Bab 2. Farewell

2046 Words
Suara burung berkicau, ditambah dengan sinar hangat matahari pagi yang jatuh tepat di wajahnya membuat anak laki-laki itulah membuka mata. Alexant mengerjap beberapa kali sebelum memejamkan mata abu-abunya kembali, tak peduli dengan sinar matahari yang semakin tinggi. Ia masih mengantuk, masih memerlukan waktu untuk tidur beberapa saat lagi. Sebelum ia ingat kalau tadi malam adalah malam pesta terakhir. Hari ini seluruh tamu undangan akan meninggalkan istana, termasuk keluarga bangsawan Mars. Crystal! Mengingat gadis kecil itu membuat kantuk yang tadi masih menggelayuti mata Alexant, seketika pergi. Bergegas anak laki-laki berusia sepuluh tahun itu bangun. Tanpa memakai mantel atau mengganti piyama, juga tanpa alas kaki Alexant langsung berlari menuju ruangan yang digunakan keluarga Crystal. Betapa terkejut Alexant ketika menemukan ruangan itu telah kosong. Tidak ada lagi barang-barang yang kemarin masih mengisi ruangan. Begitu juga dengan Crystal dan keluarganya. "Di mana Crystal?" tanya Alexant pada seorang pelayan yang lewat. Ia menghentikan langkah si pelayan dengan cara menarik lengannya. Persetan dengan aturan tidak boleh menyentuh pelayan. Ia perlu tahu di mana gadis kecilnya. Pelayan perempuan berusia lima belas tahun itu berdiri dengan tubuh gemetar, dia ketakutan. Setiap pelayan maupun prajurit sudah mengetahui aturan istana. Pelayan yang berani menyentuh anggota kerajaan akan dipenggal atau digantung. "Jawab pertanyaanku, di mana Crystal?" alexant berteriak di depan wajah pelayan itu. Meskipun usianya lima tahun lebih muda, tetapi setinggi mereka sama. Teriakan Alexant terdengar sampai keluar ruangan. Selena Lloyd, pengasuh Alexant yang sejak tadi mencari ke mana anak itu pergi, segera menyusul. Dia tadi kehilangan Alexant, anak itu berlari terlalu cepat. Selena memasuki ruangan dan menemukan Alexant tengah mencengkeram kuat dagu pelayan yang ditugaskan untuk merapikan ruangan itu. Bergegas Selena menghampiri dan mencegah Alexant untuk berbuat yang lebih jauh. Anak itu memang masih berusia sepuluh tahun tetapi ia sangat kuat, apalagi dalam keadaan emosi tak terkendali seperi sekarang. "Hentikan, Yang Mulia!" pinta Selena berusaha menjauhkan tangan Alexant dari dagu pelayan peremluan yang meringis menahan sakit. "Dia kesakitan!" Alexant menoleh cepat, melepaskan tangannya kasar. Berdiri tepat di depan Selena. "Apa kau tahu di mana Crystal, Selena?" tanyanya menahan kekesalan. "Apakah semua tamu ayahku sudah pulang?" Selena tersenyum lembut. Tangannya terangkat mengusap rambut pirang Alexant. Dia sudah menganggap anak ini putra kandungnya sendiri. Sejak kecil dia yang merawat Alexant, sementara Ratu sakit-sakitan. Setelah melahirkan Alexant, kesehatan Ratu yang memang sudah memburuk sejak awal mengandung semakin bertambah sehingga tidak bisa turun dari tempat tidur. Dia merawat Alexant sejak anak ini dilahirkan, bahkan rela mengorbankan putrinya sendiri untuk dirawat oleh ibunya yang tinggal di desa. Putrinya, Beatrice, pasti sudah besar sekarang. Usianya hanya dua tahun di bawah Alexant. Selena menatap Alexant lembut, selembut senyum dan suaranya. "Semua tamu undangan akan pulang hari ini, Yang Mulia. Saya rasa keluarga Mars juga demikian. Kalau Anda memang ingin bertemu dengan Nona Mars, sebaiknya Anda mencarinya di halaman istana, semua kereta yang akan membawa tamu undangan pulang sudah berjejer di sana sejak tadi malam. Mungkin bangsawan Mars dan kuarganya.maaih berada ...." Tanpa menunggu perkataan Selena lebih lanjut, Alexant kembali berlari menuju halaman. Kakinya yang tanpa alas sangat sakit ketika bersentuhan dengan batu kerikil di halaman istana. Sekali lagi Alexant tidak memedulikannya. Yang ia inginkan adalah bertemu dengan Crystal-nya sebelum gadis itu pergi, bukan yang lain. Alexant terus memaksakan kakinya melangkah walaupun rasa perih kian menjalar. Sepertinya telapak kakinya terluka, bercak darah mulai terlihat. Alexant menggeleng, ia hampir putus asa karena tidak juga menemukan Crystal, padahal sudah sejak beberapa menit yang lalu ia mencari. Namun, sebuah suara halus yang begitu familiar menyapa indra pendengarannya, membuatnya kembali bersemangat. "Alexant?" Secepat kilat Alexant menoleh. Tersenyum lebar melihat gadis kecil yang dicarinya berdiri tepat di sampingnya. "Kenapa kau di sini?" tanya Crystal heran. "Apa kau juga akan ikut pulang?" Alexant berdecak. "Bodoh!" makinya lirih. "Aku to nggak di sini, ini rumahku, Crystal. Ke mana aku harus pulang?" Alexant mencubit pipi gembil yang memerah. "Ah, iya!" Crystal berseru girang. Dia melompat-lompat, rambut pirangnya yang diikat dua ikut bergoyang ketika dia melompat. "Aku lupa." Dia meringis. "Lalu, apa yang kau lakukan di sini?" Gadis kecil itu kembali mengulang pertanyaannya. "Aku mencarimu," jawab Alexant jujur. "Aku harus menemuimu sebelum kau pulang ke rumahmu." Alis Crystal menekuk. "Kenapa?" tanyanya bingung. "Karena aku ingin bertemu!" ketus Alexant. Tingkah Crystal dan kepolosannya selalu saja menggemaskan. "Aku juga ingin bertemu denganmu," sahut Crystal tersenyum lebar, menampilkan deretan gigi susunya yang rapi. Namun, segera saja senyum ceria itu hilang, berubah menjadi gumpalan awan begitu dia ingat kata-kata ibunya. "Tapi aku harus pulang dan tidak boleh bertemu lagi denganmu." "Eh, kenapa?" tanya Alexant heran. Ia tidak tahu kenapa Crystal tak boleh bertemu dengannya lagi. Apakah ia berbahaya? Setahunya tidak. Mereka berteman dan berjanji akan menikah kelak ketika dewasa. Apakah itu salah? Ia memang ingin menikahi Crystal bila dewasa nanti. Tak ingin perempuan lain. "Kenapa kau tidak boleh bertemu denganku lagi? Kita, 'kan, akan menikah bila dewasa nanti, bagaimana mungkin kita tidak bertemu lagi?" "Pangeran Alexant, apa yang Anda katakan?" tanya Edmund Mars. Sama seperti istrinya yang sedikit syok mendengar kata-kata itu, Edmund juga merasakannya. Ia tidak percaya, khawatir kalau-kalau ia salah mendengarkan kata-kata. "Maafkan aku, tapi Anda tidak boleh berbicara sembarangan. Anda sudah tahu, 'kan, kalau apa yang Anda ucapkan berarti sebuah janji?" Alexant mengangguk. Aku tahu!" jawabnya yakin. "Kata-kata yang aku ucapkan adalah ikrar. Aku akan menikahi Crystal ketika kami dewasa kelak, Paman. Aku hanya akan menikah dengan Crystal!" Edmund memijit pelipis. Kepalanya berdenyut disebabkan oleh kata-kata bocah berusia sepuluh tahun. Seandainya bocah itu bukan siapa-siapa, ia tidak masalah. Hanya saja, bocah di depannya yang masih mengenakan piyama dan tanpa alas kaki ini adalah seorang pangeran, putra mahkota di negara mereka.Apakah ini artinya putri kecilnya akan menjadi ratu Namira? Inikah takdir yang sudah digoreskan di tangan Crystal ketika gadis kecilnya dilahirkan? Edmund menatap sekeliling, mereka dikerubungi oleh prajurit dan pelayan, termasuk pengasuh Alexant yang tampak sangat terkejut. Ada juga Wallace Bryne, jenderal besar Namira di antara orang-orang itu. Ini sangat gawat kalau sampai jenderal Bryne juga mendengarnya. Diam-diam Edmund berharap semoga pria itu tidak mendengarnya. "Tuan Mars...." "Aku tidak mendengar apa pun, Jenderal!" potong Edmund cepat, ia menunduk hormat. "Maaf, tapi kami akan pulang ke Rainbow Hill hari ini." Jenderal Wallace berdehem sekali, menatap tegas pria yang juga balas menatapnya dengan tatapan tak terbantahkan. Edmund Mars, meskipun hanya seorang bangsawan yang berasal dari desa, tapi ketegasan dan wibawanya tidak perlu diragukan. Terlihat dari tatapan tajamnya itu. "Aku juga minta maaf padamu, Tuan Mars," Wallace menundukkan sedikit kepalanya. "Tapi bagaimanapun juga peraturan kerajaan kita...." "Kami hanya bangsawan dari desa, Jenderal." Sekali lagi Edmund memotong perkataan jenderal Wallace. "Sangat tidak pantas untuk putriku berada di istana. Crystal lebih pantas berada di kastil kami daripada di istana di ibu kota." Wallace menarik napas panjang, mengembuskannya perlahan tanpa gerakan berarti. Bangsawan desa yang keras kepala dan pemberani. Meskipun menentang aturan kerajaan dan negara, pria berambut hitam di depannya ini tetap tidak mau melepaskan putrinya. "Mereka masih anak-anak, Jenderal." Astrid ikut berbicara. Dia yang sejak beberapa menit yang lalu sudah berada di kereta akhirnya terpaksa turun juga karena suami dan putrinya belum kembali. Edmund bersama Crystal memeriksa barang bawaan mereka karena putri kecil mereka itu mengatakan dia tertinggal sesuatu, dan sesuatu itu adalah mahkota bunga yang sudah mulai kering, yang berada di tangan putrinya sekarang. Crystal sangat menyayangi mahkota itu, katanya pemberian Alexant. "Maafkan aku karena sudah tidak sopan menyela pembicaraan kalian, tapi kurasa tidak perlu menganggap serius apa yang sudah dikatakan oleh pangeran Alexant. Pangeran masih kecil, masih belum mengerti apa yang dikatakannya." Alexant mengepal mendengar perkataan Astrid, ia tidak terima. Bukan karena dikatakan anak kecil, tetapi karena apa yang dikatakannya hanya dianggap bercanda. Seandainya saja perempuan itu bukan Ibu dari Crystal, ia pasti sudah akan menghukumnya. Ada apa dengan semua orang dewasa ini, mengapa kedua orang tua Crystal seolah menghalangi niatnya? Apa yang dikatakannya adalah janji seorang pangeran, ia hanya menginginkan Crystal untuk menjadi pendampingnya kelak bila.ia menjadi raja. Sementara Wallace hanya mengangguk. Ia tak ingin berdebat dengan wanita. Pengalaman berdebat dengan istrinya selalu dimenangkan oleh Sang Istri. Wanita selalu menang, apa pun dan di mana pun mereka yang berkuasa. Para wanita sellau memiliki banyak perbendaharaan kata-kata untuk menyangkal perkataan para pria. "Kami akan kembali ke desa kami sekarang, Jenderal. Permisi!" Astrid menundukkan kepala tanda menghormat sekali lagi. Kepada jenderal Wallace juga pada Alexant. "Selamat tinggal, Yang Mulia. Semoga Anda panjang umur," ucap Astrid mendoakan sebelum menarik tangan Crystal. "Ayo, Sayang. Kita pulang sekarang." Crystal mengangguk. Tersenyum lebar pada Alexant dan melambaikan tangan. "Sampai nanti, Alexant. Sampai bertemu lagi!" "Kau harus kembali ke istana lima tahun lagi, Crystal, karena saat itu kita sudah boleh menikah!" seru Alexant kencang. Ia.tak peduli, tak ada siapa pun yang berani melarangnya. Ia bisa melakukan semua yang diinginkan. Ia adalah pangeran, putra mahkota yang akan menggantikan negara ini kalau ayahnya turun tahta. Jenderal Wallace kembali mengembuskan napas. Dalam peraturan negara dan kerajaan mereka, perkataan Alexant harus terlaksana. Tak peduli berapa usia saat ia mengatakan itu, semua adalah janji yang harus ditepati. Wallace menatap Alexant yang mengepal. dilihat dari sikapnya, sepertinya Alexant menyukai Crystal. Entah apa yang akan terjadi nanti, hanya waktu yang dapat menjawab. Saat ini, ia hanya harus menjalankan tugasnya sebagai seorang jenderal perang Namira, juga menjaga anggota kerajaan. Wallace mengernyit melihat noda berwarna merah di lantai yang diinjak Alexant. Diperlukan beberapa detik baginya untuk menyadari kalau telapak kaki Alexant terluka. "Selena!" teriak Wallace, tatapannya