandi di sungai. Raka dan Bintang menyusuri jalan setapak mencari alamat kos Aruna. Tibalah mereka di sebuah rumah tiga tingkat yang sederhana. Tampak usang dan tak terurus. “Itu dia, Aruna tinggal di sini,” ujar Bintang menghentikan mobilnya di depan kos Aruna. Raka mengangguk tanda mengerti, ia pun turun untuk mencari keberadaan Aruna. Ia sangat berharap Aruna mau menemuinya. Banyak hal yang ingin ia bahas dengan Aruna. Tak berselang lama pintu kos pun terbuka pemandangan yang pertama kali ia lihat adalah wanita yang memakai celana pendek sedang menatap ke arahnya. Tampak wanita itu terkejut, wajahnya pucat pasi menatap ke arah Raka. Dengan santai Raka berjalan agar lebih dekat dengan Aruna. “Kak Raka? Untuk apa ke sini?” tanya Aruna dengan tangan yang gemetar, bahkan tempat sampah yang ia pegang jatuh ke lantai. “Aruna!” Raka tersenyum licik melihat Aruna tepat berada di depannya. Seminggu terakhir ini ia sudah mencari Aruna kesana-kemari. Namun, tak menemukan keberadaan perempuan itu. Aruna seakan menghilang ditelan bumi. Aruna ingin menutup pintu, namun Raka segera menahan tangan Aruna untuk tak pergi. “Kita perlu bicara,” kata Raka panik sambil menahan tangan Aruna. “Apalagi Kak Raka?! Aku sibuk,” kata Aruna berusaha keras menutup pintu kosnya. Bisa bahaya kalau Raka masuk. “Aruna! Ini penting, ini demi dirimu juga,” tekan Raka pada setiap perkataannya. “Untukku?” Aruna tertawa miris mendengar omong kosong itu. Perkataan yang tak mau Aruna dengar lagi. “Kita harus menikah, kali ini aku akan bertanggung jawab,” kata Raka dengan nada serius. Raka tak main-main mengatakan hal itu. Ia tak mau lagi mengulang kesalahan yang sama dan akan menyakiti Aruna dan tentu dirinya juga. “Tidak perlu!” bentak Aruna, lalu menutup pintu dengan sagat keras. “Aruna! Dengar dulu.” Raka mengendor pintu dengan sangat keras, ia tak mau menyerah dan melepaskan Aruna dengan begitu saja. “Aruna!” teriak Raka, bahkan Raka tak peduli tetangga akan mendengar teriakannya. Yang penting sekarang Aruna harus menikah dengannya. “Rak, kita pulang aja dulu. Nanti kita pikirkan cara meluluhkan hati Aruna, yang penting kita sudah tau tempat tinggal Aruna,” ujar Bintang menghentikan Raka untuk tak membuat keributan di sini. Bisa-bisa mereka di amuk warga. Raka menghela napas mendengar perkataan Bintang. Bintang ada betulnya juga, tak seharusnya ia berteriak seperti tadi. Mereka harus menyusun rencana agar Aruna mau menikah dengan Raka. “Lihat saja nanti, Kamu akan menjadi milikku!” batin Raka, ia tak akan melepaskan Aruna dengan begitu saja. Ini belum berakhir, Raka akan datang lagi. Di lain sisi, Aruna sudah berada di lantai atas, di mana kamarnya berada. Ia melihat dengan jelas bagaimana Raka mengendor pintu kosannya. Aruna tak bisa berbuat apa-apa, untuk saat ini ia tak ingin melihat wajah Raka. Terlalu sakit melihat wajah pria itu. *** Terlihat semua orang sudah berkumpul, Aruna diminta untuk hadir di acara lamaran Kakak tirinya itu. Sudah Aruna bilang, ayahnya lebih menyanyangi anak tirinya daripada Aruna sendiri. “Kenapa aku harus ada di sini,” batin Aruna, rasanya ia ingin menghilang saja daripada kembali ke rumah yang penuh kenangan buruk. “Aruna!” panggil Maura—kakak tiri Aruna. Mereka hanya berjarak satu tahun saja. “Ya?” jawab Aruna dengan ogah-ogahan, kentara sekali Aruna tak suka berada di sini. “Cepat turun! Calon suamiku mau datang!” perintah Maura melihat Aruna hanya berdiam diri di dalam kamar. “Baiklah,” kata Aruna, dengan langkah gontai ia pun turun ke bawah. Terlihat ada banyak orang yang sedang menunggu kehadiran calon suami Maura—Kakak tiri Aruna. “Kamu,” tunjuk Nadia—ibu tiri Aruna. “Jangan membuat masalah nanti! Kalau bukan karena Budemu itu, aku tak akan sudi mengundangmu!” ketus Nadia, ia juga tak suka melihat kehadiran Aruna di tengah-tengah mereka. Ia tak mau Aruna mengacaukan acara. “Aku juga tak ingin berada di sini,” batin Aruna jengkel. Namun, hal itu hanya tertahan di hatinya saja, ia tak berani melawan Nadia. “Mama, mereka sudah datang.” Maura heboh sendiri saat keluarga besar dari pihak mempelai pria sudah memasuki rumahnya. “Ayo sayang, kita ke depan,” ujar Nadia mengajak Maura untuk segera ke depan. Sedangkan Aruna, wanita itu mengikuti mereka semua dari belakang. Anggota keluarganya begitu antusias ingin melihat calon Maura. Tak mau ketinggalan ia pun ikut berbaris tepat di sebelah Maura. “Selamat datang, Pak, Bu,” sambut Nadia dengan ramah mempersilakan calon besannya itu masuk ke dalam rumah mereka. “Emm, mana ….” Nadia tak melihat calon menantunya itu. “Raka ya? Itu di belakang.” Linda—ibu Raka, bergeser sehingga semua orang bisa melihat wajah tampan Raka anak kedua mereka. “Kak Raka?” Betapa kagetnya Aruna melihat Raka tepat berdiri di depannya. “Aruna …,” lirih Raka, pria itu juga sedang menatap ke arah Aruna, jantungnya berdetak begitu kencang melihat Aruna berada tepat di depannya. “Takdir macam apa ini,” batin Aruna.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD