Sisy meletakkan lima kotak berukuran sedang dan dua kotak besar dari kayu dan triplek yang sudah dicat putih.
Diaturnya beberapa berkas yang diambilnya dari kardus menatanya menjadi lima bagian , " punyaku yang bergaris merah. "
Dewi meraih berkasnya , " Punyaku yang hijau. "
" Punyaku biru. " disorongkannya korak ke arah Dewi, memintanya merapikan berkasnya.
Iskandar meraih kotak dengan garis coklat, sementara Mifrah meraih yang bergaris hitam.
" Itu buat apa ?" Miftah menatap dua rak yang cukup besar dan diletakkan berjajar diujung meja.
" Untuk berkas yang belum dikerjakan. " sahut Sisy.
" Kamu bikin sendiri ?"
" Lumayan kan, jiwa lelakiku keluar kalau begini."
Miftah tertawa kecil.
" Cat sisa ngecat tangga kemaren masih ada kan ? Punyaku habis di rumah. "
" Sini. " Iskandar meraih dua rak itu dan membawanya kebelakang tanpa banyak bicara.
" Iskandar itu sakit gigi ya ?" Sisy menatap punggung kokoh itu menghilang dibalik lemari yang sekaligus berfungsi sebagai penyekat ruangan.
Ketiga penghuni lainnya bertatapan lalu mengangkat bahu. Rupanya Iskandar masih belum bisa beesikap wajar pada Sisy setelah kedatangan Rahyuda, bahkan setelah gadia itu kembali dari liburannya untuk beberapa minggu.
" Eh aku juga punya sesuatu nih. " Dewi mengambil kantong besar dari bawah kursi dan mengeluarkan beberapa bantalan busa yang dibungkus kain warna warni , " Sy bantuinmasang ini, biar gak sakit dipake duduk. "
Sisy membantunya mengikat tali tali kecil diantara baris kursi agar tidak bergerak saat diduduki , " Bisa aja deh. "
" Cuma bantal. "
Sisy menepuk bahu Dewi , " Main rumah rumahan memang keahlianmu Kak. "
" Gak semua pinter pegang gergaji. "
Sisy tergelak lalu duduk dan mengedarkan pandangan , " Dapat darimana tanaman itu ?"
ditunjuknya pot diujung ruangan. ," Kang Mif ?"
" Aku. " sahut Ito sambil tersenyum lebar.
Sisy meleletkan lidah melihat kilatan jahil disana , " Sudahlah ... kerjaanmu jadi tukang kayu jempolan. " ditepuknya meja yang nampak lebih kokoh setelah dilapisi kaca.
" Kayak Cafe." Ito mengacak rambut Sisy ," Diatas juga nyaman, apa aku pindah kesini aja ya ?"
" Boleh juga, selain ngirit bayar kos buatmu, kantor gak perlu bayar satpam kalau malam." ledek Sisy. disambut tawa yang lain. :
" Gak nyangka kita bisa secepat ini punya kantor ya ?" ujar Ito.
" Ya ... mudah mudahan semakin bagus, dan bukan lagimenjadi pekerjaan sampingan nantinya." sahut Miftah, menatap Sisy yang tengah merapikan berkas diatas meja.
" Wah, baru ditinggal sebentar sudah berwarna saja ruangan ini. " Iskandar masuk dan duduk disamping Miftah , " Aku pikir bakal terperangkap di dalam keju."
" Keju ? " seru Dewi , " Mana ada ? "
" Lha gak lihat ini kuning pucat, meja kursinya juga warna muda gitu." sahutnya , " Kamu memang calon ibu rumah tangga yang baik. Diatas juga nyaman, mau aku pindah kos kesini. "
" Aku tadi juga bilang begitu. Ayolah ... ". sahut Ito " Bener kata Sisy, ngirit uang kos dan biaya keamanan kantor. "
Sisy yang merasa namanya disebut mengangkat kepala, batal berkomentar saat melihat Iskandar mengalihkan pandangan kearah lain.
" Sy, telepon udah nyambung belum ? " tanya Miftah.
Sisi mencobanya , " Sudah, siapa yang ngurus ?"
" Aku. " sahut Iskandar masih dengan pandangan keluar ... Maaf, aku masih sulit menerima ini. Bukan salahmu, Sy .... aku yang cengeng ...
Sisy menatap Iskandar menghembuskan nafas dan nelanjutkan kesibukannya ... Mengapa jadi seperri ini sih ? Maaf, aku gak ingin menyakitimu, tapi aku harus menunjukkan yang sebenarnya sebelum terlanjur jauh, aku punya Rahyuda. Mungkin kamu butuh waktu, dan semoga tidak terlalu lama ... aku merindukanmu bersikap seperti dulu..
Miftah meraih minumannya, bertatapan sejenak dengan Ito dan Dewi yang menyibukkan diri di depan komputer yang baru terpasang pagi tadi ... Maaf Sy, kami sudah menempatkan pada posisi yang tidak nyaman. Semoga kamu cukup mengenal Iskandar untuk memahami dia butuh waktu ... Dan semoga aku tidak menambah bebanmu, aku akan berusaha seperti biasa .