menyapu wajah lembut Sang Pengasuh putra mahkota. Selena tadi menjauh bersama dengan prajurit dan pelayan yang sempat mengerubungi mereka. "Yang Mulia terluka, segera bawa.ke kamarnya!" Selena tergesa menghampiri Alexant dan menggendongnya, membawa anak itu ke kamarnya seperti.peimtaan jenderal Wallace. Sepanjang jalan menuju kamar Alexant, perempuan itu merutuki kecerobohannya di dalam hati. Bagaimana mungkin dia sampai tidak menyadari kalau telapak kaki Alexant terluka. Tidak seharusnya Alexant seperti ini, seharusnya anak ini baik-baik saja, atau kepalanya sebagai pengasuh akan melayang. Tadi dia terkejut pada Alexant yang langsung berlari keluar, dan terpana mendengar kata-katanya yang akan menikahi gadis bangsawan Mars kelak mereka dewasa. Entah kenapa dia merasa tidak rela, juga tidak siap. Tiba-tiba saja bayangan putri kecilnya yang berusia delapan tahun melintas di kepalanya. Bukan, dia tak ingin putrinya yang diberikan Alexant janji untuk dinikahi, dia hanya ingin tahu bagaimana seandainya putrinya juga berada di istana ini, apakah putrinya dan Alexant akan berteman juga, seperti halnya Alexant dan putri keluarga bangsawan Mars. "Maafkan aku, Yang Mulia, aku sudah membiarkan kaki Anda terluka. Aku mohon, ampuni aku!" pinta Selena menyesal. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri juga pada mendiang Ratu Amora, akan menjaga Alexant baik-baik seperti menjaga anaknya sendiri. Namun, hari ini dia ceroboh dan mengakibatkan Alexant terluka. "Sekali lagi maafkan aku." Alexant berdecak. "Apa-apaan kau? Ini bukan salahmu, Selena. Kakiku terluka karena kecerobohanku sendiri! Jangan menyalahkan dirimu atas sesuatu yang tidak kau lakukan!" Usia sepuluh tahun tapi sudah bisa berbicara selayaknya orang dewasa seperti itu, Alexant memang benar-benar seorang putra mahkota. Selena yakin Alexant pasti akan menjadi raja yang baik dan bijaksana kelak. Selena tidak berbicara lagi, dia hanya mengangguk, dan mendudukkan Alexant di kursi setelah tiba di kamar anak itu. Dengan telaten dan hati-hati Selena membersihkan telapak kaki itu. Bahkan sesekali dia berhenti, khawatir Alexant akan merasakan sakit atau perih. Meskipun Alexant mengatakan ini bukan kesalahannya, terap saja Selena merasa dia yang bersalah. Kalau dia tidak lalai dan ceroboh tak mungkin Alexant terluka seperti sekarang. "Terima kasih, Selena," ucap Alexant berdiri. "Sekarang kakiku sudah tidak apa-apa lagi, aku sudah bisa berdiri." Selena tersenyum lega, menganggukkan kepala, dan berdiri. "Syukurlah, saya senang Anda sudah merasa baikan," ucapnya. "Apakah Anda mau mandi sekarang?" Alexant mengangguk. Melangkah tergesa ke kamar mandi tanpa menunggu Selena yang akan memandikannya. Ia sudah bisa mandi sendiri padahal, tetapi sebagai pangeran ia tetap harus dimandikan. Kadang Alexant iri mendengar George atau Hans, putra dari wakil jenderal Namira, bercerita kalau mereka bisa melakukan semuanya sesuka hati mereka, tanpa ada yang melarang apalagi mengatur harus ini dan itu. Ia juga ingin seperti anak lainnya yang dianggapnya memiliki kehidupan normal, dan bebas bermain kapan pun. Sementara dirinya, untuk bermain pun harus mencuri waktu, kabur di saat guru yang akan mengajari saat itu masih belum tiba atau berpura-pura sakit setelah itu bisa keluar dengan sembunyi-sembunyi. Hanya saat ulang tahun ayahnya kemarin saja ia dibebaskan dari belajar dan bisa bermain sepuasnya bersama Crystal. Ingat gadis kecil itu Alexant jadi sedih. Baru saja Crystal meninggalkan istana ia sudah merindukannya. Waktu, cepatlah berlalu agar aku bisa menyongsong kedewasaanku dan bertemu dengan gadis yang kucintai
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD