Angin malam berhembus dingin dan kencang, mempermainlan rambut ikal Iskandar yang mulai panjang. Dinyalakannya rokok danemarung diatas sadel motornya. Gemerlap lampu kota Bandung dibawah sana sama sekali tidak menarik minatnya.
" Kamu kenapa sih Is ... ? Aku minta maaf kalau aku ada salah. Kamu boleh marah atau teriak padaku, tapi tolong jangan seperti ini. Aku ... aku gak ngenalin kamu lagi. "
Wajah dan sorot mata Sisy yang penuh kekhawatiran membuat Iskandar semakin merasa bersalah. Ingin sekali ia mengatakan ini bukan salah gadis itu, tapi bibirnya tidak bisa terbuka. Dirutukinya dirinya sendiri saat kakinya malah melangkah pergi meninggalkan tarikan nafas berat Sisy dibelakang punggungnya.
" Sorry ... " ujarnya serak , " Kalau saja yang aku rasakan ini bisa menjadi kemarahan ... kalau saja aku bisa menganggap kamu. menyakitiku ... kalau saja aku bisa menutup mata tidak memandang hubunganmu dengannya ... " ditariknya nafas panjang lalu menghsap rokoknya dalam , "Tapu nyqtanya aku sadar aku bukan marah, aku sedih ... dan aku gak tahu harus bagaimana. Aku gak pernah merasakan yang seperti ini walaupun kamu bukan gadis pertama yang kudekati. "
" Maaf. " suara Sisy lebih menyerupai hembusan angin.
" Jangan .. jangan minta maaf, Sy. Kamubgak salah sama sekali. Kamu cuma berusaha setia ... cuma berusaha jujur. " dibalikkannya tubuh, menatap gadis yang kini duduk diatas motor.
" Aku gak pernah berniat memberi harapan kosong. "
Iskandar mendekat , " Gak, kamu gak seperti itu. Sikapmu wajar, sangat wajar. Bahkan berulang kali kamu memberi tanda bahwa kita semua hanya teman. "
" Aku . aku gak ingin menyakiti kamu Is. Aku nyaman bersamamu sebagai teman baik. aku ... "
" Aku tahu. " digenggamnya tangan Sisy yang terasa dingin , " Aku yang punya maksud lain. Aku nyaman bersamamu sebagai teman, dan aku ingin lebih. "
Sisy menggigit bibir.
" Terima kasih, kamu sudah bertahan dengan sikap burukku beberapa bulan terakhir ini. Aku hanya butuh waktu ... tapi aku gak pernah terpikir akan butuh waktu selama ini untuk menerimanya." ditariknya nafas panjang saatbmemandang sorot mata lembut dan penuh pengertian dihadapannya " Mengapa kamu versikap seperti ini ? Mungkin pembicaraan ini akan lebih cepat dan lebih mudahbkalau kamu marah, dan menegurku dengan keras. "
Sisy mengeluh perlahan , " Aku gak punya keberanian untuk memulai pembicaraan ini denganmu. Dan aku gak berhak untuk marah. "
Iskandar tertawa pahit , " Kamu gak tega, bukan gak berani. " direngkuhnya gadis itu kedalam pelukannya , " Mungkin fak akan bisa cepat, aku bukan Miftah yang bisa bersikap tenang. Tapi tolong aku ... untuk benar benar menjadi sahabatmu. "
" Aku harus gimana ?"
" Bersikaplah seperti biasa, tegur aku kalau sudah mulai bertingkah aneh lagi." diciumnya ujung kepala berambut lebat itu ," Aku anak kolong ... kadang perlu tamparan keras untuk sadar." dijauhkannya kepala Sisy.
" Seperti ini ?" Sisy menepuk pipi Iskandar , tertawa ketika menyadarai tepukannya cukup keras , " Sorry. "
" Gak diartikan seperti ini juga kali. " Iskandar menggerutu sambil mengusap pipinya. Dipeluknya gadis itu sekali lagi, kali ini lebih erat " Sorry. " bisiknya.
Sisy balas memeluk , " Aku juga minta maaf sudah membiarkan ini berlarut larut." disandarkannya pipi ke d**a bidang itu, menikmati pelukan sahabatnya.
" Keatas yuk. " Iskandar menjauh. Perasaannya belum mampu memeluk gadis ini lebih lama sebagai sahabat.
" Ngapain ? Sudah malam tahu ?"
" Cari kopi s**u dan jagung bakar. " diulirkannya helm , " dan sejak kapan kamu kenal jam malam ?"
Sisyenggebuk punggung didepannya , " Sialan, aku kan anak baik baik. Coba tanya ibu kos ku. "
" Iya baik ... karena mengemat listrik air dan gak berisik. Kamu cuma pulang untuk tidur. "
Sisy tergelak Terima kasih Is ... dari awal aku tahu aku akan bisa bicara seperti ini denganmu, hanya tinggal tunggu waktu. Aku juga tahu pembicaraan seperti ini tidak akan pernah aku lakukan bersama Kak Mif, karena dia tidak terbuka seperti dirimu.Tapi setidaknya, aku tahu Kak Mif berusaha bersikap wajar ....